BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
5.2 Penutupan Lahan di Kawasan Hutan Adat Lekuk
Penutupan lahan dan penggunaan lahan yang ada di Kawasan Lempur berdasarkan hasil survei dikelompokkan menjadi empat kategori. Tipe penutupan dan penggunaan lahan tersebut adalah hutan, kebun kayu manis, semak dan lahan terbuka. Penutupan dan penggunaan lahan di Kawasan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi disajikan pada Gambar 8.
(c) (d)
Gambar 8 (a) Hutan; (b) Kebun Kayu Manis; (c) Semak; (d) Lahan Terbuka.
Sebagian besar Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur dikelilingi oleh perkebunan yang didominasi oleh tanaman kayu manis. Menurut dokumen Rancang Bangun Restrukturisasi dan Deregulasi Pengelolaan Sumber Alam Pedesaan dan Kawasan Lindung Daerah Hulu Air Lempur sekitarnya dan TNKS tahun 1993, diterangkan bahwa luas perkebunan monokultur di dalam daerah Hulu Air Lempur atau di luar daerah TNKS mencakup areal 1,344 ha dan yang ditanami kulit manis sebesar 1,194 ha (88,9%). Akibatnya kondisi bentang alam kawasan ini dikategorikan sebagai kawasan rawan bencana, seperti gempa patahan, longsor, kekeringan dan laju kemerosotan sumberdaya alam hayati yang tinggi. Hal ini sesuai dengan studi Soerianegara dan Indrawan(1988) dalam
Kasim (1990) bahwa pembukaan lahan hutan baik untuk perladangan maupun untuk pemukiman akan mengganggu ekosistem hutan dan merubah keanekargaman jenis dan struktur vegetasi.
Hutan adat merupakan hutan yang terdapat di Kawasan Hulu Air Lempur yang didominasi oleh tegakan pohon dan bentuk kehidupannya tidak dirusak, memiliki status hukum serta pemanfaatan terbatas non komersial. Kondisi tuntutan ekonomi masyarakat yang mendorong untuk mengkonversi hutan ini menjadi perkebunan monokultur kayu manis, sehingga kawasan hutan adat desa berubah dari hutan menjadi perkebunan kayu manis.
31
5.2.2 Klasifikasi penutupan lahan
Penutupan lahan merupakan istilah yang berkaitan dengan jenis kenampakan vegetasi dan penggunaan ruang yang ada di permukaan bumi. Salah satu faktor penting untuk menentukan kesuksesan pemetaan penggunaan dan penutupan lahan terletak pada skema pemilihan klasifikasi yang tepat dirancang untuk suatu tujuan tertentu (Lo 1995). Skema klasifikasi yang baik harus sederhana di dalam menjelaskan setiap kategori penggunaan dan penutupan lahan. Oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan teknik pengindraan jauh dengan sumber data berasal dari citra Landsat tahun 1988 dan tahun 2008. Berdasarkan data citra Landsat (tahun 1988 dan 2008), penutupan lahan di kawasan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur diklasifikasi dalam lima kelas klasifikasi dimana satu kelas diantaranya merupakan kelas tanpa nilai (tidak ada data). Kelas klasifikasi tersebut hutan, kebun campuran (kayu manis), semak belukar, lahan terbuka dan tidak ada data (awan dan bayangan awan).
Hutan adalah seluruh kenampakan hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan. Pada citra Landsat kombinasi band 5,4,3, hutan berwarna hijau gelap sampai dengan agak terang dengan tekstir agak kasar. Kebun kayu manis adalah seluruh kenampakan hamparan kebun kayu manis. Pada daerah-daerah tertentu, di bawah tegakan kayu manis ditumbuhi semak belukar. Pada citra Landsat kombinasi band 5,4,3, berwarna hijau terang kekuningan, dengan teksur agak kasar sampai dengan halus (karena homogenitasnya).
