• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaluran Konten Siaran Melalui Internet

Dalam dokumen L A P O R A N K I N E R J A 2017 (Halaman 67-74)

LanDasan huKuM

7. Penyaluran Konten Siaran Melalui Internet

• Definisi Penyiaran tetap menggunakan konsep ”serentak dan bersamaan” serta “One to Many”. Tidak meliputi penyaluran konten yang bersifat interaktif

• Penyelenggara Penyiaran televisi dan/atau radio, dapat menyalurkan konten siarannya melalui internet

• Penggunaan internet untuk penyaluran konten penyiaran terkait dengan konvergensi TIK yang bersifat sangat dinamis dan berhubungan dengan bidang-bidang lain. Oleh karena itu sebaiknya cukup diatur dalam bentuk kaidah penunjuk atau umbrella norm yang mengatur secara khusus dan implementasinya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri

Meskipun dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) disebutkan bahwa RUU Penyiaran masuk dalam prioritas Prolegnas Tahun 2016 sebagai RUU Perubahan, namun memperhatikan substansi dan ketentuan teknis perancangan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, sudah seharusnya UU Penyiaran diganti, mengingat sistematika, materi dan esensinya banyak berubah. Hal ini perlu dilakukan untuk lebih memberikan kepastian dan ketertiban hukum dalam penyiaran dalam rangka mengantisipasi perkembangan teknologi di bidang penyiaran.

Oleh sebab itu, Kemkominfo melakukan berbagai rapat dan persiapan untuk memberikan masukan rancangan revisi UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Capaian dalam penyusunan revisi Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 terangkum pada Tabel 3.14 sebagai berikut:

Tabel 3.14 Capaian Penyusunan Revisi Undang-Undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002

Indikator Kinerja

2015 2016 2017

Target Realisasi % Target Realisasi % Target Realisasi %

Penyusunan Revisi Undang undang Penyiaran No.32 Tahun 2002 Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Revisi Undang Undang Penyiaran No.32 Tahun 2002 Telah dilakukan pembahasan sebanyak 3 kali dengan Tim Ahli DPR yang menghasilkan antara lain: Pembahas-an Kerangka Pikir; & Clustering RUU Penyiaran

30% Pembahasan materi RUU Penyiaran Telah dilakukan pembahasan semua pasal pada draft RUU Penyiaran versi pemerin-tah

100% 1 Naskah 1 Naskah Draft RUU

Sampai saat ini Rancangan UU Penyiaran (RUU Penyiaran) belum disahkan DPR untuk diserahkan kepada pemerintah, sehingga Kominfo belum dapat memberikan masukan final terhadap draft RUU Penyiaran (DIM), namun tim RUU Penyiaran sudah membuat draft RUU Penyiaran versi pemerintah.

Terakhir, Kemkominfo telah menyerahkan isu-isu penting pada Badan Legislasi dan Komisi I terkait penyiaran khususnya bagian tentang Lembaga Penyiaran Publik dan Digitalisasi, dengan substansi antara lain:

• Lembaga Penyiaran Publik terdiri atas LPP RTRI dan LPP Khusus

• Pengelolaan keuangan RTRI adalah BLU

• LP Khusus dapat didirikan oleh: Lembaga Negara berdasarkan konstitusi dan Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Pemda

• BHP dan USO diambil berdasarkan presentase pendapatan kotor

• ASO ditetapkan paling lambat 2 tahun sejak mulai berlakunya Undang-undang

• Penyelenggara Multipleks dilaksanakan oleh LPP TV dan LPS TV

• Digital Dividend dikelola oleh pemerintah untuk keperluan kebencanaan, Pendidikan dan pemanfaatan pita lebar

• Digitalisasi penyiaran radio dilakukan secara simulcast dengan penyiaran analog

InfRasTRuKTuR Dan PEnGELOLaan fREKuEnsI

Untuk mendukung perluasan jangkauan siaran TV Digital dan untuk mendukung LPP TVRI terus memperkuat kualitas siaran serta tampilan layar melalui siaran digital, Kemkominfo memberikan bantuan pemancar digital di 42 lokasi pemancar LPP TVRI. Dengan hal ini diharapkan pada Tahun 2019 jangkauan siaran digital LPP TVRI akan mencapai 78 persen dan jangkauan penduduk mencapai 88 persen.

