BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE KRISMA BAGI REMAJA
B. Contoh Persiapan Pembekalan Bagi
3. Satuan pertemuan III
1) Judul Pertemuan : Keterlibatan Awam Dalam Karya Pewartaan Gereja
- Tujuan Pertemuan : Peserta semakin menyadari akan peran dan tugas pentingnya sebagai awam dalam kegiatan pendampingan dalam Gereja, sehingga semakin dapat mencintai tugas dan panggilannya sebagai seseorang yang dipanggil untuk terlibat dalam kegiatan pewartaan Gerejawi
- Waktu : 2 X 45 Menit
b. Pemikiran Dasar
Gereja, dalam usahanya untuk mewartakan Kabar Gembira dan memaklumkan Kerajaan Allah, mengikutsertakan juga kaum awam. Kaum awam yang mengambil bagian dalam kenabian Kristus, yang tampak dalam kegiatan pewartaan, sering disebut Katekis atau Guru Agama. Sebagai katekis, mereka memenuhi misi khusus yaitu mewartakan Injil atau Kabar Gembira dan menyampaikan ajaran Kristen melalui “kesaksian hidup dan kata-kata” (LG 35).
Setiap warga Gereja yang telah dibaptis wajib untuk terlibat dalam kegiatan pewartaan akan sabda Allah melalui kesaksian hidupnya baik berupa kata-kata, sekaligus perbuatannya. Hal ini tentunya harus mendapat tanggapan yang serius dan penuh sukacita dari setiap warga Gereja. Karya pewartaan Gereja tidak bisa dilepaskan dari peran awam itu sendiri. Untuk memaksimalkan tugas dan perannya tersebut perlulah diadakannya suatu kaderisasi, penataran, ataupun juga penyegaran kembali bagi mereka yang pada khususnya mempunyai hati untuk terlibat dalam kegiatan pewartaan ini. Hal ini merupakan suatu kegiatan yang harus dilaksanakan untuk lebih menyadarkan katekis akan peran dan tugas pentingnya sebagai awam dalam kegiatan pendampingan dalam Gereja, untuk semakin dapat mencintai tugas dan panggilannya sebagai seseorang yang dipanggil untuk terlibat dalam kegiatan pewartaan Gerejawi
c. Materi
1) Katekese sebagai komunikasi Iman
2) Katekese memperkembangkan iman, dalam bidang pengetahuan dan penghayatan
3) Ciri katekese sebagai kesaksian pribadi
4) Dasar pertama dan utama katekese adalah Roh Kudus 5) Katekese yang baik adalah yang dialogal
d. Sumber Bahan 1) LG 35 2) CT 20 3) EN 41 4) EN 45 e. Sarana 1) Hand out 2) Kitab Suci 3) Kertas flep 4) Spidol f. Metode. 1) Sharing 2) Informasi 3) Diskusi 4) Tanya jawab
g. Proses Pengembangan Langkah. 1) Doa Pembukaan
h. Penggalian Pengalaman Peserta
( Pada bagian ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk menggali pengalaman mereka dalam melayani kegiatan pendampingan Krisma dan menuliskan hasil diskusi dalam kertas yang telah dipersiapkan, setelah diskusi dalam kelompok selesai kemudian hasil yang ada diplenokan )
1) Sudah berapa lamakah anda terlibat dalam kegiatan pendampingan dalam Gereja ?
2) Apakah yang mendorong anda untuk terlibat dalam kegiatan pendampingan ini ?
3) Apa sajakah suka duka yang pernah anda alami ?
Uraian Materi
KETERLIBATAN AWAN DALAM
KARYA PEWARTAAN GEREJA
Gereja, dalam usahanya untuk mewartakan Kabar Gembira dan memaklumkan Kerajaan Allah, mengikutsertakan juga kaum awam. Kaum awam yang mengambil bagian dalam kenabian Kristus, yang tampak dalam kegiatan pewartaan, sering disebut Katekis atau Guru Agama. Sebagai katekis, mereka memenuhi misi khusus yaitu
mewartakan Injil atau Kabar Gembira dan menyampaikan ajaran Kristen melalui “kesaksian hidup dan kata-kata” (LG 35). Melalui kesaksian hidup yang nyata dan kata-kata, mereka dipandang mampu mengambil bagian dalam mewartakan Kabar Gembira sebab dalam diri mereka orang-orang lain yang ada disekitarnya, entah di kantor, di kampung, di pasar, di sekolah, dan sebagainya, dapat merasakan dan melihat hidup Gereja yang senyatanya. Dengan demikian, mereka mempunyai kewajiban dan hak untuk berjuang agar warta ilahi keselamatan dapat menjangkau semakin banyak orang dan semua orang di seluruh dunia. Konsili Vatikan II mengatakan, “Kristus Nabi Agung telah memaklumkan Kerajaan Bapa dengan kesaksian hidup maupun kekuatan sabda-Nya. Ia menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan kemuliaan sepenuhnya bukan melalui Hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya, melainkan juga melalui para awam. Karena itulah awam diangkat-Nya menjadi saksi dan dibekali-Nya dengan perasaan iman dan rahmat sabda, supaya kekuatan Injil bersinar dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga maupun masyarakat. Begitu pula para awam menjadi bentara yang tangguh, pewarta iman akan hal-hal yang diharapkan, bila mereka tanpa ragu-ragu memadukan pengakuan iman dengan penghayatan iman” (LG 35). Demikian pula yang dikatakan Bapa Suci Paulus VI di dalam Imbauan Apostoliknya tentang Karya Pewartaan Injil Zaman Modern, “Sungguh menyenangkan dan memberi hiburan bahwa pada akhir Sidang
Pleno tahun 1974 kita mendengar kata-kata yang menggembirakan ini: Kami ingin menegaskan sekali lagi bahwa tugas untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja. Ini merupakan suatu tugas dan perutusan, yang semakin lebih mendesak karena perubahan-perubahan yang meluas dan mendalam di dalam masyarakat zaman sekarang ini” (EN 14). Berdasarkan kedua kutipan tersebut, baiklah kalau kita merumuskan tugas perutusan ini bersama dengan kata-kata yang menjadi keyakinan Santo Paulus, :Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16).
