BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Peran Pemimpin Islam Dalam Gerakan Politik Islam
2. Peran Kaum Intelektual Dalam Gerakan Sosial
Memasuki abad XX, seiring dengan berkembangnya organisasi sosial dan politik, serta bertambahnya jumlah kaum intelektual yang berpendidikan barat, membuat peran ulama beserta pesantren digantikan oleh organisasi politik yang dipimpin kaum intelektual. Dengan perkembangan diferensiasi dalam sistem sosial-ekonomis baru dan sistem pendidikan baru muncullah sistem stratifikasi sosial baru serta struktur-struktur organisasi dan lembaga- lembaga baru. Sistem pendidikan baru menghasilkan golongan intelektual yang mulai memegang peranan dalam fungsi- fungsi baru diciptakan oleh perkembangan proses birokratisasi, komersialisasi, dan urbanisasi. Kaum intelektual memperoleh pengetahuan baru dan mengenal nilai- nilai baru yang berasal dari masyarakat industrial, seperti mempertinggi taraf kehidupan rakyat, partisipasi rakyat dalam pemerintahan, persamaan, keadilan sosial, pengetahuan dan teknologi modern. Kesadaran akan perbedaan ide- ide itu dengan kenyataan di negerinya sendiri membangkitkan pergerakan nasional yang merupakan kelompok-kelompok solidaritas baru. Organisasi-organisasi nasional dan partai-partai politik tidak hanya menjadi pelaku pokok dari solidaritas politik elite modern tetapi juga berfungsi sebagai institusionalisasi otoritas golongan-golongan baru tersebut. sebagai pemimpin pergerakan nasional, kaum intelektual memperoleh kharisma, terutama karena sebagai pendukung utama ide- ide baru memainkan peranan pusat dalam memperjuangkan perwujudannya (Sartono Kartodirdjo, 1982:235).
Kaum intelektual yang mencita-citakan suatu orde baru dan yang lebih baik bertindak sebagai pemimpin dari masyarakat yang mendatang, maka modernisasi yang diperjuangkan itu merongrong kedudukan dan kepemimpinan aristokrasi lama. Pada hakikatnya elite modern bersikap idealistis dan sangat menyadari peranannya yang simbolis sebagai pendukung ideologi- ideologi modern, seperti antikolonialisme, demokrasi, humanitarianisme, sosialisme, dan sebagainya. Elite modern ini merupakan unsur kepemimpinan dari per gerakan nasional dan negara merdeka yang dihasilkan oleh perjuangannya.
commit to user
Di Surakarta muncul borjuasi bumiputera yang kuat, yaitu pengusaha dan pedagang batik, dimana industri batik di Surakarta yang mengontrol pasar nasional. Gerakan terjadi di Surakarta, karena Surakarta merupakan tempat keraton-keraton Jawa, selain Yogyakarta, dan dianggap sebagai tempat pusatnya tradisi Jawa. Surakarta sebagai arena pusat pergerakan di mana semua kekuatan sosial bergabung dalam pergerakan atau bahkan anti pergerakan. Semua insiden, oleh residen Surakarta dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban (rust en orde) (Takashi Shiraishi, 1997: 16).
Menurut Suhartono (1991: 91), secara defacto, residen yang bertanggung jawab terhadap keamanan di wilayahnya, tetapi residen merasa canggung untuk bertindak karena ada dua kerajaan yang masing- masing mempunyai otonomi dan kekuasaan walaupun terbatas. Walaupun demikian pengaruh kolonial telah mendominasi struktur birokrasi kerajaan di Jawa, sehingga segala sesuatu yang terjadi pada kerajaan harus sepengetahuan residen yang merupakan wakil pemerintah Belanda.
Struktur birokrasi kolonial, wewenang merupakan bagian yang diperhatikan. Walaupun kerajaan di daerah Vorstenlanden mempunyai otonom dan juga hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri, keamanan, dan juga ketertiban merupakan bagian dari tugas daerah Vorstenlanden yang selalu diawasi oleh residen masing- masing daerah. Dalam penyelasaian konflik, sangat tidak mungkin kerajaan sebagai pemerintah otonom berjalan sendiri tanpa adanya pelaporan terhadap pemerintah kolonial saat itu. Setiap kali terjadi konflik baik pihak pemerintah kerajaan dan juga pemerintah kolonial selalu menjadi satu kesatuan.