Gambar 3.6 Peta 42 Lokasi Pemancar Digital LPP TVRI

Banda Aceh TK 2 kw/Ch. 29

Banda Baru Medan TK 5 kw/Ch. 28

Pakanbaru TK 5 kw/Ch. 40

**(USO) Sungai Pakning (Kab. Bengkalis-Riau)

TK 5 kw/Ch. 28

Gn. Manumbing (Bangka) TK 1 kw/Ch. 39

**(USO) Balai Karangan TK 2 kw/Ch. 32

Palangkaraya TK 6 kw/Ch. 30

Banjarmasin TK 3,4 kw/Ch. 31 **(USO) Sangau Ledo

TK 2 kw/Ch. 28 Palembang TK 5 kw/Ch. 29 **(USO) Nunukan TK 3 kw/Ch. 30 Gorontalo TK 2 kw/Ch. 34 *Manado TK 1,2 kw/Ch. 29 **(USO) Ternate TK 2 kw/Ch. 28 **(USO) Panel TK 1 kw/Ch. 46 **(USO) Antambua TK 2 kw/Ch. 30 **(USO) Suwela TK 3 kw/Ch. 44 **(USO) Bukit Sarai (Padang) TK 2 kw/Ch. 30 Surabaya TK 5 kw/Ch. 35 Paltuk TK 5 kw/Ch. 29 Gombel TK 5 kw/Ch. 28 Joglo TK 10 kw/Ch. 42 Pasir Sumbul TK 1 kw/Ch. 23 Panyandakan TK 5 kw/Ch. 35 *Gn. Betung (Lampung)  TK 3 kw/Ch. 33 Bengkulu  TK 5 kw/Ch. 34 *Telanaipura (Jambi)  TK 12 kw/Ch. 44 *Gn. Gompong (Kab. Pesisir Selatan-Sumbar) 

TK 6 kw/Ch. 29

Keterangan:

* Pemancar Digital ITTS II  ** Pemancar Digital 3T (USO) Total: 42 Pemancar Digital

Sibolga TK 1,2 kw/Ch. 30 Denpasar Makassar TK 5 kw/Ch. 29 *Bukit Greser (Ambon) TK 3 kw/Ch. 28 *Oben TK 6 kw/Ch. 29 Polemak (Jayapura-Papua) TK 3,2 kw/Ch. 43 Kendari TK 5 kw/Ch. 30 Pontianak TK 10 kw/Ch. 32 Batam TK 2 kw/Ch. 28 Banda Aceh TK 2 kw/Ch. 29

Banda Baru Medan TK 5 kw/Ch. 28

Pakanbaru TK 5 kw/Ch. 40

**(USO) Sungai Paking (Kab. Bengkalis-Riau)

TK 5 kw/Ch. 28

Gn. Manumbing (Bangka) TK 1 kw/Ch. 39

**(USO) Balai Tarangan TK 2 kw/Ch. 32

Palangkaraya TK 6 kw/Ch. 30 **(USO) Sangau Ledo

TK 2 kw/Ch. 28 Palembang TK 5 kw/Ch. 29 Gorontalo TK 2 kw/Ch. 34 Mamuju TK 3 kw/Ch. 28 *Manado TK 1,2 kw/Ch. 29 **(USO) Ternate TK 2 kw/Ch. 28 **(USO) Wanci TK 1 kw/Ch. 46 **(USO) Antambua TK 2 kw/Ch. 30 **(USO) Bukit Sarai (Padang) TK 2 kw/Ch. 30 Surabaya TK 5 kw/Ch. 35 Paltuk TK 5 kw/Ch. 29 Gombel TK 5 kw/Ch. 28 Joglo TK 10 kw/Ch. 42 Pasir Sumbul TK 1 kw/Ch. 23 Pananjakan TK 5 kw/Ch. 35 *Gn. Betung (Lampung)  TK 3 kw/Ch. 33 Bengkulu  TK 5 kw/Ch. 34 *Telanapura (Jambi)  TK 12 kw/Ch. 44 *Gn. Gompong (Kab. Pesisir Delatan-Sumbar) 

TK 6 kw/Ch. 29

Keterangan:

* Pemancar Digital ITTS II  ** Pemancar Digital 3T (USO) Total: 42 Pemancar Digital

Sibolga TK 1,2 kw/Ch. 23 Mataram TK 1 kw/Ch. 29 Makassar TK 5 kw/Ch. 29 *Bukit Greser (Ambon) TK 3 kw/Ch. 28 *Oben TK 6 kw/Ch. 29 Polemak (Jayapura-Papua) TK 3,2 kw/Ch. 43 Kendari TK 5 kw/Ch. 30 **(USO) Tarakan TK 3 kw/Ch. 30 Gn. Lampu Kaltim TK 5 kw/Ch. 28 Palu TK 2 kw/Ch. 36 Pontianak TK 10 kw/Ch. 32 Batam TK 2 kw/Ch. 28

