METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Bebas
Variabel bebas merupakan variabel yang dapat mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas bisa diubah sesuai dengan kondisi yang ditetapkan pada objek. Variabel bebas pada penelitian ini adalah bukaan pada dinding terluar rumah Adat Balai Padang yang ditunjukkan pada gambar 3.1. Pemilihan bukaan sebagai variabel bebas didasarkan pada strategi pencahayaan alami yang dikemukakan oleh Koenigsberger dkk (1973) yaitu bukaan dan pembayangan. Bukaan pada bangunan dispesifikkan pada bukaan pada dinding menurut Lechner
45
(2009), hal ini terkait juga pada kondisi eksisting pada bangunan yang hanya memiliki bukaan pada dinding dan tidak memiliki bukaan pada atap. Variabel bebas difokuskan pada bukaan karena secara keseluruhan rumah Adat Balai Padang memiliki bukaan yang minim jika dibandingkan dengan dimensi rumah yang luas dan dalam, sehingga dapat diketahui apakah bukaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pencahayaan alami di dalam ruangan.
Gambar 3.1. Variabel bebas berupa bukaan antara dinding dan atap pada rumah Adat Balai Padang
Bukaan antara dinding dengan atap
Bukaan antara dinding dengan atap adalah bukaan yang terjadi akibat pemasangan dinding yang tidak mencapai atap, sehingga terdapat lubang yang dapat memungkinkan cahaya alami dapat masuk ke dalam ruangan. Bukaan antara dinding dengan atap terdapat pada seluruh dinding baik pada dinding ruang Laras-Pematang dan Bilik maupun pada dinding luar yaitu dinding terluar di selubung bangunan serta pada dinding dalam yaitu dinding pembatas antara ruang Laras-Pematang dan Bilik.
Pada penelitian ini bukaan difokuskan pada bukaan pada dinding terluar yang langsung mendapatkan pencahayaan alami dari luar bangunan. Bukaan pada dinding luar memiliki dimensi yang bervariasi antara 10 hingga 80 cm. Bukaan antara dinding dengan atap ini ada yang memiliki bingkai dan ada yang tidak memiliki bingkai dari kayu. Bukaan yang dimaksud tidak memiliki kaca seperti jendela namun berupa lubang sehingga memungkinkan angin dapat masuk melalui bukaan ini. Bukaan ini terdapat bukaan tanpa sekat, bukaan yang memiliki sekat berupa kawat, bukaan yang memiliki sekat papan kayu dan bukaan yang memiliki sekat berupa bambu. Adapun sub variabel dari bukaan dinding dalam dan luar yaitu luas bukaan dan posisi bukaan terhadap permukaan lantai. Alasan pemilihan sub variabel tersebut
46
berdasarkan faktor dari bukaan yang dikemukaan oleh Szokolay (1998) yang disesuaikan dengan kekhasan bukaan pada rumah Adat Balai Padang. Berikut adalah penjabaran tiap sub variabel beserta definisi operasionalnya :
Luas bukaan
Luas bukaan adalah ukuran bukaan yang didapatkan dari hasil perkalian antara panjang horizontal (lebar) bukaan dengan panjang vertikal (tinggi) bukaan. Luas bukaan yang dimaksud merupakan total luas seluruh bukaan dalam 1 sisi dinding. Namun pada rumah Adat Balai Padang hanya terdapat 1 bukaan dalam 1 dinding karena bentuk bukaan memanjang dari ujung ke ujung dinding dan tidak terpisah-pisah. Bukaan antara dinding dengan atap memiliki variasi luasan yang beragam pada tiap dinding. Jika luas bukaan diperbesar, maka perubahan yang dilakukan adalah merubah panjang vertikal (tinggi) bukaan dengan menurunkan ambang bawah bukaan dengan ambang atas tetap (posisi bukaan tetap). Hal ini dikarenakan bentuk bukaan merupakan bentuk horizontal yang memanjang dari ujung ke ujung dinding sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan perubahan pada lebar bukaan. Perubahan luas bukaan dilakukan pada dinding luar di selubung bangunan dengan menggunakan persentase luas bukaan dengan luas dinding / window to wall ratio (WWR) bukan menggunakan persentase luas bukaan dengan luas lantai.
Posisi Bukaan
Posisi bukaan yaitu letak bukaan ditinjau dari atas lantai. Penentuan posisi bukaan ditinjau dari ketinggian ambang atas dan ambang bawah bukaan dari lantai. Rumah Adat Balai Padang memiliki hirarki ketinggian lantai antara ruang bilik, laras dan pematang. Oleh karena itu, titik 0,00 yang ditetapkan disini adalah lantai ruang bilik. Bukaan pada rumah Adat Balai Padang memiliki bentuk memanjang dari ujung ke ujung dinding, sehingga perubahan posisi yang dimaksud disini adalah menaikkan (menjauhi lantai) atau menurunkan (mendekati lantai) ambang atas dan ambang bawah dengan luas tetap.