Gerakan radikal menurut Sartono Kartodirdjo (1975:241) adalah gerakan- gerakan rakyat yang bersifat tradisional, sehingga strategi dan taktiknya masih terlalu sederhana, berumur sangat pendek, berada dalam lingkup lokal atau regional dan umumnya dilakukan untuk melawan keadaan yang dianggap tidak adil. Dua pimpinan Insulinde cabang Solo yaitu Haji Miscbah dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang umumnya dianggap sebagai otak di balik gerakan yang sedang timbul di Surakarta. Dr. Tjipto Mangunkusumo dan H. Misbach memilih
commit to user
perlawanan propaganda dengan memobilisasi massa petani, padahal jika dilihat kekuatan petani sangat tidak sebanding dengan kekuatan Belanda. Sikap perlawanan Dr. Tjipto Mangunkusumo dilakukan dengan mengendarai kereta kuda mengelilingi alun-alun utara Keraton Surakarta.
Gerakan radikal menentang kekuasaan feodal dan kolonial, serta eksploitasi oleh perusahaan perkebunan yang dianggap sebagai penyebab semakin menurunnya kesejahteraan rakyat. Tampilnya Tjipto Mangunkusumo dan H. Misbach dalam gerakan radikal dapat dianggap sebagai perwujudan perasaan tidak puas terhadap dampak peraturan baru, khususnya mengenai reorganisasi. Selain itu, syarat perburuhan yang tidak layak merupakan penyebab timbulnya gerakan protes.
Di kelurahan Nglungge, semua kuli kenceng diberi ½ bau tanah sawah dari tanah komunal desa dan diharuskan membayar pajak tanah untuk tanah pekarangan rumah dan lahan sawah mereka serta melakukan kerja wajib bagi desa dan negara. Kemudian muncul gerakan protes menuntut penguasa supaya pekerjaan mereka diperingan. Namun, penguasa menciduk pemimp in gerakan tersebut karena aksi tersebut dikatakan illegal. Oleh karena itu, Tipto Mangunkusumo dan H. Misbach menyerang penguasa yang menangkapi pemimpin gerakan tersebut, dan mendorong para petani untuk terus melakukan protes. Akan tetapi, pemimpin gerak an tersebut tetap dijatuhi hukuman, dan para petani dibubarkan secara paksa. Setelah itu gerakan radikal yang tradisional tersebut lenyap dan berhenti (Takashi Shiraishi, 1997: 213-214).
Dalam pemogokan di perkebunan Tegalgondo, Misbach selalu menentang polisi dalam menghadiri pertemuan Insulinde dan menolak member daftar kepemimpinan kelompok Insulinde yang mereka minta. Ketika menghadapi polisi, Misbach menekan rasa takutnya dengan mengutip dan menyerukan ayat- ayat Alquran. Jadi, pertemuan Insulinde yang dipimpin Misbach membuat kekuasaan negara menjadi telanjang, sama sekali tidak memiliki legitimasi dan kewibawaan. Hal tersebut yang dianggap residen mengganggu rust en orde.
Terjadi aksi mogok di Polanharjo, yang menolak kerja wajib bagi perkebunan. Sekitar 1.500 petani pergi ke kota berjalan kaki membawa kartu
commit to user
anggota Insulinde, untuk menyatakan ketidakpuasan mereka dan menuntut penyelesaian. Di bawah komando asisten residen, polisi segera membuat barikade di pintu barat kota, jalan raya Solo, dan memblokade petani, serta para pemimpin pemogokan ditangkap dan diintimidasi oleh polisi (Takashi Shiraishi, 1997: 230).
Terjadinya masalah wabah penyakit pes telah mempengaruhi polemik politik di Surakarta, bahkan telah digunakan oleh para musuh keraton dalam melakukan kritiknya terhadap pemerintah Belanda. Pada tahun 1915, penyakit pes sudah sampai di Surakarta (Restu Gunawan, 2005: 976-977). Untuk memberantas wabah tersebut, pemerintah Belanda bekerja sama dengan raja-raja pribumi, dengan memperbaiki rumah penduduk yang terkena wabah pes, yang ternyata menimbulkan rasa tidak senang bagi penduduk. Gubernur Idenburg menentukan kebijakan supaya seluruh Kota Surakarta secara sistematis diperbaiki blok demi blok. Kebanyakan orang tidak bisa membiayai perbaikan rumah, sehingga gubernemen memberi uang muka dalam bentuk bahan bangunan dan tenaga kerja, dan masyarakat harus membayarkan kembali dalam angsuran bulan berikutnya kepada raja-raja setempat, kemudian raja mengembalikan ke pemerintah Belanda. Pemerintah menetapkan setiap rumah tiangnya diganti dengan kayu, atapnya diganti dengan genting, dan gentingnya dicat putih. Bahan-bahan tersebut diberi oleh pemrintah dengan cara mencicilnya setiap bulannya. Ketika pembayaran tidak berjalan lancar, maka diganti dengan menngunakan sistem pajak yang sangat memberatkan rakyat (Restu Gunawan, 2005: 982).
