• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reorganisasi Administrasi Dan Agraria

Dalam dokumen RADIKALISME MUSLIM DI SURAKARTA 1850-1920 (Halaman 63-68)

BAB IV HASIL PENELITIAN

3. Reorganisasi Administrasi Dan Agraria

Reorganisasi adalah salah satu cara untuk memperbaiki keadaan di pedesaan. Di awal 1900-an terjadi reorganisasi atau reformasi administrasi dan agraria oleh pemerintah Belanda di Vorstenlanden. Reorganisasi merupakan usaha menempatkan mesin administrasi di bawah perintah langsung residen Belanda serta meluaskan kekuasaan dan kewibawaan negara Hindia ke wilayah yang selama ini diserahkan kepada sistem lungguh yang sudah terkikis.

Reorganisasi tersebut dianggap sebagai usaha negara Hindia yang utama di daerah itu dan dapat untuk memperbaiki kondisi pertanian dan menjamin rust en orde di Vorstenlanden oleh para pegawai Belanda dan para residen Belanda, walaupun pada kenyataannya menyimpang dari kebijakan yang ada. Karena usaha

commit to user

tersebut sama sekali tidak memperbaiki kondisi yang ada, termasuk konflik yang terjadi antara petani dan perkebunan mengenai jumlah sewa, pelonggaran kerja paksa yang tidak dibayar, yang diubah menjadi kerja paksa yang diba yar, dan jumlah upah yang dibayar kepada para pekerja paksa itu. Selama pertumbuhan kepentingan ekonomi petani lebih rendah dibandingkan pendapatan yang mungkin mereka peroleh jika menanam padi tanpa tanaman perkebunan, konflik akan selalu muncul, dan makin tajam karena perlakuan pegawai Belanda yang sewenang-wenangnya dan arogan terhadap petani (Takashi Shiraishi, 1997: 28- 29).

Tujuan reorganisasi tanah apanage adalah untuk mengintegrasikan tanah- tanah yang terpencar dan terpotong-potong menjadi sebuah areal perkebunan yang luas. Terbentuknya satu blok areal perkebunan memudahkan pengaturannya jika dilihat dari segi manajemennya, letak tanahnya, kebutuhan tenaga kerja, transportasinya, dll. Dalam melaksanakan reorganisasi muncul reaksi dari para bekas patuh yang tanahnya dihapus. Hal itu dilakukan karena ketika perusahaan perkebunan menyewa tanah-tanah apanage dari patuh, tanah-tanah tersebut letaknya terpencar, sehingga menghambat pengelolaannya. Mereka tidak senang kalau batas tanah apanage-nya dihapus karena akan mengaburkan ikatan loyalitas petani dengan mereka yang sudah terjalin lama (Suhartono, 1991:96).

Reorganisasi agraria tidak lepas dari kerangka Politik Etis, sebab pemerintah kolonial memerlukan kepastian hukum, hak-hak, dan kewajiban petani. Karena Politik Etis yang sedang dijalankan pada awal abad XX, mencakup tiga unsur pokok, yaitu: pertama, konsolidasi kekuasaan di bawah naungan Pax Neerlandica, kedua, perlindungan perusahaan swasta, dan ketiga, peningkatan kehidupan sosial ekonomi penduduk. Khususnya mengenai peningkatan kehidupan sosial ekonomi penduduk hubungannya erat dengan pemanfaatan faktor- faktor produksi biaya rendah yang dapat dijalankan di Surakarta. Hal ini berarti kedudukan tanah apanage sebagai penghambat harus diubah untuk peningkatan efisiensi eksploitasi (Suhartono, 1991: 94).

Reorganisasi tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan keluhan-keluhan petani karena beban wajib yang berat dan untuk mencegah terjadinya kerusuhan-

commit to user

kerusuhan yang muncul di pedesaan. Dengan demikian hanya Sunanlah yang berhak menyewakan tanahnya kepada perusahaan perkebunan, sedangkan tenaga kerja untuk perusahaan perkebunan itu dilakukan dengan kerja bebas. Dengan cara ini kerja wajib yang berat dapat dikurangi. Sehubungan dengan sangat diperlukannya penjagaan keamanan di pedesaan, tugas kepolisian dibebankan juga kepada para kepala desa.

