PENGALAMAN PEREMPUAN BALI YANG BEKERJA DI KAPAL PESIAR MELALUI PENDEKATAN HUMAN SECURITY
3.1. Pengalaman Para Pekerja Kapal Pesiar Perempuan
Bagi para perempuan pekerja kapal pesiar, secara umum, baik pekerja laki-laki maupun pekerja perempuan menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda terkait dengan profesi mereka. Pekerja kapal pesiar, baik laki-laki maupun perempuan sama – sama merasakan tantangan pada panjangnya jam kerja mereka, besarnya tekanan dalam menghadapi tamu atau penumpang kapal, berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lama, serta tantangan gaya hidup dan pergaulan selama berlayar diatas kapal. Namun secara khusus, mereka merasa bahwa sebagai perempuan mereka memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal membela diri. Berikut kutipan wawancara dengan KE, seorang narasumber asal Sukawati Gianyar yang saat ini mengelola warung rujak :
“Semua hanya dari mendengar. Kenken sujatine megae di kapal, tiang nol.Yang tiang dengar, disana pekerjaannya memang berat. Fisik dan mental harus kuat. Skill saja tidak cukup. Apalagi saya ini seorang perempuan, kita harus mampu menjaga diri dengan baik selama di kapal,” ( wawancara dengan KE pada tanggal 10 Agustus 2017).
Narasumber LG memberikan gambaran mengenai pengalamannya sebelum berangkat ke kapal pesiar sebagai berikut :
“Perasaan takut sebenarnya ada. Tapi saya lawan rasa takut itu. Saya harus kuat karena cuma dengan cara itu saya bisa mendapatkan gaji yang memuaskan. Itu saja yang saya ingat-ingat terus sebelum berangkat. Saya sudah takut tidak dapat bertemu dengan keluarga dalam waktu berbulan-bulan. Saya takut kalau saya sakit saat kerja. Saya juga takut apa saya bisa kembali nanti. Ada ketakutan juga kalau kerja di kapal sama seperti kerja TKI, pulang-pulang bisa babak belur karena dipukul majikan. Ha ha ha….saya benar-benar buta saat itu. Saya cuma perempuan, kalau mendapati hal-hal seperti itu, apa yang bisa saya lakukan….Duh mudah-mudahan tidak pernah terjadi hal seperti itu pada saya,” ( Wawancara 14 Agustus 2017).
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI IV 2017 “Inovasi Humaniora, Sains dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan”
Teman atau tetangga yang pulang dari kapal pesiar tidak selamanya membawa berita bahagia saat mereka pulang dari kapal pesiar. Ada beberapa kejadian tidak menyenangkan yang narasumber saksikan yang sempat membuat ia berpikir ulang mengenai keberangkatan kerja di kapal pesiar. Narasumber MG menyampaikan informasinya sebagai berikut :
“Tetangga saya, sudah 5 kali berangkat ke kapal. Setiap pulang selalu bawa cerita bagus-bagus saja. Semuanya menyenangkan dan kerja di kapal sungguh menyenangkan. Tapi pulang yang terakhir, dia harus langsung opname di rumah sakit. Katanya ada masalah dengan ginjal. Saya ndak tahu jelasnya seperti apa. Tapi sepertinya kehidupan di kapal pesiar memang tidak semudah yang kita bayangkan. Laki-laki saja bisa seperti itu nasibnya, apalagi saya yang cuma seorang wanita,” ( wawancara 2 Oktober 2017).
Kecemasan lainnya adalah mengenai hidup berjauhan dengan keluarga selama berbulan-bulan. Hidup terisolasi menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja perempuan. Bagi perempuan menanggung beban berjauhan dari keluarga lebih berat dirasakan oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki sebagaimana tersurat pada kutipan wawancara berikut ini :
“Saya sangat merindukan anak-anak saya saat itu. Mereka sudah makan apa belum, apa mereka sehat atau sakit. Suami saya bagaimana, apa dia setia atau tidak. Saya menghubungi keluarga itu hanya bisa saat menjelang tidur, saya telpon pakai kartu dan itupun cuma sebentar. Selebihnya saya tidak tahu bagaimana keadaan keluarga di Bali. Ada rasa khawatir kalau mereka semua berubah pada saya. Suami berubah, anak-anak tidak kenal pada saya. ( Wawancara dengan LA pada tanggal 30 September 2017).
Selain berpisah dengan keluarga, pekerja perempuan juga tidak dapat melupakan kewajiban mereka pada saat hari raya sebagaimana tersurat pada kutipan wawancara dibawah ini:
Paling berat ya kalau lagi kangen keluarga. Sedih tidak dapat melihat anak-anak. Mereka yang paling saya pikirkan. Kalau lagi rainan apalagi, saya betul betul kepikiran. Apa yang akan dilakukan oleh suami saya, sendirian mempersiapkan banten dan lain-lain. Saya merasa saat kerja di kapal, saya tidak bisa melepaskan pikiran saya dari keluarga yang jauh ( wawancara dengan IP pada tanggal 14 Agustus,2017).
