HASIL EKSPERIMEN DENGAN SIMULASI
A. Perbandingan Antar Pengkondisian Dalam Suatu Ruangan 1. Perbandingan Pada Ruang Laras-Pematang
5. Perbandingan PL WWR 20% terhadap PL WWR 30%
Perbandingan PL-WWR20% terhadap WWR30% untuk mengetahui range dari nilai iluminasi pada WWR 20% yang memenuhi standart berdasarkan rekomendasi penelitian terdahulu dengan WWR 30% jika luas bukaan ditingkatkan. Selisih antara P1-V2 dan P1-V3 pada Laras-Pematang sebesar 96 lux, Bilik 1 sebesar 150 lux, Bilik 2 sebesar 189 lux dan Bilik 3 sebesar 229 lux.
Kesimpulan yang didapatkan terkait pengaruh perubahan luas bukaan terhadap perubahan nilai iluminasi di dalam bangunan adalah semakin besar luas bukaan maka semakin besar peningkatan nilai iluminasi menurut teori yang dikemukakan Szokolay (1998) seperti grafik pada gambar 5.11. Secara lebih spesifik dapat dikategorikan menjadi 3 area yaitu area yang tidak memenuhi standart untuk luas bukaan yang terlalu kecil (pada penelitian ini ditetapkan WWR 10%), area yang memenuhi standart kenyamanan untuk beraktivitas untuk luas bukaan berdasarkan rekomendasi penelitian terdahulu oleh Urasa (1998) dan Indraini (2008) (WWR 20%) dan area yang melebihi standart untuk luas bukaan lebih besar dari 20% (pada penelitian ini ditetapkan WWR 30%).
Peningkatan luasan bukaan juga dipengaruhi oleh dimensi ruangan. Hal ini ditunjukkan pada gambar 5.12 karena adanya perbedaan hasil yang sangat signifikan pada ke 4 ruang yang diukur yaitu ruang Laras-Pematang, Bilik 1 (besar), Bilik 2 (sedang) dan Bilik 3 (kecil). Dapat diketahui bahwa jika peningkatan luas bukaan berbanding terbalik dengan luas lantai ruangan. Jika luas bukaan diperbesar pada ruang dengan luas lantai yang kecil seperti Bilik 3, maka
Gambar 5.11 Grafik Kesimpulan Pengaruh Luasan Bukaan terhadap Kinerja Pencahayaan Alami rumah Adat Balai Padang ditinjau dari nilai iluminasi
131
Laras-Pematang Bilik 1 Bilik 2
lux
Bilik 3
Luas Bukaan (WWR)
Luas Lantai
Karakteristik ruang :
Dimensi besar dan dalam tetapi bukaan pada 1 sisi dinding Dimensi kecil dan tidak terlalu dalam tetapi bukaan pada 2 sisi dinding
perubahan iluminasi akan signifikan ditunjukkan dari garis luas bukaan (WWR) yang meningkat tajam. Jika luas bukaan diperbesar pada ruang dengan luas lantai yang besar seperti Laras-Pematang, maka perubahan nilai iluminasi tidak terlalu signifikan ditunjukkan dari garis yang landai.
Gambar 5.12 Grafik Kesimpulan Pengaruh Luasan Bukaan dan jenis ruang terhadap Kinerja Pencahayaan Alami rumah Adat Balai Padang
5.2.3 Perbandingan Perubahan Nilai Daylight Factor
Pengaruh luas bukaan ditinjau dari nilai DF ditunjukkan pada gambar 5.13.
Gambar 5.13. Diagram Perbandingan Nilai Daylight Factor Perubahan Luas Bukaan
A. Perbandingan Antar Pengkondisian Dalam Suatu Ruangan 1. Perbandingan Pada Ruang Laras-Pematang
Ruang Laras-Pematang memiliki fungsi ruang sebagai ruang tamu atau
PE / eksisting P1-V1 WWR 10% P1-V2 WWR 20% P1-V3 WWR 30% Laras-Pematang Bilik 1 (besar) Bilik 2 (sedang) Bilik 3 (kecil)
Min R.tidur Min R.Tamu Min Dapur 140 m2 12 m2 20 m2 42 m2
132
keluarga dengan standart nilai DF minimal 1,5%. Nilai DF rata-rata PE 0,72% dan PL-WWR10% 0,95 tidak memenuhi standart, sedangkan PL-WWR20% 1,53% dan PL-WWR30% 2,49% memenuhi standart. Peningkatan nilai DF karena peningkatan luas bukaan sesuai dengan teori Szokolay (1998) serta WWR minimum yang direkomendasikan adalah 20% sesuai dengan penelitian Urasa (1998) dan rentang WWR pada ruangan yang berdimensi besar dan dalam adalah 20%-50% sesuai dengan penelitian Indraini (2008).
