NO @To 9# &Psj&R
D. Partai Politik
1. Pengertian Partai politik
Partai adalah kelompok yang berdiri atas dasar fikrah dan thariqah, yaitu atas dasar deologi yang diimani oleh setiap anggotanya. Partai mengontrol pemikiran dan perasaan masyarakat untuk digerakkan dalam sebuah gerakan yang terus meningkat (kualitas dan kuantitasnya). Partai juga berusaha menghalangi kemerosotan kembali pemikiran dan perasaan masyarakat. Partailah yang mendidik umat, mengeluarkannya (dari), dan mendorongnya untuk mengarungi medan kehidupan internasional.
Atas dasar ini, jelaslah bahwa partai adalah jaminan hakiki untuk dapat mendirikan dan melestarikan Daulah Islam. Partai juga jaminan hakiki untuk dapat menerapkan Islam, memperbaiki penerapannya, melestarikan penerapannya itu, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Sebab setelah Daulah Islam berdiri, partai akan mengawasi dan mengontrol negara, serta akan memimpin umat untuk mendialogkan berbagai masalah dengan negara. Pada saat yang sama, partai akan terus mengemban dakwah Islam di negeri-negeri Islam dan di setiap jengkal penjuru dunia.43
Menurut bahasa kata politik berasal dari kata politic (inggris), yang secara leksikal dapat diartikan sebagai acting or jatging wisely, well judged, prudent.44 (Acting atau tindakan bijaksana, tindakan yang bagus, bijaksana). Kata ini sebagaimana istilah lainnya, berasal dari kata latin Politicos yang
43
Hibut Tahrir, Pembentukan Partai Politik Islam, cet, ke-4, hal. 53, 78. 44
As. Horby. Oxford Advenced Learner’s Dictionary of Current English (Oxford : Oxford University Press, 1987), h. 646
berarti menyangkut warga Negara, polites seorang warga Negara, polis kota, Negara dan politea kewargaan.45
Menurut istilah politik,46 merupakan satu ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti tentang “theory of the state”, cara pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan dan sebagainya.47
Politik diserap dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan suatu Negara atau terhadap lain, tipu muslihat, kelicikan dan juga dipergunakan sebagai nama bagi sebuah disiplin pengetahuan yaitu ilmu politik.48
Istilah politik ini pertama kali dikenal melalui buku Palto yang berjudul Politia yang juga dikenal dengan Republik.49 Plato menulis teorinya pada masyarakat Yunani mengalami perubahan mendalam. Athena, pusat kebudayaan Yunani dan kota tempat tinggal Plato, yang semakin merosot akibat kalah perang. Dalam situasi ini Plato memberikan orientasi tentang Negara, menurutnya, Negara yang baik adalah sesuai cita-cita keadilan yang tidak hanya pada individualistic tetapi juga tatanan seluruh masyarakat yang selaras dan seimbang. Masyarakat adil adalah masyarakat yang dipersatukan
45
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta, Gramedia Pustaka, 2000), h. 857 46
Politik diambil dari kata “polis” yang artinya dalam bahasa Yunani Kuno “Kota/City”. Dan “kota” dalam bahasa itu adalah Negara yang berkuasa, menurut istilah sekarang. Maka manusia sebagai “hewan politik” memiliki kemungkinan hidup sama / coesinstency didalam satu kota atau di dalam satu masyarakat atau satu Negara dengan mempunyai kewajiban- kewajiban yang harus dilaksanakan.