Reorganisasi tidak hanya didasarkan atas kesatuan organisasi politik dan pemerintahan, tetapi atas kesatuan pajak desa. Desa-desa ada di bawah kekuasaan lurah, dan lurah tidak dipilih oleh rakyat, tetapi diangkat oleh bupati dengan persetujuan asisten residen (Suhartono, 1991:95).

Ada empat tindakan yang dilakukan untuk melaksanakan reorganisasi tersebut, antara lain : (1) Penghapusan tanah lungguh, (2) Pembentukan desa sebagai unit administrasi, (3) Pemberian hak- hak penggunaan tanah yang jelas kepada petani, (4) Perbaikan aturan sewa tanah.

Dimulainya reorganisasi, khususnya terhadap tanah-tanah apanage, maka secara struktural terjadi perubahan kedudukan tanah. Pengua saan tanah oleh patuh dengan hak anggadhuh (pinjam sementara) telah dihapuskan dan hak tanah itu diberikan kepada petani dengan hak andarbe (milik) secara individual. Dengan berubahnya kedudukan tanah berarti petani memiliki kebebasan terhadap tanahnya. Tanah tidak hanya ditanami bahan pangan tetapi juga disewakan pada perusahaan perkebunan untuk tanaman ekspor. Cara ini dimaksudkan agar perusahaan perkebunan mudah mendapat tanah-tanah dari petani. Terjadinya perubahan kedudukan tanah dari kedudukan statis ke dinamis menyebabkan terjadinya komersialisasi tanah. Ekstraksi tanah ditingkatkan sesuai dengan kemajuan komersialisasi komoditas ekspor (Suhartono, 1991:97).

Tujuan yang tersurat dari reorganisasi adalah memajukan ekonomi petani, namun kenyataannya kehidupan petani tidak menjadi lebih baik. Sawah petani semakin terdesak karena perusahaan perkebunan menggunakan sekitar 40 % sawah petani. Perubahan kedudukan tanah apanage tetap menguntungkan elite desa. Mereka bekerja sama dan membantu kepentingan pabrik dan perusahaan perkebunan, terlebih mereka mendapat rangsangan berupa uang tunai jika mereka

commit to user

berhasil menyediakan tanah, sehingga tidak mustahil mereka mengorbankan kepentingan lapisan bawah dari masyarakat pedesaan. Kekuasaan perusahaan perkebunan ternyata besar sekali terhadap petani dan buruh tani. Ketergantungan petani tidak dapat dihindari lagi selama perusahaan perkebunan dianggap sebagai penyelamat. Sebaliknya, perusahaan itu tidak lebih dari sebuah kekuatan pendorong ke arah pemelaratan petani (Suhartono, 1991:103).

Perubahan administrasi kolonial yang bersifat legal- rasional tidak selamanya dijalankan, sebab selalu terjadi pertentangan antara kepentingan jabatan dengan kepentingan pribadi. Seringkali kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan jabatan sehingga para birokrat melakukan penyimpangan. Pemerintah kolonial menganggap tindakan seperti itu sebagai pemerasan dan penyalahgunaan wewenang. Seperti R.T. Gondosaputro, seorang patih Mangkunegaran, yang dituduh menyelewengkan doewit gantoengan, padahal uang itu digunakan untuk membayar para narapraja, namun tindakan itu oleh pemerintah dianggap sebagai penyelewengan, yang kemudian dia ikut dalam gerakan Srikaton. Hal itu menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah kolonial membuat tekanan bagi elite istana, sehingga dapat dipastikan mereka mencari kelompok sosial yang tidak puas terhadap kebijakan pemerintah kolonial, agar mendapat pendukung untuk melawan represi kolonial (Suhartono,1991:72).

Sebagai kelompok yang dimarginalkan oleh pemerintah kolonial, mereka mengisolasi diri dan membentuk kelompok untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena tidak tersedia jalan untuk mengadukan nasibnya, mereka bergerak melalui kekerasan dan kekuatan untuk mendapatkan haknya yang telah diambil oleh pemerintah kolonial. Karena inilah pemerintah kolonial cenderung untuk menganggap kerusuhan itu sebagai tindakan kriminal tanpa melihat sebab- sebabnya yang lebih mendalam.

