BAB I : PENDAHULUAN
C. Ketentuan Perundang-Undangan Yang Mengatur Wewenang
4. UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak
hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.4 Khusus untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Pengadilan Tipikor berkedudukan di setiap kotamadya yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan.5
Konsekuensi dari dibentuknya Pengadilan Tikipor maka terhadap semua perkara tipikor harus diadili di Pengadilan Tipikor.6
Kusuma, dkk. MK dalam putusan tersebut menilai bahwa ketentuan Pasal 53 UUKPK bertentangan dengan UUD 1945, karena telah terjadi dualisme penegakan hukum dalam sistem peradilan tipikor.
Dualisme yang telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan merugikan hak-hak konstitusional para pemohon. Dalam putusan tersebut, MK juga meminta pembuat undang-undang harus sesegera mungkin melakukan penyelarasan UUKPK dengan UUD 1945 dan membentuk UUKPK yang baru sebagai satu-satunya sistem peradilan tipikor, sehingga dualisme sistem peradilan tipikor yang telah dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945, dapat dihilangkan. Untuk itu MK memberikan jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak putusan dibacakan. Apabila pada saat jatuh tempo 3 (tiga) tahun Pengadilan Tipikor tidak dibentuk dengan undang-undang tersendiri, maka seluruh penanganan perkara tipikor menjadi wewenang Pengadilan Negeri yang berada dalam lingkungan peradilan umum.
4 Pasal 3 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (UU Pengadilan Tipikor).
5 Pasal 4 UU Nomor 46 Tahun 2009 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (UU Pengadilan Tipikor).
6 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4d47cfb9172b5/seluruh-perkara-korupsi-diadili-di-pengadilan-tipikor, diakses tanggal 1 Mei 2014. Artikel Lepas (tanpa penulis) yang dipublikasikan pada tanggal 1 Februari 2011 di situs resmi hukumonline, berjudul, “Seluruh Perkara Korupsi Diadili di Pengadilan Tipikor”.
Dibentuknya Pengadilan Tipikor ini sehubungan dengan perkembangan tipikor telah menimbulkan kerusakan dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara sehingga upaya pencegahan dan pemberantasan tipikor perlu dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan yang menuntut peningkatan kapasitas sumber daya, baik kelembagaan, sumber daya manusia, maupun sumber daya lain, serta mengembangkan kesadaran, sikap, dan perilaku masyarakat antikorupsi agar terlembaga dalam sistem hukum nasional.
Beberapa literatur menyebutkan seputar perkembangan tipikor di Indonesia menjadi sedemikian parah dan akut, bahkan sudah menjadi “penyakit sosial”.7 Modus operandi tipikor selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.8 Tipikor hampir dapat ditemui dimana-mana, mulai dari pejabat kecil hingga pejabat tinggi, hingga penerima suap (gratifikasi). Masalah tipikor di Indonesia sudah merupakan virus flu yang menyebar ke seluruh tubuh pejabat pemerintahan sehingga sejak tahun 1960-an langkah-langkah pemberantasannya pun masih tersendat-sendat sampai masa kini.9
Tipikor disepakati tidak saja sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime), tetapi juga kejahatan transnasional.10
7 Juniadi Soewartojo, Korupsi, Pola Kegiatan dan Penindakannya serta Peran Pengawasan Dalam Penanggulangannya, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hal. 4.
8 Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Delik Korupsi (UU No.
20 Tahun 2001), (Bandung: Mandar Maju, 2009), hal. 6.
9 Romli Atmasasmita (I), Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek Internasional, (Bandung: Mandar Maju, 2004), hal. 1.
10 Marwan Effendy, ”Pengadilan Tindak Pidana Korupsi”, Lokakarya, Anti-korupsi bagi Jurnalis, Surabaya, 2007, hal. 1.
Tipikor sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), berarti upaya pencegahan dan pemberantasannya perlu dilakukan penanganan yang luar biasa pula yang didukung oleh berbagai sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya seperti peningkatan
kapasitas kelembagaan serta peningkatan penegakan hukum guna menumbuhkan kesadaran dan sikap masyarakat yang anti korupsi.
