BAB IV HASIL PENELITIAN
2. Penetrasi Politik, Ekonomi, dan Sosial Pemerintah
jajahannya telah menciptakan sistem hubungan antara pihak penguasa kolonial dan penduduk pribumi yang dikuasai, dan antara pihak penjajah dengan negara induknya. Pola hubungan berpangkal pada prinsip dominasi, eksploitasi,
commit to user
diskriminasi, dan dependensi, karena pola-pola tersebut dipakai oleh pemerintah kolonial untuk mencapai tujuannya. Perwujudan dominasi kolonial yakni berpusat pada dominasi golongan minoritas yang memerintah terhadap mayoritas golongan yang diperintah.
Penetrasi kekuasaan kolonial menciptakan transformasi politik, khususnya sistem kekuasaan di pedesaan yang menyangkut perubahan peranan bekel. Dalam sistem apanage, selain fungsi tanah, bekel memegang peranan penting dalam struktur kelembagaannya. Pola kelembagaan tidak bercorak wewenang tradisional maupun kharismatik, tetapi sudah bergeser dan menerima pola dan norma politik kolonial. Diterapkannya administrasi kolonial berarti diperlemahnya struk tur dan hubungan pola kerajaan, walaupun kekuasaan kerajaan dan kolonial berjalan sendiri-sendiri, pada hakekatnya merupakan dua kekuasaan yang berbeda, dalam perkembangannya dominasi kolonial lebih nyata daripada kekuasaan kerajaan. Kekuasaan raja berangsur-angsur dikurangi oleh pemerintah Belanda, namun keuasaan raja tetap diakui dengan maksud agar pemerintah kolonial dapat mengambil keuntungan dari hubungan ikatan politik yang berlaku (Suhartono, 1991:77).
Dalam bidang politik banyak ketegangan dan ketidakstabilan timbul karena dominasi yang semakin meluas dari administrasi yang bersifat legal- rasional, sedangkan lembaga- lembaga politik tradisional semakin terdesak. Proses birokratisasi menurut nilai- nilai atau standart barat itu menggantikan penguasa tradisional menjadi aparat birokratis yang ditempatkan sepenuhnya di bawah pengawasan kekuasaan kolonial.
Dominasi tersebut tidak hanya diwujudkan dalam sentralisasi kekuasaan politik, tetapi dalam eksploitasi dan akumulasi sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan negara penjajah. Penduduk pribumi diperas tenaga dan hasil produksinya untuk diserahkan kepada pihak penjajah. Pendiskriminasian ras atau etnis juga menjadi ciri dari sistem kolonial. Golongan penjajah dianggap sebagai bangsa yang superior, sedangkan penduduk pribumi dipandang hina dan rendah. Dengan perbedaan tersebut menimbulkan jurang pemisah, negara penjajah semakin besar dan kuat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kekuasaan,
commit to user
sehingga menimbulkan pola dependensi atau timbul ketergantungan dari masyarakat jajahan (Noer Fauzi, 1999:20).
Sistem ekonomi liberal berakibat munculnya peredaran uang serta dominasi ekonomi uang ke dalam masyarakat Jawa, terutama daerah Vorstenlanden. Hal ini disebabkan oleh penyewaan tanah penduduk ya ng dilakukan oleh para pengusaha swasta asing untuk dijadikan daerah perkebunan, sehingga membawa perubahan terhadap pola pemilikan tanah rakyat di Vorstenlanden.
Dengan diterimanya upah kerja oleh petani dari perusahaan perkebunan dan pabrik, terjadilah proses monetisasi di pedesaan. Sejak tahun 1830 penyewaan tanah apanage untuk perluasan areal perkebunan makin bertambah. Tanaman- tanaman ekspor sudah ditanam sejak abad ke-18 dan terus diperluas setelah tahun 1830, dari tanaman ekspor tersebut pemerintah kolonial memperoleh keuntungan yang besar, namun menimbulkan kesengsaraan bagi petani. Pengaruh monetisasi yang terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 meresap ke masyarakat pedesaan. Akan tetapi, meresapnya pengaruh itu tidak menyejahterakan petani karena sumber daya pedesaan yang diekspolitasi itu tidak menyalurkan hasilnya sehingga petani tetap terbelakang dan tingkat hidupnya ada dalam subsistensi. (Suhartono, 1991:117).
Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa dominasi barat beserta perubahan sosial yang mengikutinya menciptakan kondisi-kondisi yang cenderung bagi rakyat untuk mengadakan pergerakan sosial. Dalam situasi kolonial dominasi ekonomi, politik, dan kultural mengakibatkan disorganisasi masyarakat tradisional beserta lembaga- lembaganya. Dengan masuknya ekonomi keuangan faktor- faktor produksi, seperti tanah, tenaga buruh, dan hasil bumi diperdagangkan, sistem pajak dijalankan sehingga menambah beban rakyat. Dengan subordinasi ekonomis itu pengerahan tenaga dan kondisi kerja tergantung dar i penguasa kolonial. Dengan perkembangan perdagangan dan industri pertanian, muncullah diferensiasi struktural dalam masyarakat Indonesia sehingga ada peranan sosial baru yang dapat diperoleh dengan jalan lain dari pada peranan tradisional.
commit to user
Ikatan susunan tradisional semakin diperlemah oleh ide baru tentang kehidupan sosial. Perubahan-perubahan itu menempatkan golongan-golongan sosial di luar kerangka sosial dari masyarakat tradisional, sehingga mereka mengalami disorientasi. Pengaruh budaya asing menerobos lingkungan tradisional dan merongrong kekuatan norma-norma tradisional sebagai pedoman hidup (Sartono Kartodirjo, 1971: 40).
Tekanan politik dan ekonomi pemerintah kolonial Belanda sangat merugikan kekuasaan para penguasa Jawa, di mana pemerintah Belanda berniat untuk menjadikan para bupati Jawa menjadi aristokrat herediter (turunan) yang bergantung kepada pemerintah, sehingga para bupati tersebut bisa dijauhkan dari raja-raja pribumi. Hal tersebut menyebabkan putusnya ikatan antara bupati dan para penguasa Jawa. Namun, para penguasa Jawa itu tetap perlu dilindungi untuk memberikan kesan kepada rakyat bahwa, melalui perantaraan para bupati, mereka masih tetap diperintah oleh raja-raja mereka sendiri. PB VI pun menyadari bahwa hilangnya hubungan patron-klien antara keraton dan para bupati, akan hilang juga kekuasaan teritorial atas distrik-distrik di sekitar keraton (Houben, 2002:60).
Reaksi yang timbul terhadap tekanan lembaga tradisional menyebabkan kelompok-kelompok sosial beraliansi dengan kelompok sosial lain untuk memperkuat gerakan antipemerintah kolonial. Reaksi dan gerakan antipemerintah kolonial dimanifestasikan dan dihimpun dalam gerakan radikal. Reaksi politik di kalangan istana dilakukan oleh PB VI karena daerah mancanegara dianeksasikan oleh gubernemen.
Komisaris pemerintah Belanda yang diutus untuk menangani pengambilalihan wilayah mancanagara dari kekuasaan para raja-raja Jawa. PB VI mendesak supaya para bupati yang berada di distrik-distrik yang akan diambil alih harus diijinkan untuk mengunjungi Solo setahun sekali untuk memberikan penghormatan kepada Sunan. Namun, komisaris yang diutus tersebut menolak keinginan Sunan. Hal tersebut menunjukkan hilangnya wilayah pinggiran kerajaan berarti lebih dari sekedar kehilangan pendapatan. Karena hal itu akan mengarah pada kehancuran parsial pada jaringan hubungan-hubungan personal yang
commit to user
sesungguhnya melandasi kekuasaan dan kekuatan para pangeran serta warga istana Jawa lainnya. PB VI menuntut konsesi, sebagai berikut (Houben, 2002:60):
“Saya menuntut kepada pemerintah agar martabat saya sekarang ini diwariskan secara turun-temurun tanpa ada perubahan kepada keturunan- keturunan saya, sehingga martabat ini akan terus berlanjut meskipun Keraton Soerakarta dipindahkan, yaitu bahwa bupati-bupati dari tanah- tanah Mancanagara, Bagelen, dan Banyumas selamanya akan selalu menghadap anak-cucuku, yang akan menjadi pengganti-penggantiku di atas takhta ini, dan para bupati itu akan memenuhi kewajiban-kewajiban mereka kepada para penggantiku itu dan membayarkan piutang-piutang
mereka, seperti yang selama ini sudah menjadi adat kebiasaan.”
