• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kinerja Auditor terhadap Dysfunctional Audit Behavior

BAB III : KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.2 Hipotesis Penelitian

3.2.6 Pengaruh Kinerja Auditor terhadap Dysfunctional Audit Behavior

Kinerja merupakan sebuah prestasi kerja individu setelah mengerahkan upaya yang diperlukan pada pekerjaan yang terkait melalui mendapatkan pekerjaan yang

layak, profil yang terlibat, dan rekan kerja atau perusahaan disekitar yang dapat bekerjasama (Hellriegel et al., 1999; Karakas, 2010), sementara komitmen organisasi diartikan sebagai kekuatan yang ada pada diri seseorang dalam mengaplikasikan dirinya untuk terlibat pada perusahaan (Porter et al., 1974).

Auditor yang memiliki komitmen dalam organisasi ataupun perusahaan akan bekerja dengan profesional demi kemajuan perusahaan sesuai dengan visi dan misi yang telah dimiliki oleh perusahaan tersebut, sehingga auditor memperoleh kinerja yang baik berdasarkan usaha yang besar dilakukan untuk perusahaan tersebut.

Kinerja yang diperoleh auditor baik akan cenderung meminimalisir perilaku yang menyimpang dalam bekerja yang akan menurunkan reputasi perusahaan dan kredibilitasnya sebagai auditor. Oleh karena itu, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H6: Komitmen organisasi mampu memoderasi pengaruh Kinerja Auditor terhadap penerimaan dysfunctional audit behavior.

BAB IV

METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang mengidentifikasi hubungan yang bersifat sebab akibat antara satu atau lebih variabel independen maupun variabel moderasi dengan variabel dependen. Serta penelitian kuantitatif diartikan sebagai jenis penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif dan induktif. Hubungan yang diuji dalam penelitian ini adalah hubungan secara parsial dan simultan antara variabel independen yaitu locus of control, turnover intention, kinerja auditor dan variabel moderasi yaitu komitmen organisasi dengan variabel dependen dysfunctional audit behavior.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kantor Akuntan Publik pada wilayah Medan – Sumatera Utara dan Pekanbaru – Riau. Waktu penelitian dimulai pada bulan Maret hingga Juli 2019.

4.3 Definisi Operasional 4.3.1 Variabel Dependen

4.3.1.1 Dysfunctional Audit Behavior

Perilaku audit disfungsional (dysfunctional audit behavior) merupakan variabel dependen yang diartikan sebagai setiap tindakan yang dilakukan auditor selama pelaksanaan program audit yang dapat mereduksi kualitas audit baik secara langsung maupun tidak langsung (Otley and Pierce, 1996; Kelley and Margheim,

1990). Variabel ini diukur melalui tiga indikator yang dapat mempengaruhi serta menurunkan kualitas seorang auditor dalam mengaudit yaitu premature sign-off, altering of audit procedure dan underreporting of time audit yang dikembangkan oleh Kelly and Margheim (1990) serta Donnelly et al., (2003) dengan instrumen pertanyaan yang telah di replikasi oleh Anita (2016) berjumlah dua belas pertanyaan.

Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka, memilih di antara lima jawaban mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju. Masing-masing item pernyataan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin, di mana poin 1 diberikan untuk jawaban yang mengindikasikan penerimaan perilaku disfungsional yang rendah, dan seterusnya poin 5 diberikan untuk jawaban yang berarti mengindikasikan penerimaan perilaku disfungsional yang tinggi.

4.3.2 Variabel Independen 4.3.2.1 Locus of Control

Locus of control didefinisikan oleh Spector (1988) sebagai cerminan dari sebuah kecendrungan seorang individu untuk percaya bahwa ia mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya (internal) atau kendali atas peristiwa yang terjadi dalam hidupnya itu berasal dari luar kendalinya ataupun dipengaruhi oleh orang lain (eksternal).

Variabel ini diukur menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Spector (1988) yang dimodifikasi oleh Donnelly et al., (2003) dan telah diterjemahkan oleh Silaban (2009) dan di replikasi oleh Anita (2016) dengan

33

indikator eksternal yakni kurang memiliki inisiatif, mudah menyerah, kurang menyari informasi, bersepsi berusaha tidak berkorelasi dengan kesuksesan, bergantung pada orang lain, dan internal diantaranya bekerja keras, memiliki inisiatif tinggi, berusaha menemukan solusi, berfikir seefektif mungkin, berpersepsi berusaha untuk sukses. Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka, memilih di antara lima jawaban mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju. Masing-masing item pernyataan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin, di mana poin 1 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki locus of control internal, dan seterusnya poin 5 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki locus of control eksternal.

