• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MEREK

NO.699K/PDT.SUS/2009)

A. Pengertian dan Dasar Hukum Merek

Merek merupakan bagian dari hak atas kekayaan intelektual yang keberadaannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek (selanjutnya disingkat menjadi UUM No.15 Tahun 2001).

Merek selalu diidentikkan dengan identitas bagi suatu produk yang dihasilkan oleh produsen, yang kemudian menjadi asset bagi produsen. Identitas suatu produk juga menjelaskan kualitas suatu barang, hal tersebut juga menandakan barang tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita banyak sekali terjadi pembajakan terhadap suatu merek. Pembajakan merek tidak jarang pula dilakukan dengan kualitas barang yang

berbeda, sehingga akan berdampak kepada dua hal, yaitu, Pertama akan

mengganggu stabilitas ekonomi, dan Kedua, terkait jaminan perlindungan

konsumen terhadap barang tersebut.22

Merek adalah suatu tanda yang pada dirinya terkandung daya pembeda

yang cukup (capable of distrugling) dengan barang-barang lain yang sejenis.

Kalau tidak ada pembedaan, maka tidak mungkin disebut merek.23

Secara eksplisit Merek disebut sebagai tanda immaterial dalam konsiderans UUM No. 15 Tahun 2001 bagian menimbang butir a, yang berbunyi:

22

Hery Firmansyah, Perlindungan Hukum Terhadap Merek, Pustaka Yustisia, Jakarta, 2001, hlm. 29.

23

Bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, peranan merek menjadi sangat penting, terutama dalam menjaga persaingan usaha yang sehat.

Merek merupakan sesuatu yang ditempelkan atau dilekatkan pada suatu produk, tetapi ia bukan produk itu sendiri, karena setelah barang dibeli, yang dinikmati pembeli bukanlah merek melainkan benda materinya. Merek mungkin hanya menimbulkan rasa kepuasan saja bagi pembeli. Merek hanya benda immateriil yang tidak dapat memberikan apapun secara fisik. Inilah yang

membuktikan bahwa merek itu merupakan hak kekayaan immaterial.24

Adapun definisi Merek yang diatur dalam UUM No. 15 Tahun 2001 pada Pasal 1 butir 1;

Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

Selain batasan juridis di atas, beberapa sarjana juga memberikan pendapatnya tentang merek, diantaranya:

1. H.M.N. Purwo Sutjipto, memberikan rumusan bahwa,

Merek adalah suatu tanda, dengan mana suatu benda tertentu dipribadikan ,

sehingga dapat dibedakan dengan benda lain yang sejenis.25

24

OK Saidin, Op. Cit, hlm. 330.

25

2. R. Soekardono memberikan rumusan bahwa,

Merek adalah suatu tanda (Jawa: cirri atau tengger) dengan mana dipribadikan sebuah barang tertentu, dimana perlu juga dipribadikan asalnya barang atau menjamin kualitetnya barang dalam perbandingan dengan barang-barang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh orang-orang atau badan-badan

perusahaan lain.26

3. Harsono Adisumarto, merumuskan bahwa,

Merek adalah tanda pengenal yang membedakan milik seseorang dengan milik orang lain, seperti pada pemilikan ternak dengan memberi tanda cap pada punggung sapi yang kemudian dilepaskan di tempat penggembalaan yang luas. Cap seperti itu memang merupakan tanda pengenal untuk menunjukkan bahwa hewan yang bersangkutan adalah milik orang tertentu. Biasanya,untuk membedakan tanda atau merek digunakan inisial dari mana

pemilik sendiri sebagai tanda pembedaan.27

4. Iur Soeryatin, mengemukakan rumusannya dengan meninjau merek dari aspek

fungsinya yaitu,

Suatu merek dipergunakan untuk membedakan barang yang bersangkutan dari barang sejenis lainnya oleh karena itu, barang yang bersangkutan dengan

diberi merek tadi mempunyai: tanda asal, nama, jaminan terhadap mutunya.28

26

Ibid, hlm. 344.

