• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MEREK

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MEREK TERDAFTAR

A. Perlindungan Hukum Atas Merek Secara Preventif

Perlindungan hukum preventif merupakan sebuah bentuk perlindungan yang mengarah pada tindakan yang bersifat pencegahan. Tujuannya adalah meminimalisasi peluang terjadinya pelanggaran merek dagang. Langkah ini difokuskan pada pengawasan pemakaian merek, perlindungan terhadap hak eksklusif pemegang hak atas merek dagang terkenal asing, dan anjuran-anjuran kepada pemilik merek untuk mendaftarkan mereknya agar haknya terlindungi.

Menurut Hery Firmansyah, faktor-faktor yang dapat diperhatikan dalam

upaya preventif adalah:97

1. Faktor hukum

UUM Tahun 2001 bertujuan untuk lebih memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas merek dagang terkenal asing. Sehubungan dengan hal tersebut, Pasal 5 UUM Tahun 2001 menentukan merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini :

a. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas

agama, kesusilaan, atau ketertiban umum.

b. Tidak memiliki daya pembeda

c. Telah menjadi milik umum

d. Merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang

dimohonkan pendaftarannya.

Selain itu Pasal 6 ayat (1) huruf b UUM Tahun 2001 menambahkan, bahwa permohonan harus ditolak apabila merek tersebut mempunyai persamaan

97

pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis. Ketentuan tersebut juga dapat diberlakukan untuk barang dan/atau jasa yang tidak sejenis.

2. Faktor Aparat Direktorat Merek

Aparat Direktorat Merek, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual bertugas untuk memeriksa permohonan pendaftaran merek. Hal yang paling

mendasar yang perlu dicermati oleh aparat Direktorat Merek adalah:98

a. Terjadinya pendaftaran suatu merek tertentu yang sama dan menyerupai

dengan merek terkenal milik pihak lain dapat terjadi, salah satunya disebabkan kelemahan dari aparat Direktorat Jenderal Merek dalam melakukan proses filtrisasi di awal pengajuan merek tersebut oleh masyarakat. Dalam hal ini diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Derektorat Merek khususnya pemeriksa merek. Langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memperbaiki serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Direktorat Merek agar lebih profesional di bidangnya melalui program pelatihan, seminar, dan mendorong aparat di lingkungan Direktorat Merek untuk melanjutkan pendidikan ke strata dua.

b. Penguasaan bahasa asing di lingkungan Direktorat Merek perlu terus

ditingkatkan, persoalan ini menjadi problematika tersendiri ketika dilakukan pemeriksaan merek, penguasaan teknologi di era sekarang ini juga harus menjadi bahan perhatian serius Direktorat Merek seperti penggunaan internet

online kepada masyarakat tentunya sangat memudahkan bagi pihak-pihak

98

yang ingin melakukan pendaftaran merek untuk segera dapat mengetahui apakah merek yang akan didaftarkannya tersebut telah dimiliki oleh pihak lain atau belum. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya merek yang sama terdaftar dua kali di Daftar Umum Merek, serta dapat memudahkan kerja Direktorat Merek dalam mempertimbangkan adanya merek-merek terkenal asing yang belum didaftarkan di Indonesia.

Sedangkan menurut Gatot Ismono, hak atas merek yang diberikan oleh

negara sebagai hak eksklusif perlu mendapat perlindungan hukum yang dapat

dilakukan melalui 4 (empat) perangkat yaitu:99 peraturan perundang-undangan

tentang merek, pengadilan dan yurisprudensi, aparat penegak hukum dan kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

a. Peraturan perundang-undangan tentang merek

Hukum merek sebagai lembaga pengaturan di bidang merek akan mampu memberikan kepastian hukum atas karya intelektual (merek) dengan cara mendaftarkan hak atas merek sesuai prosedur yang ditetapkan secara normatif dalam undang-undang merek, sehingga kepada pihak yang melanggar hak-haknya dapat dituntut. Pemberian hak kepada pemilik merek memungkinkan untuk mengeksploitasinya. G.W. Paton melihat bahwa dalam hak terkandung unsur perlindungan, kepentingan dan sekaligus juga kehendak pemilik merek. Hukum memberikan hak kepada pemilik merek berarti merek tersebut mendapat perlindungan. Perlindungan ini tidak hanya kepada pemilik merek melainkan juga kehendak untuk mewariskan, mengalihkan, melisensikan, dan

