DI BALI: SEBUAH STUDI KUALITATIF
B. Pengalaman KPK dan KKP pada Pasangan Bekerja
BS 2 10 Istr Suam 52 54 S1 S2 PNS PNS 2 Sumber : Hasl wawancara
Keterangan:
- S1 : strata 1 - S2 : strata 2 - S3 : strata 3 - D3 : dploma 3
- SLTA : sekolah lanjutan tngkat atas - PNS : pegawa neger spl
- BS : berusaha sendr
- Peg. BUMN: pegawa badan usaha mlk negara Catatan : nama dan alamat reponden ada pada penelt
Meskpun tdak ada krtera khusus yang dapat dgunakan sebaga pedoman suatu keluarga tergolong keluarga besar, jumlah n tampak logs jka dkatkan dengan era keluarga berencana dewasa n (dengan slogan “2 orang anak cukup”). Melalu ketersedaan nformas tentang pengalaman konflik dari kedua kategori keluarga ini, sedikit banyak akan dapat diidentifikasi perbedaan konflik yang dialami antara keluarga kecil dengan keluarga besar. Di samping tuntutan waktu pada keluarga besar cenderung lebih tinggi, kemungkinan untuk mengalami konflik juga lebh besar pada keluarga dengan jumlah anggota yang lebh banyak dbandngkan dengan keluarga kecl (Cartwrght, 1978).
B. Pengalaman KPK dan KKP pada Pasangan Bekerja
Berdasarkan hasl wawancara mendalam dengan para responden, hampr semua pasangan menyatakan bahwa mereka pernah mengalami salah satu tipe konflik (KPK/ KKP), paling tidak “sekal-sekal”. Satu pasangan, dapat dgolongkan ke dalam konds “deal” karena menyatakan sama sekali tidak pernah mengalami konflik peran. Tampaknya pada pasangan ini keseimbangan antara peran pekerjaan dengan keluarga bukanlah merupakan suatu khayalan belaka sepert yang dkemukakan oleh (Lenaghan et al., 2007). Berkut pandangan s suam tentang KPK dan KKP:
“Saya merasa tidak pernah mengalami konflik. Menurut saya, konflik terjadi jika pekerjaan d kantor tdak dapat dselesakan, sehngga mengmbas/menganggu kehdupan keluarga, dan sebalknya. Selama n semua pekerjaan kantor dan tanggung jawab dalam keluarga dapat terselesakan meskpun kadangkala saya anggap belum maksmal, terutama dalam pekerjaan, karena keterbatasan waktu yang ada”.
Selama n a dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab d kantor tanpa hambatan yang berart karena semua “urusan dalam neger” dtangan sepenuhnya oleh str. Peran ganda
perempuan tampak nyata dar gambaran n. Peran gender yang dengan jelas memsahkan peran keluarga d pundak perempuan dan peran pekerjaan adalah wlayah kekuasaan lak-lak, tampaknya mash berlaku (Duxbury et al., 1992). Selan tu, berlaku konds relative plethora of linkage untuk perempuan, dan paucity of linkage bag lak-lak (berbeda dengan suam, str serngkal tdak dapat memsahkan peran pekerjaan dan keluarga dengan “jelas” (Jennngs & McDougald, 2007),
Beberapa pasangan juga mengaku bahwa pembagan penanganan pekerjaan rumah tangga drasakan tdak proporsonal antara suam-str. Urusan rumah tangga lebh banyak dlmpahkan pada str, sedangkan suam hanya “kut nmbrug” sekal-sekal jka danggap perlu (Sunasr, 2004). Namun, semua responden perempuan menyatakan bahwa peran ganda n tdak drasakan memberatkan, justru menngkatkan rasa “keberadaannya” d tengah-tengah masyarakat dan keluarga besar suamnya. Ternyata cara pandang para perempuan n tdak paralel dengan pemkran Hall (1982), yang menyatakan bahwa perempuan bekerja yang memlk sub-denttas sebaga str, bu, bu rumah tangga, sekalgus penyeda jasa tenaga kerja, cenderung menjadkan identitas ini sebagai beban sehingga merupakan penyebab utama munculnya konflik peran.
Dari ketiga bentuk konflik, hasil studi menunjukkan bahwa waktu memegang peranan yang sangat pentng untuk dsebutkan sebaga satu restrks pemenuhan keduan peran. Hampr semua partisipan menyatakan bahwa pengalaman konflik lebih banyak diakibatkan oleh aktivitas pekerjaan bersamaan waktunya dengan kegatan domestk. Konds n lebh banyak dlaporkan oleh mereka yang bekerja d nstans swasta dbandngkan sektor publk. Tekanan waktu untuk pekerjaan d sektor publk lebh rendah dbandngkan sektor swasta karena keberadaannya tdak dperuntukkan mencar keuntungan (Maume & Houston, 2001).
Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengalaman konflik bagi mereka yang berusaha sendr dan karyawan perusahaan. Berbeda dengan ndvdu yang bekerja sebaga karyawan, seseorang yang menjalankan usaha basanya harus selalu berpacu dengan waktu (Parasuraman & Smmers, 2001).
Seorang pemlk perusahaan yang bergerak d bdang advertens melaporkan bahwa waktu merupakan penghambat utama bagnya untuk dapat memberkan curahan perhatan yang memada untuk keluarga. Oleh karena pekerjaannya tergolong ke dalam bdang sen, pelmpahan tugas kepada karyawan relatf tdak mudah untuk dlakukan. Padahal, a memutuskan untuk membuka usaha sendr agar dapat mengatur waktu pekerjaan dan keluarga secara leluasa. Ternyata, mendrkan usaha sendr tdak menjamn sebaga obat mujarab untuk mencegah atau mengobati konflik pekerjaan-keluarga (Parasuraman & Simmers, 2001).
