reforma agaria dalam tinjauan komparatif
5. PENGORGANISASIAN PRODUKSI SETELAH REFORMA AGRARIA
Beberapa aspek pengorganisasian produksi pasca-reforma
Pen galam an ban yak n egara m en un jukkan bahwa lan dreform
yan g ditujukan un tuk redistribusi pem erataan (yan g m em beri petan i akses tan ah dalam jum lah yan g lebih m erata) bisa saja m en ciptakan lebih ban yak m asalah daripada solusin ya, kecuali jika kepem ilikan petan i atas tan ah dibaren gi den gan pen gua- saan atas proses produksi dan produk pertan ian . J adi, isu sen - tral dalam reform a agraria adalah pen gem ban gan pen gorgan i- sasian produksi baru yan g kon sisten den gan pen ataan hak-hak tan ah pasca-reform a. Tata produksi dan pem asaran seperti pen gaturan hak tan ah bisa dilihat dalam kaitan n ya den gan suatu kon tin uum dari pen ataan yan g “sepen uhn ya diin dividu- alkan ” hin gga yan g “seutuhn ya dikolektifkan ”, den gan ban yak pen ataan di an tara keduan ya.
Di seluruh ben tuk struktur pertan ian , tidak sem ua aspek produksi sesuai den gan kon tin uum itu, sehin gga perlu un tuk dikaji m asalahn ya dan dicari altern atif solusin ya dalam keran g- ka kerja um um di sam pin g.
Apabila salah satu kon disi pasca-reform a in i dikaji, yaitu hak atas tan ah bertipe “in dividual” dan tan ah itu diredistribusi- kan dalam satuan -satuan agak kecil (sehin gga petan i dihadap- kan pada m asalah terken al ‘skala ekon om is’), m aka kita bisa m em eriksa m asalah organ isasi produksi pasca reform a den gan cara berikut: karen a tun tutan utam a para petan i kecil yan g in gin m en dapatkan tan ah biasan ya adalah kepem ilikan hak atas tan ah den gan basis in dividu, m aka m an akah di an tara aspek- aspek pertan ian lain yan g pada suatu waktu bisa digeser ke kan an pada kon tin uum in dividual-kolektif itu, sejauh apa dan den gan cara bagaim an a? Den gan seperan gkat pen gaturan yan g tepat para petan i kecil di m asa pasca reform a dapat m en gatasi kedua m asalah yan g baru disebutkan itu:
(i) m asalah ‘skala ekon om is’
(ii) usaha m en dapatkan dan m em pertahan kan pen guasaan atas proses produksi dan produk pertan ian
Dalam hal in i telah ditekan kan bahwa m asalah “skala ekon om is” tidak terlalu terkait den gan luasan tan ah yan g kecil, m elain kan ber h u bu n gan d en gan bagaim an a p et an i kecil m am pu m en dapatkan akses terhadap layan an dan in put per- tan ian yan g m urah dan efisien .
Perlu dicatat bahwa pendekatan ini, hanya terfokus pada identifikasi tipe-tipe (dan kom binasi tipe) pengorganisasian yang cocok dilihat dari efisiensi teknis dan ekonom is. Oleh sebab itu, pendekatan “teknis-ekonom is” itu harus digabungkan de- ngan pandangan yang lebih politis-ekonom is atas m asalah- m asalah pasca reform a. Pandangan itu juga harus m encakup m asalah-m asalah yang dihadapi oleh para petani gurem dan organisasi tani dalam situasi politik dan ekonom i pasca reform a.
Kondisi-kondisi yang menentukan ragam bentuk pengorganisasian produksi pasca reforma
Sifat pen gorgan isasian produksi pasca reform a tergan tun g pada beberapa faktor, yakn i: a) sifat dari reform a itu sen diri terkait den gan daya jan gkauan n ya terhadap berbagai lapisan m asya- rakat, dan isu-isu agraria yan g dihadapin ya; b) aspek-aspek (kebutuhan -kebutuhan ) produksi pertan ian yan g disebutkan di atas dan juga aspek-aspek produksi pedesaan lain n ya yan g bersifat n on -pertan ian ; c) “gaya im plem en tasi” reform a agraria- n ya; d) tahapan waktu pelaksan aan reform a agraria.
