BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Peran Pemimpin Islam Dalam Gerakan Politik Islam
1. Peran Ulama Dalam Gerakan Sosial Keagamaan
Munculnya gerakan sosial keagamaan tidak lepas dari peranan pemimpin yang mampu memobilisir massa sehingga menjadi sebuah kekuatan yang besar, pemimpin yang kharismatik, yang dapat berasal baik dari elite kota maupun dari elite desa sendiri. Pemimpin kharismatik mampu menjadi daya tarik untuk mencari pengikut dalam suatu gerakan radikal keagamaan. Konsep mengenai kepemimpinan erat hubungannya dengan masyarakat tradisional, modern, maupun
commit to user
masyarakat yang sedang mengalami transisi ke arah modern. Kepemimpinan terdapat dalam komunitas kecil maupun dalam suatu nation, baik oleh masyarakat tradisional maupun yang sudah bersifat modern (Suhartono, 1991: 165). Ada banyak kasus yang menunjukkan pemberontakan yang dipimpin oleh para bangsawan, dan lebih banyak lagi kasus pemberontakan yang dipimpin oleh ulama pedesaan.
Mobilisasi massa kebanyakan memakai ideologi ratu adil atau jihad fi- sabilillah sebagaimana tampak dalam gerakan messianisme dan millenarianisme pada abad ke-19. Bahkan gerakan-gerakan modern seperti SI tidak jarang memakai ideologi ratu adil di tingkat pengikut bawahan. SI lokal banyak terlibat dalam radikalisasi dengan sasaran kultural, ekonomis, maupun sosial. Sasaran kultural biasanya ditujukan kepada pembasmian simbol-simbol adat yang bertentangan dengan agama, sasaran ekonomis ditujukan pada dominasi ekonomi pedagang Cina, dan sasaran sosial ditujukan kepada kaum ambenaar atau priyayi yang melambangkan kekuasaan kolonial (Kuntowijoyo, 2002:6-7).
Perlawanan terhadap kolonialisme, dipimpin oleh orang-orang dari golongan tertentu dalam masyarakat. Golongan agama yaitu para ulama, yang memegang pimpinan ini bertindak sebagai penasihat, pemberi landasan keyakinan untuk mempertebal semangat dan tekad berperang. Pengaruh pemimpin menjadi lebih kuat apabila di samping ia berasal dari golongan bangsawan, juga tergolong orang yang saleh dan mahir dalam soal keagamaan. Dalam keadaan demikian loyalitas pengikut pada pemimpin juga bertambah kuat (William H. Frederick dan Soeri Soeroto, 1982: 218).
Berdasarkan nilai agama, para pemuka agama, yaitu kyai, haji, ulama semacam elite religius mempunyai kewibawaan sosial yang tinggi di kalangan rakyat di pedesaan. Para kyai mempunyai identitas yang sama dengan petani sehingga mempunyai lebih banyak alat komunikasi dengan rakyat pedesaan. Dalam menggerakkan pengikutnya, para ulama memegang peranan utama. Perasaan tidak puas terhadap peraturan-peraturan pemerintah menciptakan kondisi yang baik untuk menghimpun pendukung pergerakan. Melalui pesantren dan
commit to user
tarekatnya, kyai dapat mengadakan kontrol pada masyarakat desa dan dengan demikin secara mudah dapat mengerahkan massa secara massive.
Menurut tradisi Islam, para ulama sangat terpandang, karena memiliki pengetahuan agama yang luas, dan memiliki moralitas yang tinggi, serta memiliki otoritas kharismatis, yang tidak hanya dilihat di lingkungan murid- muridnya tetapi juga di kalangan rakyat luas. Otoritas seorang ulama sebagai guru tarekat sangat tinggi karena hubungan yang erat antara guru dan murid, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya sebagai wali Tuhan. Otoritas kharismatis dari elite religious sebagai counter-elite secara potensial merupakan ancaman terhadap establishment kolonial. Dikarenakan bahwa sebagian besar dari kerusuhan atau pergerakan di daerah pedesaan dipimpin oleh elite religius itu (Sartono Kartodirdjo, 1982:233).
Para kyai bertindak sebagai cultural broker bagi masyarakat bawah, terutama bagi para santri yang merupakan massa yang diberikan gagasan-gagasan abstrak mengenai perlawanan terhadap kolonial. Pada abad XIX, masyarakat Islam di pedesaan telah memiliki kesadaran politik yang dibangkitkan oleh pemimpin agama. Pemimpin agama merupakan elit politik sekaligus elit sosial dalam struktur masyarakat pedesaan. Ulama dan pesantren merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi kekuatan kolonial.
Pesantren ialah tempat pendidikan para santri. Santri ialah orang dewasa yang belajar tentang dasar dan inti kepercayaan Islam, di bawah pimpinan seorang guru agama atau kyai. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, dengan demikian memiliki ciri penting, yaitu santri, kyai, masjid, dan pondok. Hubungan keempat unsur tersebut sangat erat, lebih- lebih hubungan antara kyai
dan santri yang menggambarkan hubungan “guru-murid”, sangat khas dalam dunia kehidupan pesantren, yang juga mencakup komunitas orang Muslim atau kaum Muslimin yang memiliki identitas, simbol, dan tradisi budaya sebagai sebuah subkultur Islam di Jawa (Djoko Suryo, 2005: 1169). Pesantren kemudian menjadi alat penghubung yang penting antara umat Islam Indonesia dengan pusat asal agama dan kebudayaan Islam di Arab.
