BAB III : PELAKSANAAN PENANGANAN PERKARA TIPIKOR DI
A. Pengadilan Tipikor Sebagai Salah Satu Pengadilan Khusus
Peradilan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas negara dalam menegakkan hukum dan keadilan.151 Pengadilan adalah majelis yang memiliki tugas dan wewenang untuk mengadili perkara dan memberikan keputusan mengenai persengketaan hukum, pelanggaran hukum atau undang-undang dan sebagainya.
Pengertian ini diterjemahkan dari istilah rechtbank (Belanda).152
Argumentasi ini didukung dengan ketentuan Pasal 1 angka UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, menentukan kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945 demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Redaksional dalam ketentuan Berdasarkan pengertian tersebut, pengadilan adalah lembaga tempat subjek hukum mencari keadilan, sedangkan peradilan adalah sebuah proses dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan atau suatu proses mencari keadilan itu sendiri.
Ketika menyebutkan kata pengadilan, maka maksudnya adalah menunjukkan tempat untuk mencari keadilan. Ketika menyebutkan kata peradilan, maka maksudnya adalah menunjukkan proses penegakan hukum dan keadilan.
151 M. Marwan dan Jimmy P., Kamus Hukum, (Surabaya: Reality Publisher, 2009), hal. 504.
152 Ibid., hal. 500.
tersebut menegaskan “menyelenggarakan peradilan”, bukan “menyelenggarakan pengadilan”. Makna menyelenggarakan peradilan berarti menyelenggarakan proses penegakan hukum dan keadilan. Sedangkan jika yang digunakan istilah menyelenggarakan pengadilan berarti menagndung makna yaitu mendirikan pengadilan atau membangun pengadilan.
Argumentasi ini juga didasarkan pada penafsiran terhadap norma di dalam Pasal 2 ayat (4) UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menentukan, ”Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan”. Dari ketentuan ini, peradilan menunjukkan suatu proses penegakan hukum dan keadilan.
Tidak mungkin disebutkan “Pengadilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan”. Sehingga dengan demikian, makna peradilan lebih tepat menunjukkan sebuah proses sedangkan pengadilan menunjukkan makna sebagai tempat.
Berdasarkan UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman ada dua pelaku kekuasan kehakiman yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.153
Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari badan peradilan yang berada pada keempat lingkungan peradilan.
Mahkamah Agung memiliki empat badan peradilan yang berada dibawahnya sedangkan Mahkamah Konstitusi tidak memiliki badan peradilan dibawahnya.
154 Mahkamah Agung dibentuk untuk melaksanakan wenang yaitu:155
153 Pasal 18 UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
154 Pasal 20 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
1. Mengadili pada tingkat kasasi terhadap putusan yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, kecuali undang-undang menentukan lain;
2. Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang; dan
3. Kewenangan lainnya yang diberikan undang-undang.
Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dalam hal:156
1. Menguji undang-undang terhadap UUD Tahun 1945.
2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD Tahun 1945;
3. Memutus pembubaran partai politik;
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum; dan 5. Kewenangan lain yang diberikan oleh undang-undang, serta
6. Wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Beberapa redaksional di dalam UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman ternyata menggunakan istilah badan peradilan. Jika diurutkan dari badan peradilan yang tertinggi hingga badan peradilan yang terendah, maka ada 4 (empat) badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yaitu:157
1. Badan Peradilan Umum.
2. Badan Peradilan Agama.
3. Badan Peradilan Militer.
4. Badan Peradilan Tata Usaha Negara.
155 Pasal 20 ayat (2) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
156 Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
157 Konsideran huruf a, Pasal 1 angka 5, Pasal 1 angka 8, Pasal 18, Pasal 25 UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
Badan peradilan yang tertinggi di Indonesia adalah Mahkamah Agung, sedangkan badan peradilan yang lebih terendah yang berada di bawah Mahkamah Agung terdiri dari pengadilan-pengadilan yaitu:158
1. Badan Peradilan Umum, meliputi:
a. Pengadilan Tinggi.
b. Pengadilan Negeri.
2. Badan Peradilan Agama, meliputi:
a. Pengadilan Tinggi Agama.
b. Pengadilan Agama.