Semak belukar adalah seluruh kenampakan bekas hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali (mengalami suksesi) namun belum atau tidak optimal, atau lahan kering dengan liputan pohon jarang (alami) atau lahan kering dengan dominasi vegetasi rendah (alami). Pada citra Landsat kombinasi band 5,4,3, berwarna hijau terang sampai dengan sangat terang, bercampur atau berbercak kekuningan dan kemerahan, dengan teksur kasar sampai dengan agak kasar, biasanya dekat dengan aktivitas manusia (baik permanen atau temporer).
Lahan terbuka adalah seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi, lahan hutan bekas kebun kayu manis dan lahan terbuka yang ditumbuhi alang- alang atau rumput. Pada citra Landsat kombinasi band 5,4,3, lahan terbuka berwarna merah muda keabuan dengan tekstur halus sampai agak kasar. Tidak ada
data adalah kenampakan awan dan bayangannya yang menutupi lahan suatu kawasan. Kenampakan penutupan lahan yang ditangkap oleh citra Landsat disajikan dalam bentuk seperti dalam Gambar 9.
Gambar 9 Gambar Citra Landsat (a) Hutan; (b) Kebun Kayu Manis; (c) Semak Belukar; (d) Lahan Terbuka; (e) Awan dan Bayangan
5.2.3 Penutupan lahan tahun 1988
Berikut ini akan disajikan tipe penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 1988 berikut dengan luasnya. Data disajikan dalam bentuk tabel seperti dalam Tabel 2, untuk memudahkan melakukan analisis penutupan lahan tahun 1988.
Tabel 2 Penutupan lahan di Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 1988
No Penutupan Lahan HA. Bukit Setangis HA. Gunung Batuah
HA. Hulu Air
Tanjung Jumlah Ha % Ha % Ha % Ha % 1 Hutan 20,63 72,57 395,81 72,45 58,89 37,05 475,33 64,78 2 Kebun kayu manis 2,27 8,00 22,42 4,10 14,54 9,15 39,23 5,35 3 Semak belukar 5,52 19,43 3,90 0,71 1,46 0,92 10,88 1,48 4 Tidak ada data 0,00 0,00 124,19 22,73 84,07 52,89 208,26 28,38 Jumlah 28,43 100,00 546,32 100,00 158,96 100,00 733,71 100,00
Overall Accuracy = 85
(a) (b) (c)
33
Gambar 10 Peta penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 1988
Berdasarkan interpretasi citra Landsat TM tahun 1988, tipe penutupan lahan yang terluas adalah hutan dengan luas 475,33 ha atau bila dipersentasekan adalah sebesar 64%. Seluruh kawasan hutan berada pada punggung sampai puncak bukit atau gunung dan memiliki topografi yang sulit. Sebagian besar hutan di kawasan Lempur dikelilingi oleh kebun kayu manis. Masyarakat menyebut hutan ini sebagai kawasan hulu air karena menjadi sumber air bagi kehidupan mereka. Tipe penutupan lahan terluas kedua yaitu tidak ada data. Luas penutupan lahan ini terkait dengan kondisi saat penyiaman citra. Tidak ada data merupakan gabungan dari awan dan bayangannya.
Kebun kayu manis merupakan penutupan lahan yang wilayahnya paling luas ketiga. Adapun luasnya sebesar 39,23 ha atau bila dipersentasikan sebesar 5,35%. Sebagian besar masyarakat lempur memiliki kebun kayu manis yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu kayu manis menjadi hasil perkebunan utama di kawasan Lempur. Tipe penutupan lahan terluas keempat adalah semak belukar. Semak belukar merupakan lahan berupa rumput, ilalang atau tumbuhan bawah yang tumbuh dilahan bekas garapan tanaman kayu manis. Semak belukar ini tumbuh bersamaan dengan anakan kayu manis.
5.2.4 Penutupan lahan tahun 2008
Berikut ini akan disajikan tipe penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 2008 berikut dengan luasnya. Data disajikan dalam bentuk tabel seperti Tabel 3, untuk memudahkan melakukan analisis penutupan lahan tahun 2008.