Terdapat dua belas pertanyaan untuk mengukur variabel locus of control.

4.3.2.2 Turnover Intention

Turnover intention merupakan keinginan seorang auditor berpindah dari satu tempat kerja ketempat kerja yang lain (Aranya and Ferrish, 1984). Variabel ini diukur melalui empat indikator diantaranya tingkat keinginan berpindah kerja responden dalam waktu dekat (dua tahun), jangka waktu menengah (lima tahun), juga jangka panjang (sampai pensiun) serta alternatif pekerjaan lain.

Turnover intention diukur menggunakan instrumen pendekatan periode multi waktu yang didukung oleh literatur dari Aranya and Ferrish (1984) dan Donnelly et al., (2003) yang terbagi atas empat jenis pertanyaan diantaranya perencanaan auditor untuk bertahan dalam organisasi selama dua tahun, lima tahun, hingga pensiun, ataupun telah memiliki alternatif pekerjaan.

Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka, memilih di antara lima jawaban mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju. Masing-masing item pernyataan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin, di mana poin 1 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki rendahnya turnover intention, dan seterusnya poin 5 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki tingkat turnover intention yang tingi. Terdapat empat pertanyaan untuk mengukur variabel turnover intention.

4.3.2.3 Kinerja Auditor

Kinerja Auditor adalah tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah diselesaikan auditor dalam jangka waktu yang telah ditetapkan (Mulyadi, 2002). Indikator yang digunakan berjumlah empat indikator yang terdiri atas empat indikator personalitas, antara lain: kompetensi, komitmen profesional, motivasi, dan kepuasan kerja.

Variabel ini menggunakan instrumen yang direplikasi dari Trisnaningsih (2007) dengan sebelas jumlah pertanyaan. Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka, memilih di antara lima jawaban mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju. Masing-masing item pernyataan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin, di mana poin 1 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki rendahnya kinerja dalam perusahaan, dan seterusnya poin 5 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki tingkat kinerja yang tinggi dalam perusahaan.

35

4.3.3 Variabel Moderasi 4.3.3.1 Komitmen Organisasi

Mowday et al., (1979) memaparkan bahwa komitmen organisasi sebagai kekuatan individu dan keterlibatan dalam organisasi tertentu, serta Robbins (1996) menyimpulkan bahwa komitmen organisasi sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan ataupun auditor yang bekerja di perusahaan ataupun kantor akuntan publik memihak kepada perusahaan ataupun kantor akuntan publik tersebut.

Allen and Meyer (1991) menjelaskan bahwa komitmen organisasi terdiri dari tiga dimensi serta beberapa indikator didalamnya. Dimensi dari komitmen organisasi tersebut yakni komitmen afektif yang memiliki indikator berupa emosional, identifikasi, keterlibatan karyawan dalam organisasi. Dimensi kedua dari komitmen organisasi yaitu komitmen normatif yang memiliki indikator berupa kesetiaan yang diberikan dikarenakan pengaruh orang lain dan kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi. Serta dimensi terakhir yakni komitmen berkelanjutan yang memiliki indikator berupa kerugian bila meninggalkan perusahaan, karyawan membutuhkan organisasi.

Variabel ini diukur menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Allen and Meyer (1991). Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka, memilih di antara lima jawaban mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju. Masing-masing item pernyataan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin, di mana poin 1 diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki locus of control internal, dan seterusnya poin 5

diberikan untuk jawaban yang berarti individu memiliki locus of control eksternal.

Terdapat dua belas pertanyaan untuk mengukur variabel komitmen organisasi.

Tabel 4.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian

No Variabel Indikator Skala

1 Locus of control

Bersepsi berusaha tidak berkorelasi dengan kesuksesan

Bergantung pada orang lain.

2 Turnover intention (X2)

Keinginan berpindah kerja dalam waktu dekat

(2 tahun yang akan datang)

Likert Keinginan berpindah kerja dalam

jangka waktu menengah (5 tahun yang akan datang)

Keinginan berpindah kerja dalam jangka waktu lama

Keterlibatan karyawan dalam organisasi.

Kesetiaan yang diberikan dikarenakan pengaruh orang lain

Kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi

Kerugian bila meninggalkan perusahaan

Karyawan membutuhkan organisasi.