27

Harsono Adisumatro, Hak Milik Perindustrian, Akademika Pressindo, Jakarta, 1990, hlm.44.

28

5. Soeryatin, merumuskan bahwa,

Barang-barang yang dihasilkan oleh pabriknya dengan dibungkus dan pada bungkusnya itu dibubuhi tanda tulisan dan/atau perkataan untuk membedakannya dari barang-barang sejenis hasil pabrik pengusaha lain.

Tanda itu disebut merek perusahaan.29

6. OK. Saidin mengemukakan bahwa,

Merek adalah suatu tanda (sign) untuk membedakan barang-barang atau jasa

yang sejenis yang dihasilkan atau diperdagangkan seseorang atau kelompok orang atau badan hukum dengan barang-barang atau jasa yang sejenis yang dihasilkan oleh orang lain, yang memiliki daya pembeda maupun sebagai

jaminan atas mutunya dan digunakan dalam kegiatan perdagangan atau jasa.30

Adapun dari pengertian merek yang diatur dalam UUM No. 15 Tahun 2001 dapat diketahui tentang siapa yang dapat menjadi pemilik merek, yaitu:

a. Perorangan,

b. Beberapa orang secara bersama-sama

c. Badan hukum

Merek dapat dimiliki secara perorangan atau satu orang karena pemilik merek adalah orang yang membuat merek itu sendiri. Dapat pula terjadi seseorang

memiliki merek berasal dari pemberian atau membeli dari orang lain.31

29

R.M. Soeryodiningrat., Pengantar Ilmu Hukum Merek, Pradnya Paramitha, Jakarta, 1975, hlm. 30.

30

OK. Saidin, Op.Cit., hlm. 345.

31

Gatot Supramono, Menyelesaikan Sengketa Merek Menurut Hukum Indonesia, Rhinneka Cipta, Jakarta, 2006, hlm.19.

Selain perorangan, merek juga dapat dimiliki oleh beberapa orang misalnya dua atau tiga orang namun kepemilikan merek harus secara bersama-sama. Satu merek sebagai milik berbersama-sama. Demikian pula hak atas merek ada pada mereka bersama yang tidak mungkin dapat dibagi-bagi karena merupakan satu

kesatuan yang utuh.32

Kemudian badan hukum dapat memiliki merek karena badan hukum termasuk sebagai subjek hukum. Di samping manusia atau orang ada badan hukum yang kedudukannya sama yaitu sebagai subjek hukum. Badan hukum termasuk sebagai subjek hukum karena badan hukum sebagai pendukung hak dan

kewajiban sebagaimana halnya manusia pada umumnya.33 Hal ini sejalan dengan

Mertokusumo, bahwa yang disebut sebagai badan hukum ialah organisasi atau kelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu yang dapat menyandang hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban badan hukum dilaksanakan oleh

pengurusnya.34

Berdasarkan definisi merek di atas pula, kita ketahui bahwa fungsi utama dari suatu merek adalah untuk membedakan barang-barang atau jasa sejenis yang dihasilkan oleh suatu perusahaan lainnya, sehingga merek dikatakan memiliki

fungsi pembeda.35

Merek merupakan ujung tombak perdagangan barang dan jasa. Melalui merek pengusaha dapat menjaga dan memberikan jaminan atas kualitas (guarantee of quality) barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan mencegah 32 Ibid. 33 Ibid. 34

Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999, hlm. 68.

35

persaingan yang tidak jujur dari pengusaha lain yang beritikad tidak baik yang

bermaksud membonceng reputasinya.36

Adapun fungsi-fungsi merek yang lain adalah:37

a. Menjaga persaingan usaha yang sehat

Hal ini berlaku dalam hal menjaga keseimbangan antarkepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum dengan menimbulkan iklim usaha yang kondusif melalui terciptanya persaingan usaha yang sehat dan menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap orang dan mencegah persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan pelaku usaha dengan menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha;