Peningkatan nilai DF dari PE ke WWR10% sebesar 0,23%, PL-WWR10% ke PL-WWR20% sebesar 0,58% dan PL-WWR20% ke PL-WWR30% sebesar 0,96%. Sementara itu, peningkatan nilai DF PL-WWR10% sebesar 0,23%, PL-WWR20% sebesar 0,81% dan PL-WWR30% sebesar 1,77% terhadap eksisting. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Evans (1981) yaitu dengan meningkatkan WWR 10% dapat meningkatkan DF 0,7% dan meningkatkan WWR 20% dapat meningkatkan DF 2,5%.
2. Perbandingan Pada Ruang Bilik 1 (Besar)
Ruang Bilik 1 (besar) memiliki fungsi ruang sebagai ruang tidur dengan standart DF minimal 1% dan dapur dengan standart DF minimal 2%. Rata-rata DF PE 0,96% tidak memenuhi standart ruang tamu dan dapur, PL-WWR10% 1,17% dan PL-WWR20% 2,19 lux memenuhi standart kamar tidur tetapi tidak memenuhi standart dapur, sedangkan PL-WWR30% 3,69 lux dapat memenuhi standart kamar tidur dan dapur.
Peningkatan nilai DF dari PE ke WWR10% sebesar 0,21%, PL-WWR10% ke PL-WWR20% sebesar 1,02% dan PL-WWR20% ke PL-WWR30% sebesar 1,5%. Sementara itu, peningkatan nilai DF PL-WWR10% sebesar 0,21%, PL-WWR20% sebesar 1,23% dan PL-WWR30% sebesar 2,43% terhadap PE. 3. Perbandingan Pada Ruang Bilik 2 (Sedang)
Ruang Bilik 2 (sedang) memiliki fungsi ruang yang sama dengan ruang Bilik 1. Nilai rata-rata DF PE 1,08% dan PL-WWR10% 1,48% memenuhi standart ruang tidur tetapi tidak memenuhi standart dapur, sedangkan PL-WWR20% 2,36% dan PL-WWR30% 4,25% memenuhi standart ruang tidur dan dapur. Namun pada PE dan PL-WWR10% sudah memenuhi standart kenyamanan untuk fungsi ruang tidur 1%. Jika ditinjau dari overhang, ruang Bilik 2 memiliki
133
overhang yang sama dengan Bilik 1 yaitu 30 cm menutupi bukaan yang terletak tepat dibawah overhang. Jika ditinjau dari obstruksi, Bilik 2 memiliki jarak 0,4-1m dengan obstruksi berupa bangunan yang lebih pendek dari Bilik 1 yaitu 2-3m. Namun jika ditinjau dari bentuk ruangan, Bilik 2 memiliki bentuk memanjang dengan susunan dinding yang maju mundur sehingga memungkinkan penetrasi cahaya alami yang masuk ke dalam ruangan lebih baik dibandingkan Bilik 1.
Peningkatan nilai DF dari PE ke PL-WWR10% sebesar 0,4%, PL-WWR10% ke PL-WWR20% sebesar 0,88% dan PL-WWR20% ke PL-WWR30% sebesar 1,89%. Sementara itu, peningkatan nilai DF WWR10% sebesar 0,4%, PL-WWR20% sebesar 1,28% dan PL-WWR30% sebesar 3,17% terhadap eksisting. Pada Bilik 3 dengan peningkatan WWR dari 20% ke 30% terdapat peningkatan sebesar 3,17% yang melebihi 2,5%.
4. Perbandingan Pada Ruang Bilik 3 (Kecil)
Ruang Bilik 3 (kecil) hanya memiliki fungsi ruang sebagai ruang tidur. Aktivitas memasak dilakukan di luar ruangan bukan di dalam ruangan seperti pada ruang Bilik 1 dan 2 yang terdapat area khusus untuk perapian memasak dan tempat penyimpanan alat-alat dapur. Nilai rata-rata DF PE 1,17%, PL-WWR10% 2,08%, PL-WWR20% 2,65% dan PL-WWR30% 4,94% memenuhi standart ruang tidur. Ruang Bilik 3 tidak harus memiliki WWR 20% untuk memenuhi standart terkait penelitian terdahulu karena dimensi ruang yang kecil, tetapi memiliki bukaan di semua sisi sehingga cahaya alami dapat masuk secara maksimal.
Peningkatan nilai DF dari PE ke WWR10% sebesar 0,91%, PL-WWR10% ke PL-WWR20% sebesar 0,57% dan PL-WWR20% ke PL-WWR30% sebesar 2,29%. Sementara itu, peningkatan nilai DF PL-WWR10% sebesar 0,91%, PL-WWR20% sebesar 1,48% dan PL-WWR30% sebesar 3,77% terhadap eksisting. Namun pada Bilik 3 dengan peningkatan WWR dari 20% ke 30% terdapat peningkatan melebihi 2,5% sama dengan ruang Bilik 2. Ruang Bilik 3 memiliki dimensi ruang yang lebih kecil dibandingkan dengan ruang Bilik 2, sedangkan peningkatan DF bilik 3 lebih besar dibandingkan Bilik 2. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan dimensi ruang yang terlalu kecil dengan bukaan berada di semua dinding yang menyebabkan peningkatan DF cukup signifikan.
134
B. Perbandingan Antar Ruang Dalam Suatu Pengkondisian