37

4.4 Populasi dan Sampel 4.4.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2011:80). Populasi dalam penelitian ini adalah pemeriksa (auditor) yang aktif bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Medan dan Pekanbaru yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 yang berjumlah 28 Kantor Akuntan Publik dengan jumlah auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik wilayah Medan dan Pekanbaru sebanyak 168.

4.4.2 Sampel

Sekaran and Bougie (2010:263), “Sampel adalah sub dari populasi. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel diartikan sebagai bagian dari populasi”. Sampel terdiri atas sejumlah anggota yang dipilih dari populasi.

Sampling atau teknik pengambilan sampel merupakan sebuah proses penyeleksian jumlah dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik pengambilan sampel adalah berbagai cara yang ditempuh untuk pengambilan sampel agar mendapatkan sampel yang sesuai dengan seluruh subjek penelitian tersebut (Sekaran and Bougie, 2010:264).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yang diartikan sebagai teknik peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian (Sugiyono, 2011). Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin yaitu:

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁(𝑒)2= 168 1 + 168(0,1)2 𝑛 = 62,69

Pembulatan = 63 Auditor Keterangan:

n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi

e = Margin of error (kesalahan maksimum yang bisa ditolerir sebesar 10%)

4.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif merupakan serangkaian informasi yang digali dari hasil penelitian masih merupakan fakta-fakta verbal, atau berupa keterangan-keterangan saja. Data kuantitatif merupakan data statistik berbentuk angka-angka, baik secara langsung digali dari hasil penelitian maupun hasil pengolahan data kualitatif menjadi data kuantitatif (Teguh, 2005:118).

Peneliti menggunakan data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau organisasi langsung melalui objeknya yang membutuhkan

39

kuesioner yang diajukan dimana responden diperkenankan memilih jawaban yang dianggap paling sesuai dan telah diisi oleh sampel-sampel. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder meliputi telaah literatur untuk membentuk landasan teori, melalui penelitian terdahulu atau teori yang telah ada untuk mengukur variabel-variabel penelitian. Data sekunder diperoleh dari buku-buku, jurnal, internet, dan literatur terkait lainnya.

4.6 Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis data dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciens (SPSS) yang dijalankan dengan media komputer. SPSS merupakan sebuah program aplikasi yang memiliki kemampuan untuk analisis statistik cukup tinggi serta sistem manajemen data pada lingkungan grafis dengan menggunakan menu-menu deskriptif dan kotak-kotak dialog yang sederhana sehingga mudah dipahami untuk cara pengoperasiannya.

Beberapa aktivitas dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan menggunakan pointing dan clicking mouse. Adapun uji yang digunakan yaitu:

4.6.1 Uji Kualitas Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, sehingga kualitas kuesioner, kesungguhan responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan faktor situasional merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian ini. Keabsahan suatu hasil penelitian sangat ditentukan oleh alat pengukur variabel yang akan diteliti. Jika alat yang digunakan dalam proses pengumpulan data tidak andal atau tidak dapat dipercaya, maka hasil penelitian yang diperoleh tidak akan mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya, oleh

karena itu dalam penelitian ini diperlukan uji non respon bias, uji reliabilitas dan uji validitas :

4.6.1.1 Uji Validitas

Sugiyono (2008) menyatakan bahwa hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara dua data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Uji validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor masing-masing butir pernyataan dengan total skor sehingga didapat nilai Pearson Correlation. Jika korelasi antara masing-masing skor butir pernyataan terhadap total skor butir-butir pernyataan menunjukkan hasil yang signifikan maka masing-masing butir pernyataan tersebut dikatakan valid (Ghozali, 2009). Kriteria yang digunakan valid atau tidak valid adalah apabila koefisien korelasi r kurang dari nilai r tabel dengan tingkat signifikansi 5 % berarti butir pertanyaan tersebut tidak valid (Ghozali, 2009).

4.6.1.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk menguji konsistensi kuesioner dalam mengukur suatu konstruk yang sama (Sekaran, 2006) dan jika dilakukan pengukuran kembali dari waktu ke waktu oleh orang lain (Ghozali, 2009).

Pengujian ini dilakukan untuk menghitung koefisien Cronbach alpha dari masing-masing instrumen dalam suatu variabel. Instrumen dapat dikatakan handal (reliable) bila mempunyai koefisien Cronbach alpha > 0,7 (Ghozali, 2009). Hasil

41

uji reliabilitas kuesioner sangat tergantung pada kesungguhan responden dalam menjawab semua item pertanyaan penelitian.

