• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. REMAJA, SAKRAMEN KRISMA DAN

C. Penerimaan Sakramen Krisma

Yang dimaksud dengan pelayan Krisma adalah pihak yang memiliki wewenang untuk menerimakan Sakramen Krisma. Penerimaan Sakramen Krisma secara khusus menjadi wewenang uskup. Hal ini berkaitan dengan fungsi sosial inisiasi. Sakramen Krisma dapat dilihat sebagai penugasan dan pengangkatan resmi seseorang menjadi persona publica dalam jemaat. Dan yang dapat memberikan tugas dan pengangkatan tersebut adalah pemimpin jemaat yang mandiri, yaitu uskup. Hal ini ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik yang menyebutkan bahwa yang melayani (dalam arti memberikan) Sakramen Krisma adalah uskup (Kan.882) disamping itu, demi hukum, ada pihak yang selain uskup yang memiliki kewenangan untuk menerimakan Sakramen Krisma dengan megikuti ketentuan sebagai berikut (Kan.883): a. Mereka yang dalam hukum disamakan dengan uskup diosesan di dalam

batas-batas wilayah kekuasaannya.

b. Imam yang mendapat tugas atau mandat dari uskup.

c. Setiap imam boleh menerimakan Sakramen Krisma kepada orang yang berada dalam bahaya mati.

Selain hal yang diungkapkan di atas, dalam hal penerimaan Sakramen Krisma ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Uskup hendaknya menerimakan Sakramen Krisma kepada umat di wilayah keuskupannya secara pribadi. Kecuali dalam keadaan yang terpaksa ia dapat melimpahkannya kepad uskup

lain atau memberikan kuasa kepada imam. Dan atas dasar alasan yang berat, uskup (dan juga imam-imam yang mendapat tugas dan mandat) dapat meminta bantuan imam-imam atau dalam menerimakan Sakramen Krisma. Selain itu, uskup wajib mengusahakan agar Sakramen Krisma diberikan dengan dengan baik dan wajar kepada umat yang meminta. Uskup juga dimungkinkan untuk menerimakan Sakramen Krisma bagi umat yang tidak berada di dalam wilayah keuskupannya dengan dengan ijin uskup diosesan yang bersangkutan. Hal ini juga berlaku bagi para imam yang mendapatkan wewenang untuk menerimakan Sakramen Krisma (Kan. 886 – 888)

2. Persyaratan calon penerima Sakramen Krisma

Untuk dapat menerima Sakramen Krisma, seseorang harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan. Syarat-syarat tersebut antara lain adalah ia sudah dibaptis dan belum pernah menerimanya sebelumnya. Selain itu ia harus memiliki pengertian yang baik mengenai Sakramen Krisma, hal ini dapat diandaikan dengan keikutsertaanya dalam masa persiapan penerimaan Sakramen Krisma (Kan. 889). Syarat ini mengandaikan adanya syarat yang lain, yaitu bahwa seseorang yang akan menerimakan Sakramen Krisma haruslah sudah berusia cukup dan dapat menggunakan akal sehatnya. Syarat-syarat tersebut tidak berlaku mutlak bila seseorang sedang berada dalam keadaan bahaya maut (Kan. 891)

3. Tanggung Jawab Penerima Krisma

Seseorang yang telah menerima Sakramen Krisma, bukan berarti tugasnya telah selesai, namun ia dituntut untuk memikul tanggung jawab sebagai warga dewasa Gereja. Hal ini terjadi karena melalui Sakramen Krisma seseorang secara penuh telah dikukuhkan sebagai anggota Gereja yang harus turut terlibat dan aktif dalam memikul tanggung jawab yang ada, serta mempunyai hak dan peranan yang sama, seperti semua anggota Gereja yang lain yang sudah dewasa. Ia memperoleh hak dalam peran pada karya penyelamatan seluruh Gereja.

Seorang penerima Sakramen Krisma dijiwai oleh roh Kristus sendiri sehingga ia juga dipenuhi dan disemangati oleh Roh Kristus sendiri. Karena itu ia akan semakin berani terlibat aktif dalam pengembangan iman jemaat Gereja dengan penghayatan hidup menggerejanya, mewujudkan dan membina persekutuan dan paguyuban jemaat, mau berpartisipasi dalam kepemimpinan jemaat, setia dalam mengikuti Kristus, berani membela imannya dan menjadi saksi Kristus.