InfRasTRuKTuR Dan PEnGELOLaan fREKuEnsI

Untuk mendukung perluasan jangkauan siaran TV Digital dan untuk mendukung LPP TVRI terus memperkuat kualitas siaran serta tampilan layar melalui siaran digital, Kemkominfo memberikan bantuan pemancar digital di 42 lokasi pemancar LPP TVRI. Dengan hal ini diharapkan pada Tahun 2019 jangkauan siaran digital LPP TVRI akan mencapai 78 persen dan jangkauan penduduk mencapai 88 persen.

Gambar 3.6 Peta 42 Lokasi Pemancar Digital LPP TVRI

Banda Aceh TK 2 kw/Ch. 29

Banda Baru Medan TK 5 kw/Ch. 28

Pakanbaru TK 5 kw/Ch. 40

**(USO) Sungai Pakning (Kab. Bengkalis-Riau)

TK 5 kw/Ch. 28

Gn. Manumbing (Bangka) TK 1 kw/Ch. 39

**(USO) Balai Karangan TK 2 kw/Ch. 32

Palangkaraya TK 6 kw/Ch. 30

Banjarmasin TK 3,4 kw/Ch. 31 **(USO) Sangau Ledo

TK 2 kw/Ch. 28 Palembang TK 5 kw/Ch. 29 **(USO) Nunukan TK 3 kw/Ch. 30 Gorontalo TK 2 kw/Ch. 34 *Manado TK 1,2 kw/Ch. 29 **(USO) Ternate TK 2 kw/Ch. 28 **(USO) Panel TK 1 kw/Ch. 46 **(USO) Antambua TK 2 kw/Ch. 30 **(USO) Suwela TK 3 kw/Ch. 44 **(USO) Bukit Sarai (Padang) TK 2 kw/Ch. 30 Surabaya TK 5 kw/Ch. 35 Paltuk TK 5 kw/Ch. 29 Gombel TK 5 kw/Ch. 28 Joglo TK 10 kw/Ch. 42 Pasir Sumbul TK 1 kw/Ch. 23 Panyandakan TK 5 kw/Ch. 35 *Gn. Betung (Lampung)  TK 3 kw/Ch. 33 Bengkulu  TK 5 kw/Ch. 34 *Telanaipura (Jambi)  TK 12 kw/Ch. 44 *Gn. Gompong (Kab. Pesisir Selatan-Sumbar) 

TK 6 kw/Ch. 29

Keterangan:

* Pemancar Digital ITTS II  ** Pemancar Digital 3T (USO) Total: 42 Pemancar Digital

Sibolga TK 1,2 kw/Ch. 30 Denpasar TK 5 kw/Ch. 30 Makassar TK 5 kw/Ch. 29 *Bukit Greser (Ambon) TK 3 kw/Ch. 28 *Oben TK 6 kw/Ch. 29 Polemak (Jayapura-Papua) TK 3,2 kw/Ch. 43 Kendari TK 5 kw/Ch. 30 Pontianak TK 10 kw/Ch. 32 Batam TK 2 kw/Ch. 28 Banda Aceh TK 2 kw/Ch. 29

Banda Baru Medan TK 5 kw/Ch. 28

Pakanbaru TK 5 kw/Ch. 40

**(USO) Sungai Paking (Kab. Bengkalis-Riau)

TK 5 kw/Ch. 28

Gn. Manumbing (Bangka) TK 1 kw/Ch. 39

**(USO) Balai Tarangan TK 2 kw/Ch. 32

Palangkaraya TK 6 kw/Ch. 30 **(USO) Sangau Ledo

TK 2 kw/Ch. 28 Palembang TK 5 kw/Ch. 29 Gorontalo TK 2 kw/Ch. 34 Mamuju TK 3 kw/Ch. 28 *Manado TK 1,2 kw/Ch. 29 **(USO) Ternate TK 2 kw/Ch. 28 **(USO) Wanci TK 1 kw/Ch. 46 **(USO) Antambua TK 2 kw/Ch. 30 **(USO) Bukit Sarai (Padang) TK 2 kw/Ch. 30 Surabaya TK 5 kw/Ch. 35 Paltuk TK 5 kw/Ch. 29 Gombel TK 5 kw/Ch. 28 Joglo TK 10 kw/Ch. 42 Pasir Sumbul TK 1 kw/Ch. 23 Pananjakan TK 5 kw/Ch. 35 *Gn. Betung (Lampung)  TK 3 kw/Ch. 33 Bengkulu  TK 5 kw/Ch. 34 *Telanapura (Jambi)  TK 12 kw/Ch. 44 *Gn. Gompong (Kab. Pesisir Delatan-Sumbar) 

