• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE KRISMA BAGI REMAJA

B. Contoh Persiapan Pembekalan Bagi

4. Satuan pertemuan IV

1) Judul Pertemuan : Sakramen Krisma

2) Tujuan Pertemuan : Peserta semakin memahami akan arti, makna dan simbol-simbol yang ada dalam Sakramn Krisma, sehingga dapat semakin menghayati, memaknai, dan memahami dalam hidup hariannya

3) Waktu : 2 X 45 Menit

b. Pemikiran Dasar

Manusia adalah makhluk yang ekspresif. Dalam menyampaikan suatu maksud, seseorang tidaklah puas hanya dengan mengungkapkan isi hati atau maksud hatinya melalui kata-kata saja, melainkan mereka juga mengungkapkan isi atau maksud hatinya juga dengan tanda, lambang atau simbol yang meneguhkan ungkapan kata-kata atau tulisan tadi. Untuk itu dipakailah bahasa simbol yang sedekat mungkin artinya dengan kata yang dimaksudkan atau dikatakan. Kata biasanya meneguhkan isi hati atau maksud; lambang atau simbol meneguhkan apa yang dikatakan. Dengan demikian, lambang atau simbol tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling terkait. Simbol atau lambang yang dibuat biasanya menggunakan sarana. Saranapun juga dicari yang searti atau sesuai dengan lambang atau simbol dan kata. Dalam pelantikan seorang pejabat, misalnya kata-kata yang diucapkan adalah kata-kata-kata-kata sumpah atau janji. Karena ada janji atau sumpah, maka diatas kepala calon pejabat itu ada Kitab Suci, yang dimaksudkan sebagai sarana yang cocok ketika orang tersebut mengucapkan janji atau sumpahnya, juga merupakan tanda kehadiran Allah yang menjadi saksi orang yang bersumpah/berjanji.

Gereja mempunyai tradisi melaksanakan tugas pastoralnya untuk menguduskan umat yang sedang dalam perjalanan menuju Bapa. Dalam

menguduskan umatnya, Gereja diberi wewenang untuk mencurahkan rahmat Allah. Rahmat Allah itu tidak keliahatan. Supaya umat merasakan, melihat dan diteguhkan bahwa rahmat Allah itu sungguh dicurahkan, maka Gereja membuat tanda atau simbol/lambang yang menampakkan bahwa rahmat itu sungguh sudah dicurahkan, maka Gereja tidak cukup hanya membuat simbol, tanda atau lambang tersebut, Gereja juga menyertainya dengan kata-kata yang jelas dan pasti bahwa rahmat Allah itu dicurahkan.

Dalam Sakramen Krisma, Gereja mencurahkan rahmat Roh Kudus. Umat perlu menyadari kehadiran Roh Kudus yang memberinya rahmat agar mampu melaksanakan karya Kristus, membuat ia semakin dewasa dalam iman, mendapat jaminan akan apa yang dibutuhkan untuk hidupnya. Orang yang menerima Sakramen Krisma semakin berani menyatakan kebenaran, berani menghadirkan Kristus di dalam kehidupan bermasyarakat. Rahmat Roh Kudus yang dicurahkan pada orang yang menerima Sakramen Krisma ditandai dengan penumpangan tangan dan pengurapan dengan minyak Krisma disertai kata-kata: “semoga dimeterai oleh karunia Allah, Roh Kudus”. Allah yang telah mengurapi umatNya dengan minyak Krisma, menjamin hidupnya dengan jaminan Roh Kudus yang dicurahkan kepada umatNya (lih. 2 Kor 1:21-22).

Dengan memahami arti Sakramen Krisma dan maknanya bagi kehidupan, para pendamping akhirnya diharapkan semakin menghayati

peranan Roh Kudus dalam kehidupannya setiap saat, terutama saat mereka nantinya telah bertugas untuk mendampingi para calon penerima Krisma.

c. Materi

Pengertian Sakramen Krisma, makna dan simbol- simbol yang digunakan

d. Sumber Bahan

1) Konferensi Wali Gereja Indonesia, IMAN KATOLIK, Kanisius, Yogyakarta, 1996, Hal 428

2) Para Wali Gereja Regio Jawa, STATUTA KEUSKUPAN REGIO JAWA, Kanisius, Yogyakarta, Psl 88, hal 46