Dampak dari tipikor bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara akan melemahkan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika, dan keadilan serta menghambat pembangunan berkelanjutan (sustainable development).11 Oleh sebabnya, semua elemen haru serius untuk memberantas korupsi dengan melibatkan secara optimal para penegak hukum dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system).12
Kebutuhan pentingnya Pengadilan Tipikor di Indonesia sudah tidak bisa dibantahkan urgensinya demi terselenggaranya penegakan hukum dan menciptakan keadilan, tanpa upaya pencegahan dan pemberantasannya, penegakan hukum tipikor niscaya sulit untuk diwujudkan. Urgensi Pengadilan Tipikor tersebut ditindaklanjuti oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan mengeluarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 191/KMA/SK/XII/2010 tanggal 1 Desember 2010 tentang Pembentukan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Pengadilan Negeri Semarang dan Pengadilan Negeri Surabaya.
13
Kemudian Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor:
022/KMA/SK/II/2011 tanggal 7 Februari 2011 tentang Pembentukan Pengadilan
11 Purwaning M. Yanuar, Pengembalian Aset Hasil Korupsi Berdasarkan Konvensi PBB Anti Korupsi 2003 Dalam Sistem Hukum Indonesia, (Bandung: Alumni, 2007), hal. 1.
12 Romli Atmasasmita (II), Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, (Bandung:
Mandar Maju, 1995), hal. 135. Sistem peradilan pidana (criminal justice system) adalah suatu kesatuan proses pengadilan pidana yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya dalam penegakan hukum pidana.
13 Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 191/KMA/SK/XII/2010 tanggal 1 Desember 2010.
Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan, dibentuk Pengadilan Negeri Padang, Pengadilan Negeri Pekanbaru, Pengadilan Negeri Palembang, Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Pengadilan Negeri Serang, Pengadilan Negeri Yogyakarta, Pengadilan Negeri Banjarmasin, Pengadilan Negeri Pontianak, Pengadilan Negeri Samarinda, Pengadilan Negeri Makasar, Pengadilan Negeri Mataram, Pengadilan Negeri Kupang dan Pengadilan Negeri Jayapura.14
Terakhir Keputusan Mahkamah Agung Nomor: 153/KMA/SK/X/2011 tanggal 11 Oktober 2011 tent an g P emben t ukan Pengadilan Tipikor, dibentuk Pengadilan Negeri Palangkaraya, Pengadilan Banda Aceh, Pengadilan Tanjung Pinang, Pengadilan Jambi, Pengadilan Pangkal Pinang, Pengadilan Bengkulu, Pengadilan Mamuju, Pengadilan Palu, Pengadilan Kendari, Pengadilan Manado, Pengadilan Gorontalo, Pengadilan, Denpasar, Pengadilan Ambon, Pengadilan Ternate, dan Pengadilan Manokwari.
15
Penanganan perkara tipikor dilakukan di wilayah hukum masing-masing Pengadilan Tipikor yang sudah dibentuk tersebut menjadi berbeda dengan sebelumnya. Seluruh perkara tipikor yang ditangani oleh seluruh Kejaksaan di wilayah hukum masing-masing yang telah dibentuk Pengadilan Tipikor-nya akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor tersebut. Dibentuknya Pengadilan Tipikor di
14 Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 022/KMA/SK/II/2011 tanggal 7 Februari 2011.
15 Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 153/KMA/SK/X/2011 tanggal 11 Oktober 2011.
daerah kabupaten/kota, tentu akan membawa banyak perubahan yang berarti dalam penegakan hukum dan mencari keadilan.
Sehubungan dengan itu, bahwa Pasal 2 ayat (4) UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan asas peradilan yang baik harus dilakukan dengan sederhana mungkin, cepat, dan biaya yang ringan. Asas peradilan yang sederhana adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara harus dilakukan dengan cara efesien dan efektif. Sedangkan asas peradilan dengan biaya ringan adalah biaya perkara yang dapat dijangkau oleh masyarakat.16
Soerjono Soekanto mengatakan, fasilitas atau sarana penunjang merupakan faktor penting dapat mewujudkan tujuan.
Namun demikian, asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam pemeriksaan dan penyelesaian perkara di pengadilan tidak mesti harus mengesampingkan ketelitian dan kecermatan dalam mencari kebenaran dan keadilan.
Penyelenggaraan peradilan tidak sekedar hakim memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara tetapi bagaimana sistem peradilan itu harus mampu pula memberikan pelayanan yang baik, efektif, sederhana, cepat, dan biaya ringan. Sebab sistem peradilan pidana yang baik, efektif, sederhana, cepat, dan biaya ringan dapat memenuhi rasa keadilan bagi pencari keadilan, dan lain-lain.
