BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
2. Penguatan Pendidikan Karakter
a. Definisi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Bobroknya moral dan karakter anak-anak Indonesia merupakan faktor utama yang melatarbelakangi berdirinya program penguatan pendidikan karakter. Gerakan PPK berada dalam fundamental dan strategis yang diambil oleh pemerintah untuk mencanangkan revolusi karakter bangsa sebagaimana tertuang dalam nawacita presiden yang ke 8. Sebab itu, Gerakan PPK dapat dimaknai sebagai pengejawantahan GerakanRevolusi Mental sekaligus bagian integral Nawacita (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5).
Perpres No. 87 tahun 2017 menjelaskan bahwa penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sendiri merupakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan keterlibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan
Nasional Revolusi Mental (GNRM). Pengembangan nilai-nilai karakter untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (Etika) yang berkaitan dengan individu yang memiliki tingkat kerohanian dalam hati, olah pikir (Literasi) yang berkaitan dengan kecerdasan akademis dan berpikir tingkat rendah pada setiap individu, olah rasa (estetika) yang berkaitan dengan individu yang memiliki tingkat kesenian dan olah raga (Kinestetik) yang berkaitan dengan gerak anggota tubuh setiap individu dan bagaimana cara setiap individu menjaga kesehatan anggota badannya. Hal tersebut tentunya dapat terwujud dengan adanya dukungan serta keterlibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Berikut ini merupakan filosofi pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara.
Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara
Sumber:http://alihfungsi.gtk.kemdikbud.go.id/assets/konsep_karakt er.pdf.
Puskur (dalam Suparno, 2015: 35-37) mengungkapkan bahwa nilai-nilai karakter sebelumnya ada 18 nilai yang telah dirumuskan oleh Kemendiknas. Nilai-nilai karakter tersebut meliputi nilai religiusitas, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi moral bangsa Indonesia. Agar lebih sederhana, ke-18 nilai-nilai tersebut dikelompokkan atau dikristalisasi lebih sederhana menjadi 5 nilai saja yakni :
Gambar 2.2 Nilai-nilai Karakter
Sumber:http://alihfungsi.gtk.kemdikbud.go.id/assets/konsep_karakt er.pdf. RELIGIUSITAS NASIONALISME INTEGRITAS KEMANDIRIAN GOTONG ROYONG
Gambar 2.2 merupakan nilai-nilai utama pendidikan karakter yang ada dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
1) Nilai religiusitas
Nilai religiusitas ialah gambaran ilustrasi tentang bagaimana seseorang percaya terhadap Tuhan YME dan diwujudkan dalam sebuah perilaku dengan melaksanakan ajaran agama yang dipercaya dan dianut. Selain itu, niai religiusitas dalam pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan kepercayaan yang dianut dan melaksanakan anjuran agama yang dianutnya, akan tetapi nilai religiusitas dalam arti pendidikan karakter turut mengajarkan arti menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama atau kepercayaan lain serta mengajarkan bagaimana menjalin hidup rukun damai mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan. Sub nilai religiusitas antara lain mencintai kedamaian, sikap toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, berpegang teguh pada pendirian, memiliki rasa percaya diri, antibuli, anti kekerasaan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, serta melindungi yang kecil dan tersisih.
Sebagai contoh penerapan nilai religiusitas di kelas dengan menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi toleransi antar sesama teman, menjaga kerukunan sesama teman jika terdapat masalah hendaknya segera diselesaikan dengan cara yang baik-baik, tidak membuly teman yang berbeda, menghargai keputusan
bersama ketika terjadi musyawarah dan tidak memaksakan kehendak atau egois, dan mencintai lingkungan sekitar dengan merawat lingkungan dan tidak merusaknya.
2) Nasionalisme
Nilai nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, peduli, penghargaan terhadap budaya, bahasa, lingkungan, sosial-budaya, ekonomi dan politik. Subnilai nasionalisme terdapat pada cara setiap orang di dalam bangsa ini untuk mengapresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya sendiri, rela berkorban, unggul, mengharumkan nama bangsa, cinta tanah air, taat hukum dan disiplin serta menghargai menghormati keberagaman agama, budaya, ras, dan suku.
Penerapan nilai nasionalisme di kelas dengan menghargai perbedaan suku jika ada teman yang berasal dari suku yang berbeda, menyanyikan lagu wajib nasional sebagai semangat nasionalisme, menghargai jasa para pahlawan dan meneruskan perjuangan para pahlawan dengan belajar sungguh-sungguh dan mengembangkan bakat serta kemampuan agar dapat tampil ke depan mengharumkan nama bangsa, dan menghargai budaya sendiri, kearifan lokal dengan mengenakan pakaian atau produk dalam negeri, dan menaati serta mematuhi hukum yang telah ditetapkan
3) Kemandirian
Nilai karakter yang dikembangkan adalah sikap perilaku yang tidak bergantung kepada orang lain, menggunakan pikiran, tenaga, dan waktu untuk mencapai tujuan serta cita-cita. Subnilai mandiri antara lain kerja keras, profesional, kreatif, dan keberanian.
