• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Model-Model Sekolah Komunitas di Pedesaan & Daerah Terpencil

Pilihan-Pilihan Strategis

13.5 Pengembangan Model-Model Sekolah Komunitas di Pedesaan & Daerah Terpencil

Landasan dari lima pilar lainnya dalam Strategi ini adalah fokus pada penyediaan layanan pedidikan dasar di PDT di Tanah Papua; layanan yang inovatif dan lebih relevan dan tepat secara budaya. Kita telah mencermati pengalaman dari Laos, Kambodja, Bangladesh dan China, serta “praktik baik” dari Tanah Papua sendiri. Campuran pendekatan pendidikan non-formal dan informal telah melahirkan gagasan tentang model baru seperti sekolah kampung. Pendekatan hibrida ini menawarkan bentuk lain daripada pendekatan sekolah berasrama sebagai model “Pendidikan Afi rmatif”. Intisari dari Strategi ini adalah bahwa tidak ada solusi tunggal atau model tunggal. Pusat dari Strategi ini adalah perlunya untuk bekerjasama erat dengan komunitas yang budaya, bahasa dan sukunya begitu beragam, yang terbentang di seluruh daerah PDT. Mendengarkan mereka akan memastikan bahwa penyediaan layanan pendidikan (supply) akan mengikuti kebutuhan, keinginan dan manfaat dari komunitas yang beragam ini (demand).

Disandingkan berdampingan dengan 7 prinsip seperti yang dibahas di Bab 12 akan melahirkan model-model berbeda namun yang pasti adalah bahwa pembelajaran yang diterima haruslah sesuai dengan kebutuhan dan kehendak komunitas adat.

Dengan cara ini, situasi suram sekarang di mana pada banyak kabupaten sekolah negeri yang telah dibangun tapi tidak terpakai; guru dan kepala sekolah—lalu murid juga sering mangkir; bahasa pengantar tidak dipahami dengan baik; kurikulum tampak tidak relevan dengan budaya dan kebutuhan pembangunan komunitas dan persiapan kurang, pelatihan dan kurangnya dukungan dari kabupaten kita harapkan lambat laun berakhir.

146 Geographic Information system (GIS) atau sistem informasi geografi s adalah sistem berbasis komputer yang mampu menyimpan, menganalisis dan memaparkan berbagai sumber data sosial dan menampilkannya pada peta multi-dimensi. Meski integrasi data sosial bukanlah hal baru dalam analisis kebijakan dan perencanaan, kemampuan menayangkan informasi secara mudah dalam bentuk grafi k atau peta sungguh merupakan suatu kemajuan berkat adanya teknologi digital, terutama peta, analisis statistik, dan teknologi database. Yang terpenting adalah, teknologi GIS telah jauh mempermudah bagi pembuatan keputusan berbasis bukti di semual tingkat.

Bab 13 Pilihan-Pilihan Strategis

13.5.1 Menentukan Standar Pelayanan Minimum untuk Sekolah di

Pedesaan & Daerah Terpencil

Sebuah pilihan kebijakan diperlukan untuk menentukan standar pelayanan minimum (SPM) pada sekolah di PDT. Berikut ini adalahkonstitusi dan regulasi yang mendasari SPM untuk sekolah-sekolah PDT:

UUD 1945 telah meletakkan dasar konstitusional secara eksplisit tentang budaya dan hak masyarakat sebagai hak yang bersifat asasi. Berikut ini adalah Bab dan pasal yang terkait dengan pendidikan dan kebudayaan:

• Bab XA: Hak Asasi Manusia, Pasal 28I Ayat (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

• Bab XIII Pendidikan dan Kebudayaan, Pasal 31 Ayat (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pasal 32 (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

• UU No. 21/2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Pasal 58 ayat (1) dinyatakan “Pemerintah Provinsi berkewajiban membina, mengembangkan, dan melestarikan keragaman bahasa dan sastra daerah guna mempertahankan dan memantapkan jati diri orang Papua.” Lebih khusus, Pasal 58 ayat (3) dikatakan “Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai kebutuhan.”

