- Aset Lainnya
B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI APBN
B.2. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI APBN
B.2.1. Pendapatan Negara dan Hibah
B.2.1.1. Penerimaan Perpajakan
Gambaran umum Penerimaan Perpajakan TA 2020
Realisasi penerimaan pajak TA 2020 mencapai Rp1.285.136.317.135.799. Realisasi tersebut mengalami perlambatan sebesar 16,88 persen dibandingkan realisasi penerimaan pajak tahun 2019 sebesar Rp1.546.141.893.392.193. Penerimaan Perpajakan ini berasal dari (i) Pajak Dalam Negeri, dan (ii) Pajak Perdagangan Internasional. Dalam realisasi Penerimaan Perpajakan tersebut termasuk PPh dan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp17.092.509.187.614.
Pemerintah melakukan penyesuaian target penerimaan pajak dalam APBN sebagai respon terhadap dampak pandemi Covid-19 sebanyak dua kali. Terakhir melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2020 target penerimaan pajak disesuaikan menjadi Rp1.404.507.505.772.000. Namun, hingga akhir tahun realisasi penerimaan hanya mencapai 91,50% dari target yang telah ditetapkan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi nasional yang mengalami tekanan akibat pelemahan industri manufaktur, penurunan aktivitas perdagangan internasional dan pembatasan aktivitas masyarakat sebagai upaya pengendalian dampak pandemi Covid-19. Selain itu, implementasi berbagai kebijakan insentif pajak dalam rangka pemulihan ekonomi nasional turut menekan kinerja penerimaan sampai dengan akhir tahun 2020. Pemanfaatan insentif pajak sendiri berkontribusi terhadap 22,1% penurunan penerimaan pajak.
Hampir seluruh jenis pajak utama mengalami kontraksi. PPN Dalam Negeri yang merupakan kontributor mengalami perlambatan sebesar 13,29%, sementara PPh Badan mengalami penurunan sebesar 38,50%. Kinerja impor juga mengalami penurunan yang tercermin pada realisasi pajak-pajak impor yang tumbuh negatif. Sementara itu, penerimaan PPh Pasal 25/29 OP masih mampu tumbuh positif sebesar 3,24%.
Penerimaan pajak dalam negeri Rp1.248,41 triliun
B.2.1.1.1.Pajak Dalam Negeri
Realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri TA 2020 sebesar Rp1.248.415. 111.170.305 atau mencapai 91,06 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp1.371.020.559.002.000. Realisasi Pajak Dalam Negeri TA 2020 mengalami penurunan sebesar Rp256.673.091.117.392 atau 17,05 persen dibandingkan dengan realisasi TA 2019 sebesar Rp1.505.088.202.287.697.
Rincian realisasi Pajak Dalam Negeri sebagai berikut (dalam rupiah):
Uraian TA 2020 (Audited) TA 2019 (Audited)
PPh Migas 33.026.736.126.169 59.150.314.819.928 PPh Nonmigas 545.850.307.089.643 701.961.892.831.112 PPh ditanggung Pemerintah 15.156.290.554.678 11.153.510.635.628 PPN 439.836.453.302.524 515.971.636.867.181 PPnBM 8.555.391.322.228 15.605.656.987.850 PPN ditanggung Pemerintah 1.936.218.632.936 PBB 20.953.610.013.766 21.145.900.040.486 Cukai 176.309.313.789.576 172.421.940.270.562 Pajak Lainnya 5.580.584.954.473 6.212.194.737.201
Pendapatan Bunga Penagihan Pajak 1.210.205.384.312 1.465.155.097.749
-Catatan Atas Laporan Keuangan – Penjelasan Pos-Pos LRA -107-
Penurunan penerimaan PPh Pasal 21 diakibatkan oleh menurunnya jumlah tenaga kerja dan pemanfaatan insentif fiskal, PPh 22 Impor dan PPN Impor tertekan oleh menurunnya aktivitas impor dan masih berlanjutnya perang dagang antarnegara ekonomi besar serta insentif pembebasan PPh 22 Impor, PPh Badan terdampak oleh perlambatan ekonomi akibat menurunnya profitabilitas badan usaha pada tahun 2019, yang merupakan dasar perhitungan pajak tahun 2020, insentif pengurangan Angsuran PPh 25, dan penurunan tarif PPh Badan dari 25 persen menjadi 22 persen sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020, PPh Final tertekan akibat terbatasnya aktivitas konstruksi di masa pandemi serta penurunan suku bunga, PPN DN tertekan akibat menurunnya konsumsi rumah tangga, peningkatan restitusi akibat pemanfaatan kebijakan insentif restitusi dipercepat, serta penerapan PSBB.
