• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE KRISMA BAGI REMAJA

B. Contoh Persiapan Pembekalan Bagi

2. Satuan pertemuan II

1) Judul Pertemuan : Psikologi Remaja

2) Tujuan Pertemuan : Peserta semakin mengenal dan memahami dunia remaja sehingga mereka dalam melakukan pendampingan tidak mengalami kesulitan dan hambatan.

- Waktu : 2 X 45 Menit b. Pemikiran Dasar.

Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.

Pada pertemuan kali ini kita akan melihat gambaran perkembangan remaja dilihat dari segi fisik, psikis, moral sosial, dan religius. Hal ini dianggap perlu supaya pendamping dan calon pendamping Krisma dapat memahami serta mengerti akan dunia remaja dari calon penerima Krisma yang masih berusia remaja.

Perkembangan remaja dilihat dari : - Segi Fisik - Kehidupan psikis - Ciri moral - Ciri sosial - Ciri religius d. Sumber Bahan

- Brubaker,Omar, J, M.A. dan Clark, E, Robert. Ed.D.(1972). Memahami Sesama Kita: Anak-anak, Kaum Muda, dan Orang Dewasa. Malang: Gandum Mas.

- Hurlock, Elizabeth, B. (1991). Psikologi Perkembangan, Jakarta: ERLANGGA.

- Kurtines, M, William Jacob C. Gerwitz. (1992). Perkembangan Moralitas, Jakarta: Universitas Indonesia

- Catherine Sofyan, Dra. (1984). Pendidikan Kehidupan Keluarga. Jakarta: Obor.

e. Sarana - Hand out - Kertas flep - Spidol

f. Metode - Sharing - Diskusi - Informasi - Tanya jawab

g. Proses Pengembangan Langkah 1) Doa Pembukaan

2) Pengantar

h. Penggalian Pengalaman Peserta

( Pada bagian ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk menggali pengalaman mereka dalam melayani kegiatan pendampingan Krisma dan menuliskan hasil diskusi dalam kertas yang telah dipersiapkan, setelah diskusi dalam kelompok selesai kemudian hasil yang ada diplenokan )

1) Pernahkah anda menghadapi remaja yang mempunyai kepribadian sulit? Bagaimanakah sikap anda dalam menghadapi keadaan ini? 2) Dalam kepribadiannya yang sulit tersebut, adakah remaja yang

“datang” kepada anda untuk melakukan “curhat” ? bagaimanakah tanggapan anda terhadapnya?

Uraian materi

SEPINTAS GAMBARAN REMAJA PADA UMUMNYA.

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai aspek kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada ciri dan segi tersebut.

4. Segi fisik.

Sebelum masa kanak-kanak berakhir, tubuh anak telah mempersiapkan diri sebagai tahap permulaan pematangan kehidupan kelaminnya. Pada saat ini tubuh secara keseluruhan mengalami perubahan, baik dalam struktur tubuh ataupun dalam fungsinya (Hurlock, 1999 : 127-128)

Perubahan tubuh sangat berpengaruh dalam perkembangan jiwa remaja, perubahan tubuh tersebut antara lain: badan semakin panjang dan tinggi, alat-alat reproduksi mulai berfungsi (hal ini ditandai dengan adanya haid yang pertama pada seorang wanita dan mimpi basah pada seorang laki-laki) dan tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder (pembesaran payudara, pinggul yang membesar, perubahan suara, dan tumbuh kumis serta jenggot)

Perubahan-perubahan fisik menyebabkan seorang remaja menjadi canggung, karena ia harus menyesuaikan diri dengan dengan segala

perubahan yang terjadi dalam dirinya. Walau pengaruhnya berbeda, tetapi cara mereka dalam melampiaskan kecanggungan/gangguan ketidak seimbangan itu berbeda. Beberapa bentuk pelampiasan dapat terlihat di antaranya adalah sifat mudah tersinggung, tidak dapat diikuti jalan pikirannya ataupun perasaannya, ada kecenderungan menarik diri dari keluarga atau teman, dan lebih senang menyendiri, menentang kewenangan (contohnya: orangtua dan guru), sangat mendambakan kemandirian dan sangat kritis pada orang lain, tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, tugas di rumah, dan sangat menampakkan dirinya tidak bahagia.