47
Fuad Mohd. Fachruddin, Pemikiran Politik Islam, (Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1988), h. 1
48
W.J.S Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1983), h. 763
49
Pada hakikatnya kata republic merupakan equivalent bahasa Inggris dari terjemahan latin Cicero Poltea. Namun istilah ini tidak mempunyai arti yang tepat hanya saja arti yang paling mendekati kebenaran. Untuk keterangan lebih lanjut lihat pada Allan Bloom, The Republic Of Plato, (New York : Basick Book Inc, 1968), h. 439-440
oleh tatanan yang harmonis, dimana masing-masing anggota memperoleh kedudukan sesuai dengan kodrat dan tingkat pendidikkannya.50
Kemudian, menurut SP. Varma muncul karya Aristoteles yang berjudul Politics dan Nichomacian Ethics, bagi Aristoteles politik merupakan ilmu pengetahuan praktis. Politik merupakan etika yang berurusan dengan manusia dalam kegiatan kelompok. Sebab menurutnya, manusia adalah makhluk polis yang kecenderungannya membentuk kelompok, bertindak dalam kelompok, bertindaksebagai kelompok. Sasaran politik adalah untuk mencapai eudaimomania, kesejahteraan yang sangat penting vital bagi setiap orang.51 Aristoteles yang meletakkan landasan ilmu politik, juga menggunakan istilah politik dalam pengertian yang cukup luas yang mencakup struktur keluarga, pengawasan budak-budak morfologi revolusi, tanggapan terhadap demokrasi murni, dan konsep polis atau Negara. Politik menurut Aristoteles meliputi pemerintahan- pemerintahandan negeri, kota praja dan internasional, patriasi, struk dagangan dan serikat kerja.52
Kedua karya ini dipandang sebagai pangkal pemikiran politik yang berkembang kemudian. Secara garis besar politik yang ada dalam kedua karya tersebut adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengatur masyarakat sehingga menjadi masyarakat yang baik dan tentram.
Sedangkan definisi menurut istilah, setiap pakar mempunyai definisi yang berbeda-beda. Daliar Noer mendefinisikan politik dengan “segala
50
Franz MAgnis Suseno, Etika Politik, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 187-188 51
Untuk analisa lebih lanjut mengenai politik Aristoteles lihat pada Leo Strauss dan Yoseph Cropsey (ed), History of Political Philoshofi, (Chichago : The University Of Chichago Press, 1987), h. 154-188
52
aktivitas yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mengetahui, dengan jelas mengubah atau mempertahankan, suatu macam bentuk susunan masyarakat.53
Jadi politik merupakan prilaku manusia, baik berupa aktivitas maupun sikap, yang bertujuan mempengaruhi atau mempertahankan tatanan sebuah masyarakat yang menggunakan kekuasaan. Berbeda dengan Mariam Bodi Harjo yang mendefinisikan politik dengan berbagai macam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (Negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan itu.54
Sedangkan politik Islam adalah politik yang dilandaskan pada kaidah-kaidah syari’at, hukum, dan tuntunan-tuntunannya.55 Atau disebut juga dengan kata siyasah syar’iyyah. Menurut Ahmad Fathi Bahatsi, siyasah syar’iyyah adalah kepengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syari’at.56 Sedangkan menurut Ibnu Al-Qoyyim, siyasah syar’iyyah adalah syiyasah yang mencakup keapad syara.57 Jadi politik Islam merupakan politik yang menjadikan syari’at sebagai pangkal tolak, kendali, dan bersandar kepadanya.
Jadi kesimpulan partai politik adalah suatu organisasi yang berusaha menghimpun kekuatan dan dukungan rakyat dan berusaha menempatkan anggotanya yang berkualitas untuk menjadi wakil partainya dalam mengendalikan kekuasaan atau pemerintah yang sedang berjalan melalui lembaga legislatif atau lembaga perwakilan rakyat.
53
Daliar Noer, Pengantar Kepemikiran Politik, (Jakarta, Rajawali Press, 1983), h. 6 54
Mariam Budiharjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia, 1982), h. 8 55
Yusuf Al-Qardhowi, Pedoman Bernegara Dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Buku Islam Utama, 1999), h. 33
56
Ahmad Dzajuli, Fiqh Siyasah Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu Syari’ah, (Jakarta : Prenada Media, 2003), h. 41-42
57