BAB IV HASIL PENELITIAN
1. Perubahan Sosial Dan Ekonomi Di Surakarta
Surakarta lahir pada tahun 1755 akibat dari dibelahnya kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Yo gyakarta dan Kasunanan Surakarta. Surakarta merupakan bagian dari wilayah Vorstenlanden, yaitu wilayah yang dikuasai oleh raja-raja pewaris kerajaan Mataram. Setelah berakhirnya perang Jawa tahun 1830 dan diambilalihnya mancanegara oleh Belanda, para penguasa Jawa dipaksa untuk menyerahkan wilayah kekuasaannya yang belakangan diduduki oleh karesidenan-karesidenan Kedu, Banyumas, Bagelen, Madiun, dan Kediri, hanya jantung kerajaan Mataram yang tetap berada di tangan para penguasa Jawa.
Letak karesidenan Surakarta sangat strategis dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru. Sepanjang jalan besar dari Semarang dan Yogyakarta banyak didirikan pos dan benteng untuk memudahkan pengawasan dan komunikasi. Demikian pula jalan kereta api Semarang-Vorstenlanden yang dipasang sejak tahun 1864 dan jalan trem yang menghubungkan pusat-pusat perkebunan di
commit to user
pedalaman sudah membentuk jaringan transportasi yang efektif dengan kota-kota pada akhir abad ke-19 (Suhartono, 1991:24).
Karesidenan Surakarta terdiri atas wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran. Batas wilayahnya sebagian dibentuk oleh Gunung Lawu di sebelah timur dan Gunung Merapi serta Merbabu di sebelah barat. Di bagian tengah karesidenan itu membentang dataran Solo yang subur, dikelilingi oleh kaki Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta kaki Gunung Lawu di sebelah timur. Di sebelah selatan berjajar deretan bukit kapur dan Gunung Sewu, sementara di sebelah utara wilayah ini bertemu dengan rangkaian gunung. Bengawan Solo mengalir melalui dataran Solo dari selatan ke utara, dalam perjalanannya ke Jawa Timur dan Laut Jawa, sungai Bengawan Solo melintasi kota Surakarta dan memberikan kesuburan bagi tanah di dataran Solo (Takashi Shiraishi, 1997:2).
Kota Surakarta menjadi tempat kedudukan bagi keraton Kasunanan dan Mangkunegaran serta kantor Residen Belanda. Kota Surakarta berada di pinggir kiri Bengawan Solo, dan Kali Pepe mengalir melintasinya. Bagian terbesar kota Surakarta menjadi milik Kasunanan, sedangkan seperlimanya milik Mangkunegaran. Wilayah Vorstenlanden merupakan daerah yang otonom, karena kekuasaan raja sebagai penguasa tradisional diakui oleh pemerintah kolonial. Meskipun tidak berlaku sistem tanam paksa, namun saat itu telah berkembang usaha perkebunan swasta dengan jalan menyewa tanah dari para patuh (pemegang lungguh).
Setelah daerah-daerah pesisir utara Jawa beralih ke tangan Belanda, penyerahan hasil bumi oleh raja kepada pemerintah kolonial diganti dengan penyerahan wajib oleh para bupati. Penyerahan tersebut tidak lama sesudah tahun 1800 diganti dengan pajak tanah (D. H. Burger, 1983:12)
Periode setelah berakhirnya perang Jawa (1825-1830) sampai dengan akhir abad XIX, di Vorstenlanden muncul suatu struktur sosial baru dalam masyarakat. Selain itu, juga muncul perpaduan dua modal ekonomi yang berbeda, yaitu sistem perekonomian agraris yang feodalistis dan kapitalistis. Meluasnya pengaruh ekonomi dari barat selama masa ekonomi liberal menyebabkan
commit to user
terjadinya penetrasi ekonomi uang yang lebih mendalam pada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Munculnya para pemilik modal asing yang bebas menyewa tanah-tanah di Jawa tidak dapat dihindarkan lagi. Hal ini terjadi karena pada awal abad XIX pemerintah kolonial menerapkan kebijakan liberal dengan tujuan membuka kesempatan yang seluas- luasnya bagi para pemilik modal asing masuk ke Vorstenlanden untuk menyewa tanah, sehingga muncul kepentingan swasta dan pemerintah kolonial di tanah Jawa.
Sistem kolonial Belanda dengan pemerintahan yang tak langsung selama abad XIX membawa akibat bahwa sejenis feodalisme dengan otoritas membiarkan para penguasa daerah atau bupati menjalankan kekuasannya berdasarkan otoritas tradisional dengan sifat-sifat tradisionalisme (Sartono Kartodirdjo, 1982:231).
Sistem kapitalis dan perkebunan besar milik swasta yang berkembang di Surakarta telah berakar antara tahun 1830 dan 1870. Maka dibangunlah jalan kereta api dari daerah pelabuhan Semarang sejak tahun 1860-an yang dihubungkan dengan pusat-pusat perkebunan swasta di Surakarta dan Yogyakarta. Surakarta menjadi tempat berlangsungnya sistem sewa, yang masih dikuasai para penguasa keraton pewaris dinasti Mataram. Para pengusaha swasta menyewa tanah dari para abdi dalem dan raja sendiri untuk ditanami berbagai tanaman komersial yang diperintahkan oleh pemerintah Belanda. Para penyewa tanah telah menggantikan posisi pemilik lungguh yang menerima uang sewa dan para bekel sebagai patron para sikep yang jumlahnya secara sengaja dikurangi.
Telah terjadi tiga perubahan sosial ekonomi yang disebabkan oleh praktik penyewaan tanah di Surakarta, yaitu penggunaan tanah yang intensif, eksploitasi petani yang sistematis, dan perubahan drastis pada struktur sosial. Perubahan sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh sistem sewa tanah di Surakarta mengganggu hubungan sosial antara pemilik apanase beserta bekel dan sikep, yang dibuat saling bermusuhan (Houben, 2002:xiii).
Perkembangan ekonomi liberal berdampak pada perubahan sistem ekonomi dan munculnya kelas-kelas baru dalam pelapisan masyarakat. Masuknya paham barat dan budaya barat merupaka n akibat dari paham liberal. Para penyewa
commit to user
tanah yang pada umumnya orang Eropa membawa budaya dari Eropa yang tidak sesuai dengan budaya Jawa.
Keberadaan para pengusaha perkebunan swasta tidak hanya berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Surakarta, melainkan juga pada kehidupan politik. Houben (2002:xiv) menjelaskan bahwa para penyewa tanah dihubungkan oleh ikatan- ikatan keluarga dan bisnis, ikatan tersebut memungkinkan mereka memanfaatkan birokrasi kolonial untuk menentukan kebijakan penguasa lokal yang dapat terus menguntungkan mereka.
Houben (2002:xv) melihat proses kekacauan politik dalam rangka suksesi kekuasaan yang terjadi di Surakarta tahun 1854-1858, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari permainan politik yang dihasilkan oleh hubungan yang dibangun antara penyewa tanah yang berorientasi ekonomis dengan para birokrat yang memiliki kepentingan ekonomis-politis. Semakin banyak elit politik lokal di Surakarta yang terjebak dalam hutang dan kesulitan keuangan, sehingga ketergantungannya kepada para penyewa tanah semakin besar. Jika sebelumnya para elit lokal di Surakarta telah kehilangan otoritas politisnya yang diambil alih oleh para birokrat kolonial, lalu kemudian juga kehilangan sumber ekonomi utama mereka yang diambil alih oleh para investor swasta.
Sejak perluasan perkebunan pada abad XIX, keadaan di pedesaan Surakarta mulai terjadi gangguan pencuri dan kecu. Keadaan semacam ini menggelisahkan perusahaan perkebunan dan residen, sebagai pejabat kolonial tertinggi di Surakarta. Dalam menghadapi gangguan keamanan ini terjadi perbedaan pendapat antara perusahaan perkebunan dengan residen. Residen menganggap bahwa perusahaan hanya mengejar keuntungan dan menuntut hak- hak istimewa, dan sebaliknya, perusahaan perkebunan menuduh bahwa pemerintah tinggal menikmati retribusi. Perluasan perkebunan tampaknya mengundang meningkatnya kerusuhan sehingga penjagaan keamanan yang sudah ada telah tidak memadai lagi. Perbaikan keamanan yang dilakukan oleh residen Zoutelief dengan menggiatkan ronda malam pada tahun 1860-an dan yang dilakukan oleh residen Burnaby Lautier dengan perbaikan gaji penjaga keamanan pada tahun 1890-an tidak membawa hasil (Suhartono, 1991:91-92).
commit to user
Keamanan di pedesaan belum berhasil diperbaiki, yang kemudian memunculkan gerakan protes masyarakat terhadap perusahaan perkebunan. Tahun 1906, para petani perkebunan melakukan protes karena tekanan beban kerja wajib dan perlakuan yang sewenang-wenangnya dari para pemimpin perkebunan terhadap para petani. Tentu saja protes tersebut merupakan masalah penting yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Dalam keadaan seperti ini, pemerintah berada dalam posisi yang sulit sebab harus bertanggung jawab kepada Sunan di satu pihak dan kepada perusahaan perkebunan di pihak lain. Kepada perusahaan perkebunan, pemerintah harus memberikan layanan sebaik-baiknya karena keuntungan yang diperoleh perusahaan perkebunan juga memberikan keuntungan bagi pemerintah. Terhadap Sunan, pemerintah harus bersikap hati- hati karena Sunan telah menyewakan tanah-tanah apanage- nya (Suhartono, 1991: 93).
Para pemimpin gerakan protes yang mengganggu pemerintah dalam melaksanakan rust en orde, ditangkap dan dijatuhi hukuman. Kemudian Residen Schneider membuat peraturan pada tanggal 1 Juni 1906 No. 4811/ 29, yang diajukan kepada Pangeran Adipati Ario Mangkunegara VI, yaitu semua bawahan di bawah Mangkunegaran, yang sudah terbukti menjadi penjahat, yang telah disepakati oleh Wedono Gunung dengan Asisten Residen untuk menentukan sebuah rumah bagi para penjahat tersebut, yang dibuat di kota Kawedanan Gunung atau di tempat lain yang sudah ditentukan. Tempat itu dinamakan Hinoloko, lamanya tinggal ditentukan menurut Wedono Gunung yang dengan Asisten Residen. Tempat tersebut dijaga oleh Reksohangkoro, yang digaji oleh pemerintah. Tempat penampungan tersebut diperuntukkan bagi para penjahat atau pemimpin gerakan yang mengganggu jalannya politik pemerintah, supaya mereka jera dan tidak berani melakukan protes lagi.
2. Penetrasi Politik, Ekonomi, dan Sosial Pemerintah Hindia Belanda