17
16 Penjelasan Pasal 2 ayat (4) UU Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
17 Soerjono Soekanto dan Mustafa Abdullah, Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat, (Jakarta:
Rajawali, 1980), hal. 17.
Tentu di samping faktor ketentuan perundang-undangan, faktor penegak hukum, dan faktor budaya, serta faktor-faktor lain seperti faktor fasilitas dan sarana penunjang perlu pula menjadi hal yang urgen
ditempatkan dalam mencapai tujuan menciptakan keadilan bagi para pencari keadilan di dalam sistem peradilan pidana.
Fasilitas yang dimaksud di sini adalah semua fasilitas dan atau sarana prasarana yang dapat digunakan dalam sistem peradilan pidana semata-mata untuk mencapai tujuan penegakan hukum dan keadilan. Fasilitas tersebut dapat berupa gedung-gedung lembaga, komputer, alat-alat komunikasi, ruang sidang, kendaraan, kertas, karbon, mesin tik, keuangan, dan lain-lain. Fasilitas-fasilitas tersebut meskipun sebagai sarana penunjang, namun perannya sedemikian urgen sangat diperlukan.18
18 Rusli Muhammad, Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Dilengkapi Dengan 4 Undang-Undang di Bidang Sistem Peradilan Pidana, (Yogyakarta: UII Press, 2011), hal. 59.
Bagaimana penegakan hukum dan keadilan akan mudah dilaksanakan dan dicapai jika fasilitas atau sarana dan prasarana penunjang di dalam sistem peradilan pidana tidak mendukung. Tentu menjadi masalah jika hal ini terjadi, dan bagaimana pula bagi aparat penegak hukum dapat melaksanakan tugas dan wewenangnya secara efektif jika tidak diimbangi dengan fasilitas-fasilitas pendukung tersebut. Apalagi dalam hal kebutuhan akan Lembaga Pengadilan Tipikor merupakan perintah oleh UUPTPK, UUKPK, terutama di dalam UU Pengadilan Tipikor, tentu Pengadilan Tipikor menjadi kebutuhan yang sangat mendesak dan urgen diperlukan saat ini untuk memberantas tipikor yang penanganannya dikecualikan secara khusus dibandingkan dengan penanganan perkara-perkara pidana umum dan perkara lainnya.
Urgensi faktor fasilitas atau sarana dan prasarana penunjang di dalam penyelenggaraan peradilan pidana menggambarkan suatu kondisi berikut:19
1. Apa yang sudah ada, tentu harus dipelihara agar setiap saat dapat difungsikan;
2. Apa yang belum ada, maka perlu diadakan dengan memperhatikan kebutuhan yang medesak;
3. Apa yang kurang, maka perlu dilengkapi;
4. Apa yang macet, maka harus dilancarkan; dan
5. Apa yang telah lama (kolot) dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, maka perlu ditinggalkan dan diperbaharui.
Chamliss dan Seidman mengatakan tentang faktor ini merupakan salah satu faktor penting di dalam penyelenggaraan peradilan yaitu kendala keadaan yang selalu menekan pada hakim (situation pressure on the judge).20
Berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung Nomor: 153/KMA/SK/X/2011, Pengadilan Tipikor di Banda Aceh dibentuk pada tanggal 11 Oktober 2011. Hal ini berarti di wilayah Propinsi NAD untuk seluruh Jumlah Kejaksaan Negeri yang ada Hal ini berarti kebutuhan akan kemampuan hakim-hakim khusus untuk mengangani perkara-perkara korupsi sangat perlu diadakan, sehingga urgensi keberadaan Pengadilan Tipikor mutlak diperlukan. Masalahnya apakah yang terjadi jika Pengadilan Tipikor hanya ada satu di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (selanjutnya disingkat NAD) yaitu Pengadilan Tipikor yang berkedudukan di Banda Aceh.
19 Ibid., hal. 16.
20 William J. Chamliss & Roberto Seidman, Law Order and Proper, (Massachusetts: Addison Wesley Publishing Company, 1971), hal. 91-107. Dalam buku ini disebutkan bahwa faktor-faktor tersebut adalah: bahan-bahan (the way in which the issues are presenterd), kebijakan yang dipilih (policy), ciri sosial dan pribadi hakim (the personal attribute of the judge), kendala keadaan (situation pressure on the judge), kendala organisasi (organization pressure in him), dan alternatif-alternatif peraturan yang dapat digunakan (alternative permissiable rules of law).
hanya ada satu Pengadilan Tipikornya untuk melimpahkan berkas perkara tipikor yakni Pengadilan Tipikor Banda Aceh yang berkedudukan di Propinsi NAD.