PB VI tidak senang terhadap tindakan gubernemen tersebut, maka PB VI mengasingkan diri dan mencari ketenangan dengan berziarah ke makam leluhurnya dan ke Laut Selatan. Takut akan terjadinya perang besar, Sunan ditangkap dan dibuang oleh gubernemen ke Ambon kemudian pengganti- penggantinya dipaksa menjadi bawahan gubernemen, di dalam kontrak tahun 1862 Sunan PB IX dianggap sebagai path daerah Surakarta. Hubungan antara pusat kerajaan dengan daerah-daerah pinggiran tidak selalu berjalan baik sebab Sunan harus tunduk pada kontrak, sedangkan kepala-kepala rendahan di pedesaan masih mempunyai kebebasan, tetapi mereka dipaksa loyal pada patuh dan Sunan (Suhartono, 1991:66).
Setelah daerah mancanegara diambil oleh gubernemen, daerah kerajaan Surakarta semakin sempit, daerah yang diambil ini akan diatur kembali dan dieksploitasi. Oleh karena itu, langkah pertama yang ditempuh oleh gubernemen ialah perbaikan sistem administrasi agar terwujud kesejahteraan kolonial. Dengan demikian diharapkan pemerintah dapat menarik keuntungan yang sebesar- besarnya. Langkah- langkah yang diambil oleh pemerintah kolonial untuk mengatasi perbaikan keuangan tidak cukup hanya dari segi ekonomi, tetapi diperlukan jalur-jalur politik yang lebih luas. Jalur politik ini memberi jalan setiap usaha pihak swasta mauun pemerintah sendiri dalam melakukan eksploitasinya. Untuk memperkuat kedudukannya sebagai pengausa kolonial yang lebih tinggi daripada raja-raja, dibuatlah kontrak yang mengikat raja-raja itu sehingga dengan sah raja-raja itu adalah vasal pemerintah kolonial.
commit to user
Kontrak yang mengikat raja tersebut menimbulkan dampak yang berbeda- beda, di satu pihak memberikan keleluasaan pemerintah kolonial untuk bergerak dan mengubah strategi sesuai dengan kepentingan eksploitasinya, sedangkan di pihak lain kekuasaan raja dibatasi dengan adanya kontrak-kontrak. Di dalam kontrak itu disebutkan bahwa Sunan tidak lebih dari seorang leenman, yaitu Sunan adalah patuh dari pemerintah ko lonial (Suhartono, 1991:75-76).
Kekuasaan raja tetap diakui dengan maksud supaya pemerintah kolonial dapat mengambil keuntungan dari hubungan dan ikatan politik yang berlaku. Dalam salah satu ketentuan sewa- menyewa tanah disebutkan bahwa penyewa tanah harus mendalami dan menguasai kebudayaan Jawa. Ini dimaksudkan agar eksploitasi kolonial tidak terganggu dan tidak muncul ketegangan sosio-kultural. Nampaknya, tidak ada jaminan bahwa pendalaman kebudayaan Jawa berarti tidak timbul kerusuhan. Untuk menghilangkannya, pemerintah kolonial melakukan reorganisasi di bidang peradilan dan polisi.
Masyarakat Surakarta terbagi dalam dua golongan sosial yang besar yaitu golongan atas yang terdiri dari para bangsawan dan priyayi, dan golongan bawah yang terdiri dari petani, buruh tani, pedagang, tukang perajin, dll. Bangsawan adalah golongan sosial atas yang mempunyai hubungan genealogi dengan raja. Mereka merupakan sentana atau keluarga raja, priyayi juga termasuk golongan sosial atas dan mereka merupakan pejabat dalam pemerintahan kerajaan atau narapraja. Dua golongan sosial yaitu priyayi dan golongan bawah menempati wadah budaya yang berbeda. Di satu pihak, priyayi dengan gaya hidupnya, kebiasaan, pakaian, dan makanan, serta simbol-simbolnya menunjukkan gaya aristokrat. Keadaan semacam ini menjadi pola ideal bagi priyayi. Di lain pihak, bagi golongan bawah lingkungan pedesaan banyak mempengaruhi tingkah laku mereka, kebiasaan polos, terbuka, dan kasar merupakan bentuk budaya pedesaan (Suhartono, 1991:32-33).
Adanya kesenjangan struktur sosial masyarakat kerapkali melahirkan berbagai ketegangan dalam masyarakat. Ketegangan-ketegangan ini akan mempengaruhi derajat kepercayaan masyarakat karena suatu kondisi yang represif dari para penguasa. Jika ditambah dengan faktor- faktor pemicu, maka besar
commit to user
kemungkinan ideologi yang digunakan oleh masyarakat adalah radikalisasi. Perkembangan radikalisasi dimotori oleh kaum frustasi. Ideologi kaum tertindas lahir dari akumulasi kebencian sosial dan rasa frustasi terhadap kondisi yang ada.
Terhadap kekuatan disintegratif dari pengaruh penetrasi kebudayaan barat masyarakat Indonesia mempunyai cara-cara untuk membuat reaksi. Oleh karena dalam sistem kolonial tidak terdapat lembaga- lembaga untuk menyalurka perasaan ketidakpuasan mereka, maka ja lan yang dapat ditempuh ialah gerakan- gerakan protes keagamaan yang menjadi gerakan sosial-politik. Timbullah kekuatan-kekuatan dari kepercayaan religius yang berakar dalam tradisi rakyat melawan bahaya ekspansi kolonial (Sartono Kartodirdjo, 1971: 41).
Oliver Roy yang dikutip oleh Riza Sihbudi (2005: 385) menafsirkan Islam politik sebagai aktivitas kelompok-kelompok yang meyakini Islam sebagai agama dan sekaligus sebagai ideologi politik. Istilah radikalisme umumnya dipakai untuk merujuk pada gerakan-gerakan Islam yang berkonotasi negatif seperti ekstrim, militan, dan non-toleran, serta anti Barat. Radikalisme muncul karena berbagai faktor, salah satunya justru karena tidak dijalankannya prinsip-prinsip pemerintahan dan politik yang demokratis. Gerakan da n pemberontakan pada dasarnya adalah reaksi spontan terhadap perubahan sosial yang cepat, yang menimbulkan frustasi dalam kehidupan masyarakat.
Abad XIX dan awal abad XX terjadi rentetan peristiwa berupa pemberontakan, kerusuhan, dan pergolakan sosial. Tidak jarang pergolakan atau kerusuhan yang terjadi itu diwujudkan dalam tindakan yang bersifat agresif dan radikal, yang mencerminkan ledakan ketegangan, pertentangan, dan permusuhan yang terjadi di masyarakat. Hal ini terbukti dari peristiwa-peristiwa yang melibatkan masyarakat bawah yang dimotori oleh kaum elit untuk menentang penindasan pemerintah kolonial (Sartono Kartodirdjo, 1971: 39).
Keresahan-keresahan yang mengarah kepada gerakan atau pemberontakan tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi, yaitu tekanan pajak, beban ikatan feudal, persewaan tanah, dll. Dengan demikian keresahan itu didukung oleh konflik- konflik yang lebih luas yang tidak lepas dari keanekaragaman yang muncul
commit to user
bersamaan dengan timbulnya hubungan sosial ekonomi, patron-klien, dan kelompok-kelompok politik di pedesaan.
Gerakan radikalisme di Jawa sangat ditakuti oleh pemerintah kolonial karena gerakan itu didasari dengan pemikiran Islam yaitu nilai- nilai jihad dalam melawan kolonialisme. Orang-orang Belanda digambarkan sebagai bangsa “kafir” yang merampok lahan dan pangan rakyat. Oleh karena itu, gerakan radikal sebagai reaksi yang diwujudkan dalam bentuk kekerasan oleh massa dipandang sebagai aspirasi politik untuk memaksa pemerintah kolonial agar memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Surakarta merupakan salah satu daerah di Jawa yang kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan gerakan protes terhadap pemerintah kolonial. Keresahan dan gerakan yang terjadi di pedesaan Surakarta sebagai akibat dari adanya tekanan dan pengaruh Barat yang dikembangkan secara intensif oleh pemerintah kolonial, tekanan ekonomi dan politik memunculkan ketidakadilan yang terjadi pada masyarakat. Masyarakat Muslim pun berani menghadapi pemerintah kolonial karena tidak tersedianya lembaga yang menyalurkan aspirasi mereka mengenai situasi ekonomi dan politik yang mereka hadapi. Kondisi tersebut mendorong gerakan protes masyarakat yang berpegang pada ideologi keagamaan. Gerakan protes menjadi kekuatan politik untuk menentang kekuasaan kolonial.
Ada tiga tipe dalam gerakan perlawanan, antara lain (Hermanu, 2010:27): 1. Munculnya perbedaan sosial sebagai akibat perubahan sistem sosial yang
memacu munculnya kaum intelektual dan pengusaha Muslim.
2. Munculnya gerakan massa yang sadar terhadap tujuan, dan didukung oleh ideologi agama dan organisasi massa yang dengan sengaja ingin menggulingkan tatanan politik atau tatanan sosial yang sedang berlaku. Gerakan massa yang terdiri dari masyarakat bawah, yang dimotori oleh kaum intelektual dan pengusaha Muslim yang menggerakkan organisasi massa untuk menghadapi pemerintah kolonial.