Di garis depan perlawanan terhadap pemerintah Belanda adalah Haji Miscbah dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Dr. Tjipto Mangunkusumo adalah orang pertama yang mengajukan kritik terhadap tindakan gubernemen untuk memberantas wabah pes, yang dimanfaatkan untuk mencari keuntungan pemerintah kolonial. Dalam pidatonya, Cipto mengecam pemerintah dalam kebijakan pertaniannya dan kurangnya tinjauan masa depan serta karena perasaan senang sendiri dalam mengurus pajak orang pribumi. Wabah pes baik di Surakarta maupun di daerah lain sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Khusus di daerah Surakarta akibat adanya wabah pes telah berkembang menjadi masalah politik di Surakarta. Oleh karena meningkatnya persebaran
commit to user
wabah di berbagai daerah, pemerintah kolonial mengambil kebijakan untuk perbaikan rumah penduduk baik yang terkena wabah maupun yang tidak dan dilakukan kampanye anti wabah yang menyeluruh di negeri Belanda yang dibiayai oleh penduduk Hindia Belanda (Restu Gunawan, 2005: 986-987).
Dr. Tjipto Mangunkusumo dipandang sebagai sumber inspirasi intelektual penting oleh aktivis SI yang radikal. Insulinde Surakarta membentuk satu komite untuk menyelidiki kegelisahan penduduk akibat program perbaikan rumah secara paksa untuk mencegah wabah penyakit dan berbagai tindakan administratif dari pemerintah yang berlebihan.
Dr. Tjipto Mangunkusumo terus memperjuangkan nasib rakyat terhadap tekanan pemerintah kolonial dan pemerintah kerajaan. Di Voksraad, ia melakukan kampanye yang berapi-api, yang mengkritik pemerintah kolonial. Sehubungan dengan banyaknya agitasi dan pemogokan, pada bulan Mei 1920, Misbach ditahan oleh polisi kolonial, dan setiap kegiatan yang berupa rapat-rapat dilarang oleh pemerintah. Kemudian waktu itu tidak diperkenankan adanya politik massa dan pemerintahan Belanda adalah politik yang diwujudkan dalam sistem politik Beamtenstaat, yaitu sistem negara yang mendasarkan kekuatannya pada pegawai atau negara birokrasi, ditujukan untuk mengabdi pada negara dan mengawasi dinamika masyarakat sehingga kekuatan intelejen harus muncul. Hal tersebut membuat aktivitas politik secara otomatis dibatasi oleh kebijakan tersebut. Sistem dominasi itulah yang melumpuhkan inisiatif dan kreativitas bumiputra (Hermanu, 2010: xxi).
Pada tanggal 20 April 1919, Misbach menggambar kartun di Islam Bergerak yang isinya menyinggung kapitalis Belanda dan Pakubuwono X, yang menghisap para petani dan mempekerja-paksakan mereka. Akibatnya ia ditangkap pada tanggal 7 Mei 1919, kemudian ia dibebaskan pada 22 Oktober 1919. Misbach merupakan tokoh pergerakan Insulinde, Misbach selalu mengutip ayat- ayat Alquran sebagai basis propagandanya selama berada di Insulinde. Hal ini menjadi ciri khas Misbach, sehingga ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan, tetapi juga seorang mubaligh. Insulinde afdeling sepanjang pergerakan tahun 1918-1920 berhasil memobilisir petani, yang memicu
commit to user
radikalisasi petani yang ternyata diluar kendali sehingga Insulinde mendapat tekanan dari pemerintah (http://kampoengkauman.blogspot.com/kh- misbah-yang- terlupakan.html).