Relasi Kuasa dengan Suami atau Pasangan
Data wawancara dari beberapa narasumber studi ini, menyebutkan bahwa sumber tekanan berasal dari relasi mereka dengan suami atau pasangan yang ada di Bali. Dari hasil wawancara diperoleh data bahwa tekanan psikologis dalam bentuk relasi gender dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut; tuntutan oleh para suami atau pasangan agar perempuan bekerja di kapal pesiar, kecemasan perempuan pekerja terhadap kemampuan suami dalam mengurus keluarga, serta kecemasan para perempuan terhadap pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh para suami.
Seperti dalam kasus Ibu PD yang berasal dari Sukawati, keberangkatannya ke kapal pesiar di tahun 2004 bukanlah sebuah cita-cita yang dia impikan. Keberangkatannya ke kapal pesiar disebabkan oleh desakan dari sang suami yang menginginkan adanya perbaikan taraf hidup keluarga.
“Bisa dikatakan bekerja di kapal pesiar bukanlah keinginan saya sendiri. Suamilah yang mendorong saya dan meminta saya untuk mencoba peruntungan di kapal pesiar. Bisa dikatakan, suami agak memaksa saya bekerja di kapal. Dia melihat teman-temannya pada berhasil pulang membawa uang. Sedang dia sendiri, ndak mau berangkat. Ndak ada skill, Bu. Cuma bisa nyetir, jadi sopir di villa. Saya sendiri ndak mau mau, ndak tertarik, Bu. Harus ninggalin anak saya, masih kecil-kecil. Kalau diingat-ingat, duh….berat sekali rasanya. Kadek saya, baru usia 2 tahun saat itu…” ( wawancara 30 September 2017).
Cerita serupa juga disampaikan oleh LR, seorang narasumber yang berasal dari Singaraja dalam kutipan wawancara berikut :
“Kami harus nabung untuk modal nikah, saya dan dia ( pacar ) sama-sama kerja di villa. Untuk perbaikan nasib dan keadaan ekonomi, saya pikir ada bagusnya juga kalau salah satu dari kami ikut kerja di kapal. Saya pikir dialah yang akan berani berangkat, ternyata dia malah mendesak saya yang berangkat.” ( wawancara dengan LR pada tanggal 6 September 2017).
Selain persoalan desakan untuk berangkat dari suami atau pasangan, perempuan rupanya tidak dapat melepaskan diri mereka ketika bekerja di kapal dari persoalan-persoalan keluarga. Melepas tanggung jawab untuk merawat anak dan keluarga kepada suami masih menjadi beban yang mereka
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI IV 2017
“Inovasi Humaniora, Sains dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan”
tidak bisa sepenuhnya lepaskan ketika sedang bekerja. Menurut beberapa narasumber, suami tidak bisa sepenuhnya telaten seperti seorang perempuan ketika harus mengurus anak. Selain itu, bagi perempuan Bali, tanggung jawab terhadap ikatan tradisional juga sangat membebani mereka ketika sedang bekerja di kapal. Banyaknya ragam upacara di Bali serta banyaknya upakara yang harus dibuat menjadi salah satu beban psikologis yang secara khusus dialami oleh para perempuan Bali yang bekerja di kapal seperti yang diutarakan oleh narasumber pada salah satu petikan wawancara diatas.
Terakhir, pengelolaan penghasilan mereka yang diserahkan kepada suami atau keluara juga menjadi beban psikologis. Seorang narasumber mengungkapkan kekecewaannya karena uang yang dikirmkan tiap bulan atau setiap tiga bulan kepada suami ternyata telah diinvestasikan pada hal lain tanpa adanya diskusi terlebih dahulu kepada sang istri. Ada pula narasumber yang menceritakan bahwa jerih payahnya selama bekerja di kapal habis tak bersisa karena dihabiskan oleh suami untuk berjudi.
“Saya marah sekali, ketika tahu bahwa uang yang saya kirim justru dipakai oleh suami untuk investasi yang tak jelas. Harapan saya ketika pulang adalah melihat rumah sudah diperbaiki, dapur sudah bagus, kamar mandi sudah bagus. Ternyata suami saya berbohong…dan mertua juga mendukung suami. Waktu saya berangkat lagi, saya wanti-wanti dari jauh jauh hari pada suami, jangan macam-macam dengan uang yang saya dapatkan di kapal. Kalau mau membangun ya, membangun jangan dipakai yang lain. Kalau ada sisa, disimpan saja lebih baik, anak-anak perlu tabungan buat bekal sekolah mereka” ( wawancara dengan WD, tanggal 5 Agustus 2017).