3) Drs. Aloysius Soenarto SW, dkk, Katekese Bagi calon Krisma : buku pendamping; yogyakarta: Kanisius, 2002, Hal. 84

e. Sarana - Hand Out - Kertas flep - Spidol f. Metode. 1) Sharing 2) Informasi

3) Diskusi 4) Tanya jawab

g. Proses Pengembangan Langkah. 1) Doa Pembukaan

2) Pengantar

h. Uraian Materi

PENGERTIAN SAKRAMEN KRISMA , MAKNA DAN SIMBOL – SIMBOL YANG DIGUNAKAN

Sakramen Krisma atau Penguatan juga merupakan bagian dari Sakramen Inisiasi. Awalnya Sakramen Krisma tidak terpisahkan dengan Sakramen Baptis. Kedua sakramen ini dilaksanakan dan diterimakan dalam satu rangkaian upacara yaitu penerimaan Sakramen Baptis pada Malam Paskah, olehUskup. Pada saat itu, hal tersebut dapat terlaksana dikarenakan jumlah umat masih sedikit dan jumlah Uskup memadai. Hampir setiap “Paroki” dikepalai oleh seorang Uskup. Zaman berubah di mana jumlah umat semakin bertambah banyak, jumlah Uskup terbatas dan kehadirannya juga terbatas, maka pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma dipisahkan dengan Sakramen Baptis. Di sini, kedua sakramen iti tidak lagi menjadi satu rangkaian upacara yang terjadi pada Malam

Paskah. Sekarang ini, Sakramen Baptis diterimakan oleh Imam dan setelah menerima Sakramen Baptis orang tersebut baru diperbolehkan menerima Sakramen Krisma, sebagai penyempurnaan atas rahmat Sakramen Baptis, yang diterimakan oleh Uskup. Dengan demikian, Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma berdiri sendiri sebagai sakramen dengan tekanan yang berbeda satu sama lain. Penerimaan Sakramen Baptis dipusatkan pada baptisan dengan air, sedangkan Sakramen Krisma dipusatkan pada pengurapan dengan Roh Kudus. Meskipun keduanya berdiri sendiri sebagai sakramen namun pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Baptis. Sebagai liturgi perayaan penerimaan Sakramen Krisma selalu diawali dengan pembaharuan janji baptis dan pengakuan iman.

Sakramen Krisma harus diterima oleh semua orang yang telah dibaptis sebab sakramen ini melengkapi dan menyempurnakan rahmat Sakramen Baptis yang telah diterimanya. Kalau pengurapan minyak krisma dalam Sakramen Baptis merupakan tanda bahwa orang tersebut boleh mengambil bagian dalam martabat Kristus sebagai imam, nabi dan raja; sedangkan pengurapan minyak krisma dalam Sakramen Krisma berarti orang tersebut secara nyata diikutsertakan dalam tugas publik Gereja yaitu mewartakan kabar keselamatan Allah bagi dunia, seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II “Berkat Sakramen Penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengar. Daya kekuatan Roh Kudus yang

istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebar-luaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (LG 11). Dengan kata lain, orang diperbolehkan menerima Sakramen Krisma sebab orang tersebut dianggap layak untuk mengambil bagian dalam tugas publik Gereja yaitu menjadi saksi-saksi Yesus Kristus, yang disebabkan oleh rahmat pengurapan Roh Kudus. Kesaksian tersebut hendaknya terwujud secara nyata dalam hidup sehari-hari dengan menjadi garam dan terang dunia (lih. Mat 5:13-16), baik melalui perkataan maupun perbuatan. Orang tersebut dianggap layak menjadi saksi-saksi Yesus Kristus di dunia sebab dianggap sudah mempunyai iman yang dewasa dan mendalam.

Unsur pokok dalam penerimaan Sakramen Krisma adalah penumpangan tangan sebagai tanda pencurahan Roh Kudus dan pengurapan minyak krisma – yang disebut Sacrum Chrisma – di dahi calon, sambil berkata, “(Nama Calon), terimalah tanda karunia Roh Kudus”. Semuanya ini dilaksanakan oleh Uskup atau Imam yang diberi kuasa oleh Uskup, biasanya Vikaris Jendral.

Siapakah yang berhak menerima Sakramen Krisma? Semua orang beriman yang telah di Baptis dan belum menerima Sakramen Krisma. Orang seperti ini wajib dan berhak untuk menerima Sakramen Krisma (lih. KHK Kan. 889 par. 1). Selain itu, orang yang berhak menerima Sakramen Krisma adalah orang yang sudah dianggap dewasa. Kedewasaan yang

dimaksudkan di sini adalah kedewasaan yang menyangkut baik kedewasaan usia maupun kedewasaan iman. Keduanya tidak boleh disamakan begitu saja sebab lanjutnya usia tidak menentukan kedewasaan iman. Orang yang berusia lanjut belum tentu imannya mendalam dan hidup rohaninya matang, sebaliknya bisa saja orang berusia muda tetapi imannya mendalam dan hidup rohaninya matang. Soal kedewasaan ini perlu diperhatikan agar rahmat Roh Kudus sungguh dapat berdaya guna bagi orang yang menerimanya, sehingga orang tersebut akhirnya dapat melaksanakan dan mewujudkan tugas perutusannya menjadi saksi-saksi Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari. Memang, berbicara dan memahami soal kedewasaan ini dapat menimbulkan aneka macam penafsiran yang berbeda satu sama lain sebab masing-masing orang dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda satu sama lain. Gereja sendiri tidak menentukan secara pasti batasan soal kedewasaan tersebut, seperti yang dikatakan Kitab Hukum Kanonik “Sakramen Penguatan hendaknya diberikan kepada umat beriman pada sekitar usia yang dapat menggunakan akal, kecuali jika Konferensi Waligereja menentukan usia lain, atau jika ada bahaya mati, atau jika menurut pandangan pelayan sakramen ada alasan berat yang menganjurkan lain (KHK Kan. 891). Di sini, kedewasaan hanya dikatakan “usia dapat menggunakan akal”. Oleh karena itu, Gereja-gereja keuskupan Regio Jawa sungguh memperhatikan arti kedewasaan ini dengan cara

memberikan batasan umur bagi calon penerima Krisma, yaitu “ Sakramen Krisma sebaiknya diberikan pada usia Sekolah Lanjutan Pertama atau usia 13-15 tahun”. Batasan umur tersebut adalah batasan minimal, dengan pengertian yang sama bahwa calon sudah dianggap dapat berpikir dengan baik dan sudah dianggap berani menjadi saksi Kristus bagi sesamanya.

Mengingat pentingnya Sakramen Krisma bagi kehidupan orang beriman, baiklah kalau umat diberi penjelasan mengenai maksud Sakramen Krisma dan perlunya menerima Sakramen Krisma tepat pada waktunya “Umat beriman wajib menyambut sakramen itu tepat pada waktunya; para orangtua, gembala umat, terutama Pastor Paroki hendaknya mengusahakan agar umat beriman diberi penjelasan dengan baik untuk menerima sakramen itu, dan pada waktu yang baik datang menyambutnya” (KHK Kan. 890). Sakramen Krisma, sebagai tanda atau materai rohani yang tak terhapuskan, hanya diberikan satu kali saja dan berlaku selama-lamanya.

Di sini, agar calon sungguh menyadari dan memahami pentingnya Sakramen Krisma maka calon penerima Sakramen Krisma harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh melalui pelajaran agama secara rutin, doa yang intensif maupun menerima Sakramen Tobat atau Pengampunan Dosa. Semuanya ini dimaksudkan agar calon dapat merasakan kesatuan yang lebih mesra dengan Yesus Kristus sebab dihidupi oleh Roh Kudus itu sendiri, sehingga dapat melaksanakan tugas

perutusannya di dunia dalam hidup sehari-hari. Tugas perutusan menjadi saksi Kristus, baik dalam Gereja maupun di tengah masyarakat, dilaksanakan dengan cara hidup baik sehingga diri dan hidupnya dapat menjadi perantara berkat bagi sesama.

Dibawah ini terdapat tabel yang menerangkan mengenai arti dan makna dari simbol-simbol dalam Sakramen Krisma.

Tindakan / Lambang Maksud

Uskup

Sakramen Krisma di berikan oleh uskup atau imam yang diberi kuasa

Penumpangan tangan

- Berkat kekuatan, peneguhan.

- Pencurahan Roh Kudus (orang yang dipilih)

- Pembebasan

- Tanda seorang yang diutus (kekuasaan spiritual)

- Persekutuan – persaudaraan

Pengurapan dengan Minyak Krisma

- Pengurapan Kristus dengan Roh Kudus - Menguduskan orang yang diurapi

merasuk - Pembersihan

- Tanda kegembiraan dan penghormatan

Minyak Krisma

- Lambang Roh Kudus - Lambang pelantikan Tepukan di pipi - Tanda pengutusan j. Penutup

1) Tanya jawab 2) Doa Penutup

5. Satuan Pertemuan V

Dokumen terkait