a. Ideologi yan g m elatarbelakan gi pelaksan aan lan d- reform san gat m en en tukan sifat pen gorgan isasian produksi yan g m un cul setelahn ya. Di Meksiko, sifat populis gerakan reform a ditujukan un tuk m eredistri- busi kepem ilikan tan ah, sehin gga produksi yan g terja- di dalam periode pasca reform a m un cul dalam ben tuk kepem ilikan petan i secara in dividu. Di J epan g, setelah reform a, m eskipun tan ah terutam a m asih dim iliki peroran gan dalam satuan kecil, sejum lah besar petan i yan g san gat sem p it t an ah n ya t elah t er sin gkir
(“depeasan tised”), sem en tara m ereka yan g tin ggal m em an g m am pu bertahan karen a adan ya subsidi. Di J epan g, ben tuk produksi petan i kecil dipertahan kan karen a beberapa alasan sosial politik.
b. Sebagaim ana digam barkan di atas, m eskipun beberapa ahli tidak selalu sepakat dalam perm asalahan skala ekonom is, yang selalu m uncul dari ukuran kepem i- likan tanah itu, jelas bahwa penggunaan optim al m odal tetap (input pertanian, traktor, dll.) m em ang m em bu- tuhkan suatu bentuk pengorganisasian produksi yang berbeda dari m odus petani gurem individual. Berda- sarkan alasan-alasan itulah m aka berm unculan ber- bagai bentuk koperasi produksi. Oleh karena akses ter- hadap input, kredit, dan pasar sering terkait dengan ukuran tanah pertanian, m aka faktor-faktor itu pula yang m endorong petani untuk m enggunakan bentuk- bentuk koperasi. Hal itu telah diperlihatkan dalam J harkan d Mukti Morcha, Bihar dan Boom i Sen a, Maharashtra (India), di Banglades dan di tem pat lain.
Kebu tu h an -kebu tu h an pen gor gan isasian ber agam aktivitas ekon om i san gat bervariasi dan m em pen garuhi ben tuk-ben tuk produksi pasca reform a, m isaln ya:
(i) Budidaya tan am an pan gan dan tan am an lain dapat m ele- wati fase pen gorgan isasian dari in dividual “kelom pok” kolektif;
(ii) perkebun an dan pem budidayaan tan am an buah m em bu- tuhkan kepem ilikan tan ah luas dan pen goperasian yan g dilakukan oleh koperasi atau negara (m eskipun sistem per- kebun an in ti rakyat dapat m em buat beberapa aspek pen g- organ isasian produksi tetap berada di tin gkat in dividu); (iii) usaha perikan an palin g cocok dilakukan den gan kepem i-
likan asosiatif;
dan petern akan ayam dapat m en gkom bin asikan kepem i- likan in dividu den gan pem asaran oleh koperasi agar keun - tun gan sem akin m en in gkat (con toh: beberapa koperasi susu di Gujarat, In dia dan di beberapa n egara lain ); (v) irigasi dan pen in gkatan kualitas lahan , kehutan an , dan
sejen isn ya jelas tidak bisa dilakukan secara sistem atis berbasiskan in dividu dan m em butuhkan usaha koperasi; (vi) pen dekatan yan g digun akan dalam lan dreform dan proses
im plem en tasi reform a agraria itu sen diri juga san gat m em pen garuhi karakter dan poten si pen gorgan isasian produksi pasca reform a. Pen dekatan “top-dow n ”yan g di- gun akan di Peru, J epan g, Taiwan , dll. serin gkali berarti bahwa petan i yan g berhak m en dapat tan ah dari redistri- busi tidak dilibatkan dalam m en en tukan jen is-jen is pen g- organ isasian produksi yan g akan dilaksan akan setelah reform a. Derajat partisipasi para petan i itu dalam proses reform a m em an g m em pen garuhi tipe pen gorgan isasian produksi yan g akan m un cul. H al itu diilustrasikan dalam kasus Fan shen di desa Lon g Bow di Cin a. Subyek pen erim a m an faat reform a ikut juga m en en tukan pen gorgan isasian produksi pasca reform a. Apabila pen erim a m an faat adalah buruh tan i tak bertan ah dan petan i m iskin , m aka lapar tan ah dapat segera m en garahkan redistribusi tan ah pada proses m en jadikan m ereka petan i gurem (peasan tisation ) atau m en gem balikan m ereka m en jadi petan i gurem (re- peasan tisation ).