Pengalaman serupa juga dialami oleh narasumber YN sebagaimana disampaikan dalam kutipan wawancara berikut :
“Banyak teman di kapal yang tak bisa nyimpen gajinya dengan baik. Ada yang habis buat main kasino disini, ada yang habis buat belanja ini itu. Itu sebabnya, saya kirim uang saya dan percaya pada suami. Uang itu dibelikan mobil oleh suami dan dipakai untuk anter-anter tamu. Tapi nasib jelek, mobil saya dibawa kabur sama orang, ngakunya sih teman suami….sia-sia jerih payah saya kerja di kapal pesiar 9 bulan itu. Waktu berangkat kedua kalinya, saya minta suami agar menunggu saya pulang dulu baru kita pikirkan uangnya akan dipakai apa. Tahu lah, Bu, Bapak-bapak itu ndak begitu baik ngatur uang…”. ( Wawancara dengan YN)
Relasi Kuasa dengan Sesama Pekerja
Pengalaman narasumber dalam studi ini mengatakan bahwa hubungan atau relasi dengan sesama pekerja dapat menjadi sebuah sumber ancaman bagi mereka diantaranya adalah isu perselingkuhan, kekerasan fisik, dan pelecehan.Dalam beberapa kasus, perempuan sulit untuk menghindar dari ajakan untuk “berpacaran” dengan sesama pekerja, baik dengan laki-laki dari daerah yang sama maupun dengan laki-laki dari negara lain. Dalam beberapa kasus, para pekerja perempuan tidak memiliki kuasa untuk menolak karena untuk menghindari permasalahan lain yang mungkin timbul karena mereka masih harus berada di atas kapal hingga beberapa bulan berikutnya. Seorang narasumber memberikan informasi demikian:
“Kalau saya ingat, saya merasa kotor. Tapi saya harus melupakan karena saya sudah disini, kumpul bersama keluarga lagi. Itulah sebabnya saya ndak mau lagi berangkat. Ada teman kerja laki-laki, selalu mencari cara agar saya mau dengan dia. Berbulan-bulan dia mengejar saya, saya sampai ketakutan. Saya terpaksa menuruti kemauannya. Semata-mata agar saya tenang bekerja, “ ( Wawancara dengan BW pada tanggal 15 Agustus, 2017).
Perempuan dalam hal ini merasa bahwa fisik mereka yang lemah serta tidak adanya tempat untuk menyelamatkan diri ketika merasa terancam membuat mereka akhirnya ikut ke dalam “sistem” yang terjadi dalam kapal. Seorang narasumber mengatakan bahwa pelecehan terhadap fisik perempuan dalam berbagai bentuk mulai dari rabaan, hubungan paksa, hingga perkosaan. Pada kebanyakan kasus, hal tersebut hanya menjadi sebuah cerita yang harus mereka lupakan terutama ketika mereka harus kembali ke rumah seperti yang telah diceritakan oleh narasumber pada petikan wawancara diatas. “Hubungan“ yang terjadi karena pemaksaan ini juga menimbulkan cedera psikologis bagi perempuan yang bekerja di kapal pesiar. Narasumber mengatakan bahwa rasa bersalah kerap melanda mereka walaupun mereka hanya sebagai saksi dan bukan pelaku dari perselingkuhan misalnya seperti dalam kutipan wawancara berikut :
SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI IV 2017 “Inovasi Humaniora, Sains dan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan”
“Saya kenal istrinya dan saya tahu dia memiliki hubungan dengan pekerja lain di atas kapal. Saya merasa bersalah karena sebagai sesama perempuan, saya tak mampu berbuat apa ,” ( Wawancara dengan LS pada tanggal 21 Agustus, 2017).
Relasi dengan Tamu atau Penumpang Kapal
Hasil wawancara menunjukkan bahwa relasi dengan penumpang kapal dapat menjadi tekanan, baik secara fisik maupun secara mental bagi para pekerja. Dari hasil wawancara, pengalaman para pekerja perempuan menunjukkan bahwa ancaman yang bersumber dari relasi dengan tamu kapal hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal hingga pelecehan secara fisik. Kutipan wawancara berikut menunjukkan contoh pengalaman seorang pekerja :
“ Tamu sering berbuat seenaknya, kata-kata kasar yang ditujukan kepada kita sudah biasa. Ada juga tamu genit, suka merayu. Mau melawan, ada rasa takut. Kalau dibiarkan, sikap mereka itu lo…bisa melecehkan sekali.” ( wawancara dengan NS pada tanggal 13 Agustus 2017).
Pengalaman yang tidak menyenangkan juga diuangkapkan oleh narasumber yang lain saat berhadapan dengan tamu, berikut kutipan wawancaranya :
“Kalau tidak mau ikut mau mereka, dengan seenaknya kita dikata-katai. Bangsat lah, bodoh lah. Kita para pekerja memang diipandang rendah.” ( Wawancara dengan KS pada tanggal 9 September 2017).