Hampir seluruh jenis pajak utama mengalami kontraksi. PPN Dalam Negeri yang merupakan kontributor terbesar tumbuh -13,29% sementara PPh Badan turun lebih dalam sebesar -38,50%. Kinerja impor juga mengalami penurunan yang tercermin pada realisasi pajak-pajak impor yang tumbuh negatif. Sementara itu, penerimaan PPh Pasal 25/29 OP masih mampu tumbuh positif.
Penerimaan PPh Pasal 21 dipengaruhi oleh melemahnya kondisi pasar tenaga kerja sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang terlihat dari setoran masa yang turun dengan pertumbuhan -6,78%. Peningkatan setoran atas Jaminan Hari Tua, Uang Tebusan Pensiun, dan Uang Pesangon sebesar 12,53% juga mengindikasikan peningkatan pemutusan hubungan kerja. Selain itu, mulai dimanfaatkannya insentif pajak yang diberikan Pemerintah berupa PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah sejak bulan Mei semakin menambah tekanan pada penerimaan PPh Pasal 21. Tekanan terbesar penerimaan PPh Pasal 21 terjadi pada sektor Industri Pengolahan dan Administrasi dan Pemerintahan.
Realisasi penerimaan PPh Pasal 22 mencapai Rp16,85 triliun, dengan pertumbuhan -20,93% dibandingkan tahun 2019. Realisasi ini mencapai 88,60% dari target tahun 2020 sebesar Rp19,02 triliun. Penurunan PPh Pasal 22 didominasi oleh setoran masa dengan pertumbuhan -9,65% dan Ekspor Komoditas Tambang Batubara yang tumbuh -15,60%. Penurunan terutama terjadi pada sektor Pengadaan Listrik dan Pertambangan berturut-turut sebesar -53,05% dan -16,74%.
Realisasi penerimaan PPh Pasal 22 Impor mencapai Rp27,12 triliun, dengan pertumbuhan -49,50% dibandingkan realisasi tahun 2019. Realisasi ini hanya mencapai 71,60% dari target sebesar Rp37,87 triliun. Penurunan penerimaan PPh Pasal 22 Impor sejalan dengan tren penurunan impor yang secara kumulatif terkontraksi 17,34% dibandingkan tahun 2019. Selain itu, pemberian insentif pembebasan PPh Pasal 22 Impor semakin menyebabkan penurunan yang lebih dalam pada penerimaan. Secara sektoral, penurunan terbesar terjadi pada Industri Pengolahan dengan pertumbuhan -58,32%, diikuti sektor Perdagangan dengan pertumbuhan -41,95%. Realisasi penerimaan PPh Pasal 23 mengalami penurunan terutama pada setoran utama yaitu Jasa (tumbuh -6,47%), Masa (tumbuh -12,18%), Bunga (tumbuh -13,37%) dan Dividen (tumbuh -18,33%). Penerimaan terbesar berasal dari Industri Pengolahan dengan pertumbuhan -7,91% diikuti sektor Pertambangan dengan pertumbuhan 1,95%.
Realisasi penerimaan PPh Pasal 25/29 OP merupakan satu-satunya jenis pajak utama yang masih tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19. Hal ini tidak terlepas dari resiliensi usaha dan tetap terjaganya tingkat kepatuhan sukarela WP OP. Secara sektoral, 78% setoran PPh Pasal 25/29 OP didominasi oleh sektor Kegiatan Jasa Lainnya dengan pertumbuhan realisasi sebesar 4,84%.