Penerapan atau contoh nilai kemandirian dengan mengembangkan kreatifitas ketika guru memberikan tugas, mandiri dalam mengerjakan soal ulangan, berani untuk menegur teman yang berbuat salah atau melanggar aturan, dan bersikap profesional ketika dihadapkan dengan seseorang yang tidak disukai pada saat kerja kelompok.
4) Gotong royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja, komitmen atas keputusan bersama, bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan dan persoalan, musyawarah, mufakat, menghargai keputusan bersama, tolong menolong, anti diskriminasi, memberi bantuan kepada orang lain, dan menjalin komunikasi. Subnilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
Contoh nilai gotong royong adalah saling menghargai dalam menyelesaikan persoalan bersama dengan semangat kerja sama
sebagai contoh, ketika memecahkan persoalan dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru dan harus dikerjakan secara kelompok, menjalin komunikasi dan persahabatan antar teman, mampu berkomitmen dengan keputusan bersama yang telah disepakati, memiliki sikap empati dan rasa solidaritas, tidak adanya sikap deskriminasi sesama teman, dan menghargai keputusan bersama.
5) Integritas
Nilai ini merupakan dasar dari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya perkataan, tindakan dan pekerjaan, memiliki komitmen, konsisten terhadap perkataan dan tindakan serta dapat bertanggung jawab.
Sebagai contoh menjunjung nilai integritas dengan aktif dalam kehidupan sosial seperti ketika ada bencana alam siswa hendaknya ikut membantu korban bencana alam, komitmen dengan perkataan dan tindakan sebagai contoh ketika sudah ada kesepakatan mengenai aturan di kelas yang disetujui bersama hendaknya tidak dilanggar, dan bertanggung jawab terhadap perbuatan sebagai contoh ketika berbuat kesalahan yang merugika orang lain, hendaknya segera meminta maaf dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dinilai salah.
Kelima nilai tersebut tidak bergerak atau berjalan secara terpisah, akan tetapi berjalan secara satu kesatuan saling membahu satu dengan lainnya untuk mengembangkan karakter.
b. Basis Pengembangan dan Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di Sekolah
1) Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Kelas merupakan tempat dimana terjadinya proses interaksi guru dan murid serta bagaimana proses terjadinya pendidikan berlangsung. Hal tersebut juga dapat dikatakan jika kelas merupakan saksi berhasil atau tidaknya pendidikan dan tentu saja bergantung pada bagaimana siswa dan guru dapat membuat suasana belajar di kelas nyaman dan menyenangkan.
Guru di sekolah mempunyai peran besar dalam proses pendidikan karakter anak. Setiap pengajaran yang dilakukan guru di sekolah dapat mengajarkan hal yang baik dan tidak baik. (Suparno, 2015: 66). Hal tersebut memiliki arti bahwa peran guru bagi pendidikan karakter sangat besar dikarenakan apa yang guru ajarkan pada siswa terutama pembiasaan untuk membentuk serta mengembangkan karakter siswa sangat berdampak bagi perkembangan karakter siswa.
Pendidikan karakter berbasis kelas berfokus pada keseluruhan dinamika yang terjadi diantara guru dan siswa di dalam kelas serta struktur kurikulum yang digunakan. Pendekatan PPK berbasis kelas meliputi integrasi kurikulum,
metode pembelajaran, manajemen kelas, relasi pedagogis dan muatan lokal (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 27). Penerapan PPK berbasis kelas dapat diintegrasikan dengan kurikulum. Hal tersebut bertujuan agar nilai-nilai utama PPK dapat terimplementasi dengan optimal. Penerapan nilai-nilai utama PPK dapat dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas dengan cara mengintegrasikan muatan pelajaran dengan nilai-nilai utama PPK. Berikut merupakan contoh penerapan nilai-nilai-nilai-nilai karakter dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas 4 tema 2 subtema 2 pada tabel 2.1:
Tabel 2.1 Contoh penerapan karakter dalam RPP
Muatan
Pelajaran Kompetensi Dasar Indikator
Karakter yang diharapkan PPKn 4.2 Bekerjasama
melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
4.2.1 Membuat poster tentang pentingnya menghemat energi (melaksanakanhak dan kewajiban secara seimbang) 4.2.2. Mempresentasikan hasil kerja kelompok berupa poster tentang pentingnya
menghemat energi (melaksanakanhak dan kewajiban secara seimbang)
Gotong royong, percaya diri, kreativitas, tanggung jawab dan ketelitian. Bahasa Indonesia 3.4 Membandingkan teks petunjuk penggunaan dua alat yang sama dan berbeda.