Misbach aktif dalam gerakan-gerakan mobilisir rakyat, terutama petani dan buruh. Keterlibatannya memberikan nuansa tersendiri, karena ia dikenal sebagai orang yang tetap teguh menyampaikan dalil-dalil Alquran dalam ranah perjuangannya. Misbach lebih memilih organisasi tempat ia berjuang, berdasar pada pola geraknya. Itulah sebabnya ia tidak lagi aktif di Muhammadiyah serta SI yang dipandangnya terlalu kooperatif dan lunak terhadap pemerintah, dan memilih untuk bergabung dengan PKI yang lebih revolusioner dalam memperjuangkan hak rakyat. Bahkan Misbach mengidentikkan perjuangan muslim progresif sebagai “Islam Sejati”. Karena di dalam Islam terdapat anjuran untuk menegakkan keadilan, kebenaran, kemanusiaan dan sebagainya, yang harus diterapkan melalui politik dan sosial. Misbach memperjuangkan semangat religius untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan. Perlawanan yang mereka lakukan dapat disebut sebagai gerakan semiperiferal, yaitu perlawanan yang berada di daerah-daerah perbatasan dan memiliki kaitan dengan keraton.
Menurut Suhartono (1991: 92-93) dalam penanganan gerakan radikal, ada beberapa solusi yang dilakukan, yaitu kebanyakan para pemimpin dan pengikut gerakan akan mendapat hukuman yaitu dibuang ke luar Jawa, meskipun itu masih anggota kerajaan sendiri. Pada bulan Oktober 1920, Misbach dijatuhi hukuman dua tahun oleh pengadilan kolonial dan pada bulan Desember 1920, Dr. Tjipto Mangunkusumo dijatuhi hukuman yaitu dibuang keluar Vorstenlanden. Dengan ditindaknya dua orang tokoh tersebut berakhirlah gerakan radikal di Surakarta tahun 1920 (Suhartono, 1991:87-88). Selain itu, juga digunakannya cara ronda malam untuk mengatasi kerusuhan yang terjadi, tetapi juga tidak berhasil. Kemudian residen membentuk sebuah asisten residen di beberapa wilayah kekuasaan residen, hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan oleh residen melalui kepanjangan tangan asisten residen, dan pemerintah kolonial ataupun kerajaan selalu menggunakan cara kekerasan dalam penyelesaian gerakan protes.
commit to user
Sebuah gerakan dapat terjadi apabila terdapat faktor penentu, yaitu suatu struktur sosial yang mendukung terjadinya suatu gerakan, yang terdiri dari tekanan ekonomi dan struktur keadaan sosial dan politik. Pemerintah Belanda yang pelan tapi pasti melakukan represi politik terhadap raja-raja pribumi untuk melancarkan hegemoninya di Vorstenlanden. Paku Buwono X, yang menggunakan simbol publik yaitu pemeliharaan tradisi budaya Jawa dan Islam sebagai identitas, pendirian madrasah dan sekolah umum, membangun sarana dan prasarana, mendorong berdirinya organisasi sosial dan politik di Surakarta. Hal tersebut secara simbolik dapat dijadikan tempat perlawanan masyarakat Muslim terhadap pemerintah kolonial. Politik simbol tersebut disebut sebagai gerakan politik Islam, karena inti gerakan politik adalah mengokohkan nilai- nilai keagamaan melalui pendidikan Islam. PB X memberi doronga n kepada kaum intelektual untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme melalui pendirian organisasi sosial dan politik, dan mendanai terbitnya surat kabar, seperti Bromartani dan Timboel. Surat kabar menjadi alat untuk mengekspresikan pemikiran kebangsaan, membentuk opini masyarakat, dan sarana untuk menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah kolonial (Hermanu, 2010: 75).
commit to user
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Latar belakang terjadinya radikalisme Muslim di Surakarta tahun 1850-1920,
yaitu sebagai akibat adanya dominasi barat beserta perubahan sosial dan ekonomi yang mengikutinya, serta reorganisasi Administrasi dan Agraria yang menciptakan kondisi-kondisi yang cenderung bagi rakyat untuk mengadakan pergerakan sosial. Dominasi barat memasuki kekuasaan politik kerajaan yang menimbulkan kemunduran kekuasaan raja-raja Surakarta, sehingga Sunan dianggap vasal oleh pemerintah kolonial. Muncullah ketidakpuasan dari golongan besar masyarakat pedesaan di abad XIX dan awal abad XX, dengan adanya berbagai faktor yang ada, maka banyak menimbulkan radikalisme masyarakat Muslim dengan ideologi Islam sebagai pengobar semangat rakyat untuk melawan kolonialisme.