Um um n ya dapat dikatakan bahwa reform a agraria tidak terbatas pada satu operasi tun ggal yan g dilakukan pada satu waktu, tetapi harus m elewati beberapa tahap. Satu tahapan dapat berupa redistribusi tan ah, yan g kem udian diikuti oleh usaha pen gem ban gan koperasi atau pasokan in put dan atau dis- tribusi in put yan g berbasis kelom pok ( seperti di Taiwan ). Di lain kejadian , proses diawali den gan koperasi produksi yan g
d iiku t i oleh p r oses 'in d ivid u alisasi' t an ah yan g sem akin m en in gkat (m isal: di Peru). Ada pula usaha yan g dilakukan un tuk keluar dari pertan ian skala kecil dan m em un culkan usaha pertan ian in dividual skala besar (seperti di J epan g). Ter- utam a di beberapa n egara sosialis, kita m en dapati adan ya suatu tran sisi gradual dari kebijakan redistributif m en uju ben tuk- ben tuk kolektif pen gorgan isasian , yan g disertai atau diikuti oleh suatu pen ekan an (kem bali) atas kepem ilikan in dividu (di Vietn am , Cin a, Kuba). Den gan kata lain , m em an g tidak ada uru- tan sederhan a satu garis (un ilin ear) dalam reform a agraria.
Pengelolaan bersam a usaha pertanian, jika bersesuaian dengan kebutuhan dan kom itm en petani, bisa terus m aju se- langkah dem i selangkah dan secara bertahap. Sem entara land- reform harus m enghilangkan ketim pangan parah yang m engha- langi pengem bangan potensi produktif lebih lanjut, nam un pem erataan total sem ua kepem ilikan tanah pertanian di tahap- tahap awal seringkali bisa m erugikan dan kontra-produktif. Pe- m erataan total itu akan m engalienasi banyak petani ukuran m enengah dan juga beberapa petani yang tidak terlibat dalam pr aktik eksploitatif d an m on opolistik, m eskipu n m em an g pem angkasan kekuasaan para petani kaya yang terlibat dalam praktik sem acam itu m erupakan sebuah syarat untuk m ajunya sebagian besar petani. Pada beberapa kasus, disingkirkannya kelom pok petani non-eksploitatif dan non-m onopolistik dari pengorganisasian produksi pasca reform a m enim bulkan bebera- pa dam pak serius bagi produksi dan m alah m em buat kom unitas m enjadi kehilangan keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan.
Pen galam an m en un jukkan bahwa sebelum usaha pertan i- an bersam a (join t-farm in g) diawali, kaum petan i gurem harus pern ah m en galam i pen tin gn ya m elakukan usaha secara ber- sam a-sam a tersebut. Pada awaln ya m ereka juga harus m em iliki rasa percaya diri dalam m en ghadapi kon disi-kon disi baru dan m am pu m en yelesaikan m asalah-m asalah yan g palin g m en de- sak, terutam a m asalah pen yediaan pan gan . Baru setelah sem ua
itu terpen uhi, m ereka berhasil m asuk ke dalam perubahan dan eksperim en besar terkait m asa depan m ereka itu. Seperti yan g terlihat pada beberapa kasus, iklim kepercayaan diri dan keya- kin an itu bisa berkem ban g jika pem erin tah sepen uhn ya m en - dukun g m asyarakat dalam proses redistribusi peluan g-peluan g yan g hadir sebagai im plikasi dari lan dreform.
J ika usaha pertan ian bersam a sejak awal terlihat m em - bawa hasil, m aka hal itu akan m en doron g m un culn ya m in at dan ketertarikan oran g un tuk m en erim a ben tuk-ben tuk usaha per- tan ian bersam a yan g lebih terlem baga dan lebih m aju, dan ge- rakan yan g berawal dari usaha bersam a berskala kecil dan bersifat sewaktu-waktu m en jadi aksi bersam a yan g lebih rum it, lebih besar dan perm an en . Beberapa dari faktor yan g san gat berpen garuh terhadap efisien si dan daya hidup ben tuk-ben tuk usaha pertan ian bersam a itu an tara lain : a) derajat hom ogen i- tas para pihak yan g m elakukan kerja/ usaha bersam a (m asalah- m asalah perbedaan kekayaan yan g m en gakibatkan perbedaan kepen tin gan di an tara para pihak); b) derajat oton om i m ereka terhadap dom in asi kepen tin gan pihak luar dan n egara. Ben tuk- ben tuk koperasi produksi pertan ian san gat tergan tun g pada pen gaturan beberapa aspek produksi lain n ya, seperti: kredit, in put, pem asaran , dsb.