3. Badan Peradilan Militer, meliputi:
a. Pengadilan Militer Utama.
b. Pengadilan Militer Tinggi.
c. Pengadilan Militer.
4. Badan Peradilan Tata Usaha Negara, meliputi:
a. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN).
b. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Peradilan Umum berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peradilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peradilan Militer berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana militer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peradilan Tata Usaha Negara berwenang memeriksa, mengadili, memutus,
158http://www.pn-yogyakota.go.id/pnyk/pengertian-peradilan.pdf, diakses tanggal 30 September 2014, artikel yang ditulis di website Pengadilan Negeri Yogyakarta, berjudul tentang
“Pengertian Peradilan”.
dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara (TUN) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.159
Selain peradilan dan pengadilan ada lagi istilah yang disebut dengan Pengadilan Khusus. Pengadilan Khusus adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang diatur dalam undang-undang.160
Kedudukan Pengadilan Tipikor dalam sistem peradilan pidana adalah bersifat khusus. Pasal 27 UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan Pengadilan Khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung, dan ketentuan mengenai pembentukannya diatur dalam undang-undang. Berdasarkan undang-undang yang ada, jenis-jenis Pengadilan Khusus yang sudah terbentuk antara lain:161
1. Pengadilan Anak (bidang hukum pidana);
2. Pengadilan Niaga (bidang hukum perdata);
3. Pengadilan HAM (bidang hukum pidana);
4. Pengadilan Tipikor (bidang hukum pidana);
5. Pengadilan Hubungan Industrial (bidang hukum perdata);
6. Pengadilan Perikanan (bidang hukum pidana);
7. Pengadilan Pajak (bidang hukum TUN);
8. Mahkamah Pelayaran (bidang hukum perdata);
9. Mahkamah Syar’iyah di Aceh (bidang hukum agama Islam);
10. Pengadilan Adat di Papua (eksekusi putusannya terkait dengan peradilan umum); dan
159 Pasal 25 ayat (2), (3), (4), dan (5) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
160 Pasal 1 angka 8 UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
161http://www.jimly.com/makalah/namafile/161/PENGADILAN_KHUSUS_02.pdf, diakses tanggal 30 September 2014, artikel yang ditulis website www.jimly.com.
11. Pengadilan Tilang (bidang hukum pidana).
Berdasarkan jenis-jenis Pengadilan Khusus tersebut, Pengadilan Tipikor merupakan salah satu dari jenis-jenis Pengadilan Khusus yang ada di Indonesia.
Kedudukannya ditentukan di dalam Pasal 2 UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor yaitu sebagai pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum.162 Dengan demikian dasar hukum pembentukan pengadilan tipikor sebagai pengadilan khusus adalah UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor dan UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.163
Pada tahun 1964 sebagaimana yang tercantum pada Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 1964, dikenal hanya ada tiga macam peradilan, yaitu 1) Peradilan Umum, 2) Peradilan Khusus, dan 3) Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan agama masuk ke dalam pengertian Pengadilan Khusus. Ketentuan ini dikoreksi pada masa orde baru sehingga pada masa berlakunya UU Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, peradilan agama dijadikan sebagai lingkungan peradilan yang tersendiri di samping Peradilan Umum, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara.
164
Keempat badan peradilan hingga berlaku UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman tetap diakui sebagai peradilan yang berdiri sendiri. Namun di samping itu, sesuai Pasal 2 UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor,
162 Pasal 2 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tipikor.
163 Kedua undang-undang ini sama-sama diundangkan secara bersamaan yaitu pada tanggal 29 Oktober 2009. UU Nomor 46 Tahun 2009 diundangkan pada tanggal 29 Oktober 2009 dan UU Nomor 48 Tahun 2009 juga diundangkan pada tangal 29 Oktober 2009.
