• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENGAMATAN LAPANGAN

E. Pengaruh Luas Bukaan

Pengaruh luas bukaan dibahas tersendiri dalam sub-bab 4.4.3 karena merupakan faktor yang dijadikan sebagai variabel bebas dalam penelitian ini. F. Pengaruh Posisi Bukaan

Pengaruh ketinggian bukaan dibahas tersendiri dalam sub-bab 4.4.4 karena merupakan faktor yang dijadikan sebagai variabel bebas dalam penelitian ini. 4.4.3 Pengaruh Luas Bukaan Terhadap Kinerja Pencahayaan Alami

Pada penelitian ini, bukaan pada Balai Padang dikategorikan menjadi 2 berdasarkan bentuknya yaitu bukaan berupa pintu dan bukaan berupa jarak antara dinding dengan atap. Berdasarkan perhitungan WWR pada tabel 4.4, 4.10, 4.16 dan 4.22 didapatkan nilai WWR minimum pada bangunan sebesar 2% dan maksimum sebesar 45%. Terdapat beberapa bukaan yang telah memenuhi standar minimum yang direkomendasikan oleh Urasa (1998) yaitu 20% dengan

110

rincian keseluruhan dinding pada ruang Laras-Pematang lebih dari 20%, 3 dari 8 dinding lebih dari 20% pada ruang Bilik 1 (besar), 2 dari 7 dinding lebih dari 20% pada ruang Bilik 2 (sedang) dan 2 dari 4 dinding lebih dari 20%. Secara keseluruhan persentase WWR pada dinding yang melebihi 20% lebih kecil. Pada ruang Laras-Pematang yang keseluruhan dindingnya melebihi 20% WWR, dinding 1 merupakan dinding luar yang memasukkan cahaya alami secara langsung tetapi terhalangi oleh overhang atap yang mencapai 3 meter. Sedangkan dinding 2, 3 dan 4 merupakan dinding dalam pembatas antara Laras dengan Bilik yang hanya meneruskan cahaya alami yang masuk dari dinding luar. Dinding luar dari ruang Bilik 1 dan 2 sangat berpotensi untuk menerima cahaya alami. Tetapi pada bilik 1 hanya 3 dari 8 dinding yang melebihi 20% dan pada dinding 2 hanya 2 dari 7 dinding yang melebihi 20%, sehingga cahaya alami yang masuk kurang maksimal. Pada ruang Bilik 3 (kecil), 2 dari 4 dinding melebihi 20%. Tetapi 2 dinding tersebut terdiri dari 1 dinding dalam dan 1 dinding luar sehingga hanya 1 bagian dinding luar saja yang melebihi 20% sehingga cahaya alami yang masuk dari Bilik 3 juga kurang maksimal.

Berdasarkan analisa diatas, secara keseluruhan WWR yang ada pada rumah Adat Balai Padang tidak memenuhi 20%. Pada dinding yang memiliki WWR lebih besar dari 20% bahkan mencapai 45% juga kurang efektif dalam memasukkan cahaya alami berdasarkan penempatan dan obstruksi di sekitarnya. Oleh karena itu, masih terdapat potensi pembenahan luasan bukaan dalam meningkatkan kuantitas cahaya alami di dalam ruangan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pencahayaan alami bagi penghuni sesuai aktivitas masa kini.

Upaya dalam menambah luasan bukaan tidak menutup kemungkinan dilakukan penambahan bukaan berupa jendela. Mayoritas bukaan yang ada saat ini merupakan bukaan permanen yang terbuka sepanjang hari berupa jarak antara dinding dan atap. Tetapi pada ruang Bilik 1 yang merupakan ruang Bilik terbesar pada bangunan tersebut terdapat jenis bukaan lain berupa jendela yang dapat dibuka tutup berdasarkan pada gambar 4.58. Hal ini dapat menjadi alternatif jika penambahan luasan berupa bukaan antara dinding dengan atap tidak memungkinkan, maka dapat ditambahkan bukaan berupa jendela. Selain itu pada bukaan antara dinding dengan atap terdapat sekat-sekat dari bambu. Upaya yang

111

dapat dilakukan untuk memperluas bukaan adalah menghilangkan sekat-sekat bambu dan mengganti dengan kawat seperti bukaan pada dinding ruang Laras-Pematang sehingga dapat meningkatkan persentase WWR.