4.6.2 Uji Regresi Linier Berganda

Untuk mengetahui pengaruh locus of control, turnover intention, kinerja auditor terhadap dysfunctional audit behavior dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderasi digunakan persamaan regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda (multiple linierregression) digunakan untuk memecahkan rumusan masalah yang ada, yaitu untuk melihat pengaruh diantara dua variabel atau lebih.

Model regresi linier berganda ditunjukkan oleh persamaan sebagai berikut:

Model 1:

Y= a + ß1X1 + ß2X2 + ß3X3 + ε Model 2:

Y= a + ß1X1 + ß2X2 + ß3X3 + ß4 X4M+ ß5X5M + ß6X6M + ε Keterangan:

Y = Dysfunctional audit behavior a = konstanta

ß1-4 = koefisien regresi ε = error

X1 = Locus of control X2 = Turnover Intention X3 = Kinerja Auditor M = Komitmen Organisasi

Ketepatan fungsi regresi sampel data menaksir nilai aktual yang dapat diukur dari Goodness of fit-nya. Secara statistik dapat diukur dari Uji Simultan (Uji F) , Uji Determinasi, dan Uji Partial (Uji –t).

4.6.2.1 Uji Simultan (Uji F)

Pengujian variable independen (locus of control (X1), turnover intention (X2), kinerja auditor (X3)) terhadap variabel dependen (dysfunctional audit behavior (Y)) dengan variabel moderating (komitmen organisasi (X4)). Uji F digunakan untuk melihat apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kelima variable independen terhadap variable dependen.

Ada pun langkah – langkah pengujian hipotesis tersebut adalah:

(1) Menentukan level of signifikan sebesar 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n – k) dan (k – 1).

(2) Menentukan kriteria pengujian satu sisi.

Jika Fhitung ≥ Ftabel (α, k-1, n-1) maka H0 ditolak Jika Fhitung ≤ Ftabel (α, k-1, n-1) maka H0 diterima (3) Menentukan Fhitung.

(4) Menarik kesimpulan

Nilai Fhitung yang diperoleh dari hasil output analisis dengan bantuan program SPSS dibandingkan dengan Ftabel. Apabila Fhitung ≥ Ftabel maka H 0 ditolak sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama – sama (simultan).

43

4.6.2.2 Uji Determinasi

Koefisien determinasi (R2) adalah sebuah koefisien yang menunjukkan persentase pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen dalam menjelaskan variabel dependen. Dengan demikian persamaan regresi yang dihasilkan baik untuk mengestimasi nilai variabel dependen. Nilai R² digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

4.6.2.3 Uji Parsial (Uji –t)

Uji -t digunakan untuk mengetahui faktor fundamental manakah variabel independen yang paling berpengaruh terhadap variabel dependen. Uji -t ini merupakan pengujian terhadap variabel independen (locus of control (X1), turnover intention (X2), kinerja auditor (X3)) terhadap faktor fundamental manakah yang paling dominan mempengaruhi dysfunctional audit behavior dengan variabel moderating yaitu komitmen organisasi (M).

Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik -t dengan kriteria pengambilan keputusan menurut Riduwan dan Kuncoro (2007:64) adalah sebagai berikut:

1. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 <Sig), maka Ho diterimadan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.

2. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau (0,05 >Sig), maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah Auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal dengan pendekatan kuantitatif yaitu melalui penyebaran kuesioner.

Penyebaran Kuesioner dimulai dari tanggal April – Juli 2019. Data yang terkumpul sebanyak 63 kuesioner dari 63 sampel penelitian.

Data kuesioner yang dapat diolah, diperoleh data demografi responden yang akan menjelaskan latar belakang responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Data demografi dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 5.1 Data Demografi Responden

Keterangan Jumla

Posisi Jabatan Senior Auditor 28 44,44

Junior Auditor 35 55,56

Sumber: Hasil Pengumpulan Data (2019)

1. Usia – Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa, responden dalam penelitian ini terdiri dari 26 orang auditor atau 41,27% berumur kurang dari 25 tahun yang bekerja di Kantor Akuntan Publik yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru serta terdapat 37 orang auditor atau 58,73% berumur lebih dari 26 tahun yang bekerja di Kantor Akuntan Publik yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru.

2. Jenis kelamin – Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa, responden dalam penelitian ini terdiri dari 44 Laki-Laki atau 69,84% dari total responden yang bekerja sebagai auditor pada Kantor Akuntan Publik yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru serta terdapat 19 Perempuan atau 30,16%

dari total responden yang bekerja sebagai auditor pada Kantor Akuntan Publik yang terdaftar pada Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru.

