BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI VALUTA ASING, MONEY
2.3 Kajian tentang Kawasan Pariwisata
2.3.1 Pengertian Pariwisata dan Dasar Hukum Pariwisata
Pariwisata (tourism) merupakan aktivitas, pelayanan dan produk hasil industri pariwisata yang mampu menciptakan pengalaman perjalanan bagi wisatawan. McIntosh menyatakan bahwa pariwisata adalah “…. a composite of activities, services and industries that delivers a travel experience: transportation, accomodation, eating and drinking establishment, shops, entertainment, activity, and other hospitality service available for individuals or group that are away from home”.15 (gabungan dari kegiatan, jasa dan industri yang memberikan pengalaman perjalanan : transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, toko, hiburan, aktivitas, dan layanan perhotelan lain yang tersedia bagi individu atau kelompok yang berada jauh dari rumah). Unsur pembentuk pengalaman wisatawan yang utama adalah daya tarik dari suatu tempat atau lokasi, di sisi yang lain, WTO mendefinisikan pariwisata sebagai “the activities of persons travelling to and staying in places outside their usual environment for not more than one concecutive year for leisure, business and other purposes” (berbagai aktivitas
15
Muljadi A.J, 2009, Kepariwisataan dan Perjalanan, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 7.
yang dilakukan orang-orang yang mengadakan perjalanan untuk tinggal di luar kebiasaan lingkungannya dan tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk kesenangan, bisnis dan keperluan lain). Sedangkan pengertian pariwisata menurut UU Kepariwisataan Pasal 1 Ayat 3 adalah “Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah”.
Berdasarkan UU Kepariwisataan, pengertian wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata, sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu yang sementara.
Jenis dan macam wisatawan yang terlihat dari sifat perjalanan dan ruang lingkup dimana wisata itu dilakukan, wisatawan dapat digolongkan sebagai berikut: 1) Wisatawan asing (foreign tourist) yaitu orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang ke suatu negara lain yang bukan merupakan negara dimana wisatawan tersebut menetap. 2) Domestic Foreign Tourist yaitu wisatawan asing yang menetap pada suatu negara untuk berwisata di wilayah negara tempat tinggalnya. Wisatawan tersebut bukan warga negara dimana ia berada, melainkan adalah warga negara asing yang karena tugasnya hingga kedudukannya menetap dan tinggal pada suatu negara serta memperoleh penghasilan dengan mata uang negara asalnya; 3) Domestic Tourist yaitu seorang warga negara ya.ng berwisata dalam batas wilayah negaranya sendiri; 4)
Indigenous Foreign Tourist yaitu warga negara suatu negara tertentu yang bertugas atau menjabat di luar negeri, kembali ke negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri; 5) Transit Tourist yaitu wisatawan yang berwisata ke suatu negara, yang menggunakan transportasi dan terpaksa singgah pada suatu pemberhentian seperti stasiun, bandar udara, dan stasiun bukan atas keinginan sendi.ri; 6) Business Tourist yaitu wisatawan yang melakukan perjalanan untuk tujuan lain bukan untuk berwisata akan tetapi perjalanan wisata akan dilakukan setelah tujuan utamanya telah terselesaikan.16
16
I Gusti Agung Ketut Satrya Wijaya, 2014, Pengaruh Kunjungan Wisatawan, Jumlah Tingkat Hunian Kamar Hotel, dan Jumlah Kamar Hotel, Tterhadap Pendapatan Asli Daerah
Fasilitas dan daya tarik serta aktivitas pariwisata merupakan komponen pariwisata yang sangat penting untuk menarik wisatawan berkunjung ke suatu daerah atau kawasan pariwisata. Mengingat pentingnya peranan komponen pariwisata tersebut di atas perlu kiranya mengetahui atau meneliti sejauh mana penilaian wisatawan terhadap kompnen pariwisata. Prasarana Kepariwisataan adalah semua fasilitas yang mendukung agar sarana pariwisata dapat hidup dan berkembang seta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan guna memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam. Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan kelangsungan hidupnya, tergantung dari wisatawan yang datang.
Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam menghasilkan barang dan / atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan pada penyelenggaraan pariwisata. Dalam industri pariwisata terdapat berbagai usaha pariwisata yaitu usaha yang menyediakan barang dan / atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggara pariwisata. Usaha pariwisata merupakan kegiatan bisnis yang berhubungan langsung dengan kegiatan wisata sehingga tanpa keberadaannya, pariwisata tidak berjalan dengan baik.
Jenis jenis sarana pokok kepariwisataan antara lain : perusahaan perjalanan (Travel Agent atau Biro Perjalanan Wisata), perusahaan angkutan wisata, perusahaan akomodasi, perusahaan makanan dan minuman, perusahaan daya tarik wisata dan hiburan dan perusahaan cindramata atau art shop, pada umumnya
(PAD) di Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan, dan Kota Denpasar Tahun 2001-2010, Jurnal Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, h. 3.
perusahaan-perusahaan tersebut merupakan fasilitas yang harus tersedia pada suatu daerah tujuan wisata. Jika satu tidak ada, maka dapat dikatakan perjalanan wisata yang dilakukan oleh wisatawan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bagi wisatawan, dengan tersedianya sarana kepariwisataan di atas belum sepenuhnya dianggap mencukupi kebutuhannya, sehingga perlu adanya industri lain sebagai industri pendukung, antara lain seperti bank/ATM, money changer, kantor pos, rumah sakit, warung, telepon, supermarket dan fasilitas umum.
Dasar hukum mengenai pariwisata diatur dalam UU Kepariwisataan kemudian kaitannya dengan pemerintah daerah Kabupaten Badung dalam hal perizinan money changer, diatur melalui Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan dilanjutkan dengan Peraturan Bupati Badung Nomor 13 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Pariwisata dan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 55 Tahun 2012 tentang Perizinan Teknis dan Persyaratan Administrasi Usaha Kepariwisataan. Pembangunan Kepariwisataan di Indonesia dilakukan secara terpadu melalui koordinasi lintas sektoral agar pembangunan terpadu melalui koordinasi lintas sektoral agar pembangunan pariwisata dapat mencapai keberhasilan yang maksimal.