Terakhir, pen gaturan proses produksi dalam ben tuk kerja bersam a in i juga dapat m en doron g pen gorgan isasian aktivitas- aktivitas sosio-kultural terkait den gan buta huruf, pen didikan dan pen yadaran yan g pada giliran n ya bisa m en dukun g proses produksi bersam a tersebut.
Pengalaman komparatif beberapa wilayah berpenduduk padat: Asia Timur Laut
Apabila redistribusi tan ah tidak diikuti oleh pen gorgan isasian produksi secara bersam a (ko-operatif) —yaitu usaha pem ben - tukan kapital, produktivitas dan pem ban gun an sosial yan g di- lakukan oleh pen duduk pedesaan itu sen diri—m aka dua strate-
gi altern atif bisa digun akan un tuk m en in gkatkan efisien si per- tan ian dan m en gam an kan keber lan gsun gan pem ban gun an secara um um . Strategi pertam a dilakukan den gan m em per- besar luasan tan ah pertan ian pribadi sehin gga keun tun gan bisa diam bil dari skala ekon om is dan strategi kedua adalah m en - jalan kan usaha pertan ian bersam a.
Masalah ukuran dalam pertanian skala kecil
Di beberapa n egara Asia, redistribusi tan ah yan g relatif radikal dan reduksi pen gaturan kepem ilikan tan ah yan g eksploitatif dilakukan un tuk m en an ggapi tekan an -tekan an kaum tan i yan g sem akin kuat (seperti di J epan g, Taiwan , Korea Selatan ). Tin - dakan tersebut dilakukan un tuk m en cegah redistribusi kekua- saan dan aset yan g lebih radikal. Setelah lan dreform berjalan di n egara-n egara itu, tum buh kesadaran bahwa m asa depan bagi pertan ian yan g lebih efisien berbasis tan ah-tan ah pertan ian keluarga berskala kecil dan terfragm en tasi terlihat agak suram . Di ketiga n egara itu, pada awaln ya pem erin tah m en etapkan bahwa kepem ilikan lebih dari tiga hektar tidak akan terken a reform a, agar tidak m elum puhkan produktivitas. Sebagian besar petan i yan g m en dapat tan ah dari reform a m en erim a luas- an yan g jauh lebih kecil dari tiga hektar itu. Pada 1949, ham pir seten gah ju m lah petan i d i J epan g h an ya m em iliki tan ah m asin g-m asin g 0 ,5 h ekt ar . Tah u n 1961, Un d an g-Un d an g Pen ataan Pertan ian secara Men dasar m en gajukan un tuk m e- n guran gi jum lah rum ah tan gga petan i sepertigan ya hin gga ter- sisa han ya 2 atau 3 juta rum ah tan gga petan i, gun a m en ciptakan suatu kelas petan i poten sial yan g m an diri, den gan pen guasaan m asin g-m asin g petak tan ah seluas tiga hektar atau lebih per rum ahtan gga. Kebijakan itu dian ggap m am pu m en aikkan pen - dapatan rum ah tan gga pedesaan hin gga setin gkat den gan pen - dapatan rum ah tan gga perkotaan .
Ketika Ladejin sky (m an tan pen asehat utam a J en deral McArthur dan pem erin tah J epan g dalam hal lan dreform) di-
m in ta un tuk berkom en tar ten tan g usulan un dan g-un dan g itu, den gan tajam dia m em perin gatkan pem erin tah J epan g un tuk tidak m en gim plem en tasikan un dan g-un dan g itu sebab akan m en yin gkirkan ban yak sekali petan i J epan g dari usaha pertan i- an . Dalam pan dan gan n ya, terlalu ban yak tekan an prioritas di- berikan oleh pem erin tah J epan g terhadap m an ajem en pertan - ian dan terlalu sedikit perhatian pada realitas kepem ilikan . Se- lain itu, Ladejin sky juga m en yebut pen gajuan un dan g-un dan g itu sebagai an cam an besar bagi stabilitas politik J epan g.
