HAKIKAT PENDIDIKAN
C. Apa Itu Hakikat Pendidikan?
1. Pengertian Pendidikan
Sasaran pendidikan adalah manusia, yang mengadung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sangat kompleks tersebut, tidak ada satu batasan yang bisa menjelaskan Hakikat pendidikan secara lengkap. Batasan yang diberikan para ahli beranekaragam, karena orientasi, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan atau falsafah yang mendasarinya juga berbeda.
Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang Hakikat pendidikan (Tim Pembina Mata Kuliah, 2008):
a. T. Raka Joni (1982)
Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai oleh keseimbangan kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi yang semakin pesat. Pendidikan berlangsung seumur hidup. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip iptek bagi pembentukan manusia seutuhnya.
b. Ki Hadjar Dewantara
Hakikat pendidikan ialah proses penanggulangan masalah-masalah serta penemuan dan peningkatan kualitas hidup pribadi serta masyarakat yang berlangsung seumur hidup. Pada tingkat permulaan pendidik lebih menentukan dan mencampuri pendidikan peserta
didik. Setelah itu pendidik hanya sebagai pengasuh yang mendorog, membimbing, memberi teladan, menuntun serta menyediakan dan mengatur kondisi untuk membelajarkan peserta didik sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang mampu memperbaharui diri secara terus menerus dan aktif menghadapi lingkungan hidupnya.
Semua itu terlihat pada semboyan dan perlambangan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu, ing
ngarso sung tuludo artinya kalau pendidik berada dimuka, ia
memberi tauladan kepada pendidiknya; ing madya mangun
karso artinya kalau pendidik berada di tengah, dia membangun
semangat berswakarya dan berkreasi pada peserta didiknya; dan tut wuri handayani artinya kalau pendidik berada di belakang, dia mengikuti dan mengarahkan peserta didiknya agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggungjawab serta mencari jalan sendiri.
c. Minangkabau
Falsafah yang dikemukan oleh masyarakat Minangkabau yaitu Alam ta Kambang Jadi Guru, ini berarti semua kejadian, pengalaman dan perkembangan yang terjadi baik perkembangan teknologi yang melibatkan perubahan pada masyarakat maupun yang lainnya dapat dijadikan sebagai pelajaran dan pendidikan.
d. Menurut Tilaar
Ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan: Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung
jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting di dalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan di dalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik di dalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya.
e. Freire
Hakikat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana teknologi lainnya yang ditawarkan sesuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka.
f. Plato
Filsuf Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 mengatakan bahwa: “Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesempurnaan.”
g. Aristoteles
Filsuf terbesar Yunani, guru Iskandar Makedoni, yang dilahirkan pada tahun 384 SM-322 SM mengatakan bahwa: “Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran.”
h. John Dewey
Filsuf Chicago, 1859 M - 1952 M mengatakan bahwa: "Pendidikan adalah membentuk manusia baru melalui perantaraan karakter dan fitrah, serta dengan mencontoh peninggalan-peninggalan.”
i. Pengertian Pendidikan Menurut UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara” (Pasal 1 ayat 1 UU No.20 Tahun 2003).
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” (Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003).
Fungsi pendidikan nasional, tertulis: bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab” (Pasal 4 UU No. 20 Tahun 2003).
“Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik” (Pasal 4 Ayat (3) UU No. 20 Tahun 2003).
Jadi bisa dikatakan mendidik dan pendidikan merupakan dua hal yang saling behubungan. Dari segi bahasa mendidik adalah kata kerja dan pendidikan adalah kata benda. Kalau mendidik kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan, kegiatan mendidik berarti ada yang mendidik dan ada yang dididik. Pendidikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individual (orang per orang) dalam kehidupan pribadinya, dalam kehidupan sosial (kemasyarakatan)nya dan dalam kehidupan di lingkungan alam sekitar melalui suatu proses. Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.
Implikasi Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 1) Merupakan proses pembudayaan segala kemampuan, nilai, dan sikap dalam rangka mengembangkan kemampuan
(intelektual, sosial, kultur, civic, dan ekonomi) dan membentuk watak (kepribadian mandiri, bertanggungjawab, demokratis, dan bermoral); 2) merupakan pendidikan yang memandang peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya, melalui proses pembelajaran yang menantang, merangsang, dan menyenangkan, yang oleh UNESCO melalui Komisi Internasionalnya dianjurkan untuk menerapkan empat pilar belajar yaitu: Learning to Know,
Learning to Do, Learning to Be, dan Learning to Live Together;
dan 3) Implikasi prinsip-prinsip pembelajaran dalam proses belajar pembelajaran di antaranya guru dapat memusatkan perhatian siswa, memberi motivasi, menciptakan suasana belajar yang mengaktifkan siswa, mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran, mengulang pelajaran, memberi penguatan, dan memperhatian aspek-aspek lain seperti perbedaan individu siswa.