Amanat Pasal 3 UU Pengadilan Tipikor memerintahkan bahwa Pengadilan Tipikor berkedudukan di setiap ibukota kabupaten/kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Berarti bukan hanya berkedudukan di ibu kota propinsi yang dalam hal ini Pengadilan Tipikor Banda Aceh berada di wilayah Propinsi NAD untuk keseluruhan, tetapi harus Pengadilan Tipikor harus berkedudukan di setiap ibukota kabupaten/kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri.
Bila hanya ada satu-satunya Pengadilan Tipikor Banda Aceh berada di wilayah Propinsi NAD untuk seluruh Kejaksaan Negeri di Propinsi NAD, akibatnya, kendatipun pelaksanaan penegakan hukum tetap berjalan, namun dalam kondisi ini terdapat beberapa hal yang menjadi kendala seperti jauhnya jarak antara Kejaksaan Negeri Kuala Simpang dengan Pengadilan Tipikor Banda Aceh yaitu berjarak ± 473 kilometer. Kondisi ini juga berakibat pada sulitnya menghadirkan saksi-saksi disebabkan jarak yang cukup jauh tersebut. Selain itu, tentu biaya operasional yang diperlukan cukup besar untuk setiap kali mengikuti persidangan.
Untuk melakukan persidangan pada umumnya dilakukan satu kali dalam seminggu di Pengadilan Tipikor Banda Aceh, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Kuala Simpang harus membawa saksi-saksi untuk dihadirkan di persidangan tipikor yang sebahagian besar berasal dari Aceh Tamiang dan Kuala Simpang.
Dibandingkan dengan sebelum berdirinya Pengadilan Tipikor, Kejaksaan Negeri Kuala Simpang hanya melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri setempat (Pengadilan Negeri Kuala Simpang).
Kendala-kendala itu juga dapat dirasakan akibatnya bagi aparatur kejaksaan terutama bagi Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari kejaksaan negeri lainnya karena jarak Kejaksaan Negeri dengan tempat Pengadilan Tipikor Banda Aceh cukup jauh. Bahwa di Propinsi NAD terdapat satu kantor Kejaksaan Tinggi dan 2 2 (dua puluh dua) kantor Kejaksaan Negeri yaitu: Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Kejaksaan Negeri Sabang, Kejaksaan Negeri Sigli, Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, Kejaksaan Negeri Langsa, Kejaksaan Negeri Takengon, Kejaksaan Negeri Meulaboh, Kejaksaan Negeri Tapaktuan, Kejaksaan Negeri Kutacane, Kejaksaan Negeri Bireun, Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Kejaksaan Negeri Idi, Kejaksaan Negeri Kuala Simpang, Kejaksaan Negeri Sinabang, Kejaksaan Negeri Calang, Kejaksaan Negeri Singkel, Kejaksaan Negeri Blangkejeren, Kejaksaan Negeri Jantho, Kejaksaan Negeri Balngpidie, Kejaksaan Negeri Suka Makmue, Kejaksaan Negeri Simpang Tiga Redelong, dan Kejaksaan Negeri Meureudu.21
Jumlah kasus tipikor sebelum Pengadilan Tipikor Banda Aceh didirikan pada tahun 2011, yakni antara tahun 2008 s/d tahun 2011, Kejaksaan Negeri Kuala Simpang melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri Kuala Simpang sebanyak 11
21 Sumber diperoleh dari Panitera Kejaksaan Tinggi Aceh, lihat juga di: http://www.kejati-aceh.go.id/, diakses tanggal 2 Mei 2014 di wesite resmi Kejaksaan Tinggi Aceh.
(sebelas) perkara.22 Jumlah kasus tipikor setelah tahun 2011 atau setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh, Kejaksaan Negeri Kuala Simpang memiliki perkara tipikor yang dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Banda Aceh yaitu 18 (delapan belas) perkara yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Tipikor Banda Aceh.23
UU Pengadilan Tipikor mengamanahkan pembentukan Pengadilan Tipikor pada setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia, namun untuk sementara Sebelum disahkannya UU Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tipikor (UU Pengadilan Tipikor), Kejaksaan Tinggi Aceh beserta 22 (dua puluh dua) Kejaksaan Negeri tersebut melimpahkan perkara tipikor ke lingkungan Pengadilan Negeri sesuai dengan masing-masing wilayah hukumnya. Namun sejak disahkannya UU Pengadilan Tipikor dan dibentuknya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh dan seluruh Kejaksaan Negeri yang berada di Propinsi NAD harus melimpahkan perkara Tipikor ke Pengadilan Tipikor di Banda Aceh.