Tabel 3 Penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 2008
No Penutupan lahan HA. Bukit Setangis HA. Gunung Batuah
HA. Hulu Air
Tanjung Jumlah Ha % Ha % Ha % Ha % 1 Hutan 19,01 65,36 342,93 62,13 55,48 34,18 417,42 56,12 2 Kebun kayu manis 9,90 34,36 72,290 13,10 19,01 11,71 101,29 13,62 3 Semak belukar 0,08 0,28 10,153 1,84 3,74 2,30 13,97 1,88 4 Lahan terbuka 0,49 1,68 2,07 0,37 0,00 0,00 2,56 0,34 5 Tidak ada data 0,00 0,00 124,48 22,55 84,07 51,80 208,55 28,04 Jumlah 29,08 100,00 551,92 100,00 162,29 100,00 743,778 100 Overall Accuracy = 80 %
35
Gambar 11 Peta penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 2008.
Berdasarkan interpretasi citra Landsat ETM tahun 2008, tipe penutupan lahan terluas adalah hutan. Adapun luas penutupan lahan hutan adalah 417,42 ha atau menempati 56,12% dari luas total kawasan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur. Bagian hutan adat yang memiliki penutupan lahan hutan terluas dibandingkan dengan bagian hutan adat lainnya adalah HA Gunung Batuah yaitu seluas 342,93 ha dan bagian hutan adat yang mempunyai penutupan lahan hutan tersempit adalah HA Bukit Setangis dengan luas 19,01 ha. Sementara itu tipe penutupan lahan terluas kedua yaitu tidak ada data. Luas penutupan lahan ini terkait dengan kondisi saat penyiaman citra.
Kebun kayu manis merupakan tipe penutupan lahan yang memiliki luas terbesar ketiga. Adapun luasnya adalah 101,29 ha atau menempati 13,62% dari luas total hutan adat. Bagian hutan adat yang memiliki penutupan lahan kebun campuran terluas dibandingkan dengan bagian hutan adat lainnya adalah HA Gunung Batuah yaitu seluas 72,29 ha dan bagian hutan adat yang mempunyai penutupan lahan hutan paling kecil adalah HA Bukit Setangis dengan luas 9,99 ha.
Tipe penutupan lahan terluas keempat adalah semak belukar. Adapun luasnya adalah 13,97 ha atau menempati 1,88% dari luas total hutan adat. Sebagian besar semak belukar ini tumbuh dilahan bekas kebun kayu manis yang telah dipanen. Tipe penutupan lahan berikutnya yaitu lahan terbuka. Lahan terbuka ini terdapat pada kebun kayu manis yang baru dipanen. Masyarakat akan membiarkan lahan tersebut terbuka, setelah kayu manisnya dipanen, hingga tumbuh semak belukar serta tumbuh anakan tanaman kayu manis yang muncul dari tunggak induknya.
5.2.5 Perubahan penutupan lahan
Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat TM dan ETM tahun 1988 dan 2008, Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur mengalami perubahan penutupan lahan pada setiap penutupan lahannya. Laju degradasi penutupan lahan yang terjadi disajikan dalam Tabel 4.
37
Tabel 4 Laju degradasi penutupan lahan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur tahun 1988 dan 2008 No Penutupan lahan Tahun Perubahan tutupan lahan 1988 2008 Luas (ha) Persentase (%) Luas (ha) Persentase (%) Luas (ha) Laju(%)/ 20 Th Laju (%) / tahun 1 Hutan 475 64,78 417 56,12 -58 -12,21 -0,61 2 Kebun kayu manis 39,23 5,35 101 13,62 62,06 158,20 7,91 3 Semak belukar 10,88 1,48 14 1,88 3,12 28,68 1,43 4 Lahan terbuka 0 0 2,18 0,34 2,18 0 0 5 Tidak ada data 208,26 28,38 208,55 28,04 0 0 0 Jumlah 733,71 100 742,73 100 - -
Tipe penutupan lahan yang mengalami peningkatan luas wilayah dalam jumlah yang paling besar adalah kebun kayu manis. Penutupan lahan kebun kayu manis mengalami peningkatan pada tahun 2008 sebesar 62,06 ha atau 158,18% lebih luas dibandingkan dengan tahun 1988. Peningkatan kebun kayu manis ini terjadi karena tuntutan ekonomi dimana masyarakat lempur yang melakukan kegiatan pembukaan hutan untuk dijadikan kebun kayu manis.