Akhirn ya pem erin tah tidak m en gesahkan un dan g-un dan g itu. Nam un tetap saja, m ayoritas petan i kecil tidak bisa lagi m en dapatkan pen ghidupan n ya dari pertan ian dan sebagian atau m ereka sem ua m en in ggalkan usaha pertan ian un tuk dise- rap ke dalam ekspan si din am is in dustri dan jasa. H in gga tahun 1950 , lebih dari 50 persen rum ah tan gga petan i di J epan g m en - dapatkan pen ghasilan han ya dari pertan ian , dan persen tase itu turun sam pai tin ggal 13 persen pada 1977. J um lah rum ah tan g- ga yan g hidup den gan pekerjaan sam pin gan dan yan g m asih m en dapatkan lebih dari seten gah pen ghasilan n ya dari pertan - ian turun secara lebih cepat den gan an gka pen urun an 7 persen per tahun , m erosot hin gga han ya 18 ,5 persen pada 1977. Di balik statistik itu terdapat suatu realitas yan g m en gkhawatirkan ten tan g kerja keras yan g harus dilakukan oleh sebagian besar petan i un tuk m em en uhi kebutuhan n ya, yaitu: keluar m asuk desa un tuk m elakukan pekerjaan in dustri. Kon disi itu pun ber- im plikasi pada kerja berat yan g bersifat eksploitasi diri (sev ere drudgery )bagi perem puan , karen a selain harus bekerja di per- tan ian m ereka pun terlibat dalam beberapa aktivitas di luar per- tan ian , ditam bah tan ggun gan beban kerja dom estik.
Di Taiwan dan Korea Selatan pun terjadi hal serupa. J uta- an petan i kecil (yan g diperbolehkan m em pertahan kan tan ahn ya yan g kuran g dari 3 hektar) akhirn ya tersin gkir dari pertan ian karen a adan ya kebijakan pem erin tah un tuk m en ekan harga beras agar tetap ren dah, padahal pem erin tah pun m em un gut
berm acam -m acam pajak dari petan i. Salah satu in strum en yan g dipakai oleh pem erin tah adalah organ isasi ‘koperasi’ in put dan pem asaran yan g dikon trol ketat. Meskipun disebut ‘asosiasi petan i’ (Taiwan ) atau ‘organ isasi koperasi’ (Korea Selatan ), se- bagian besar petan i tidak pun ya kekuatan dalam pem buatan kebijakan dan peren can aan atau pen gelolaan kedua organ isasi itu, sebab diken dalikan sepen uhn ya oleh pem erin tah.
Di kedua kasus itu, pem erin tah Taiwan dan Korea Selatan telah m en ggun akan organ isasi yan g seben arn ya dikem ban gkan J epan g pada m asa kolon ial un tuk m em produksi beras m urah dem i m en dukun g kebijakan ekspan sion is J epan g waktu itu. Pada periode itu m un cul juga survei pertan ahan yan g oleh pem erin tah kolon ial J epan g digun akan un tuk m en gatur pun g- utan pajak petan i, m en guasai tan ah tersubur dan m en gorgan i- sasikan in frastruktur un tuk pen in gkatan ekspor beras den gan m en gor ban kan p et an i. Ter jad in ya eksod u s besar -besar an petan i m arjin al un tuk m asuk ke dalam in dustri m erupakan dam pak dari kebijakan pem erin tah un tuk m en jam in tersedia- n ya ten aga kerja un tuk in dustri ekspor (setelah dilewatin ya fase subsitusi im por) di Taiwan dan Korea Selatan . Un tuk m em buat in dustri ekspor bisa bersain g di pasar dun ia, m aka upah harus dijaga tetap ren dah. H al itu han ya bisa dilakukan den gan m en - jaga harga beras seren dah m un gkin .
Den gan sem akin tin ggin ya harga in put pertan ian , ter- utam a gara-gara n aikn ya harga m in yak di awal 1970 -an , m aka kon disi m ayoritas petan i kecil m en jadi sem akin tan pa harapan dan ban yak di an tara m ereka berhen ti bertan i. Den gan begitu, lewat perm ain an peren can aan dan “kekuatan -kekuatan pasar”, m aka berbagai kon disi diciptakan un tuk m en doron g m un cul- n ya pertan ian terkon sen trasi yan g lebih efisien . Proses un tuk m en yin gkirkan petan i itu dipercepat oleh pem belian tan ah spekulatif oleh beberapa perusahaan in dustri dan dipercepat pula oleh m asukn ya beberapa kelom pok kepen tin gan yan g ber- basis perkotaan ke dalam usaha pertan ian . Mereka in i m em an g
m em iliki akses istim ewa un tuk m en dapatkan perlin dun gan dan