47
Tabel 3.1 menunjukkan variabel bebas dan sub variabel yang digunakan pada penelitian ini disertai dengan dasar teori yang digunakan :
Tabel 3.1. Variabel bebas dan sub variabelnya
VARIABEL BEBAS SUB VARIABEL
Bukaan
Utama berupa bukaan antara dinding dengan atap (Koenigsberger dkk, 1973) (Lechner, 2009)
Luas Bukaan (Szokolay, 1998) Posisi Bukaan (Szokolay, 1998) Pada saat pengamatan selama 3 hari, pintu terbuka sepanjang hari dari pagi hingga sore hari. Tabel 3.2 menunjukkan jam operasional buka tutup pintu berdasarkan pada pengamatan pada rumah Adat Balai Padang maupun pada bangunan di sekitar rumah Adat Balai Padang terkait aktivitas penghuni. Mayoritas pintu dibuka dari pagi hingga sore hari, sehingga keberadaan pintu diperhitungkan sebagai bukaan dan dapat meningkatkan persentase luasan bukaan untuk memasukkan cahaya alami dari pagi hingga sore hari.
Tabel 3.2. Jam operasional buka tutup pintu terkait aktivitas pada tiap ruang
Waktu / pintu 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Utama Kamar tidur Dapur Belakang Waktu / pintu 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Utama Kamar tidur Dapur Belakang
Keterangan : Pintu dibuka dan Pintu ditutup
Variabel bebas utama pada penelitian ini adalah bukaan antara dinding dengan atap. Perubahan terkait luas dan posisi bukaan juga dilakukan pada bukaan antara dinding dengan atap. Namun, karena pintu terbuka sepanjang hari maka dijadikan analisa terkait pengaruh pintu yang dapat meningkatkan persentase luas bukaan terkait kinerja pencahayaan alami di dalam ruangan baik pada ruang Laras-Pematang, Bilik 1, 2 dan 3.
48 3.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan merupakan variabel yang akan diamati. Variabel terikat dan definisi operasionalnya pada penelitian ini difokuskan pada pengamatan kinerja pencahayaan alami sebagai berikut :
Nilai Iluminasi
Nilai iluminasi adalah tingkat intensitas cahaya matahari yang didapatkan melalui pengukuran lapangan menggunakan alat ukur lux atau pada perhitungan simulasi komputer. Terdapat 2 nilai iluminasi yang diukur yaitu nilai iluminasi di luar bangunan dan nilai iluminasi di dalam bangunan. Satuan nilai iluminasi yang digunakan adalah LUX. Pada pengukuran lapangan, nilai iluminasi diukur pada 1 titik di luar bangunan dan 66 titik ukur di dalam bangunan. Pada simulasi komputer, nilai iluminasi ditetapkan diluar bangunan sebesar 10.000 lux dan diukur berdasarkan pola grid tiap 1 meter di dalam bangunan.
Nilai iluminan yang didapatkan kemudian disesuaikan dengan standar SNI 03-6197-2000 untuk mengetahui apakah bukaan pada bangunan dapat mengakomodasi kebutuhan pencaahyaan alami sesuai aktivitas pada ruang Bilik, Laras dan Pematang.
Nilai Daylight factor (DF)
Nilai Daylight Factor (DF) adalah persentase antara nilai iluminasi di dalam bangunan dan diluar bangunan yang didapatkan dengan mengolah nilai iluminasi dari hasil pengukuran lapangan atau simulasi komputer. Satuan DF adalah dalam persen (%).
Nilai DF yang didapatkan kemudian disesuaikan dengan standar yang dikemukakan oleh Evans (1981) untuk mengetahui apakah nilai iluminasi luar dan dalam sesuai untuk kebutuhan pencaahyaan alami berdasarkan aktivitas pada ruang Bilik, Laras dan Pematang.
Distribusi dari cahaya alami
Distribusi cahaya alami adalah persebaran nilai iluminasi atau DF di dalam bangunan. Distribusi dari cahaya alami berfungsi untuk menentukan
49
persebaran nilai iluminasi dan Df merata atau tidak. Meskipun nilai DF pada suatu titik telah memenuhi standar, tetapi perlu ditinjau pada titik lain apakah juga telah memenuhi standar atau tidak. Jika terjadi perbedaan iluminasi cahaya yang tinggi antara satu titik dengan titik lain, maka akan berpotensi menimbulkan silau. Sementara itu jika pada suatu titik telah memenuhi standar, perlu diperhatikan juga apakah titik tersebut merupakan titik dimana aktivitas sering dilakukan. Nilai DF yang didapatkan kemudian disesuaikan dengan standar yang dikemukakan oleh Steffy (2008) terkait perbandingan antara nilai iluminan rata-rata dengan minimum dan Ander (2005) terkait persebarannya di dalam ruangan yaitu seberapa besar persentase ruangan memiliki DF sesuai standar.