99

Gatot Ismono, Perlindungan Hak atas Merek Terdaftar dalam Persaingan Usaha Tidak Sehat, Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, 2005, hlm. 85.

sebagainya. Jadi bukan hanya kepentingan pemilik merek yang memperoleh

perlindungan tetapi juga kehendak pemilik merek.100

Sejak zaman Belanda peraturan yang melindungi merek sudah ada yakni

Reglement Industriele Eigendom Stb. 1912 No. 545 (aturan tentang hak milik perindustrian). Sitem yang digunakan untuk melindungi hak atas merek adalah

first use principle atau sistem deklaratif yaitu pemakai merek pertama kali yang mendapat perlindungan utama. Sistem deklaratif ini dianut terus sampai dengan munculnya Undang-Undang No. 21 Tahun 1961. Bahkan menurut Sudargo Gautama, Undang-Undang No. 21 Tahun 1961 merupakan pengoperan dari ketentuan-ketentuan dalam peraturan milik perindustrian

dalam tahun 1912.101

Sistem perlindungan deklaratif ini tidak mutlak memberi jaminan perlindungan atas kepemilikan merek karena sistem perolehan hak atas merek dianggap masih lemah. Sistem deklaratif yang mengutamakan pemakai pertama merek dianggap sebagai yang berhak atas merek, dipandang kurang menjamin kepastian hukum. Pemilik merek yang mendaftarkan mereknya dapat dikalahkan dengan merek yang tidak terdaftar, karena pendaftaran merek bukan untuk mendapatkan hak atas merek. Pada sistem ini, dimungkinkan adanya pembatalan dari pihak lain yang mampu membuktikan bahwa dia sebagai pemilik pertama atas merek tersebut. Kemudian sistem deklaratif ini diganti dengan sistem pendaftaran (konstitutif) dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 hingga akhirnya sistem

100

Satjipto Rahardjo, Op. Cit., hlm. 95.

101

tersebut masih tetap dipertahankan dengan UUM No. 15 Tahun 2001. Penerapan sistem konstitutif dipandang menjamin kepastian hukum, karena hak atas merek diberikan oleh negara dengan cara melakukan pendaftaran merek. Siapa yang sebagai pendaftar pertama merek, dialah yang berhak atas merek. Sedangkan merek yang tidak didaftarkan tidak memperoleh

perlindungan hukum.102 UUM No. 15 Tahun 2001 ini juga memberikan

perlindungan hukum untuk jangka waktu selama 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal pengajuan permohonan dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.

UUM No. 15 Tahun 2001 menyediakan 2 (dua) cara untuk mengefektifkan jaminan perlindungan hukum yaitu pertanggungjawaban perdata dan pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku pelanggaran maupun kejahatan atas merek.

Bunyi Pasal 76 UUM No. 15 Tahun 2001:

(1) Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain

yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa:

a. gugatan ganti rugi, dan/atau

b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan Merek tersebut.

(2) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Pengadilan Niaga.

Berdasarkan bunyi Pasal 76 UUM No. 15 Tahun 2001, maka Pasal 76 inilah yang merupakan dasar bagi pemilik merek untuk mengajukan gugatan berdasar pertanggungjawaban perdata yang berupa ganti rugi atau penghentian

102

semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek. Tuntutan pidana juga dapat dilakukan oleh pemilik merek melalui polisi atau PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) di bidang hak kekayaan intelektual, terhadap seseorang yang tanpa hak menggunakan merek yang sama keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa yang sejenis yang diproduksi atau diperdagangkan, hanya saja dalam penulisan skripsi ini hanya akan dijelaskan mengenai gugatan berdasarkan pada pertanggungjawaban perdata.

Pasal 1365 KUH Perdata sebagai Lex Generalis, juga dapat digunakan untuk

melindungi hak atas merek. Ini berarti dalam penyelesaian sengketa merek, gugatan berdasar pada Pasal 1365 KUH Perdata tidak bisa dilakukan sebelum adanya tuntutan berdasarkan undang-undang merek, konsep perbuatan hukum yanga terdapat dalam Pasal 1365 telah diperluas pengertiannya sejak tahun 1919 dalam yurisprudensi Belanda yang diikuti oleh yurisprudensi di Indonesia, bahwa yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum adalah suatu perbuatan atau kelalaian yang atau melanggar hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, atau bertentangan dengan kesusilaan, atau bertentangan dengan sikap hati-hati yanga perlu diperhatikan di dalam pergaulan masyarakat terhadap kepentingan lahiriah maupun milik

oranglain.103 Jadi sekalipun seseorang dan/atau badan hukum tidak melanggar

hak orang lain, atau bersikap bertentangan dengan kesusilaan, akan tetapi apabila ia tidak cukup menunjukkan sikap hati-hati dan tenggang rasa