3. Tingkat pendidikan – Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa, Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru terdapat 41 auditor atau 65,08% responden berpendidikan tingkat Strata-1, 22 auditor atau 34,92% responden berpendidikan tingkat Strata-2.

4. Posisi jabatan – Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa 28 orang atau 44,44% responden yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang

47

terdaftar di Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru menjabat sebagai Senior Auditor serta 35 orang atau 55,56% responden yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru menjabat sebagai Junior Auditor.

5. Lama pengalaman kerja – Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa terdapat 17 auditor atau 26,98% responden dengan waktu kerja dibawah 1 tahun, 26 auditor atau 41,27% responden dengan waktu kerja antara 1 sampai 2 tahun, 12 auditor atau 19,05% responden dengan waktu kerja antara 3 sampai 5 tahun dan 8 auditor atau 12,70% responden dengan waktu kerja lebih 5 tahun pada Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Institut Akuntan Publik Indonesia tahun 2019 pada wilayah Medan dan Pekanbaru.

5.2 Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberi gambaran umum mengenai deskripsi variabel penelitian (dysfunctional audit behavior, locus of control, turnover intention, kinerja auditor dan komitmen organisasi). Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam memahami data, yang dimulai dari jumlah data (N), nilai rata-rata (Mean), dan standar penyimpangan data (Standar Deviasi). Salah satu pendekatan deskriptif dapat dilihat melaluai frekuensi yaitu untuk mengetahui atau menjelaskan kelompok data berdasarkan atas gejala pusat (Tendency central) dari kelompok tersebut. Berikut adalah hasil analisis statistik deskriptif yang diolah dengan menggunakan program SPSS:

Tabel 5.2 Deskriptif Frekuensi Dysfunctional Audit Behavior

Sumber: Lampiran III

Berdasarkan hasil descriptive frequency statistics dysfunctional audit behavior tersebut, dapat dijabarkan responden paling banyak menjawab pertanyaan di jelaskan sebagai berikut bahwa 30 dari 63 responden menjawab pertanyaan pertama setuju, 25 dari 63 responden menjawab pertanyaan kedua sangat setuju, 30 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan ketiga, 33 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan keempat, 31 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan kelima, 37 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan keenam, 25 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan ketujuh, 33 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan kedelapan, 29 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan kesembilan, 37 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan kesepuluh, 33 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan kesebelas, 32 dari 63 responden menjawab sangat setuju pada pertanyaan keduabelas.

49

Tabel 5.3 Deskriptif Frekuensi Locus of Control

Sumber: Lampiran IV

Berdasarkan hasil descriptive frequency statistics locus of control tersebut, dapat dijabarkan responden paling banyak menjawab pertanyaan di jelaskan sebagai berikut bahwa 20 dari 63 responden menjawab pertanyaan pertama sangat setuju, 34 dari 63 responden menjawab pertanyaan kedua netral, 28 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan ketiga, 55 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan keempat, 56 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan kelima, 20 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan keenam, 41 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan ketujuh, 30 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan kedelapan, 46 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan kesembilan, 47 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan kesepuluh, 38 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan kesebelas, 27 dari 63 responden menjawab sangat netral pada pertanyaan keduabelas.

Tabel 5.4 Deskriptif Frekuensi Turnover Intention

Sumber: Lampiran V

Berdasarkan hasil descriptive frequency statistics turnover intention tersebut, dapat dijabarkan responden paling banyak menjawab pertanyaan di jelaskan sebagai berikut bahwa 46 dari 63 responden menjawab pertanyaan pertama netral, 24 dari 63 responden menjawab pertanyaan kedua netral, 50 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan ketiga, 46 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan keempat.

Tabel 5.5 Deskriptif Frekuensi Kinerja Auditor

Sumber: Lampiran VI

Berdasarkan hasil descriptive frequency statistics kinerja auditor tersebut, dapat dijabarkan responden paling banyak menjawab pertanyaan di jelaskan sebagai berikut bahwa 24 dari 63 responden menjawab pertanyaan pertama netral,

51

28 dari 63 responden menjawab pertanyaan kedua setuju, 41 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan ketiga, 36 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan keempat, 26 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan

28 dari 63 responden menjawab pertanyaan kedua setuju, 41 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan ketiga, 36 dari 63 responden menjawab setuju pada pertanyaan keempat, 26 dari 63 responden menjawab netral pada pertanyaan