Tabel 5 Perubahan tutupan lahan tahun 1988-2008
No 1988
2008
Hutan Kebun kayu manis Semak
belukar Lahan terbuka Tidak ada data
1 Hutan 391 66,5 9,4 1,86 6,417
2 Kebun kayu manis 12,99 22,7 3 0,08 0,32
3 Semak belukar 2,2 7,7 0,5 0,24 0,162
4 Tidak ada data 10,722 4,3 0,89 0,00 0,00
Luas Total 417 101 14 2,18
Tipe penutupan lain yang mengalami peningkatan luas wilayah adalah semak belukar. Penutupan lahan semak belukar ini mengalami peningkatan luas sebesar 3,12 ha atau 28,68% lebih luas dibandingkan dengan tahun 1988. Peningkatan tutupan semak belukar ini berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kebun kayu manis yang telah ditebang, artinya semak belukar ini tumbuh pada bekas tegakan kayu manis tersebut sehingga semakin luas daerah tebangan kayu manis, maka semakin besar juga luasan semak belukar.
Pada kurun waktu 1988 sampai 2008, tutupan lahan hutan mengalami penurunan luas wilayah sebesar 58 ha atau 12,21% dari luas tahun 1988. Tutupan hutan sebagian besar berubah menjadi kebun kayu manis, semak belukar dan lahan terbuka berturut-turut sebesar 66,5 ha, 9,4 ha dan 1,86 ha (Tabel 5). Tutupan lahan hutan juga mengalami peningkatan luas wilayah sebesar 25,91 ha. Peningkatan luasan kawasan hutan berasal dari perubahan tutupan kebun kayu manis yang ditanam dengan tanaman kehutanan sehingga berubah menjadi hutan. Berdasarkan hasil wawancara, peningkatan hutan ini karena masyarakat mendapatkan bantuan bibit tanaman seperti surian dari pihak TNKS untuk ditanam di daerah hulu air. Hutan ini merupakan hak milik masyarakat dan bebas digarap oleh pemilik lahannya. Karena tuntutan ekonomi, masyarakat yang mempunyai tanah dalam Kawasan Hutan Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur membuka hutan tersebut untuk dijadikan kebun kayu manis.
Pembagian hutan berdasarkan status dan fungsi kawasan hutan dimana Hutan Adat Bukit Setanggis dan Hutan Adat Bukit Kemulau termasuk dalam kategori Areal Penggunaan Lain (APL) memiliki laju perubahan penutupan lahan lebih tinggi dibandingkan Hutan Adat Gunung Batuah yang termasuk dalam Kategori Kawasan Lindung. Hal ini disebabkan karena lokasi Hutan Adat Bukit Setanggis dan Hutan Adat Bukit Kemulau lebih dekat dengan pemukiman masyarakat. Lokasi ini juga memiliki akses yang mudah dibandingkan dengan Hutan Adat Gunung Batuah. Berdasarkan hasil survei, di hutan adat ini banyak ditemukan bekas-bekas tebangan liar oleh masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara, di hutan adat ini sering diambil kayunya untuk menjadi bahan bangunan baik untuk adat, pemerintah desa serta masyarakat. Hal ini yang mempengaruhi laju perubahan tutupan kawasan hutan di hutan adat ini.
Hasil klasifikasi untuk kelas tidak ada data citra tahun 1988 sebesar 208,26 ha, sedangkan hasil klasifikasi citra tahun 2008 sebesar 208,55 ha. Luas kelas tidak ada data kedua periode digabungkan menjadi satu luasan total dan selanjutnya luasan total tidak ada data ini akan menjadi luasan total pada masing- masing tahun. Hal ini yang mengakibatkan luasan hutan berkurang sangat besar.
39