TK 6 kw/Ch. 29

Keterangan:

* Pemancar Digital ITTS II  ** Pemancar Digital 3T (USO) Total: 42 Pemancar Digital

Sibolga TK 1,2 kw/Ch. 23 Mataram TK 1 kw/Ch. 29 Makassar TK 5 kw/Ch. 29 *Bukit Greser (Ambon) TK 3 kw/Ch. 28 *Oben TK 6 kw/Ch. 29 Polemak (Jayapura-Papua) TK 3,2 kw/Ch. 43 Kendari TK 5 kw/Ch. 30 **(USO) Tarakan TK 3 kw/Ch. 30 Gn. Lampu Kaltim TK 5 kw/Ch. 28 Palu TK 2 kw/Ch. 36 Pontianak TK 10 kw/Ch. 32 Batam TK 2 kw/Ch. 28

Resolusi Jenewa 2006 tentang teknologi penyiaran digital terrestrial merupakan titik awal migrasi teknologi penyiaran dari analog ke teknologi digital. Teknologi penyiaran digital menyajikan keunggulan antara lain; meningkatnya kualitas gambar, meningkatkan efisiensi energi bagi operator televisi, efisiensi penggunaan kanal frekuensi radio dan optimalisasi pemanfaatan spektrum. Efisiensi kanal frekuensi radio didapatkan pada proses multiplikasi konten pada masing-masing kanal frekuensi radio. Teknologi penyiaran televisi digital merubah paradigma penyelenggaraan televisi siaran, dimana dalam 1 kanal (saluran) siaran dapat menyelenggarakan beberapa siaran secara bersamaan.

ANALOG

1 channel = 1 konten

DIGITAL

1 channel = multi konten

Gambar 3.7 Perbedaan Teknologi Penyiaran Analog vs Digital

Sumber: Direktorat Penataan Sumber Daya, Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kemkominfo

Kondisi tersebut mengharuskan pemerintah untuk segera menetapkan regulasi yang dapat mendukung implementasi teknologi televisi siaran digital Indonesia. Efisiensi kanal frekuensi radio akibat implementasi televisi digital (digital dividend) yang dihasilkan sebanyak 14 kanal (112 MHz).

Gambar 3.8 Efisiensi Kanal Frekuensi Radio Akibat Implementasi Televisi Digital (Digital Dividend)

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62

(41 X 8 Mhz / 328 Mhz) analog Television Broadcast

Digital Television Broadcast Channel (27 X 8 Mhz / 216 Mhz) Digital Dividend (112 Mhz)

Sumber: Direktorat Penataan Sumber Daya, Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kemkominfo

Digital Dividend yang dihasilkan dapat digunakan untuk keperluan Public Protection and Disaster Relief (PPDR), Pendidikan, Hankam dan

penyelenggaraan telekomunikasi pita lebar. Regulasi yang mendukung implementasi televisi digital sudah dimulai sejak Tahun 2007 dengan ditetapkannya standar DVB-T sebagai platform teknologi TV Digital

Pada Tahun 2011 Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menetapkan Peraturan Menteri tentang Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi radio untuk keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial 478 – 694 MHz. Konsep revisi Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi Radio untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial menyajikan hal-hal sebagai berikut:

1. Rekomendasi wilayah layanan penyelenggaraan multiplexer TV Digital yang dapat mengakomodir seluruh wilayah administrasi sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan.

2. Rekomendasi opsi pembagian alokasi kanal pada masing-masing wilayah layanan dengan mempertimbangkan ketersediaan alokasi kanal frekuensi untuk keperluan televisi siaran serta konsep model bisnis penyelenggaraan televisi siaran era penyiaran televisi digital. 3. Tersedianya rekomendasi parameter teknis penyelenggaraan

jaringan untuk keperluan TV Digital.

4. Tersedianya usulan timeline implementasi TV digital yang realistis dengan mempertimbangkan kesiapan operator televisi, penyedia perangkat dan kerjasama regional.

Namun penerapan regulasi tersebut masih terhambat oleh permasalahan hukum dan dari evaluasi tahap lanjut, perlu ada konsep opsi perubahan masterplan TV digital yang dapat adaptif dengan hasil revisi Undang – Undang Penyiaran yang masih dibahas oleh DPR-RI. Revisi masterplan televisi digital yang rencananya dilakukan pada Tahun 2017 mengalami penundaan karena saat ini tengah dilakukan revisi Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 yang didalamnya mengatur penyelenggaraan televisi digital, termasuk didalamnya model bisnis, mekanisme multiplexer, Analog Switch Off (ASO) dan hal-hal terkait lainnya. Status perubahan RUU Penyiaran yang merupakan inisiatif DPR ini masih dalam tahap pembahasan ditingkat Badan Legislasi DPR. Terkait hal tersebut, Kementerian Kominfo dalam hal ini Ditjen SDPPI dan Ditjen PPI terus memantau progres perkembangannya.

Dengan pertimbangan tersebut maka diputuskan bahwa finalisasi Perubahan Masterplan televisi digital baru dapat dilakukan sampai ditetapkannya RUU Penyiaran yang baru. Hal ini dimaksudkan agar perubahan masterplan televisi digital in line dengan kebijakan yang ditetapkan di Undang-Undang. Sehubungan dengan hal tersebut, yang pada awalnya ditargetkan melakukan perubahan masterplan televisi digital, difokuskan untuk melakukan perubahan masterplan televisi analog (PM No. 31/2014) guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan televisi analog sehingga dapat meminimalisir timbulnya masalah dikemudian hari saat ditetapkannya siaran televisi digital di

Perubahan RPM Masterplan televisi analog dititik beratkan untuk mencabut pasal perluasan televisi analog dimana hal ini sejalan dengan moratorium televisi analog yang diatur melalui Surat Edaran Menkominfo Nomor 1 Tahun 2017. Pada akhir Tahun 2017, Direktorat Penataan Sumber Daya telah membuat Draft Revisi PM31/2017 dan telah dilakukan beberapakali pembahasan dengan Bagian Hukum Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI). Dengan dicabutnya pasal perluasan televisi analog melalui Revisi PM No. 31/2014, maka tidak ada lagi penetapan baru untuk televisi analog. Hal ini sangat penting guna mendukung implementasi televisi digital. Penyelenggaraan Industri Penyiaran

TV merupakan suatu media informasi yang sangat strategis dan efektif bagi masyarakat untuk penyampaian atau penyebaran informasi yang dapat berperan dalam pembangunan karakter bangsa, memajukan ekonomi negara, dan mempererat persatuan bangsa. Menyadari manfaat seperti tersebut diatas, minat masyarakat industri penyiaran begitu besar, seperti terlihat pada pemohon izin LPS (Lembaga Penyiaran Swasta) Lokal yang jumlahnya begitu banyak, sehingga tidak mungkin tertampung dalam alokasi kanal frekuensi yang tersedia. Melalui implementasi siaran TV digital yang dapat menyalurkan 9 sampai dengan 12 program siaran dalam satu kanal frekuensi, diharapkan masalah ini dapat teratasi.

Menyadari kebutuhan kanal frekuensi yang makin meningkat, masyarakat yang menuntut kualitas, ragam dan jumlah program siaran untuk meningkatkan kualitas hidup, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika mulai melakukan migrasi sistem penyiaran TV secara analog menuju sistem penyiaran TV secara digital di Indonesia. Sejak Juni 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama-sama dengan LPP TVRI dan LPS Penyedia Konten telah melakukan Uji Coba Siaran TV Digital secara komprehensif dalam rangka menetapkan arah penyiaran kedepan khususnya penyelenggaraan penyiaran dengan sistem digital yang akan diatur dalam perubahan undang-undang tentang penyiaran. a) Tujuan

Uji Coba Siaran TV Digital diselenggarakan dengan tujuan untuk melakukan penelitian aspek teknis dan aspek non teknis terkait penyelenggaraan penyiaran secara digital.

Aspek teknis sebagaimana dimaksud meliputi:

1. Kinerja perangkat dan sistem penyiaran multipleksing;

2. Perencanaan dan konfigurasi jaringan SFN, MFN, dan/atau

Dalam satu kanal

Dalam dokumen L A P O R A N K I N E R J A 2017 (Halaman 67-74)

Dokumen terkait