Gambar 4.33. Bukaan antara dinding dengan atap bentuk kotak (kiri) dan segitiga (tengah) serta bukaan berupa jendela (kanan)

Selain memiliki bukaan berupa pintu serta bukaan antara dinding dengan atap, rumah Adat Balai Padang juga memiliki bukaan berupa bukaan antara susunan kayu atau susunan bambu pada dinding dan lantai. Tetapi, pada penelitian ini, bukaan bukaan ini diabaikan karena kerapatan yang cukup tinggi, kesulitan dalam perhitungan persentase bukaan pada dinding serta kesulitan dalam pemodelan simulasi menggunakan software komputer.

4.4.4 Pengaruh Posisi Bukaan Terhadap Kuantitas dan Distribusi Pencahayaan Alami

Bukaan efektif untuk memasukkan cahaya alami pada rumah Adat Balai Padang berupa bukaan antara dinding dan atap yang selalu terbuka sepanjang hari. Bukaan ini memiliki ambang bawah 1,7 m dan ambang atas 1,9 hingga 3,3 m serta memiliki tinggi 20 cm hingga 80 cm. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wirawan (2007), posisi bukaan untuk pencahayaan alami terbaik memiliki ambang atas 2,7 hingga 3 m dengan ambang bawah tidak lebih tinggi dari 75 cm – 1 m pada bidang kerja. Bukaan pada Adat Balai Padang menunjukkan bahwa ambang atas telah sesuai dengan rekomendasi penelitian sebelumnya, tetapi ambang bawah 1,7 m tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu 75 cm sehingga terdapat selisih 95 cm. Selisih yang cukup besar ini yang mengakibatkan cahaya alami tidak dapat masuk secara maksimal ke dalam ruangan.

112

Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, didapat fenomena bahwa nilai iluminasi di dalam ruangan tidak dapat menjangkau area yang jauh dari bukaan serta terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Salah satu contohnya, seperti pada pengukuran di ruang Laras-Pematang pada sore hari pada tabel 4.30. pada jarak 2 m dari bukaan memiliki nilai iluminasi 250 lux, tetapi pada jarak 4 m nilai iluminasinya turun drastis menjadi 40 lux serta pada jarak 6 m menjadi 15 lux dan jarak 8 m menjadi 5 lux. Menurut Lawrence Berkeley National Laboratory (1997), pada umumnya cahaya alami bisa menjangkau 1,5x dari ketinggian jendela bahkan dapat mencapai 2,5x dengan meninggikan jendela. Jika dilihat dari ambang atas bukaan pada ruangan tersebut 3,3 m, seharusnya dapat menjangkau hingga 5 m. Tetapi pada titik 4 m menunjukkan penurunan sangat tajam dibandingkan titik 2 m. Hal ini menunjukkan permasalahan pada posisi ketinggian jendela terutama pada ambang bawah yang tidak berada bidang kerja yaitu sekitar 0,75 hingga 1 m.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan cahaya alami yang masuk ke dalam ruangan adalah dengan menurunkan ambang bawah bukaan hingga pada ketinggian bidang kerja 0,75 hingga 1 m dengan kondisi ambang atas bukaan tetap. Jika hal ini diaplikasikan pada perbaikan bentuk bukaan, maka secara tidak langsung akan meningkatkan luasan bukaan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bukaan antara dinding dengan atap memiliki panjang dari ujung ke ujung dinding, bukan seperti jendela yang posisinya pada area-area tertentu seperti di samping dinding atau di tengah dinding. Sehingga, jika ambang bawah bukaan diturunkan hingga ketinggian bidang kerja maka akan menimbulkan persentase bukaan mencapai 80 hingga 90 % yang dapat mengganggu keprivacian penghuni di dalam ruangan atau juga dapat menimbulkan permasalahan baru pada pencahayaan atau termal.

4.4.5 Pemenuhan Kebutuhan Pencahayaan Alami Berdasarkan Standart Sesuai Aktivitas Penghuni Masa Kini

Pada masa kini masyarakat yang tinggal pada 52 rumah selain rumah Adat Balai Padang banyak beraktivitas di dalam bangunan, sehingga perlu ditinjau berdasarkan standart apakah kondisi bukaan pada rumah Adat Balai Padang dapat

113

mengakomodasi pencahayaan alami yang masuk untuk aktivitas penghuni masa kini pada pagi hingga sore hari jika nantinya rumah Adat Balai Padang difungsikan kembali sebagai rumah tinggal.