Ketidakbahagiaan pada setiap usia merupakan hal yang serius. Terutama bila hal ini berlangsung lama sehingga menjadi kebiasaan, maka pentinglah untuk menekan kebiasaan tidak bahagia ini pada tahap seminimum mungkin. Orang tua dan guru dapat melakukannya dengan mengusahakan anak usia puber agar selalu sehat. Informasi diberikan untuk memberitahu apa yang ingin dan perlu diketahuinya, terutama mengenai proses kematangan dirinya. Hal ini diharapkan agar remaja yang sedang tumbuh ini tidak membayangkan ada suatu kesalahan yang sedang terjadi dalam dirinya. Bila dirinya berbeda dengan teman-temannya, orangtua dan guru dapat membantu dengan cara-cara sebagai berikut: memperbaiki penampilan diri remaja, memperingan kerja selama periode pertumbuhan pesat, tidak mengomentari turunnya mutu pekerjaan,

mendorong remaja bercita-cita secara realistis sehingga tidak kecewa akan prestasi yang dicapai, dan dengan menerima kemurungan serta kenakalannya sebagai sifat yang sementara.

5. Kehidupan psikis.

Setelah masa kanak-kanak dilalui, maka seorang anak mulai memasuki masa pra remaja dan remaja. Pada masa remaja sering timbul masalah-masalah di mana tidak jarang orang tua dan para pendidik merasa bahwa cara remaja bersikap dan bertingkah laku sangat berbeda dari masa perkembangan sebelumnya yang pernah terjadi, mereka sulit dimengerti. Remaja seolah-olah mendirikan dinding pemisah dengan orang tua dan merasa terganggu bila urusannya mendapat perhatian, sehinggga hal ini dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan.

Perubahan-perubahan yang terjadi ini dilatar belakangi oleh suatu masa peralihan atau masa transisi bagi terbentuknya perkembangan ego. Dari seorang anak yang serba tanggung berubah menjadi seorang anak yang dipenuhi tuntutan-tuntutan dalam menghadapi masa dewasanya. Proses ini dikatakan transisi, karena dilihat dari perkembangannya mereka tidak lagi dapat dikatakan sebagai seorang anak kecil lagi. Tetapi di pihak lain ia belum mampu memikul tanggung jawab seperti orang dewasa. Dengan asanya masa transisi yang disertai dengan terjadinya perubahan dalam segi jasmani, kepribadian, intelek dan perannya, baik di dalam

dirinya dan di luar lingkungannya menyebabkan remaja sendiri mengalami kesulitan untuk mengerti ataupun menerima perubahan-perubahan yang terjadi tersebut.

Permasalahan utama masa ini adalah pembentukan identitas diri. Pada masa ini remaja sedang belajar mengetahui siapa dirinya dan apa yang dirasakannya secara nyata dalam dirinya itu. Pada saat inilah remaja memperoleh kemampuan untuk mendapatkan pengalaman berdasarkan pada pengalaman-pengalaman ada dalam hidupnya tetapi sangat berbeda dengan apa yang telah mereka peroleh pada waktu mereka masih sebagai anak-anak. Jadi masa ini mulai terbentuk rasa individualisme serta timbullah suatu kesadaran diri.

Identitas diri ini adalah hal yang unik, dan sangat tergantung pada kemampuan yang dimilikinya, kesempatan untuk mengembangkan pengalaman emosinya dalam lingkungan tempat dimana remaja ini tumbuh. Tercapainya identitas diri ini dapat terjadi melalui pergaulan dengan teman-temannya yang sebaya serta figur kepemimpinan yang ada dalam masyarakat.

Terbentuknya kepribadian seorang remaja terjadi pada masa ini. Secara tidak disadari berbagai dimensi dalam lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan kepribadian seseorang. Di dalam kepribadian terkandung arti daya tarik fisik, perasaan, kedewasaan. Kesopanan, tata cara atau kata-kata lain sejenisnyayang

menyangkut bentuk tingkah laku dan sikap yang menimbulkan impresi yang menyenangkan.

Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sosial sangat menentukan bagi terbentuknya jenis kepribadian dalam diri remaja nantinya. Karena pada masa ini fisik berkembang pesat, maka perkembangan kepribadian mempunyai kaitan yang sangat besar pula. Kerapkali remaja menonjolkan diri secara fisik, misal dengan tubuh yang menarik atau juga dengan daya tarik seksual. Karena daya tarik fisik diutamakan, maka pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan akan terbentuk perasaan tidak mampu yang mempegaruhi tindakan-tindakannya, atau timbul perasaan takut ditolak oleh lingkungan sosial. Tentu saja hal ini akan menghambat dalam perkembangan kepribadian sosialnya.

Perkembangan emosi pada masa remaja ini adalah lanjutan dari emosi yang sudah ada sejak masa kanak-kanak. Pada masa ini seringkali terlihat remaja menunjukkan diri bahwa ia adalah seorang yang keras serta mudah tersinggung, karena emosi semacam inilah mereka juga sering mengalami kesulitan dalam pergaulan dengan orang lain. Meskipun emosi mereka seringkali sangat kuat, dan tidak terkendali, namun lambat laun dengan pertambahan usia mereka, dapat terjadi pula kematangan emosi pada diri remaja. Untuk mencapai kematangan emosi, remaja perlu memperoleh gambaran-gambaran situasi yang dapat menimbulkan masalah pada diri

mereka. Sebaliknya mereka juga perlu membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain.

Remaja umumnya mengalami hubungan yang buruk dengan orang tuanya pada usia antara 12 sampai 17 tahun. Ini terjadi karena remaja banyak mengalami larangan dan tuntutan. Bila orang tua kurang memahami keadaan anak serta terlalu banyak mengkritik, maka hubungan antar mereka akan semakin renggang. Tetapi apabila orang tua kemudian mampu mengerti anak muda, maka hubungannya dengan anak dapat membaik kembali. Untuk itu diperlukan adanya komunikasi yang baik dan kebersamaan dalam keluarga, sehingga dapat terjadi saling penyesuaian yang dapat menolong terciptanya keadaan saling mengerti dan memahami. Dalam hal inilah keluarga berperanan besar dalam membentuk kepribadian remaja dan mempersiapkan diri mereka menuju pada kedewasaan (Dra. Ny. Chatarine Sofyan, 1984 : 22- 23 )

6. Ciri moral.

Pada perkembangan kesadaran moral remaja, terjadi dua perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Pertama, mereka menjadi lebih peka kepada harapan dan pandangan orang lain dalam masyarakat sekitarnya. Reputasi orang menjadi perhatian, sedang aspek moral dari reputasi itu dipandang sebagai bagian utama reputasi. Sehubungan dengan hal ini mereka mulai menyadari bahwa orang lain mengharapkan adanya sikap

tanggung jawab pada orang lain, khususnya kepada mereka yang dekat hubungannya dengan dirinya. Mewujudkan tanggung jawab bukanlah hanya hidup sesuai dengan harapan orang lain dalam hubungan sosial, namun perlu pula untuk meraih reputasi dan memperkuat jati dirinya.

Perubahan yang kedua adalah perkembangan dalam selera idiologis remaja. Remaja gemar sekali mengumpulkan dan menyusun teori mengenai berbagai hal, misalnya: filsafat, politik, atau moral. Teori-teori itu sering ditanggapi dengan serius, yang sering juga menghasilkan penemuan baru dari pertimbangan dan pendapat yang sudah ada.

Terdapat dua pergeseran utama yang memberikan landasan bagi terjadinya integrasi secara konseptual dalam pemikiran moral remaja. Pertama ialah permunculan perspektif kepribadian sosial dalam kesadaran mereka, dimana remaja memandang dirinya dalam karakteristik interaksi sosialnya: “saya ini sebagaimana saya bergaul dengan orang lain”. Pada umumnya suatu cara tertentu dalam mengadakan interaksi sosial mempunyai implikasi moral. Misalnya sikap suka menolong, murah hati, terbuka, curiga, semua ini merupakan perwatakan seseorang yang terbentuk oleh keadaan dirinya yang berinteraksi sosial.