b. Melindungi konsumen

Berdasarkan UUM No. 15 Tahun 2001 di dalam konsiderannya menyebutkan bahwa salah satu tujuan diadakannya undang-undang ini adalah untuk melindungi khalayak ramai terhadap peniruan barang-barang. Dengan adanya merek, para konsumen tidak perlu lagi menyelidiki kualitas dari barangnya. Apabila merek telah dikenal dengan baik kualitasnya oleh para konsumen dan membeli barang tersebut, konsumen akan yakin bahwa kualitas dari barang itu adalah baik sebagaimana diharapkannya;

c. Sebagai sarana dari pengusaha untuk memperluas bidang usahanya

Merek dari barang barang yang sudah dikenal oleh konsumen sebagai tanda untuk barang yang bermutu tinggi akan memperlancar usaha pemasaran barang bersangkutan;

36

Insan Budi Maulana, Op. Cit., hlm. 47.

37

d. Sebagai sarana untuk dapat menilai suatu barang

Kualitas barang tentunya tidak selalu baik atau dapat memberikan kepuasan bagi setiap orang yang membelinya. Baik atau buruknya kualitas suatu barang tergantung dari prudusen sendiri dan penilaian yang diberikan oleh masing-massing pembeli. Suatu merek dapat memberi kepercayaan kepada pembeli bahwa semua barang yang memakai merek tersebut, minimal mutu yang sama seperti yang telah ditentukan oleh pabrik yang mengeluarkannya;

e. Untuk memperkenalkan barang atau nama barang

Merek mempunyai fungsi pula sebagai sarana untuk memperkenalkan barang ataupun nama barangnya (promosi) kepada khalayak ramai. Para pembeli yang telah mengenal nama merek tersebut, baik karena pengalamannya sendiri ataupun karena telah mendengarnya dari pihak lain, pada saat membutuhkan barang tersebut cukup dengan mengingat nama mereknya saja. Misalnya, seseorang ingin membeli minuman bermerek Fanta, maka cukup hanya menyebut Fanta saja;

f. Untuk memperkenalkan identitas perusahaan

Ada kalanya suatu merek digunakan untuk memperkenalkan nama perusahaan yang menggunakan mereknya. Misalnya, merek dagang Djarum, Djarum adalah merek yang digunakan oleh perusahaan rokok Djarum.

Sehubungan dengan hal tersebut menurut Margono dan Angkasa, fungsi

merek dapat dari tiga sudut, yaitu sudut:38

a. Produsen,

38

Margono S. dan Angkasa A., Komersialisasi Aset Intelektual-Aspek Hukum Bisnis, Grasindo, Jakarta, 2002, hlm. 30.

b. Pedagang

c. Konsumen.

Dari pihak produsen, merek digunakan untuk jaminan nilai hasil produksinya, khusus mengenai kualitas dan pemakaiannya. Untuk pihak pedagang, merek digunakan untuk promosi barang-barang dagangannya guna mencari dan meluaskan pasaran. Sedangkan dari pihak konsumen, merek

digunakan untuk mengadakan pilihan barang yang akan dibelinya.39

Dengan ketiga aspek tersebut kiranya dapat dikatakan bahwa penggunaan merek menjadi sangat penting artinya dalam dunia perdagangan karena merek mempunyai peranan yang besar dalam menggerakkan aktivitas perdagangan ke arah yang lebih maju. Adapun keterkaitan yang sangat erat antara produsen, pedagang, dan konsumen dalam penggunaan merek dapat diibaratkan sebagai mesin yang menggerakkan roda perdagangan. Hal ini disebabkan di satu pihak dengan merek sebuah produk dikenal di masyarakat dan lain pihak barang terjamin kualitasnya serta harga barang yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, menjadikan perdagangan dapat berjalan dengan lancar dan mengalami peningkatan yang signifikan. Dengan demikian kemajuan perdagangan akan membawa akibat peningkatan ekonomi yang semakin pesat di

masyarakat.40

Dari uraian tersebut terlihat bahwa merek selalu berhubungan dengan masalah perdagangan. Hal ini juga terlihat dalam UUM No. 15 Tahun 2001 yang

39

Ibid.

40

menegaskan bahwa ruang lingkup merek berada dalam kepentingan perdagangan barang maupun jasa.