Dominasi barat menciptakan desintegrasi yang meliputi: dominasi ekonomi, politik, dan kultural. Dominasi ekonomi yang berupa perluasan monetisasi faktor-faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, komoditas ekspor, dan pengenalan pajak baru jelas memperberat beban. Kehidupan petani menjadi sangat tergantung pada perusahaan perkebunan maupun penguasa kolonial.

commit to user

Sehubungan dengan perluasan agro- industri dan birokrasi timbullah diferensiasi struktural yang menciptakan peranan baru dalam masyarakat. Dominasi politik membuahkan hubungan yang tidak wajar sehingga terjadi ketegangan dan ketidakserasian. Perluasan administrasi kolonial yang legal-rasional menempatkan penguasa kerajaan di bawah kekuasaannya, dan mendesak lembaga- lembaga tradisional. Dominasi kultural barat mendesak norma- norma yang ada sehingga masyarakat kehilangan orientasi. Dalam keadaa n seperti ini diperlukan pegangan hidup yang menuntun ke arah orientasi baru yang menentramkan. Jadi, protes sosial dan kerusuhan merupakan jalan keluar yang ditempuh oleh pimpinan gerakan untuk mengembalikan situasi lama yang aman (Suhartono, 1991:153).

Di awal abad XX, muncul organisasi seperti SI (Sarekat Islam) yang hidup subur dan mendapat tempat di pedesaan Surakarta. Ini merupakan bukti bahwa gerakan politik di Surakarta mendapat dukungan dari semua lapisan atas yang terdiri dari para bangsawan dan priyayi, tetapi juga lapisan bawah. Dalam dua dasawarsa, situasi politik di Surakarta berkembang cepat karena di daerah ini tumbuh beberapa jenis organisasi modern yang dijadikan dasar perkembangan organisasi politik selanjutnya. SI muncul sebagai reaksi terhadap pemerintah kolonial yang melindungi kepentingan ekonominya sendiri. Karena melalui diskriminasi dan eksploitasi usaha-usaha, perbaikan ekonomi pribumi selalu ditekan (Suhartono, 1991:80).

Perlawanan terhadap para penguasa, kebanyakan dari para pemimpin dan pengikut gerakan akan mendapat hukuman yaitu dibuang ke luar Jawa, meskipun itu masih anggota di kerajaan sendiri. Seperti ketika Residen Surakarta, G.F. Van Wijk bertugas, ditangkaplah para pemimpin yang membuat kerusuhan di Surakarta. Seorang dari pemimpin kerusuhan itu, dimotori oleh elite istana, yaitu seorang kemenakan Sunan sendiri. Kemudian berdasarkan Keputusan Pemerintah tgl. 9 Nopember 1910 No. 6, para pemimpin kerusuhan tersebut dibuang ke luar Jawa, supaya tidak mengganggu jalannya pemerintahan kolonial.

Dapat dilihat bahwa gerakan-gerakan yang terjadi mendapat dukungan dari kalangan bangsawan yang tidak puas terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Munculnya gerakan ini tidak dapat dipisahkan dari besarnya kekuasaan

commit to user

asing sehingga menciptakan reaksi kuat untuk melenyapkannya. Meluasnya kekuasaan asing berarti merosotnya ketertiban di berbagai bidang kehidupan, dan pengusiran bangsa barat termasuk sekutunya menjadi tujuan utama gerakan itu karena mereka membentuk kelompok penguasa.

Gerakan- gerakan itu merupakan indikator dan reaksi masyarakat yang sudah merata di pedesaan. Hal ini merupakan bukti bahwa dominasi kekuasaan kolonial yang disertai perubahan sosial sudah mengganggu ketertiban dan menggoncangkan masyarakat. Walaupun terjadi secara mikro, reaksi terhadap penetrasi ini menjangkau daerah pedesaan yang luas, dan rupanya reaksi ini tidak dapat dikendalikan lagi. Gerakan radikalisme merupakan kekuatan laten yang diwujudkan secara agresif. Harapan tentang kesejahteraan dan ketentraman diperkuat oleh simbol-simbol keagamaan menjadi penggerak massa sehingga gerakan itu menjadi militan dan radikal.

B. Ideologi Islam Dijadikan Pendorong Gerakan Politik Islam

Dalam dokumen RADIKALISME MUSLIM DI SURAKARTA 1850-1920 (Halaman 63-68)