Dalam melaksanakan tugas perutusan ini, baiklah kalau katekis memperhatikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan pewartaan atau katekese, yaitu:
1. Katekese adalah komunikasi iman yang berlangsung dalam rangka persekutuan iman, artinya bahwa kegiatan ini pertama-tama berbicara tentang iman, dilakukan diantara orang-orang beriman dan dalam usaha untuk memperkembangkan iman satu sama lain.
2. Kegiatan katekese ini pertama-tama bertujuan untuk memperkembangkan iman, baik di bidang pengetahuan maupun
penghayatan, seperti yang diharapkan Sri Paus Yohanes Paulus II di dalam Anjuran Apostoliknya kepada para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, yang berbunyi “Kendati begitu tujuan khas katekese ialah: berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannya serta makin memantapkan peri hidup Kristen Umat beriman, muda maupun tua. Kenyataannya itu berarti: merangsang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan benih iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan awal, dan yang dikaruniakan secara efektif melalui baptis” (CT 20).
3. Katekese sebagai komunikasi iman bercirikan kesaksian pribadi. Dalam memberikan kesaksian, orang itu sendiri hendaknya terlibat dalam apa yang dikatakan sebagai wujud kesaksiannya. Kesaksian selalu menyangkut kehidupan dan tindakan pribadi yang selalu mengarah kepada kebenaran yang mau disampaikan “Bagi Gereja sarana utama bagi Penginjilan adalah kesaksian hidup Kristen yang otentik, yang diberikan pada Allah dalam suatu persekutuan, yang tak dapat dibinasakan oleh apa pun juga, dan sekaligus juga diberikan kepada sesamanya dengan semangat yang tak mengenal batas” (EN 41).
4. Dasar pertama dan utama dalam kegiatan katekese ini adalah Roh Kudus. Roh Kudus tidak hanya berkarya pada diri katekis tetapi juga dalam diri para pendengarnya. “Roh Kuduslah yang sekarang ini persis seperti pada awal Gereja, bertindak di dalam setiap penginjilan yang membiarkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Dia. Roh Kudus meletakkan dalam bibirnya kata-kata, yang orang itu tidak dapat menemukannya sendiri, dan sekaligus Roh Kudus menyiapkan jiwa pendengar untuk terbuka dan siap menerima Kabar Baik dan Kerajaan yang sedang diwartakan” (EN 75).
5. Kegiatan katekese ini dapat berhasil baik kalau bersifat dialogal, yang menekankan pentingnya hubungan pribadi antara katekis dan para pendengarnya. Selain itu dapat dipergunakan berbagai macam sarana komunikasi yang dimungkinkan, misal: televisi, radio, media cetak dan media audio-visual lainnya, sehingga pewartaannya sungguh menarik dan mengenai sasaran.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan dan peranan katekis sungguh amat penting dalam kegiatan pewartaan ini. Oleh karenanya, Gereja berharap bahwa katekis itu adalah sosok pribadi yang bermutu, baik yang menyangkut hidup rohani maupun pribadinya. Katekis harus mempunyai kematangan hidup rohani, sebab
kehidupan rohaninya akan mencerminkan isi pewartaannya. Selain hidup rohani, katekis juga harus dipersiapkan dengan berbagi macam pembinaan, baik teori maupun pastoral, agar isi pewartaannya sungguh berbobot. Dengan kata lain, katekis diharapkan selalu memperkembangkan hidup rohani dan mau memperkaya diri dengan berbagai macam pengetahuan agama yang sesuai dengan perkembangan zamannya. i. Penutup 1) Tanya Jawab 2) Doa Penutup 4. Satuan Pertemuan IV