• Peraturan Presiden 65/2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat yang mengangkat kebutuhan penduduk asli Tanah Papua (di pegunungan tengah, kawasan pedesaan, kawasan strategis, perbatasan negara, daerah tertinggal, pesisir, dan pulau kecil terluar). (Lihat Bab 3 Daerah Tujuan: Pedesaan dan Daerah Terpencil).

• Permendiknas No. 15/2010 tentang “Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/ Kota.” Pada Pasal 3 Permendiknas tersebut dinyatakan bahwa “Jenis pelayanan pendidikan di luar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2),147 kabupaten/kota tertentu wajib menyelenggarakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan potensi daerah.”

• Perdasus Provinsi Papua 2012 tentang “Pendidikan Bagi Komunitas Adat Terpencil (KAT)” menegaskan perlunya suatu “kebijakan afi rmatif” revitalisasi pelayanan pendidikan di semua kampung di Tanah Papua termasuk penyediaan sarana dan prasarana sekolah, jumlah guru, partisipasi masyarakat dan anggaran.

Kerangka kebijakan-kebijakan ini karenanya membuka peluang untuk menyusun SPM yang lebih cocok dan sekolah kampung di PDT di Tanah Papua. Kebijakan tentang SPM untuk pendidikan dasar pertama kali dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Nasional melalui Permendiknas No. 15/2010. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjadi prasyarat menuju pencapaian standar nasional pendidikan (SNP) di mana ada 8 standar dengan 700 indikator atau lebih. Pencapaian SNP tidaklah mudah bagi sebagian besar sekolah. Meski terkait erat dengan SNP, SPM adalah standar yang lebih dilonggarkan hingga dipandang sebagai kebijakan yang lebih realistik dan pro-sekolah miskin serta “sederhana, konkrit, mudah diukur, transparan, dan dapat dipenuhi tahap-demi-tahap”.148

Bagi sekolah yang sumberdayanya kurang dan masih tertinggal, SPM dimaksudkan untuk memenuhi kondisi minimal namun layak untuk terjadinya proses pembelajaran. Untuk itu, SPM menentukan “batas bawah-standar (benchmark) kinerja layanan di tingkat sekolah formal dan kinerja penyelenggaraan di tingkat kabupaten/kota”149. Semuanya berjumlah 27indikator yang mencakup:

• SD/MI negeri dan swasta; • SMP/MTs negeri dan swasta; dan

• Dinas pendidikan kabupaten/kota dan Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota;

147 Pasal 2 ayat (2) adalah tentang SPM Pendidikan Dasar yang meliputi 14 item pelayanan oleh kabupaten/kota dan 13 item pelayanan oleh satuan pendidikan.

148 Misalnya, jumlah maksimum murid SD/MI per kelas adalah 32 anak di SPM, sementara di SNP adalah 28 anak.

149 Permendiknas No. 15/2010, Bab 1, Pasal 1 Ayat 1. Permendiknas ini diperbaharui oleh Permendikbud No. 23/2013 dengan perubahan menjadi 27 indikator SPM termasuk petunjuk teknis untuk menghitung nilai/angka pencapaian SPM.

Bab 13 Pilihan-Pilihan Strategis

Empat belas butir menjadi tanggungjawab Pemda Kabupaten/kota dan 13 butir menjadi tanggungjawab satuan pendidikan. Kabupaten/kota bertanggungjawab pada tersedianya SD/MI dan SMP/MTs, laboratorium IPA untuk SMP/MTs; ruang guru dan perabot, jumlah guru, kepala satuan pendidikan dan pengawas satuan pendidikan yang memenuhi kualifi kasi dan/atau sertifi kasi. Permendikbud No. 23/2013 tentang “Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 10/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota” dilengkapi dengan Lampiran Petunjuk Umum, Perhitungan Indikator, dan Analisis Standar Biaya.”150

Kebijakan tentang SPM terdiri dari dua tingkat: untuk setiap sekolah (ada 13 standar yang terkait dengan sarana dan prasarana, guru, kurikulum, penilaian, jaminan mutu, manajemen sekolah, dan untuk tiap kabupaten (ada 14 standar yang terkait dengan sarana dan prasarana, guru, kepala sekolah, pengawas, kurikulum, dan jaminan mutu) sebagai langkah awal untuk mencapai SNP untuk pendidikan dasar, yang meliputi SD/MI dan SMP/MTs.