Pergeseran kedua adalah sehubungan dengan pemahaman diri semasa remaja itu yang memberikan suatu peluang konseptual kepada pemikiran moral remaja. Pergeseran ini menuju suatu penentuan diri yang didasarkan

pada sistem kepercayaan, pandangan filsafat pribadi dan standar nilai moral.

Pada masa remaja ini terjadi interaksi dari sistem-sistem konseptual yang semula terpisah, yaitu moralitas dan diri. Terdapat dua landasan baru untuk menginteraksikan kedua sistem tersebut: yaitu perspektif sosial

yang memungkinkan interaksi pada masa remaja dini, dan kedua

perspektif idiologis dari masa pasca remaja. Kedua dasar bagi terjadinya integrasi ini tidak menyelesaikan seluruh pertentangan antara struktur-struktur kognitif untuk selamanya, tetapi integrasi tersebut mencerminkan adanya suatu kemajuan dalam proses perkembangan yang bersifat kritis (Kurtinez dan Gerwitz, 1992:179-199).

7. Ciri sosial.

Dengan mulainya masa puber, timbulah suatu perubahan dalam sikap sosial, kemunduran pada minat kelompok serta kecenderungan untuk menyendiri. Pada masa puber kemajuan dan kecepatan perubahan meningkat, serta sikap dan perilaku sosial semakin meningkat kearah anti sosial. Karena prilaku anti sosial pada masa tersebut, masa puber sering memperoleh julukan sebagai “fase negatif” dan “periode ketidakseimbangan”. Julukan ini menunjukkan bahwa sikap anak terhadap kehidupan adalah anti, yaitu anak manolak beberapa karakteristis sosial dan berkembang dengan sangat lambat pada masa kanak-kanak.

Karena perilaku sosial anak puber bukan merupakan hasil dari ketidak tahuannya akan harapan sosial, maka hal itu bukan berarti remaja itu disebut “asosial”. Pada umumnya anak-anak mengetahui apa yang diharapkan masyarakat kepada mereka, namun dengan sengaja mereka

melakukan kebalikan dari apa yang diharapkan dari masyarakat. Perilaku anti sosial ini terjadi karena adanya perubahan kelenjar dan perubahan fisik yang pesat. Perubahan yang radikal terjadi pada masa puber, meskipun kelihatannya merusak, merupakan bagian yang normal dari pola perkembangan sosial.

Pada perkembangan sosial remaja terjadi dua gerakan, yaitu : pemisahan diri dengan orang tua dan menuju kepada teman-teman sebaya. Pada gerakan yang pertama ini remaja ingin mandiri sebagai seorang yang dewasa, ingin melepaskan diri dari orang tua dengan maksud menemukan jati dirinya. Namun keinginan untuk lepas dari orang tua ini ditentang oleh keinginan memperoleh rasa aman di rumah. Mereka tidak berani mengambil resiko dengan tindakan meninggalkan lingkungan rumah (keluarga).

Gerakan yang kedua adalah dalam perkembangan sosialnya menuju kepada kelompok sebaya. Karena remaja lebih banyak berada diluar bersama dengan teman-teman sebayanya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa sikap teman-teman sebaya berpengaruh pada perubahan sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan prilaku dari pada pengaruh yang ada pada keluarga.

Karena proses keremajaan itu selalu maju, maka pengaruh kelompok sebayapun mulai semakin berkurang. Hal ini terjadi karena adanya dua faktor, yaitu; faktor pertama remaja ingin menjadi dan dikenal sebagai

pribadi/individu yang mandiri. Upaya dalam penemuan identitas diri ini melemahkan pengaruh kelompok pada remaja. Faktor kedua terjadi akibat pemilihan sahabat. Mereka tidak berminat lagi pada berbagai kegiatan besar seperti pada masa kanak-kanak.