Realisasi penerimaan PPh Pasal 25/29 Badan mencapai Rp155,09 triliun dengan pertumbuhan -38,50% dibandingkan realisasi tahun 2019. Realisasi PPh Badan mencapai 71,81% dari target sebesar Rp215,96 triliun. Pencapaian realisasi PPh Badan dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi domestik maupun global, menurunnya profitabilitas perusahaan di tahun 2019 dan melemahnya harga komoditas utama, serta meningkatnya restitusi.
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2020 (Audited)
-108- Catatan Atas Laporan Keuangan – Penjelasan atas Pos-Pos LRA
Tekanan semakin berlanjut seiring diberlakukannya penurunan tarif PPh Badan sesuai UU Nomor 2 Tahun 2020 dan insentif pajak berupa pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sebesar 30% yang kemudian dinaikkan menjadi 50%. Tiga sektor utamanya yaitu Jasa Keuangan, Industri Pengolahan dan Pertambangan mengalami penurunan berturut-turut sebesar -31,11%, -36,56% dan -61,43%.
Realisasi penerimaan PPh Pasal 26 mengalami penurunan dibandingkan realisasi tahun 2019, namun melebihi target dengan capaian sebesar 100,24%. Penurunan PPh Pasal 26 terutama terjadi pada setoran Dividen dan setoran Masa yang masing-masing tumbuh sebesar -10,21%, dan -38,63%. Adapun penurunan terbesar PPh Pasal 26 berasal dari sektor utamanya yaitu Industri Pengolahan dengan pertumbuhan -9,90%.
Realisasi penerimaan PPh Final mengalami penurunan terutama dipengaruhi oleh penurunan suku bunga deposito, penurunan aktivitas konstruksi, penurunan setoran dividen, serta perlambatan permintaan properti. Selain itu, implementasi insentif DTP PPh Final untuk WP PP 23 turut mendorong penurunan PPh Final. Penurunan terbesar terjadi pada sektor Perdagangan dengan pertumbuhan sebesar -21,55%.
Realisasi penerimaan PPN DN menurun dibandingkan realisasi tahun 2019 dipengaruhi oleh melemahnya tingkat konsumsi masyarakat sebagai akibat terbatasnya aktivitas perekonomian, peningkatan restitusi dan masih terbatasnya ekspansi sektor manufaktur yang tercermin pada nilai PMI yang sebagian besar ada pada zona kontraksi. Secara sektoral, penurunan terbesar terutama terjadi pada sektor Perdagangan dan Konstruksi yang tumbuh masing-masing sebesar -9,82% dan -29,14%.
Realisasi penerimaan PPN Impor menurun disebabkan oleh penurunan pada aktivitas impor. Secara sektoral, dua kontributor terbesar yaitu sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan mengalami penurunan terdalam dengan pertumbuhan masing-masing sebesar -19,02% dan -18,82%.
Realisasi penerimaan PPnBM DN menurun dibandingkan realisasi tahun 2019, secara umum disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor, dimana di dalamnya termasuk penjualan kendaraan yang terutang PPnBM. Secara sektoral realisasi PPnBM DN didominasi oleh Industri Pengolahan terutama Industri Kendaraan Bermotor (kontribusi 97,15%), dengan pertumbuhan -50,40%.
Realisasi penerimaan PPnBM Impor menurun dibandingkan realisasi tahun 2019. Realisasi PPnBM Impor mencapai 87,14% dari target secara sektoral, realisasi terbesar berasal dari Sektor Perdagangan, khususnya perdagangan mobil (kontribusi 72,92%) dengan pertumbuhan -39,66%. Penurunan terutama disebabkan oleh penurunan impor mobil (CBU) yang pada tahun 2020 tumbuh -53,50% dibandingkan tahun 2019.
Realisasi penerimaan PBB bertumbuh 1,43% dibandingkan realisasi tahun 2019 dan dengan pencapaian sebesar 155,88% dari target, terutama ditopang oleh PBB Pertambangan untuk Minyak dan Gas Bumi. Capaian ini tidak terlepas dari mulai membaiknya harga minyak dunia.
Realisasi penerimaan Pajak Lainnya mengalami penurunan terutama Bunga Penagihan PPN dan Penjualan Benda Meterai.