Menurut Permendiknas No. 15/2010 tentang SPM Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota, ada pengecualian bagi jenis pelayanan pendidikan di luar layanan formal baik oleh kabupaten/

kota mau pun oleh satuan pendidikan [Pasal 2 ayat (2)].151Pengecualian ini memberikan ruang

bagi kabupaten/kota tertentu yang wajib menyelengarakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan potensi daerah. Ini tentu termasuk kabupaten/kota di PDT seperti di Tanah Papua yang wajib memberikan pelayanan sesuai dengan kekhasan budaya, bahasa dan kebutuhan pembangunan untuk kelompok miskin dan komunitas adat.

Atas dasar regulasi yang ada, terbuka peluang untuk melakukan sebuah studi yang hasil-hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan SPM untuk sekolah di PDT karena kendala dan karakteristiknya jauh berbeda daripada yang ditetapkan oleh SNP dan SPM. Meski berbeda, SPM yang akan disusun haruslah sebagai bagian yang tak terpisahkan dan bersifat transisional untuk menuju SPM dan SNP. Tujuan utama dari usulan Rencana Strategis ini adalah melibatkan komunitas adat tidak saja hanya menciptakan permintaan akan pendidikan tapi juga memastikan apa yang disediakan memenuhi kebutuhan mereka. Partisipasi komunitas melalui organisasi lokal untuk membicarakan proses pendidikan, akan terbuka melalui penggunaan PMB-BBI. Tidak saja pelayanan melalui sekolah satu-atap (gabungan SD dan SMP), sekolah kampung,tapi juga peluang bagi komunitas untuk menggunakan sarana yang sama untuk layanan dasar lainnya seperti untuk PAUD, kegiatan keaksaraan orang dewasa, pendidikan pencegahan HIV/AIDS dan belajar tentang keterampilan hidup - seperti posyandu - sekolah menjadi “pusat pembelajaran terpadu.” Sebagai pusat layanan, sekolah yang sama penyiapkan juga keperluan dasar gizi, kesehatan dan sanitasi. Kurikulum dan pedagogipun perlu disesuaikan dengan kegiatan harian komunitas, realisasi-diri anak-anak dan anggota komunitas. Karena jumlah guru dan murid amat sedikit, pembelajaran multi-kelas akan diterapkan, komunitas perlu terlibat dalam rancangan dan pembangunan rumah guru dan sekolah; seleksi guru dan memantau kehadiran guru. Sekolah-sekolah desa ini disiapkan untuk melayani kebutuhan yang jauh lebih luas ketimbang apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di kota atau pinggiran-kota. Ini semua perlu dimasukkan sebagai indikator SPM bagi sekolah di PDT yang menggunakan PMB-BBI.

Seperti halnya dengan SPM sebagai langkah untuk mencapai SNP, standar transisi SPM untuk sekolah komunitas di kampung terpencil memerlukan proses dan langkah-langkah yang bertahap untuk secara hati-hati menuju ke SNP melalui SPM. Ini dapat dirumuskan katakanlah dalam jangka waktu 5 tahun, di mana sekolah inisiatif komunitas diperkuat dan setelah 2 tahun lalu menjadi SD formal sesuai standar-standar yang berlaku dengan dukungan penuh dari pemda.