Yang paling menonjol dari perubahan sikap dan perilaku adalah perubahan hubungan heteroseksual. Perubahan hubungan heteroseksual ini sangat radikal, yaitu perubahan dari remaja yang bersangkutan menyukai dan memperhatikan kawan lawan jenis, yang sebelumnya tidak mereka sukai ataupun perhatikan sama sekali.

Berbagai kegiatan sosial, baik kegiatan dengan sesama jenisnya biasanya mencapai puncaknya selama tahun-tahun tingkat SMA. Dengan meluasnya kesempatan untuk melibatkan diri dalam berbagai aktifitas sosial, maka wawasan dan pandangan sosial remaja akan semakin luas. Remaja mulai dapat menilai teman-temannya dengan lebih baik, sehingga adaptasi dalam situasi sosial bertambah baik (Hurlock, 1990: 213 - 216)

8. Ciri religius remaja.

Anak-anak usia 12 – 14 tahun umumnya mengalami kemunduran dalam menghadiri perayaan Ekaristi Kudus. Hal ini dipengaruhi oleh unsur lingkungan atau sosiologis dimana mereka hidup. Unsur yang sangat berpengaruh dalam taraf perkembangan ini adalah perubahan dalam bidang mentalitas dan efektivitas. Tidak menghadiri perayaan

Ekaristi bukan berarti suatu pemberontakan terhadap Gereja atau suatu permulaan proses keraguan dalam bidang iman, melainkan suatu cara mengadakan eksperiman mengenai kebebasannya atau untuk memperlihatkan bahwa mereka bukan anak kecil lagi. Dalam usia selanjutnya (16 – 18 tahun), hal tersebut berubah lagi, anak-anak muda yang semakin dewasa ini menganggap, karena sifatnya yang spontan, bahwa agama merupakan suatu struktur atas yang tidak ada gunanya.

Anak-anak usia 12 – 18 tahun tidak terharu lagi akan gambaran-gambaran Allah dari usia kanak-kanak, artinya gambaran-gambaran Allah yang terlalu manusiawi, meskipun gambaran itu perlu juga di dalam pendidikan agama yang baik. Gambaran ini tidak lagi cocok dengan mereka, sedang gambaran lain yang lebih jenih belum mereka miliki. Arah pemikiran dan gambaran mereka tentang Allah dapat dikatakan, Allah yang kosmis/transenden, gambaran Allah milik para filsuf. Dalam gambaran remaja inilah Allah memiliki dua sisi, yaitu sisi bapa atau kewibawaan, dan sisi ibu atau kemesraan. Dalam hal ini remaja cenderung memandang/menghayati dan menonjolkan Allah sebagai seorang bapa yang berwibawa,dan penuntut; namun di lain sisi mereka juga menaruh perhatian kepada tuntutan itu dan kepada kebaikan Allah yang mempunyai sifat ke-ibuan pula.

Gambaran tentang Allah ini masih terus berkembang. Dalam perkembangan berikutnya anak semakin terlepas dari taraf yang disebut

atributif, taraf anak antara usia 9 – 12 tahun. Sebagai kelanjutannya terdapat proses pendalaman pada usia pubertas, dengan puncaknya usia 15-16 tahun. Antara dua taraf ini, yaitu usia 12 – 13 tahun, pada remaja gambaran tentang Allah yang berasal pendidikan agama yang dulu tidak lagi memuaskan, karena tidak cukup membangun gambaran Allah yang transenden. Di lain pihak belum ada penghayatan-penghayatan yang benar-benar mendalam, yang menunjang persyaratan hubungan dengan Allah yang seharusnya. Dalam taraf ini remaja menilai Allah sebagai pribadi. Pada perkembangan usia selanjutnya gambaran tentang Allah semakin abstrak dan amat kabur, misalnya sebagai kekuatan yang mendorong sejarah manusia, sesuatu yang memberi semangat dan maksud kepada segala peristiwa, dan masih banyak lagi yang lain. Biasanya kepercayaan semacam ini tidak dirasa berpengaruh langsung secara pribadi terhadap mereka, juga dirasakan tidak ada sangkut pautnya secara batin dengan mereka

i. Penutup 1) Tanya jawab 2) Doa Penutup

3. Satuan Pertemuan III

Dokumen terkait