Sebenarnya semua itu adalah buah-buah Krisma, yang perwujudannya menjadi tanggung jawab pribadi setia orang yang menerima Sakramen Krisma tersebut (Ernest Maryanto; 1987:27 – 39)

4. Tanggung jawab orang tua

Orang tua pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang paling utama dalam hal pendidikan anak termasuk dalam hal pendidikan imannya. Dalam hal persiapan Krisma orang tua bertanggung jawab untuk mengusahakan agar anak-anaknya dipersiapkan untuk Krisma. Hal ini dapat dilaksanakan dengan membimbing anak-anak mereka setahap demi setahap dalam semangat iman. Selain itu orang tua juga harus mengusahakan agar dirinya sendiri menjadi bagi anak-anak mereka yang akan menerima Sakramen Krisma. Secara singkat orang tua bertanggung jawab untuk menghantar anaknya kepada kemauan untuk menerima Sakramen Krisma, mengikuti persiapan Sakramen Krisma, mendampingi selama masa persiapan, saat pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma dan masa sesudah penerimaan Sakramen Krisma.

5. Tanggung jawab Gereja

Gereja sebagai persekutuan umat beriman yang memiliki tanggung jawab agar umat beriman dapat menyambut Sakramen Krisma tepat pada waktunya. Selain itu Gereja harus mengusahakan dan memperhatikan agar umat beriman memiliki pemahaman dan penghayatan yang memadai mengenai Sakramen Krisma. Hal ini diwujudkan misalnya dengan pendampingan yang memepersiapkan para calon penerima Krisma, pendampingan dalam hidup sehari-hari serta pemeliharaan kehidupan mereka melalui cara-cara lain. Dalam hal ini pihak-pihak yang bersangkutan adalah

seluruh jemaat beriman, orang tua dan gembala umat terutama para imam. Perwujudan tanggung jawab tersebut akan lebih baik bila dilakukan secara terpadu dan bersama-sama dimana setiap pihak saling membantu dan bekerjasama (KHK Kan. 890).

6. Wali Krisma

Yang dimaksud dengan wali Krisma adalah pihak yang mendampingi dan membimbing calon penerima Krisma selama masa persiapan, masa perayaan penerimaan dan sesudah perayaan Krisma. Secara khusus wali Krisma bertugas untuk mengusahakan agar mereka yang telah menerima Sakramen Krisma mau dan mampu bertindak sebagai saksi Kristus yang sejati dan setia memenuhi konsekuensi wajib yang melekat dalam sakramen tersebut (KHK Kan. 892).

Untuk menjadi seorang wali krisma, maka seseorang harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan. Syarat-syarat tersebut pada intinya tidak berbeda dengan syarat yang telah ditentukan bagi seorang wali baptis sebagaimana disebutkan dalam KHK Kan. 874, persyaratan tersebut antara lain:

a. Ditunjuk oleh calon penerima Krisma atau orang tuanya atau

b. Oleh orang yang mewakili mereka atau oleh pastor paroki atau wali baptis.

d. Berumur minimal enam belas tahun (atau sesuai dengan ketentuan uskup diosesan atau pastor paroki).

e. Telah menerima Sakramen Inisiasi lengkap dan memiliki reputasi yang baik sesuai dengan iman dan tugas yang diembannya.

f. Tidak terkena sanksi atau hukum kanonik atau bebas dari hambatan-hambatan kanonik.

g. Bukan orang tua dari calon yang bersangkutan.

Dalam hal wali Krisma, orang tua juga dapat menjadi wali Krisma bagi anaknya. Dalam hal ini, orang tua yang sungguh-sungguh mengamalkan imannya akan menjadi pembimbing dan pendukung utama bagi anak-anaknya. Sebaliknya bila orang tua tersebut termasuk orang yang lemah imannya, maka pengkrismaan anak-anaknya dapat menjadi kesempatan bagi mereka untuk untuk meneguhkan kembali hidup iman Kristen mereka (Cricthon,1990:105). Dengan demikian dapat dilihat hubungan timbak balik yang saling menguntungkan antara orang tua/wali Krisma dengan anak.

D. Katekese Pada Umumnya

Dokumen terkait