Selain konflik atas dasar waktu, dua orang responden menyampaikan bahwa ketegangan yang bersumber dar pelaksanaan kerja d kantor serng dpandang sebaga hal yang menmbulkan konflik. Dilaporkan bahwa ketegangan lebih banyak berasal dari pekerjaan yang akhirnya bermbas kepada keluarga, meskpun serngkal terjad secara tdak dsadar.
Seorang str yang berusaha sendr (pemlk salon, spa, dan penyeda jasa ras pengantn) menyatakan bahwa ketegangan yang drasakan d tempat kerja serng berdampak pada suasana hat setbanya d rumah, sehngga mempengaruh kualtas hubungan dengan anak-anak dan suam. Umumnya profes yang mengharuskan kontak (hubungan) yang tngg dengan pelanggan memang rskan (vulnerable) terhadap KPK (Pasewark & Vator, 2006). Gambaran tentang mbas ketegangan pekerjaan pada keluarga dnyatakan berkut n :
“Pekerjaan n termasuk penyedaan jasa untuk kecantkan, maka pelanggan menuntut profesonalsme yang tngg karena menyangkut urusan penamplan…… Jka ada komplan d salon, sampa d rumah serngkal orang rumah bcara basa saja, saya terma dengan nada tngg, sehngga tdak jarang akhrnya menmbulkan pertengkaran ”.
Tidak satupun partisipan melaporkan pernah mengalami konflik dengan intensitas sangat tngg. Padahal, pada stud n terdapat satu pasangan karr (dual-career family) yang memegang jabatan tngg. Konds n tampak tdak sejalan dengan pendapat Robbns (2004) yang menyatakan bahwa pasangan karir umumnya mengalami konflik yang sangat intensif karena keduanya memlk komtmen yang tngg terhadap pekerjaannya. Kemungknan, pada pasangan n masalah keluarga/pekerjaan tdak drasakan bermbas pada peran pekerjaan/keluarga karena sepert yang dsampakan oleh Rzzo et al. (2007), mereka adalah manajer yang kuat.
Informas yang dberkan oleh satu pasangan yang berada pada daur hdup keluarga tahap awal, yatu menkah dan belum memlk anak, menggambarkan bahwa meskpun mereka serngkal mengalam KPK, mereka tdak pernah mengalam KKP dalam setahun belakangan n. Kedua anggota pasangan sepakat bahwa belum hadrnya keturunanlah yang drasakan tdak “memberatkan” urusan keluarga. Kontras dengan stuas n, pasangan dengan seorang anak yang tergolong berusa balta (pra-sekolah), mengeluh tentang gangguan dalam peran keluarga bermbas pada pekerjaannya. Umur anak yang mash sangat muda, menuntut peran keorangtuaan (parental demand) yang tinggi yang mengakibatkan konflik peran lebih tinggi (Parasuraman dan Smmers (2001).
Sebagan besar suam mengemukakan bahwa berdasarkan penlaannya, str mereka mengalam KPK yang juga lebh tngg jka dbandngkan dengan KPK yang dalamnya sendr. Tampaknya apa yang djelaskan oleh teor sosalsas peran gender (Wallace, 1999) bahwa faktor-faktor keluarga akan mengalr menuju pekerjaan lebh banyak pada perempuan dbandngkan lak-lak, sedangkan faktor-faktor pekerjaan akan mengalr menuju keluarga lebh banyak pada lak-lak dar pada perempuan, tdak berlaku pada latar peneltan n.
Berdasarkan laporan dar sebagan besar partspan, ntenstas KPK drasakan lebh tngg dbandngkan KKP. Beberapa responden memperkrakan bahwa ntenstas KPK berksar antara 2 hngga 3 kal KKP. Sesua dengan perspektf ‘asymetrically permeable boundary’ (Boyar et al., 2003), hal n dsebabkan oleh pekerjaan memlk ‘deadline’ serta tanggung jawab yang jauh lebh past, dbandngan dengan peran keluarga.
Menurut teor peran gender, kaum perempuan cenderung berorentas pada keluarga karena menurut Grandey et al. (2005), mereka lebh melhat peran keluarga sebaga denttas sosal dbandngkan lak-lak. Seorang responden (str), menggolongkan drnya sebaga ndvdu yang berorentas keluarga, karena merasa lebh mementngkan keluarga dbandngkan dengan pekerjaannya. Indvdu yang berorentas keluarga akan menempatkan tngkat kepentngan peran tanggung jawab keluarga (family role salience) lebh tngg dbandngkan yang dletakkan pada pekerjaannya (Rothausen, 1999). Partspas keluarga n dalam kegatan pebanjaran dkemukakan oleh seorang str:
“Karena kebetulan kam tnggal d kota sebaga anggota banjar dnas, saya dan suam tdak pernah terlbat dalam kegatan adat dan keagamaan banjar d sn. Jka ada kematan d desa, kam usahakan datang melayat….Kalau ada waktu kam kut mengantar ke kuburan,
kalau tdak kut, juga tdak menjad masalah. Kebetulan juga suam punya saudara lak-lak yang tnggal d desa, yang bsa mewakl”.
Bertentangan dengan pengalaman pasangan n, pasangan responden yang terdaftar sebaga anggota banjar adat d wlayah tempat tnggalnya serng merasa kesultan mengatur waktu antara kegatan kantor dan banjar. Terlebh saat “dewasa” (har-har bak untuk melaksanakan upacara keagamaan), upacara adat dan keagamaan yang harus dkut bukan saja d lngkungan banjar adat mereka, juga d lngkungan keluarga besar dan kerabat lan.
C. Penyebab dan Konsekuensi KPK dan KKP Serta Keterkaitannya Dengan Dukungan