Pembentukan Pengadilan Tipikor di daerah merupakan amanah dari UU Pengadilan Tipikor yaitu pengadilan khusus yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk memeriksa dan memutus perkara korupsi. Seluruh perkara korupsi hanya dapat diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tipikor dan bagi penyidik kepolisian, penyidik kejaksaan penyidik KPK harus melimpahkan seluruh perkara tipikor ke Pengadilan Tipikor.
22 Kejaksaan Negeri Kuala Simpang.
23 Panitera Pengadilan Tipikor Banda Aceh.
berdasarkan surat keputusan MA tersebut di atas terlebih dahulu dibentuk Pengadilan Tipikor di 33 (tiga puluh tiga) ibu kota propinsi di Indonesia. Untuk itulah di Propinsi NAD dibentuk Pengadilan Tipikor di Banda Aceh tersebut untuk seluruh Kejaksaan Negeri yang ada di seluruh wilayah Propinsi NAD.
Berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh membuat Kejaksaan Tinggi Aceh dan 22 (dua puluh dua) Kejaksaan Negeri di Propinsi NAD melimpahkan seluruh perkara korupsi ke Pengadilan Tipikor di Banda Aceh. Dibentuknya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh tersebut menimbulkan beberapa permasalahan sehubungan dengan proses penanganan perkara bagi aparatur Kejaksaan Negeri Kuala Simpang dan begitu pula bagi aparatur Kejaksaan Negeri lainnya di NAD.
Terutama beberapa kantor Kejaksaan Negeri di Propinsi NAD yang berjarak cukup jauh dengan Pengadilan Tipikor Banda Aceh.
Walaupun demikian bukan berarti penegakan hukum terhadap pemberantasan tipikor yang diemban oleh kejaksaan menjadi terhenti. Namun setidaknya dengan kondisi ini tentu membawa akibat-akibat di dalam sistem penegakan hukum dan keadilan yang kurang efektif berjalan. Oleh karena itu di dalam penelitian ini berupaya untuk mencari dan mengetahui permasalahan yang muncul dan berupaya memberikan solusi terhadap persoalan dimaksud sebagai salah satu strategi untuk menciptakan keberhasilan dalam pemberantasan tipikor.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, maka dirumuskan tiga hal permalasahan yang diteliti di dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana ketentuan perundang-undangan yang mengatur terkait dengan wewenang kejaksaan dalam melakukan penuntutan terhadap perkara tipikor di Pengadilan Tipikor?
2. Bagaimana pelaksanaan penanganan perkara tipikor di Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebelum dan sesudah berdirinya Pengadilan Tipikor Banda Aceh?
3. Apa upaya-upaya progresif yang dapat dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebagai langkah strategi pemberantasan korupsi setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh?
C. Tujuan Penelitian
Adapaun yang menjadi tujuan dari pelaksaksanaan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbedaan proses birokrasi penanganan perkara tipikor di Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebelum dan sesudah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh.
2. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh aparatur Kejaksaan Negeri Kuala Simpang dalam proses penanganan tipikor setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh.
3. Untuk mengetahui upaya-upaya progresif yang dapat dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebagai langkah strategi pemberantasan korupsi setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat yang berguna baik secara teoritis maupun praktis, antara lain:
1. Secara teoritis, bermanfaat membuka wawasan dan paradigma berfikir dalam memahami dan menganalisis permasalahan hukum yang terdapat di dalam penanganan perkara tipikor di Kejaksaan Negeri Kuala Simpang dan di Pengadilan Tipikor Banda Aceh. Bermanfaat pula menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutannya untuk menambah wawasan dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan hukum.
2. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi aparat penegak hukum khususnya bagi Polri, Jaksa Penuntut Umum, advokat, dan para hakim yang menangani perkara tipikor, bermanfaat pula bagi masyarakat betapa pentingnya Pengadilan Tipikor dalam penyelenggaraan penegakan hukum di Indonesia.
