• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Perbankan Syariah di Indonesia

TINJAUAN UMUM PERBANKAN SYARIAH

C. Pengaturan Perbankan Syariah di Indonesia

Di Indonesia, komitmen pemerintah terhadap pengembangan bank syariah berawal sejak 1992, sedang sebelumnya relatif pemerintah belum memberikan komitmen, dan belum ada regulasi yang memberi dasar pendirian bank syariah.

Dukungan berikut ada pada tahun 1998, sehingga tahun ini dapat dipakai sebagai pembatas dua priode kebijakan pemerintah terhadap bank syariah. Praktik perbankan syariah di Indonesia di mulai ketika Bank Muamalat Indonesia (BMI) mulai beroperasi pada 1 Mei 1992. Persiapan pendirian BMI dirintis oleh kegiatan lokakarya Bank Tanpa Bunga di Cisarua Bogor, 18-20 Agustus 1990.27 Hasil lokakarya ditindaklanjuti melalui pembahasan mendalam pada Musyawarah Nasional IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, 22-25 Agustus 1990 yang merekomendasikan pembentukan bank bebas bunga. Rekomendasi didahului dengan pembentukan kelompok kerja untuk mempersiapkan penyiapan buku panduan untuk persiapan pendirian bank bebas bunga.

Gagasan pendirian Bank berbasis syariah bermunculan, diikuti dengan keluarnya Fatwa MUI pada akhir 2003 yang mengharamkan beragam jenis

27 M. Umer Chapra dan Tariqullah Khan, Regulasi & Pengawasan Bank Syariah, Bumi Aksara, Jakarta, 2008, hlm. 28-29.

transaksi berbasis bunga, termasuk di lingkungan perbankan. Dalam Fatwa dinyatakan bahwa bunga termasuk kriteria riba, dan riba hukumnya haram.28

Perbankan syariah memiliki peran strategis yang mampu memiliki keunggulan komparatif. Menghadapi gejolak moneter beberapa waktu lalu, perbankan syariah terbebas dari negative spread karena kinerja perbankan syariah yang tidak berbasis pada bunga uang, berada dan terkait pada sektor riil. Bank Muamalat Indonesia sebagai bank umum yang menerapkan prinsip syariah dalam pola operasionalnya merupakan satu-satunya bank yang tidak mengalami negative spread sebagaimana terjadi pada bank-bank konvensional.29 Perbankan syariah selama krisis ekonomi tidak membebani keuangan negara sebagaimana terjadi pada perbankan konvensional yang memerlukan suntikan dana dari pemerintah.30

Eksistensi perbankan syariah mendapat tempat dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan (selanjutnya disebut UUP 1992) dengan mengintrodusir sebutan bank berdasarkan prinsip bagi hasil.

UUP 1992 secara formal memberi legitimasi yuridis atas eksistensi perbankan syariah dalam sistem perbankan nasional. Undang-undang ini menjadi landasan sebagai titik tolak perkembangan bank Islam di Indonesia. Secara teknis, istilah bank syariah atau bank Islam tidak terlihat secara jelas dalam UUP 1992, melainkan undang-undang ini memakai istilah ”prinsip bagi hasil” untuk menunjukkan kegiatan bank syariah.

28 Widjanarto, Hukum dan Ketentuan Perbankan Di Indonesia, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2005, hlm. 48

29 Muslimin, ”Reformasi Kebijakan Perbankan Islam Di Indonesia,” Miqot: Jurnal Ilmu-Ilmu Keisalaman, Vol. XXVIII, No. 1 Januari 2004, hlm. 150.

30 Zubairi Hasan, Undang-Undang Perbankan Syariah: Titik Temu Hukum Islam dan Hukum Nasional, Rajawali Pers, Jakarta, 2009, hlm. 19

UUP 1992 belum mengakomodasi semua kegiatan atau produk bank syariah, kecuali hanya produk berdasarkan prinsip bagi hasil, yang sesungguhnya baru merupakan salah satu pola produk bank syariah. Selain bagi hasil, bank syariah juga menggunakan pola lain dalam produknya, yakni pola titipan, pinjaman, jual beli, sewa, dan pola lain yang dibenarkan secara syariah. Akibat pengaturan bank syariah disatukan bersama bank konvensional, kondisi ini membawa bank syariah harus tunduk pada peraturan perbankan umum yang berbasis konvensional. Akibatnya, manajemen bank syariah cenderung mengadopsi produk perbankan konvensional yang ’disyariahkan’ dengan variasi produk yang terbatas.

Perkembangan berikut, UUP 1992 diubah dengan UUP 1998). Berbeda dengan UUP 1992 yang memakai istilah “prinsip bagi hasil” untuk pengakuan atas perbankan syariah, UUP 1998 tentang Perubahan atas UUP 1992 telah mengubah term bagi hasil menjadi ”berdasarkan prinsip syariah. Dengan perubahan paradigma di muka, UUP 1998 telah mengintrodusir semua produk bank berdasarkan prinsip syariah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang di sewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wal iqtina).31

Perubahan yang dibawa UUP 1998, telah memperkokoh dan mengakui secara lebih tegas keberadaan bank syariah yang melakukan kegiatan penyediaan pembiayaan dan usaha lain berdasarkan prinsip syariah. UUP 1998 tidak

31 Ibid, hlm. 22.

mengadakan perubahan total terhadap UUP 1992, melainkan hanya terhadap beberapa pasal penting yang menyangkut dua aspek. Pertama, menyangkut penguatan kewenangan Bank Indonesia (BI) untuk memberi izin usaha, persyaratan dan tata cara pendirian bagi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Selama ini kewenangan itu berada di tangan Menteri Keuangan. Kedua, semakin di akomodasi sistem perbankan syariah dalam sistem perbankan nasional, dengan mengubah istilah ”prinsip bagi hasil” menjadi ”berdasarkan prinsip syariah” yang lebih berkonotasi sesuai dengan hukum Islam.32

Menyikapi perkembangan masyarakat yang menyambut keberadaan perbankan syariah dan untuk lebih menumbuhkembangkan serta meningkatkan peranannya pada perekonomian nasional, UUP 1998 mengadakan perubahan atas UUP 1992 dengan memberi kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mendirikan bank yang menyelenggarakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Termasuk pemberian kesempatan kepada Bank Umum Konvensional untuk memberi pelayanan syariah dengan pembukaan Islamic windows melalui pendirian UUS pada kantor cabang yang khusus melakukan kegiatan berdasarkan prinsip syariah. Sejak itu, dianut dual banking system yang menyandingkan sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah.33

32 Muslimin, Op. Cit., hlm. 152.

33 Perubahan Pasal 6 huruf m oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menjadi pintu masuk bagi Bank Umum Konvensional untuk memiliki Islamic windows melalui pembentukan Unit Usaha Syariah.

Ketentuan lebih lanjut yang mengatur mengenai perkenan Bank Umum Konvensional untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah terdapat dalam PBI No. 4/1/PBI/2002 yang kemudian diubah oleh PBI No. 8/3/PBI/2006 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional Menjadi Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Dan Pembukaan Kantor Bank Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah Oleh Bank Umum Konvensional. Ketentuan PBI ini kemudian diubah lagi melalui PBI No. 9/7/PBI/2007 dan selanjutnya dinyatakan tidak berlaku lagi dengan keluarnya PBI No.

11/15/PBI/2009 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Konvensional Menjadi Bank Syariah.

Pada 2009 terbit PBI No. 11/10/PBI /2009 tentang Unit Usaha Syariah.

Regulasi yang memperkuat eksistensi perbankan syariah terus bergulir.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (UUBI 1999), seperti diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 (UUBI 2004) yang memberi kewenangan bagi BI untuk melakukan pengendalian moneter berdasarkan prinsip syariah yang pelaksanaannya ditetapkan dengan PBI. Bank Indonesia telah diamanahkan oleh UUBI 1999 dengan perubahannya, untuk mempersiapkan peraturan guna mendukung operasional bank syariah.

Meskipun UUP 1992 sebagaimana kemudian diubah dengan UUP 1998 telah memberi pengaturan terhadap perbankan konvensional dan perbankan syariah, yang menganut dual banking system, namun masih dianggap belum memadai, karena masing-masing sistem perbankan tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Perbankan syariah sebagai bagian dalam sistem perbankan nasional memerlukan berbagai sarana pendukung agar dapat memberikan konstribusi maksimal bagi pengembangan ekonomi nasional. Salah satu sarana pendukung dimaksud adalah perlu pengaturan yang memadai sesuai dengan karakteristiknya. Pembentukan undang-undang perbankan syariah menjadi kebutuhan dan keniscayaan bagi pengembangan lembaga keuangan perbankan syariah. Karena itu, dipandang perlu mengatur masalah perbankan syariah dalam undang-undang tersendiri, dan untuk memenuhi keinginan itu, disahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah (selanjutnya disebut UUPS 2008).34 Kelahiran UUPS 2008 semakin memberi kepastian hukum yang memperkuat dan memperjelas kelembagaan maupun operasional perbankan

34 Sutan Remy Sjahdeini, “Perbankan Syariah Suatu Alternatif Kebutuhan Pembiayaan Masyarakat”, dalam Jurnal Hukum Bisnis, (Volume 20, Agustus-September, 2002), hlm. 11.

syariah, sehingga memiliki potensi yang kuat untuk mampu bersaing dengan bank konvensional.

Kehadiran UUPS 2008 mengakomodasi karakteristik operasional perbankan syariah secara spesifik, serta memperkuat kedudukan bank syariah dalam tata hukum perbankan Indonesia. UUPS 2008 tidak saja mengakui secara tegas eksistensi perbankan syariah, namun juga memerinci produk dan jasa serta pola operasional perbankan syariah yang memenuhi prinsip syariah. Selain menjalankan fungsi sebagai intermediary, perbankan syariah juga melaksanakan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lain dan menyalurkan kepada organisasi pengelola zakat. Perbankan syariah juga menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkan kepada pengelola wakaf (nazir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif). Dengan demikian perbankan syariah sekaligus melaksanakan fungsi pengelolaan dana berdasarkan trust, yang diberi kepercayaan oleh masyarakat dalam pengelolaannya berdasarkan prinsip syariah.

UUPS 2008 memberi makna prinsip syariah sebagai prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Dibandingkan dengan UUP 1998, pengertian prinsip syariah menurut UUP 2008 lebih menekankan pada penetapan syariah yang dilakukan melalui fatwa. Setiap produk harus di legitimasi lebih dulu kesesuaian syariahnya melalui fatwa untuk selanjutnya dijadikan sebagai kegiatan usaha perbankan syariah. Perbankan

syariah merupakan sistem perbankan yang mengeluarkan produk halal yang bebas dari unsur riba, maisir, gharar, haram, dan zalim.