164 Jimly Asshiddiqie, “Pengadilan Khusus”, Artikel yang ditulis website pribadinya bernama:
www.jimly.com., hal. 3.
peradilan khusus dijadikan berada di lingkungan Peradilan Umum. Menurut Jimly Asshiddiqie, alasan untuk menyebut adanya istilah Peradilan Khusus dalam sejarah hanyalah karena sudah diterimanya pengertian Peradilan Umum, sehingga karenanya, yang lain dari Peradilan Umum harus disebut sebagai Peradilan Khusus.165
Salah satu wujud dari diakuinya Peradilan Khusus di dalam UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman adalah munculnya Peradilan Khusus di dalam UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor, yang disebut dengan Pengadilan Tipikor, sehingga Pengadilan Tipikor merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tipikor,166 termasuk tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah perkara tipikor.167
Pelaksanaan penuntutan perkara tipikor oleh kejaksaan sudah dimulai dari sejak dulu, yaitu sejak berlakunya KUHAP dan UUPTPK dan hingga kini sudah mengalami banyak perubahan. Saat ini penangannya selain samping tetap mempedomani hukum acara di dalam KUHAP, juga mempedomani hukum formil di
Kedudukan Pengadilan Tipikor adalah sebagai Pengadilan Khusus.
Eksistensinya sama dengan Pengadilan Khusus lainnya yang memiliki kekhususan tersendiri sesuai dengan bidangnya. Kekhususan Pengadilan Tipikor adalah khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tipikor, termasuk tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya (predicate crime) adalah perkara tindak pidana korupsi (tipikor).
165 Ibid.
166 Pasal 5 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tipikor.
167 Pasal 6 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tipikor.
dalam UUPTPK, dan UU Kejaksaan yang menentukan kejaksaan sebagai penyidik dan juga sebagai penuntut umum terhadap perkara tipikor. Selain itu muncul pula UUKPK yang mengamatkan KPK juga berwenang untuk melakukan penuntutan perkara tipikor.
Pada Pasal 43 ayat (1) UUPTPK (1999) mengamanatkan pembentukan KPK selama dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak UUPTPK mulai berlaku akan dibentuk KPK. Berdasarkan Pasal 53 UUKPK (2002) dibentuklah Pengadilan Tipikor sebagai tindak lanjut dari amanat tersebut terkait penanganan tipikor, sehingga diundangkan lah UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor (UU Pengadilan Tipikor).
Salah satu pertimbangan didirikan Pengadilan Tipikor ini adalah asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang sudah menjadi norma undang-undang di dalam Pasal 2 ayat (4) UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa dalam norma tersebut terkandung asas peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Sehingga salah satu upaya untuk mendukung terselenggaranya peradilan yang sederhana dan cepat tersebut didirikan lah pengadilan tipikor, namun dalam hal melaksanakan biaya ringan sejak didirikannya pengadilan tipikor justru sebaliknya yaitu menimbulkan biaya mahal.
Untuk penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dengan peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan sesuai Pasal 3 UU Pengadilan Tipikor, Pengadilan Tipikor ditempatkan di setiap ibukota kabupaten/kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan. Jika dicermati dengan seksama
ketentuan ini maka di seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia akan didirikan pengadilan tipikor dan berada di daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.
Semula perkara tipikor diperiksa, diadili, dan diputuskan oleh hakim pengadilan negeri, maka setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia, diperiksa, diadili, dan diputuskan oleh hakim-hakim Pengadilan Tipikor. Ketentuan itu ditegaskan dalam Pasal 5 UU Pengadilan Tipikor, bahwa Pengadilan Tipikor merupakan satu-satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tipikor.
Setelah berlakunya UU Pengadilan Tipikor semua perkara tipikor tidak lagi diperiksa, diadili, dan diputuskan di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, tetapi diperiksa, diadili, dan diputus oleh Pengadilan Tipikor di tingkat kabupaten/kota dan provinsi serta Mahkamah Agung.168 Namun pada kenyataannya implementasi amanat UU Pengadilan Tipikor tersebut di Kejaksaan Negeri Kuala Simpang tidak dapat terealisasi dengan baik dan tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam undang-undang.169
Fakta di Provinsi NAD hanya ada satu Pengadilan Tipikor yaitu Pengadilan Tipikor Banda Aceh yang berkedudukan di tingkat ibu kota Provinsi NAD yaitu di Banda Aceh. Padahal UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor
168 Pasal 3 dan Pasal 5 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (UU Pengadilan Tipikor).
169 Wawancara dengan Muhammad Haykal (Jaksa Penuntut Umum) pada Kejaksaan Negeri Kuala Simpang pada tanggal 5 Januari 2015.
mengamanatkan pengadilan tipikor harus didirikan di seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia dan berada di daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.