3. Gerakan- gerakan perlawanan yang dilakukan bersifat radikal dan bertarung menentang kelas penguasa. Radikalisme merupakan gerakan-
commit to user
gerakan dari kaum pinggiran, karena sebab-sebab tertentu. Mereka menggunakan cara-cara yang radikal dan secara tiba-tiba, baik itu mengenai strategi, taktik, tujuan maupun sasaran dari gerakan itu, yang bersifat tradisional, sehingga strategi dan taktiknya masih terlalu sederhana, berumur sangat pendek, berada dalam lingkup lokal atau regional dan umumnya dilakukan untuk melawan keadaan yang dianggap tidak adil.
Gerakan- gerakan yang terjadi pada abad XIX dan awal XX di p ulau Jawa hampir semuanya mencerminkan ketiga tipe tersebut, yang selalu diwarnai dengan gerakan protes dari masyarakat yang tidak senang akan kondisi yang ada. Pengaruh perkembangan waktu menjadi salah satu faktor pendukung terhadap perubahan dalam setiap gerakan sosial keagamaan.
Gerakan radikal yang terjadi di Girilayu, Matesih, tahun 1888 dapat disebut sebagai gerakan periferal merupakan perlawanan yang muncul di luar lingkungan keraton, gerakan- gerakan ini bersifat lokal dan berlangsung singkat karena gerakan-gerakan itu terjadi oleh karena kekecewaan masyarakat yang disebabkan penerapan kerja rodi bagi petani untuk pelunasan hutang Mangkunegaran karena krisis keuangan yang terjadi. Keadaan rakyat semakin menderita karena tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Muncul gerakan protes, yang ditulis dalam Rapport Omtrent het gebeurde te “Srikaton” op den 11den en 12den October 1888, yaitu laporan mengenai peristiwa pendudukan Pasanggrahan Srikaton, yang dianggap sebagai tempat suci yang tidak boleh didatangi oleh orang lain tanpa ijin khusus dari raja, sehingga segala bentuk pendudukan di tempat tersebut dipandang sebagai bentuk kejahatan atau pemberontakan dari kacamata penguasa kerajaan maupun pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pendudukan beberapa puluh pemberontak di pesanggrahan Srikaton dianggap sebagai bentuk kejahatan yang melawan penguasa. Kemudian prajurit infantri bergerak melalui jalan utama yang langsung menuju bagian depan bangunan pesanggrahan, prajurit kavaleri menyebar di sekeliling jalan keluar yang lain. Terjadilah perlawanan yang menegangkan dengan menggunakan senjata, saat itu juga Imam Rejo tertembak, yang berakhir
commit to user
dengan tewasnya 7 orang dari mereka. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 11 dan 12 Oktober 1888 pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara V. Terbunuhnya Imam Rejo menandakan berakhirnya gerakan Srikaton, yang berumur singkat.
Gerakan Srikaton dipimpin Imam Rejo, ia mengajarkan ajaran Islam kepada para pengikutnya, dan menekankan bahwa orang-orang Belanda harus dilenyapkan dari tanah Jawa. Gerakan- gerakan yang terjadi bertujuan untuk meruntuhkan pemerintahan kolonial dan mendirikan kerajaan Islam. Di dalam gerakan itu, Imam Rejo mendapat dukungan dari para bekel, solidaritas antar bekel yang paternalistik menunjukkan usaha bersama dalam menghadapi tekanan dari kebijakan kolonial (Suhartono, 1991:146).
Gerakan- gerakan itu oleh pemerintah kolonial disebut dengan istilah seperti geestdrijverij (gerakan rohani), rustverstoring (gangguan ketentraman), woelingen (huru-hara), fanatisme, onlusten (kerusuhan). Gerakan-gerakan tersebut dipandang berbahaya karena bertujuan melawan bangsa Belanda dan pemerintahannya. Gangguan keamanan di pedesaan berupa kriminalitas dan gerakan protes, yang penanganannya tidak cukup dilakukan oleh po lisi kerajaan, maka pemerintah kolonial harus langsung mengawasi pedesaan. Kemudian pada tahun 1873 diangkat empat asisten residen yang berkedudukan di Klaten, Boyolali, Sragen, dan Karangpandan (Sartono Kartodirdjo, 1971:22).