E. Keaslian Penelitian
Sebelumnya telah dilakukan penelusuran di perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan di perpustakaan Pascasarjana Ilmu Hukum USU dengan tujuan
untuk menghindari plagiat terhadap karya ilmiah milik orang lain. Hasil penelusuran ditemukan beberapa judul dan permasalahan tesis berikut ini:
1. Tesis atas nama Raja Oberlin, NIM: 067005038, judul tesis “Analisis Komparatif Kewenangan Kejaksaan dan KPK Dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi (Analisis Kontradiktif dan/atau Koordinatif)”. Fokus kajian di dalam penelitian ini difokuskan pada kewenangan kejaksaan dan KPK dalam penanganan tindak pidana koripsi.
2. Tesis atas nama Susilawati, NIM: 982105028, judul tesis, “Peranan Hakim Dalam Pengimplementasikan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Dalam Rangka Memberantas Korupsi (Studi Kasus Dalam Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Sumatera Utara)”. Fokus kajian di dalam penelitian ini membahas masalah peranan hakim dalam memberantas tindak pidana korupsi di Sumatera Utara, walaupun tentang peranan hakim, tetapi bukan membahas masalah Pengadilan Tipikornya.
Sedangkan judul pada penelitian ini adalah “Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Kejaksaan Negeri Kuala Simpang Setelah Dibentuknya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Di Daerah” dan permasalahan yang akan dibahas adalah:
1. Apakah terdapat perbedaan proses birokrasi penanganan perkara tipikor di Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebelum dan sesudah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh?
2. Apa kendala-kendala yang dihadapi oleh aparatur Kejaksaan Negeri Kuala Simpang dalam proses penanganan tipikor setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh?
3. Apa upaya-upaya progresif yang dapat dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Kuala Simpang sebagai langkah strategi pemberantasan korupsi setelah berdirinya Pengadilan Tipikor di Banda Aceh?
Dari perbandingan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya jelas menunjukkan perbedaan yang signifikan. Penelitian ini berarti menunjukkan keaslian, terhadap judul dan rumusan masalah di dalam penelitian ini tidak memiliki kemiripan sam sekali dengan judul dan permasalahan penelitian sebelumnya, sehingga penelitian ini adalah asli dan jauh dari unsur plagiat terhadap karya tulis orang lain.
F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional 1. Kerangka Teori
Kerangka teori diperlukan untuk menganalisis permasalahan di dalam penelitian ini, bahwa teori yang dipandang tepat untuk menganalisis ketiga rumusan masalah tersebut adalah teori sistem hukum (legal system theory) namun teori ini perlu pula didukung dengan teori-teori hukum progresif untuk mengarahkan teori teori sistem hukum tersebut menjadi lebih progresif dilakukan, bukan saja bersifat konvensional dan kaku sebagaimana yang telah ada selama ini di dalam praktik, tetapi diperlukan cara-cara progresif untuk menciptakan peradilan yang sederhana mungkin, cepat, dan biaya yang ringan.
a. Teori Sistim Hukum
Kata “sistem” berasal dari kata “systema” yang diadopsi dari basaha Yunani yang diartikan “sebagai keseluruhan yang terdiri dari bermacam-macam bagian”.24 Kehidupan akan menjadi tertata dan kepastian dalam masyarakat akan tercipta dengan adanya sistem hukum.25
JH. Merryman, mengatakan, “Legal system is an operating set of legal institutions, procedures, and rules”.
Hal ini menggambarkan kondisi penegakan hukum termasuk sistem peradilan pidana berada dalam sistim besar yaitu teori sistim hukum (legal system theory).
26 Dalam teori JH. Merryman ini sistem hukum merupakan suatu seperangkat operasional yang meliputi institusi, prosedur, dan aturan hukum. Menurut Lawrence Milton Friedman, bahwa dalam sistem hukum harus meliputi substansi, struktur, dan budaya hukum.27
Jika membicarakan teori sistim hukum, maka di dalamnya senantiasa terdapat tiga komponen yang dilibatkan, sebagaimana menurut Lawrence Milton Friedman, masing-masing yaitu:28
1) Struktur hukum. Mencakup keseluruhan institusi-institusi hukum baik lembaga-lembaga pemerintahan maupun aparat penegak hukum seperti:
Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, Lembaga Pemasyarakatan, dan Advokat.
24 Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, (Jakarta: RajaGrafindo
24 Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, (Jakarta: RajaGrafindo