Adapun kenaikan penerimaan cukai signifikan diperoleh dari penerimaan cukai etil alkohol 97,33% (yoy) karena meningkatnya produksi alkohol untuk bahan baku pembuatan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dan adanya pelimpahan penerimaan tahun sebelumnya dengan diberlakukannya PMK No. 57/PMK.04/2017. Sementara penerimaan riil cukai tembakau tanpa efek PMK No. 57/PMK.04/2017 hanya tumbuh tipis sebesar 1,0%.
-Catatan Atas Laporan Keuangan – Penjelasan Pos-Pos LRA -109- Pajak
Perdagangan Internasional Rp36,72 triliun
B.2.1.1.2.Pajak Perdagangan Internasional
Realisasi Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional TA 2020 sebesar Rp36.721.205.965.494 atau mencapai 109,66 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp33.486.946.770.000. Realisasi Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional TA 2020 mengalami penurunan sebesar Rp4.332.485.139.002 atau 10,55 persen dibandingkan dengan realisasi TA 2019 sebesar Rp41.053.691.104.496. Rincian realisasi Pajak Perdagangan Internasional sebagai berikut (dalam rupiah):
Uraian TA 2020 (Audited) TA 2019 (Audited)
Bea Masuk 32.443.498.968.565 37.526.981.312.119
Bea Keluar 4.277.706.996.929 3.526.709.792.377
Jumlah 36.721.205.965.494 41.053.691.104.496
Pendapatan Bea Masuk mencapai 101,92% dari target, namun mengalami penurunan 13,55% dibanding tahun 2019 yang disebabkan oleh adanya insentif penanganan Covid-19 dan aktivitas impor nasional yang melambat, Pelemahan perdagangan internasional maupun aktivitas ekonomi nasional khususnya akibat pandemi Covid-19. Melemahnya aktivitas impor ditandai dengan penurunan devisa bayar sebesar 19,72% dan penguatan kurs Rupiah terhadap USD yang merupakan dampak dari tekanan aktivitas impor selama tahun 2020, yang mana importasi dari negara-negara utama seperti China, Jepang, Singapura, USA, Thailand, dan Korea Selatan mengalami penurunan.
Pendapatan Bea Keluar mencapai 258,76% dari target, dan menunjukan pertumbuhan 21,30 persen dibandingkan dengan tahun 2019 karena adanya peningkatan volume ekspor tembaga dan bauksit, penerimaan extra effort tembaga, dan meningkatnya ekspor CPO dan biji kakao. Penerimaan dari CPO meningkat disebabkan harga CPO yang melebihi USD750 /MT sehingga dikenai Bea Keluar. Pada tahun 2020 terdapat kebijakan larangan ekspor bijih nikel sejak awal tahun, sehingga tidak ada penerimaan dari ekspor bijih nikel.
Untuk Bea Masuk, secara umum, faktor yang mempengaruhi penurunan penerimaan Bea Masuk TA 2020 antara lain:
a. Melemahnya perdagangan internasional maupun aktifitas ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19; b. Adanya penurunan devisa bayar sebesar 19,72% dan penguatan kurs Rupiah terhadap US Dollar. Hal
tersebut disebabkan karena penurunan importasi dari negara-negara utama seperti China, Jepang, Singapura, USA,Thailand, dan Korea Selatan;
c. Adanya penurunan impor dari sektor utama migas yakni bensin (share: 43,15 persen) turun 16,96 persen dan minyak bumi (share: 19,87 persen) turun 57,80 persen.
Secara umum, faktor yang mempengaruhi kenaikan penerimaan Bea Keluar TA 2020 antara lain:
a. Penerimaan dari tembaga mencapai Rp2,17 triliun atau tumbuh 166,05%, didukung peningkatan volume ekspor dan extra effort;
b. Penerimaan dari Crude Palm Oil (CPO) di bulan Februari, Maret, Oktober, November, dan Desember sebesar Rp464,34 miliar disebabkan harga CPO yang melebihi USD750 /Metric Ton sehingga dikenai Bea Keluar. Rincian lebih lanjut dapat dilihat dalam Lampiran 1.
PNBP Rp343,81 triliun