3.4.1 Menuliskan teks petunjuk tentang menghemat energi.
3.4.2 Menjelaskan teks petunjuk tentang menghemat energi.
Tabel 2.1 berisi tentang contoh penerapan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dalam RPP kelas 4 tema 2 subtema 2. Nilai-nilai yang dikembangkan yaitu gotong royong, percaya diri, ketelitian, dan kreativitas. Nilai gotong royong dikembangkan dalam pembelajaran dapat disisipkan dalam
indikator membuat poster tentang pentingnya menghemat energi. Pada saat proses pembelajaran nilai gotong royong dapat diintegrasikan pada saat siswa melakukan kerja kelompok pembuatan poster. Sedangkan nilai percaya diri dikembangkan dan diintegrasikan saat proses pembelajaran untuk mencapai indikator menjelaskan teks petunjuk menghemat energy melalui proses pembelajaran ketika siswa mempersentasikan hasil diskusi membuat poster. Selain itu, nilai tanggung jawab dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran ketika pembagian tugas saat kerja kelompok, seperti contoh jika siswa A diberikan tugas untuk menggambar poster yang menarik, siswa B mewarnai poster dan siswa C membuat konsep poster. Hal tersebut tentu sjaa akan menumbuhkan nilai tanggung jawab terhadap kewajiban yag telah diberikan. Ketika membuat poster dapat membantu mengembangkan kreativitas siswa dan mengajarkan ketelitian pada siswa. Hal tersebut terjadi ketika proses pembelajaran ketika siswa membuat poster dibutuhkan kreativitas agar poster menarik, lalu ketelitian dapat diterapkan ketika kegiatan pembelajaran membuat poster dan menuliskan konsep hak kewajiban kedalam poster.
2) Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah
Pendidikan karakter secara utuh dan menyeluruh kuncinya terdapat pada kultur sekolah. Kultur sekolah menjadi ekosistem yang menggambarkan sejauh mana dinamika relasi antar individu
di dalam sebuah lembaga pendidikan merupakan sebuah ekosistem pendidikan yang sehat (Koesoema, 2018: 21). Hal tersebut berarti bahwa di dalam kultur sekolah terdapat interaksi antar individu serta sebuah dinamika untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.
Suparno (2015: 70) mengungkapkan bahwa lingkungan sekolah yang khas mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan pengembangan karakter siswa. Hal tersebut berarti bahwa lingkungan sekolah merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter siswa.
Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah. Pengembangan PPK berbasis kelas termasuk di dalamnya keseluruhan tata kelola sekolah, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), serta pembuatan peraturan, dan tata tertib sekolah (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 36). Hal tersebut berarti bahwa pendidikan karakter berbasis sekolah merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan suasana atau iklim sekolah yang mendukung penerapan nilai-nilai PPK yang melibatkan seluruh warga sekolah dengan pembiasaan karakter yang di lakukan setiap hari. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
sekolah merupakan lingkungan dimana terjadinya interaksi antar seluruh warga sekolah dengan kultur khas yang dapat berpengaruh terhadap proses pendidikan dan pengembangan karakter siswa.
Berikut merupakan contoh pembiasaan yang dilakukan di sekolah berupa kegiatan apel pagi di salah satu sekolah tempat penelitian pada gambar 2.3 di bawah ini:
Gambar 2.3 Contoh Penerapan Apel Pagi Di Sekolah
Gambar 2.3 merupakan contoh penerapan PPK berbasis kelas yaitu apel pagi yang peneliti ambil saat melakukan kegiatan observasi di SD N Turen Kecamatan Pakem.
3) Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Masyarakat
Lembaga pendidikan khususnya sekolah memiliki ikatan yang erat dengan komunitas yang menjadi bagian dari keluarga besar sebuah lembaga pendidikan. Banyak komunitas terlibat
secara langsung dan tidak langsung yang dapat mempengaruhi pendidikan karakter. Komunitas tersebut memiliki peran penting untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. (Koesoema, 2012: 144). Hal tersebut memiliki arti jika komunitas atau masyarakat sekitar sangat dibutuhkan dalam berkolaborasi untuk pembentukan karakter siswa di sekolah.
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Suparno (2015: 71) yang berpendapat bahwa pembentukan karakter dipengaruhi oleh keadaan, situasi, dan karakter masyarakat di sekitar yang mendukung pembentukan karakter hal tersebut berarti bahwa proses pembentukan karakter siswa di sekolah dipengaruhi oleh keadaan, situasi, serta lingkungan sekitar.
Satuan pendidikan tidak dapat menutup diri dari kemungkinan berkolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah. Keterlibatan publik dibutuhkan karena sekolah tidak dapat melaksanakan visi dan misinya sendiri. Karena itu, berbagai macam bentuk kolaborasi dan kerja sama antar komunitas dan satuan pendidikan diluar sekolah sangat diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter. Satuan pendidikan dapat melakukan berbagai kolaborasi dengan lembaga, komunitas, dan organisasi lain di luar satuan pendidikan yang dapat menjadi mitra dalam Penguatan Pendidikan Karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 42). Hal tersebut berarti bahwa kolaborasi lembaga sekolah dengan
beberapa komunitas diluar sekolah dapat mendukung proses pembentukan karakter.
Berikut ini merupakan contoh peran komunitas dalam pengembangan serta pembentukan karakter di sekolah. Pada gambar 2.3 merupakan keterlibatan polisi dalam pembentukan karakter siswa di sekolah.
Gambar 2.4 Contoh Keterlibatan Komunitas di dalam Lembaga Sekolah
Gambar 2.4 merupakan contoh keterlibatan komunitas di dalam lembaga sekolah yang bertujuan untuk mendukung pembentukan karakter siswa di sekolah.