2. Ideologi Islam dijadikan pendorong gerakan politik Islam di Surakarta, karena agama secara garis besar berfungsi sebagai alat legitimasi. Setelah suatu otoritas dimiliki oleh sekelompok kaum elite, maka kemudian kaum elite ini menggunakan sistem simbol agama untuk mempertahankan kekuasaannya. Gerakan sosial keagamaan menggunakan ideologi Islam sebagai faktor penggeraknya, dan sebagai aktivitas kolektif, gerakan tersebut memerlukan ideologi Islam untuk pembenaran tujuannya yang akan memperkuat inspirasi dan motivasi kelompoknya dalam menghadapi kekuatan Belanda. Karena berbagai tekanan dari pemerintah kolonial, maka menciptakan ideologi Islam yang memperkuat semangat perjuangan jihad melawan penjajah sebagai orang
“kafir”, sehingga mendorong munculnya gerakan sosial keagamaan terhadap pemerintahan kolonial.
3. Peran pemimpin Islam dalam gerakan politik Islam, yang terdiri dari para ulama dan kaum intelektual dalam menghadapi hegemoni Belanda. Para ulama
commit to user
mempunyai peran yang dapat merangsang timbulnya gerakan-gerakan keagamaan, sehingga mudah dalam membangkitkan loyalitas pengikutnya untuk memobilisasikan mereka demi tujuan tertentu. Dengan adanya Politik Etis, maka semakin bertambahnya jumlah kaum intelektual yang berpendidikan barat, yang kemudian memunculkan organisasi politik yang dipimpin kaum intelektual. Kaum intelektual ini bersikap idealistis dan sangat menyadari peranannya yang simbolis sebagai pendukung ideologi- ideologi modern, seperti antikolonialisme, demokrasi, humanitarianisme, sosialisme, dan sebagainya. Elite modern ini merupakan unsur kepemimpinan dari pergerakan nasional di awal abad XX, yang menegakkan cita-cita nasionalisme, dengan Islam sebagai ajaran yang dianggap dasar, dan yang berperan dalam politik kebangsaan. Jadi, otoritas kharismatik para pemimpin Islam dalam memobilisasi massa merupakan ancaman, baik terhadap raja-raja maupun terhadap penguasa kolonial.
B. IMPLIKASI 1. Teoritis
Adanya dominasi barat menyebabkan munculnya gerakan- gerakan keagamaan yang radikal. Gerakan sosial keagamaan mempunyai kaitan erat dengan poses perubahan sosial di satu pihak dan proses adaptasi di lain pihak. Tidak dapat ditolak bahwa gerakan-gerakan itu sebagai gejala historis merupakan reaksi terhadap situasi kolonial dan dominasi asing. Gerakan lebih banyak digerakkan oleh kaum frustasi yang fanatik, anggota gerakan diidentifikasikan sebagai orang yang tidak puas dan kecewa, yaitu mereka yang tersingkir dalam masyarakat sampai kelompok minoritas yang tertekan yang disebut golongan marginal. Gerakan radikal merupakan gerakan-gerakan rakyat yang bersifat tradisional, sehingga strategi dan taktiknya masih terlalu sederhana, berumur sangat pendek, berada dalam lingkup lokal atau regional dan umumnya dilakukan untuk melawan keadaan yang dianggap tidak adil. Timbulnya gerakan sosial keagamaan tidak lepas dari faktor kepemimpinan yang kharismatik, orientasi gerakan, dan situasi kultural yang mendukungnya. Jadi, para pemimpin
commit to user
membutuhkan alat politik untuk melegitimasi kekuasaan mereka, dalam mempertahankan kekuasaannya maupun melaksanakan kebijakan politiknya. Maka digunakanlah simbol keagamaan untuk melegitimasi kekuasaannya.
2. Praktis
Implikasi praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah arah kebijakan para penguasa yang kiranya selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukannya menggunakan rakyat bawah sebagai alat kekuasaannya. Penelitian ini berupaya menggali suatu wacana baru dalam penulisan sejarah. Wacana baru yang dimaksud adalah tulisan-tulisan mengenai sejarah lokal di Surakarta, mengenai gerakan radikal Muslim dalam menghadapi kekuatan Belanda dan aristokrasi status quo yang merongrong kehidupan rakyat, sehingga melalui tulisan ini mampu menilai dan memaknai perjuangan para patriotis yang berjuang untuk kepentingan rakyat bawah serta mampu mendorong pembuat kebijakan di pemerintahan untuk bersikap secara adil, bijaksana dalam setiap pengambilan keputusan dan lebih mementingkan kepentingan rakyat agar diperoleh suatu kesejahteraan yang adil dan makmur.
