• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Kinerja yang Digunakan PT Unitex, Tbk

DAFTAR LAMPIRAN

4. Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran

4.2. Pengukuran Kinerja yang Digunakan PT Unitex, Tbk

PT Unitex dalam mengukur keberhasilan kinerja perusahaan menggunakan indikator-indikator tertentu dalam penilaian kinerja perusahaan. Indikator-indikator yang digunakan oleh PT Unitex adalah sebagai berikut ;

a. Jumlah penjualan (dalam meter), yaitu angka penjualan yang dicapai perusahaan dalam jangka waktu satu tahun. Jumlah penjualan pada tahun 2005 menurun sebesar 10,5 persen atau 10,48 juta meter dari 11,71 juta meter pada tahun 2004. Untuk pasar domestik, penjualan mengalami penurunan yang sangat serius sebesar 23,9 persen pada tahun 2005. Kondisi ini menyebabkan produsen lokal tertekan dengan banyaknya produk China yang harganya lebih rendah. Pada penjualan ekspor untuk pasar Amerika dan Eropa yang merupakan pasar utama PT Unitex, juga mengalami penurunan sebesar 13,2 persen. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan seiring dengan tingkat konsumsi pada umumnya yang juga menurun. Di lain pihak, pasar Jepang dan Asia mengalami peningkatan sebesar 8,5 persen dan secara keseluruhan total penjualan ekspor menurun sebesar 5,8 persen.

b. Nilai penjualan (dalam Rupiah), yaitu harga jual dikalikan dengan jumlah penjualan yang terjadi dalam satu tahun. Nilai penjualan bersih perusahaan pada tahun 2004 sebesar Rp. 121.772.986.116 dan pada tahun 2005 sebesar Rp. 119.355.888.951, dimana mengalami penurunan sebesar 2 persen. Penurunan nilai penjualan lebih disebabkan oleh faktor nilai mata uang Indonesia yang lemah dan menurunnya jumlah penjualan ekspor sebesar 5,8 persen. Proporsi penjualan domestik dengan ekspor pada tahun 2005, masing-masing sebesar 69,43 persen dan 30,57 persen.

c. Market Share yaitu besarnya pangsa pasar yang dikuasai perusahaan dari penjualan produknya. Pada tahun 2005 market share produk Yarn Dyed di pasar domestik sebesar 40 persen. Dalam pasar domestik hanya ada 3 perusahaan tekstil yang memproduksi produk Yarn Dyed termasuk PT Unitex. Akan tetapi market share pada produk Piece Dyed di pasar domestik hanya sebesar 3 persen dari 5 persen yang ditargetkan oleh

perusahaan. Hal ini diakibatkan oleh persaingan dengan perusahaan lain di dalam negeri yang memiliki teknologi yang lebih bagus, dan persaingan dengan produk impor khususnya yang berasal dari China dan India.

2. Analisis Neraca (Balance Sheets), menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada periode waktu tertentu, pada umumnya pada akhir tahun anggaran. Dalam laporan neraca memuat mengenai aset, kewajiban dan equity, sehingga neraca keuangan mencerminkan semua transaksi yang dibuat oleh perusahaan pada waktu tertentu. Dalam laporan neraca PT Unitex, dapat dilihat bahwa kewajiban lancar telah melebihi aktiva lancar pada periode 2005 dan 2004 masing-masing sebesar Rp. 246.805.037.202 dan Rp. 240.618.854.712. Laporan neraca tahun 2005 PT Unitex dapat dilihat pada Lampiran 1.

3. Analisis Rugi/Laba (Income Statement), merupakan analisis terhadap hasil dari kegiatan operasional perusahaan pada periode waktu tertentu. Di dalam laporan laba/rugi terdapat informasi mengenai inflow asset

(revenues), outflow asset (expenses), dan kenaikan atau penurunan yang dihasilkan oleh semua kegiatan tersebut. Laporan laba/rugi menjelaskan pendapatan dan pengeluaran pada periode waktu tertentu dan dapat menjawab pertanyaan tentang besarnya laba atau kerugian yang dihasilkan oleh perusahaan. PT Unitex dalam lima tahun terakhir mengalami kerugian. Perusahaan mengalami rugi bersih sebesar Rp. 13.725.335.782 dan Rp. 98.987.458.372 masing-masing pada tahun 2005 dan 2004 yang mengakibatkan akumulasi kerugian sebesar Rp. 239.859.971.203 dan Rp. 226.134.635.421. Laporan laba/rugi tahun 2005 PT. Unitex secara lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 2.