150 Permendikbud No. 23/2013.

Bab 13 Pilihan-Pilihan Strategis

Gambar 16. Standar Pelayanan untuk Pedesaan & Daerah Terpencil

Gambar 14 menunjukkan sistem antara atau transisi dapat diterapkan. Pengenalan “ambang-batas” yang harus sekolah di PDT capai dapat digunakan sebagai langkah awal atau akrediatasi transisi (dari tingkat setara SPM non-akreditasi). Selama jangka waktu 2 tahun, sekolah harus menjunjukkan kinerja sebagai bukti untuk mendapatkan dukungan pemerintah daerah guna meningkatkan kemampuan layanan untuk sampai di tingkat SPM. Untuk itu, perlu disusun sejumlah indikator keberhasilan bahwa sekolah mempunyai “cukup” tersedia sarana dan prasarana dan dipantau oleh komunitas antara lain: berfungsinya majelis sekolah, air bersih, keamanan, kepala sekolah, guru dan kehadiran murid, bahasa ibu sebagai bahasa pengantar, kurikulum yang kontekstual152 dan pedagogi, termasuk ceritera rakyat, adat-kebiasaan, gizi dalam bentuk manakan tambahan untuk anak, dan sekolah berfungsi sebagai pusat layanan terpadu bagi komunitas (pembangunan transformatif ). Penciptaan standar yang relevan untuk sekolah-sekolah di PDT ini, tidak bermaksud untuk “menurunkan ambang-standar yang ada” (standar inferior) lebih rendah daripada sistem yang ada khususnya SPM/SNP/BAN. Tetapi sebagai alat yang dipandang lebih sesuai untuk sekolah-sekolah di PDT, dan pada saat yang sama, digunakan sebagai dorongan bagi komunitas untuk mulai terlibat dalam proses pembelajaran untuk anak-anak mereka sesuai dengan laju kebutuhan setempat, sebelum pemerintah memberikan dukungan tambahan dalam bentuk bangunan sekolah yang permanen dan sarana/fasilitas lainnya. Upaya-upaya persiapan ini akan memastikan bahwa apa yang disediakan mengikuti kebutuhan/permintaan.

152 Istilah “kurikulum kontekstual” dipandang perlu sebagai kebutuhan tiap sekolah untuk mengadaptasikan kurikulum sesuai dengan kebutuhan lokal (geografi s, agama, pembangunan, lingkungan hidup) di dalam KTSP, Kurikulum 2004. Status KTSP dalam Kurikulum 2013 pada saat ini belumlah jelas. Meski demikian, ini tidaklah berhubungan dengan penyediaan layanan pendidikan di pedesaan dan daerah terpencil di mana lebih cocok menggunakan pendekatan pendidikan non-formal. Sebuah contoh bagus tentang bagaimana sekolah menerapkan pembelajaran dengan kurikulum ke konteks yang berbeda dapat ditemukan pada pekerjaan yang terkait dengan Tinjauan Kebijakan Nasional, Formulasi Rencana Aksi Nasional, dan penyusunan Buku-Induk Guru dan contoh-contoh bahan ajaran yang kini sedang dikembangkan dalam Penyusunan Rencana Nasional untuk Program Pendidikan Lingkungan Hidup (ACDP-010). Program ini melibatkan banyak konsultasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten, LSM dan komunitas lokal guna mengadaptasikan kurikulum tentang pendidikan ligkungan hidup sesuai kondisi tiap daerah.

Bab 13 Pilihan-Pilihan Strategis

Kotak 8. Panduan Ringkas, Kriteria Ambang Batas – SPM untuk Sekolah di Pedesaan & Daerah Terpencil

Panduan Ringkas, Kriteria Ambang – SPM untuk Sekolah di PDT

Sekolah komunitas akan diberiwaktu 2 tahun pertama menjalankan proses pembelajaran untuk memenuhi ambang-SPM sesuai kriteria ini; setelah itu akan dinilai apakah sekolah sudah memenuhistandar sesuai kriteria. Jika sudah dipenuhi, sekolah yang bersangkutan dapat mendapatkan dukungan sumberdaya tambahan dari pemerintah dalam rangka untuk memenuhi syarat SPM nasional. Dukungan eksternal (lihat Butir IV di bawah)diperlukan untuk memperkuat inisiatif komunitas selama proses ini. Bukti-bukti diperlukan untuk: