BAB VI PENYELENGGARAAN TUGAS UMUM PEMERINTAHAN
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
B. Pengelolaan Belanja Daerah
LKPJ Walikota Magelang Akhir Tahun Anggaran 2016 BAB I - 64 bersumber dari pembiayaan sendiri. Untuk mengukur derajat kemandirian daerah (derajat desentralisasi fiskal) dengan menggunakan formula yaitu:
Derajat Desentralisasi Fiskal Daerah =
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
X 100% Total Peneriman Daerah (TPD)
= Rp 220.315.949.153 X 100%
Rp 840.042.489.976
= 26,22%
PAD = Realisasi Pendapatan Asli Daerah TPD = Total Penerimaan Daerah
TPD = PAD+BHPBP+DAU+DAK
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diatas, maka tingkat kemandirian fiskal Kota Magelang Tahun 2016 sebesar 26,22% termasuk kategori tinggi dan jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 23,89%, tingkat kemandirian fiskal daerah meningkat sebesar 2,33%.
B. Pengelolaan Belanja Daerah
1. Kebijakan Umum Belanja Daerah
Kebijakan umum Belanja Daerah diarahkan kepada alokasi belanja yang berlandaskan azas kewajaran dan kepatutan serta memperhatikan prioritas pembangunan daerah di tahun 2016 dengan mengedepankan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan daerah yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Adapun kebijakan umum belanja daerah adalah sebagai berikut:
a. Belanja Hibah dan Bantuan Sosial dianggarkan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. serta setelah memprioritaskan pemenuhan Belanja Urusan Wajib dan urusan pilihan terlebih dahulu.
b. Belanja tidak terduga diasumsikan tetap. atau minimal sebesar realisasi tahun sebelumnya.
c. Belanja Langsung akan selalu disesuaikan dengan ketersediaan anggaran setiap tahun.
d. Belanja diutamakan untuk memenuhi/mendukung program pelayanan dasar kepada masyarakat, khususnya bidang pendidikan, kesehatan, pangan, dan fasilitas umum pemukiman;
e. Menguatkan program–program penanggulangan kemiskinan serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan;
f. Melanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang strategis dan mempunyai manfaat luas bagi masyarakat
g. Dalam upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik, belanja daerah diharapkan
LKPJ Walikota Magelang Akhir Tahun Anggaran 2016 BAB I - 65 dapat lebih diarahkan dalam mendukung peningkatan nilai tambah sektor-sektor ekonomi yang akan memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja sebagai upaya untuk turut meningkatkan perluasan lapangan kerja guna menurunkan angka kemiskinan. Beberapa sektor tersebut adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan (pendukung sektor jasa), sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor jasa-jasa dan sektor konstruksi.
h. Mengupayakan penghematan, efisiensi, efektivitas anggaran belanja daerah secara proporsional akan dilakukan melalui:
1) Memprioritaskan alokasi belanja daerah pada program dan kegiatanyang memiliki dampak kuat terhadap pencapaian visi dan misi dalam RPJMD Kota magelang dan berdampak luas terhadap kepentingan masyarakat. yaitu program kegiatan yang terkait dengan Penanggulangan Kemiskinan, Kota Layak Anak, Penguatan Implementasi Manajemen Persampahan, Penguatan Implementasi Masterplan Magelang Kota Sejuta Bunga, Penguatan Implementasi RAD Masyarakat Ekonomi Asean, Pengembangan E-Government secara Komprehensif dan Integral: Menuju Smart City, dan Sustainable Development Goals. 2) Mengefektifkan mekanisme Musrenbang guna menghasilkan rencana
program dan kegiatan yang mampu memecahkan berbagai permasalahan dan isu terkini pelayanan masyarakat. dengan pengalokasian kegiatan yang diampu kelurahan, kecamatan dan perangkat daerah sesuai dengan batasan kriteria.
2. Target dan Realisasi Belanja
Realisasi anggaran belanja daerah tahun anggaran 2016 dapat terlihat dalam target dan realisasi belanja daerah sebagaimana Tabel 3.5 di bawah ini:
Tabel 3.5
Target dan Realisasi Belanja Daerah Kota Magelang Tahun Anggaran 2016 Uraian Jumlah (Rp) Bertambah/(Berkurang) Target Realisasi (Rp) % BELANJA 1.017.467.369.000 871.865.630.603 (145.601.738.397) 85,69
BELANJA TIDAK LANGSUNG 432.348.738.000 350.207.766.658 (82.140.971.342) 81,00
Belanja Pegawai 376.822.627.000 344.173.396.158 (32.649.230.842) 91,34
Belanja Hibah 3.598.396.000 1.486.806.000 (2.111.590.000) 41,32
LKPJ Walikota Magelang Akhir Tahun Anggaran 2016 BAB I - 66
Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
641.830.000 641.828.500 (1.500) 99,99
Belanja Tidak Terduga 47.494.371.000 706.972.000 (46.787.399.000) 1,49
BELANJA LANGSUNG 585.118.631.000 521.657.863.945 (63.460.767.055) 89,15
Belanja Pegawai 44.510.249.000 40.785.045.910 (3.725.203.090) 91,63
Belanja Barang dan jasa 294.099.708.000 258.948.360.119 (35.151.347.881) 88,05
Belanja Modal 246.508.674.000 221.924.457.916 (24.584.216.084) 90,03
Sumber : Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Magelang (belum diaudit)
Untuk realisasi anggaran belanja daerah tahun anggaran 2016 sebesar Rp 871.865.630.603 atau 85,69% dari target belanja daerah yang telah ditetapkan sebesar Rp 1.017.467.369.000,00. Apabila dilihat dari penyerapan anggaran sudah di atas 76% maka penyerapan belanja daerah ini masuk dalam kategori
baik.
Adapun penjelasan perincian belanja daerah tahun anggaran 2016 adalah sebagai berikut:
a. Belanja Tidak Langsung
Penyerapan belanja tidak langsung pada tahun anggaran 2016 sebesar Rp 350.207.766.658,00 atau 81,00% dari rencana anggaran belanja tidak langsung sebesar Rp 432.348.738.000,00. Dengan perincian sebagai berikut:
1) Belanja Pegawai realisasi penyerapannya mencapai 91,34% atau sebesar Rp 344.173.396.158,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 376.822.627.000,00.
2) Belanja Hibah realisasi penyerapannya mencapai 41,32% atau sebesar Rp 1.486.806.000,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 3.598.396.000,00.
3) Belanja Bantuan Sosial realisasi penyerapannya mencapai 84,37% atau sebesar Rp 3.198.764.000,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 3.791.514.000,00.
4) Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa realisasi penyerapannya mencapai 99,99% atau sebesar Rp 641.828.500,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 641.830.000,00.
5) Belanja Tidak terduga realisasi penyerapannya mencapai 1,49% atau sebesar Rp 706.972.000,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 47.494.371.000,00.
b. Belanja Langsung
Penyerapan belanja langsung pada tahun anggaran 2016 sebesar Rp 521.657.863.945 atau 89,15% dari rencana anggaran belanja langsung yang telah ditetapkan dalam perubahan APBD tahun 2016 sebesar Rp
LKPJ Walikota Magelang Akhir Tahun Anggaran 2016 BAB I - 67 585.118.631.000,00. Penyerapan yang tinggi pada belanja langsung ini menunjukkan indikator bahwa penyerapan belanja untuk publik lebih besar daripada belanja aparatur.
Adapun perincian belanja langsung di tahun 2016 adalah sebagai berikut: 1) Belanja pegawai realisasinya adalah sebesar 91,63% atau sebesar Rp
40.785.045.910,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 44.510.249.000,00.
2) Belanja barang dan jasa realisasinya adalah sebesar 88,05% atau sebesar Rp 258.948.360.119,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 294.099.708.000,00.
3) Belanja modal realisasinya adalah sebesar 90,03% atau sebesar Rp 221.924.457.916,00 dari target yang ditetapkan sebesar Rp 246.508.674.000,00.
3. Permasalahan dan Solusi
Secara umum permasalahan utama Belanja Daerah Kota Magelang adalah sebagai berikut :
a. Deviasi belanja daerah terhadap kapasitas fiskal yang terbatas.
b. Terlambatnya data pagu indikatif dana transfer dari pemerintah pusat untuk digunakan dalam penyusunan Anggaran, sehingga pengalokasian dana untuk belanja daerah menjadi tidak optimal.
c. Belum dilakukan secara optimal perhitungan kontribusi penyerapan belanja daerah terhadap pencapaian indikator sasaran.
Solusi yang ditempuh dalam upaya penyelesaian permasalahan tersebut antara lain:
a. Penentuan skala prioritas pembangunan daerah dalam pengalokasian anggaran belanja daerah;
b. Penyerapan anggaran untuk lebih dioptimalkan agar SILPA tidak terlalu besar pada saat perhitungan anggaran; c. Mengoptimalkan fungsi rapat koordinasi pengendalian operasional kegiatan (Rakor-POK) selain melihat
penyerapan anggaran dan fisik sekaligus melihat pencapaian indikator sasaran (outcome).