Faktor yang menyebabkan seseorang menjadi kyai besar, antara lain : 1) pengetahuannya, 2) kesalehannya, 3) keturunannya, 4) jumlah muridnya.
commit to user
Pengabdiannya pada masyarakat dan kewibawaannya, serta perantara wahyu menempatkan kyai pada kedudukan yang khas dalam kalangan umat Islam (K. A. Steenbrink, 1974:109-110).
Kyai mempunyai kewibawaan yang didasarkan atas kedalaman pengetahuannya tentang ilmu agama Islam. Dalam abad ke-18 dan 19, kewibawaan para kyai itu menjadi lebih tinggi, karena kyai sudah melakukan ibadah haji ke Mekkah sebagai salah satu rukun Islam. Sebagai haji, kyai lebih dihormati dan disegani oleh para santri dan masyarakat sekelilingnya. Kyai sebagai pemimpin pesantren sangat besar pengaruhnya terhadap para santri, umat Islam yang ada di sekeliling pesantren bahkan di luarnya. Besar pengaruh seorang kyai terutama bergantung dari (S.Soebardi,1978:69-70):
1) keluasan ilmu pengetahuannya tentang agama Islam yang dimilikinya, 2) integritas spiritual dan moral daripada kyai,
3) kebijaksanaan pimpinannya,
4) hubungannya dengan umat Islam di luar pesantrennya,
5) telah menjalankan rukun Islam yang kelima, yaitu pergi naik haji dan atau bermukim di kota suci Mekkah, dan
6) bergantung dari kekayaannya
Pengaruh kyai tidaklah terbatas hingga di lingkungan pesantren saja, melainkan juga terasa ke seluruh desa. Kyai yang bersangkutan sangat dihormati oleh seluruh penduduk desa. Dalam masalah sehari-hari pun pendapat dan nasihatnya sering dimintai oleh orang-orang kampungnya. Perkataan seorang kyai sangat ditaati, fatwanya dianggap benar (Deliar Noer, 1982:18).
Hancurnya relasi antara raja dan ulama merupakan salah satu penyebab merosotnya kekuasaan politik kerajaan tradisional di Jawa. Oleh karena, ulama memiliki peranan sebagai kelompok penekan dalam menyalurkan aspirasi masyarakat, dan sebagai kelompok kepentingan yang memperjuangkan kepentingan dan mempengaruhi lembaga-lembaga politik kerajaan untuk memperoleh keputusan yang menguntungkan dan menghindari keputusan yang merugikan. Namun, ketika perannya sebagai kedua kelompok tersebut hilang, maka para ulama dapat berperan sebagai kelompok oposisi (Hermanu, 2010:4).
commit to user
Ulama yang mempertahankan kemurnian agama menolak pengaruh Barat yang makin meluas. Pengembaraan para haji dan pesatnya kemajuan pesantren menimbulkan kekhwatiran pemerintah kolonial. Para residen di Jawa mencegah pengaruh ulama dan pengaruh yang masuk ke Jawa. Mereka saling mengingatkan kemungkinan terjadinya gerakan-gerakan agama. Ulama di pedesaan berpengaruh di kalangan lapisan bawah, tetapi ulama atau penghulu yang ada di kalangan birokrat tidak memiliki pengaruh. Salah satu sebabnya ialah karena pengaruh barat lebih cepat diterima oleh lapisan atas, sedangkan lapisan bawah masih dalam proses pengenalan ke dalam lembaga- lembaga kolonial. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa lapisan bawah jauh lebih kuat menganut ajaran agama Islam sebagai pegangan dalam menghadapi pengaruh barat (Suhartono, 1991:75).
Sejak tahun 1860-an di dalam Aglemeen Verslag der Residentie Soerakarta dimuat banyaknya jemaah haji yang datang dan pergi setiap tahun. Jumlah jemaah yang pergi tercatat tidak banyak, tetapi yang pulang pada tahun- tahun tertentu jumlahnya meningkat. Hal ini disebabkan jemaah tinggal beberapa tahun di Mekkah untuk mempelajari ilmu agama dan mereka pulang dalam rombongan besar. Pada tahun 1887, di Surakarta tercatat 834 orang haji, di antara merekalah bangkit semangat revivalisme agama (Suhartono, 1991:74).
Dalam masyarakat, para ulama mempunyai kedudukan mantap karena mereka memiliki otoritas tradisional dan kebebasan baik ekonomi maupun politik. Antara ulama dengan masyarakat terjalin hubungan timbal balik, artinya di satu pihak mereka memberikan perlindungan, dan di pihak lain masyarakat memberikan penghormatan dan pelayanan sosial. Hubungan dua golongan sosial ini membentuk jalinan kehidupan di pedesaan yang harmonis. Oleh karena itu, wajar jika mereka mampu memobilisasi massa untuk berpartisipasi penuh untuk menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial dan memiliki loyalitas tinggi.
Dalam hal imbangan kekuatan, ulama yang tidak kuat menghadapi penguasa kerajaan maupun kolonial bersekutu dengan kelompok lain yang dianggapnya dapat membantu tujuan politiknya, terutama kelompok yang kecewa dan tidak puas terhadap pemerintah kolonial. Dalam keadaan seperti ini yang ditemukan adalah sebagian dari elite istana.
commit to user