4. Likuiditas, menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang segera harus dipenuhi pada saat jatuh tempo. Indikator likuiditas yang digunakan PT Unitex adalah rasio lancar (current ratio). Rasio lancar merupakan rasio yang dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar PT Unitex tahun 2004 adalah sebesar 25,14 persen sedangkan pada tahun 2005 adalah sebesar 24,98 persen.

5. Profitabilitas, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode waktu tertentu. Profitabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya secara produktif. Indikator profitabilitas yang digunakan PT Unitex, adalah sebagai berikut ;

a. Cost of Goods Sold (COGS) atau Harga Pokok Penjualan (HPP), merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. HPP berkaitan dengan biaya bahan baku dan jumlah produksi. HPP pada PT Unitex mengalami penurunan sebesar 6,72 persen pada tahun 2005. HPP pada tahun 2004 adalah sebesar Rp. 125.108.524.046, dan pada tahun 2005 adalah sebesar Rp. 117.219.699.949. Penurunan ini diakibatkan oleh pengurangan biaya produksi sebesar 3,25 persen.

b. Margin Laba Kotor (gross profit margin), adalah rasio keuntungan yang menunjukkan kemampuan dari penjualan untuk mendapatkan laba kotor dan memberikan indikasi mengenai efisiensi operasi perusahaan dan penetapan harga jual. Margin laba kotor PT Unitex pada tahun 2004 yaitu – 3,21 persen, sedangkan pada tahun 2005 adalah sebesar 1,79 persen.

c. Margin Laba Bersih (net profit margin), adalah rasio keuntungan yang menunjukkan kesanggupan perusahaan dalam melakukan penjualan untuk memperoleh laba bersih. Margin laba bersih PT Unitex pada tahun 2004 sebesar – 81,29 persen, sedangkan pada tahun 2005 sebesar – 11,50 persen. Angka negatif pada margin laba bersih menunjukkan perusahaan mengalami kerugian dalam melakukan penjualannya. Pada tahun 2004 perusahaan mengalami rugi bersih sebesar Rp. 98.987.458.372 dan tahun 2005 sebesar Rp. 13.725.335.782.

6. Cash Flow (Arus Kas), digunakan untuk menilai kelancaran kas masuk dan kas keluar yang digunakan perusahaan. Dalam arus kas dapat menunjukkan aktivitas perusahaan berdasarkan operasi, pendanaan, dan investasi. Laporan arus kas PT Unitex dapat dilihat dalam Lampiran 3.

Berdasarkan uraian indikator pengukuran kinerja yang digunakan oleh PT Unitex sebagai pengukur kinerja keberhasilan perusahaan, perusahaan masih menggunakan pengukuran konvensional, yaitu menggunakan laporan keuangan tahunan sebagai dasar alat pengukuran kinerja perusahaan. Dasar pengukuran laporan keuangan tersebut adalah konsep biaya historis (historical cost). Hasil pengukuran keuangan dijadikan sebagai tolak ukur penilaian kinerja perusahaan secara keseluruhan. Kesimpulan dari pengukuran yang digunakan selama ini oleh PT Unitex adalah masih belum dapat menjelaskan informasi lebih rinci mengenai penyebab kerugian yang dialami oleh PT Unitex dan masih memfokuskan pada tolak ukur keuangan jangka pendek untuk menilai kinerjanya.

PT Unitex kurang memperhatikan ukuran nonkeuangan yang tidak secara langsung terlihat dalam laporan keuangan. Perspektif pelanggan, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan pembelajaran yang menjadi faktor pemicu kinerja keuangan dalam Balanced Scorecard (BSC), dapat membantu perusahaan dalam mengukur ukuran nonkeuangan perusahaan. Pengukuran dari ketiga perspektif tersebut dapat dijadikan ukuran keuangan menjadi lebih obyektif.