3. Metodologis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis. Pemilihan metode ini didasarkan pada kegiatan pemecahan masalah dengan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan yang akan dikaji, untuk memahami kejadian pada masa lalu. Kemudian menguji dan menganalisa secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah dalam pencarian sumber arsip atau dokumen tertulis tidak secara lengkap. Hal ini dikarenakan sumber arsip dan dokumen yang memuat tentang radikalisme Muslim di Surakarta sebagian ada yang hilang. Oleh karena itu, tidak ditemukan sumber primer secara lengkap dan menyeluruh. Keterbatasan lain yaitu sumber-sumber yang ditemukan berupa arsip dengan menggunakan naskah tulisan Jawa maupun bahasa Belanda, sehingga di dalam penulisan tidak dapat dikaji secara mendalam sesuai dengan sumber primer yang diperoleh.
commit to user
C. SARAN
Dari hasil penelitian tersebut di atas, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Bagi Guru
Kiranya para guru Sejarah dapat membaca hasil penelitian ini apabila ada kegiatan seminar atau pelatihan di FKIP, dan melalui buku apabila penelitian ini dibukukan oleh penulis. Bagi para guru Sejarah sekolah menengah pertama maupun atas, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kesejarahan mengenai gerakan Islam di Surakarta pada abad XIX, yang dapat digunakan dalam Kompetensi Dasar dalam mendeskripsikan sejarah gerakan Islam lokal abad ke-19 dan 20, yang dapat diterapkan dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selain itu, dalam perkembangan Pendidikan Sejarah, belum banyak materi yang membahas tentang gerakan Islam di Surakarta pada abad XIX, sehingga dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru kepada siswa.
2. Bagi Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah
Bagi para mahasiswa Pendidikan Sejarah, hendaknya penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam penelitian yang memiliki permasalahan yang sama sebagai sumber referensi penelitian selanjutnya. Selain itu, untuk menambah pemahaman tentang Sejarah Indonesia Madya dan Sejarah Sosial di kota Surakarta, terutama mengenai gerakan radikal Islam pada abad ke XIX. Referensi dapat digali dari berbagai sumber yang ada, dan kekurangan sumber yang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti dapat dilakukan dengan belajar bahasa Belanda dan tulisan Jawa seperti misalnya di perpustakaan Rekso Pustoko maupun Kasunanan, serta sumber dapat dilakukan dengan mengunduh dari internet berbagai sumber asing dari universitas luar mengenai pembahasan tersebut, seperti dari KITLV.
commit to user
3. Bagi Polisi
Hendaknya seorang polisi itu dapat berdialog dengan masyarakat apabila masyarakat memiliki masalah yang sulit diselesaikan atau menjadi mediator dalam konflik yang terjadi di masyarakat, sehingga dapat melindungi dan memberi rasa aman bagi masyarakat. Menjadi seorang pelindung masyarakat harus mempunyai sikap yang bijaksana, tegas, arif, peduli dan tidak terpengaruh oleh orang lain, tetapi melakukan apa yang diyakininya walaupun tidak dapat memuaskan semua pihak.
commit to user
DAFTAR PUSTAKA A. Sumber Buku
Abu Ahmadi. 1975. Pengantar Sosiologi. Solo: Romadoni.
Aqib Suminto. 1986. Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta: LP3ES.
Awani Irewati, dkk. 2001. Kerusuhan Sosial di Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
Burger, D. H., 1983. Perubahan-perubahan Struktur Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Craib, Ian.1986. Teori-teori Sosial Modern. Jakarta: CV. Rajawali.
Deliar Noer. 1980. Gerakan Moderen Islam Di Indonesia 1900-1942. Jakarta: Pustaka LP3ES.
Djoko Suryo. 2005. Tradisi Santri Dalam Historiografi Jawa: Pengaruh Islam Di Pesisir Utara Jawa. Jakarta: LIPI Press.
Dudung Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Logos Wacana.
Fachry Ali. 2004. Keharusan Demokrasi Dalam Islam Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Frederick, William H. dan Soeri Soeroto (peny). 1982. Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum Dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES.
Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Jakarta: UI