103

terhadap kepentingan orang lain di dalam masyarakat, maka ia telah dapat

dianggap bersalah melakukan perbuatan melawan hukum.104

b. Pengadilan dan Yurisprudensi

Selain undang-undang, pengadilan, termasuk Mahkamah Agung juga berperan dalam memberikan perlindungan hukum hak atas merek. Pengadilan pada saat memeriksa gugatan merek dapat memerintahkan Tergugat, atas permintaan Penggugat untuk menghentikan perdagangan barang atau jasa yang

menggunakan merek tanpa hak dengan suatu penetapan sementara.105

Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 85 UUM No. 15 Tahun 2001 yang berbunyi:

Berdasarkan bukti yang cukup pihak yang haknya dirugikan dapat meminta hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang:

a. pencegahan masuknya barang yang berkaitan dengan pelanggaran hak Merek;

b. penyimpanan alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Merek tersebut.

Permintaan dari Penggugat tersebut dikenal sebagai tuntutan provisi yang diperbolehkan oleh Hukum Acara Perdata dalam Pasal 180 HIR dengan maksud agar tidak terjadi kerugian-kerugian yang lebih besar lagi dari hasil perdagangan barang atau jasa yang menggunakan merek Penggugat. Sesuai Pasal 85 UUM Tahun 2001, pengadilan berwenang untuk memerintahkan penetapan sementara mengenai pencegahan masuknya barang berkaitan

104

Sunaryati Hartono. Politik Hukum Menuju Sistem Hukum Nasional. Alumni. Bandung.. 1991. Hlm. 130.

105

dengan pelanggaran merek dan penyimpanan alat bukti yang berkaitan dengan

pelanggaran merek tersebut.106

Sedangkan hal penting lainnya dalam penyelesaian sengketa merek adalah yurisprudensi. Yurisprudensi sebagaimana yang dipahami oleh Kansil bahwa yurisprudensi adalah sebagai keputusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar keputusan oleh hakim kemudian mengenai masalah yang sama. Berdasarkan pengetian inilah, Hakim Indonesia dapat menggunakan

yurisprudensi dalam memberikan perlindungan hukum hak atas merek.107

c. Aparat Penegak Hukum

Sementara yang perangkat yang terpenting di sini adalah aparat penegak hukum yang merupakan perangkat perlindungan hukum yang paling dominan karena merupakan tulang punggung penegakan hukum hak kekayaan

intelektual pada umumnya dan bidang merek khususnya.108

Hakim sebagai benteng terakhir dalam sistem perlindungan hukum harus mampu memberikan putusan yang seadil-adilnya dengan pertimbangan hukum yang seksama. Pemberian putusan yang maksimal oleh hakim juga

akan memberikan efek jera terhadap para pelaku,109 baik terhadap pelanggaran

hak atas merek, maupun tindak pidana di bidang merek. d. Kantor Ditjen HKI dan Aparat Penegak Hukum

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 144 Tahun 1998 Direktorat Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang untuk mengelola administrasi di 106 Ibid. 107 Ibid, hlm. 87. 108 Ibid, hlm. 87-88. 109 Ibid, hlm. 89.

bidang hak kekayaan intelektual. Sehubungan dengan perlindungan hukum hak atas merek, tindakan administratif dan kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual merupakan salah satu perangkat. Tindakan administratif ini bisa dilakukan pada tahap proses permohonan pendaftaran merek yang bertentangan dengan Pasal UUM No. 15 Tahun 2001 akan ditolak. Demikian juga Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual juga berwenang menghapus merek terdaftar dari Daftar Umum Merek jika terbukti merek yang digunakan tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dimohonkan pendaftaran, termasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengana jenis barang atau jasa yang dimohonkan pendaftaran, termasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengan yang didaftar sesuai Pasal 61 ayat (2) UUM No. 15 Tahun 2001 yaitu tidak digunakan selama tiga tahun berturut-turut dan dalam

perdagangan barang dan/atau jasa.110

B. Perlindungan Hukum Secara Represif terhadap Pelanggaran Hak atas