• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk wanprestasi pada PT. BPR Aditama Arta berdasarkan perjanjian kredit pada disebutkan dalam Pasal 14 ayat (1) bahwa tindakan debitur yang dapat menyebabkan wanprestasi ialah:

a. Debitur tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian kredit ini.

b. Debitur melakukan penyimpangan atas tujuan penggunaan kredit

122 Ibid., h. 46

71

sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 3 perjanjian kredit ini.

c. Barang yang menjadi agunan beralih kepihak lain, musnah atau hilang, disita oleh instansi yang berwenang atau mendapat tuntutan dari pihak lain yang menurut pertimbangan Bank dapat mempengaruhi kondisi kredit dan/atau Debitur.

d. tidak melakukan pembayaran hutangnya yang telah jatuh tempo.

e. Debitur lalai dan/atau tidak melakukan pembayaran sehingga kreditnya menunggak baik pokok maupun bunganya lebih dari 1 (satu) hari.

Berdasarkan hasil kuesioner terhadap debitur PT. BPR Aditama Arta yang ditetapkan melakukan wanprestasi sejak bulan Maret 2020 hingga bulan Oktober 2020 yang disesuaikan dengan isi perjanjian kredit tahun 2020 adalah sebagai berikut:

Tabel 3

Bentuk Wanprestasi pada PT. BPR Aditama Arta n = 35 No. Bentuk Wanprestasi Frekuensi Persentase

1. Debitur tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian kredit ini.

0 0%

2. Debitur melakukan penyimpangan atas tujuan penggunaan kredit sebagaimana yang telah tercantum dalam perjanjian kredit

0 0%

3. Barang yang menjadi agunan beralih kepihak lain, musnah atau hilang, disita oleh instansi yang berwenang atau mendapat tuntutan dari pihak lain yang menurut pertimbangan Bank dapat mempengaruhi kondisi kredit dan/atau Debitur.

0 0%

4. Debitur tidak melakukan pembayaran hutangnya yang telah jatuh tempo.

11 31,43%

5. Debitur lalai dan/atau tidak melakukan pembayaran sehingga kreditnya menunggak baik pokok maupun bunganya lebih dari 1 (satu) hari.

24 68,57%

TOTAL 35 100%

Sumber: Diolah dari unsur-unsur perjanjian kredit BPR tahun 2020 Kesimpulan yang dapat diambil ialah debitur PT. BPR Aditama Arta ditetapkan melakukan wanprestasi karena debitur tidak melakukan pembayaran hutangnya yang telah jatuh tempo dan debitur lalai dan/atau tidak melakukan pembayaran sehingga kreditnya menunggak baik pokok maupun bunganya lebih dari 1 (satu) hari. Dikaitkan dengan ajaran Subekti, debitur PT. BPR Aditama Arta melakukan wanprestasi berupa melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat.

73

Adapun faktor yang mempengaruhi terjadinya wanprestasi adalah:123 1) Turunnya nilai usaha

Nasabah kurang menguasai secara teknis usaha yang dijalankan.

Akibatnya, hasil kerja kurang maksimal dan kurang berkualitas sehingga mempengaruhi minat masyarakat dalam mengonsumsi produk yang dijualnya. Keadaan ini mempengaruhi penghasilan nasabah tidak menggembirakan, sehingga berpengaruh pula terhadap kelancaran pelunasan kreditnya.

2) Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah setempat

Kebijakan Pemerintah mengenai pelaksanaan perjanjian kredit akan sangat menentukan bagaimana pelaksanaannya di lapangan dapat dilaksanakan dengan baik. Contohnya seperti seorang nasabah yang berprofesi sebagai kontraktor dimana nasabah tersebut bekerja sama dengan pemerintah, dianggap wanprestasi karena terjadi keterlambatan pembayaran gaji yang harus diterima nasabah tersebut dikarenakan terdapat kebijakan pergantian pemerintah.

Hasil kuesioner yang disesuaikakan dengan buku Gatot Supramono sebagai indikator untuk mengklasifikasi faktor penyebab terjadinya wanprestasi terhadap debitur PT. BPR Aditama Arta yang melakukan wanprestasi perjanjian kredit dari bulan Maret 2020 sampai bulan Oktober 2020 menunjukan bahwa faktor penyebab para debitur melakukan wanprestasi ialah:

123 Wawancara dengan Harmanista Sebayang, Kepala Bagian Kredit PT. BPR Aditama Arta, Bekasi, tanggal 27 November 2020

Tabel 4

Faktor penyebab terjadinya wanprestasi pada PT. BPR Aditama Arta

n = 35 No. Faktor Penyebab Frekuensi Persentase

1. Turunnya nilai

usaha/pendapatan

35 100%

2. Menyalahgunakan tujuan kredit

0 0%

3. Tidak beritikad baik 0 0%

Jumlah 35 100%

Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab debitur PT. BPR Aditama Arta melakukan wanprestasi perjanjian kredit adalah terjadinya penurunan nilai usaha atau pendapatan dari debitur tersebut.

C. Akibat Hukum bagi Nasabah/Debitur yang Wanprestasi dalam Perjanjian Kredit pada PT. BPR Aditama Arta

Wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu penting, maka harus ditetapkan lebih dahulu apakah si berutang melakukan wanprestasi atau lalai, dan kalau hal itu disangkal olehnya, harus dibuktikan di muka hakim.

Kadang-kadang juga tidak mudah untuk mengatakan seseorang lalai atau alpa, karena seringkali juga tidak dijanjikan dengan tepat kapan suatu pihak diwajibkan melakukan prestasi yang dijanjikan.124

Tentang bagaimana caranya memperingatkan seorang debitur, agar jika ia tidak memenuhi teguran itu dapat dikatakan lalai diberikan petunjuk oleh

124 Rina Antasari, Fauziah, Op.cit., h. 36

75

Pasal 1238 KUHPerdata. Pasal tersebut berbunyi:

“si berutang adalah lalai, bila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri jika ia menetapkan bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Cara memperingatkan debitur PT. BPR Aditama Arta yang melakukan wanprestasi perjanjian kredit ialah dengan memberikan surat peringatan.

Pihak PT. BPR Aditama Arta memberikan surat peringatan kepada debitur yang telah melakukan wanprestasi paling banyak 3 (tiga) kali secara tertulis.

Dalam surat peringatan tersebut termuat jumlah sisa baki debet, tunggakan kredit, dan batas waktu pembayaran tunggakan tersebut. Dengan surat peringatan tersebut, debitur diminta untuk memenuhi angsuran sesuai dengan yang telah diperjanjikan.125

Debitur yang tidak mengindahkan surat peringatan pertama dan kedua akan dilakukan restrukturisasi. Restrukturisasi akan diberikan apabila debitur mengajukan permohonan restrukturisasi secara tertulis dan telah dianalisis oleh bagian kredit terkait watak (character), kemampuan (capacity), modal (capital), agunan (collateral) dan prospek usaha Debitur (condition of economy) dan penelitian terhadap sumber pelunasan kredit baik sumber

tersebut berasal dari hasil usaha yang dibiayai oleh PT. BPR Aditama Arta maupun hasil usaha debitur tersebut. Permohonan restrukturisasi kredit yang disetujui dapat dilakukan pengikatan.

125 Wawancara dengan Harmanista Sebayang, Kepala Bagian Kredit PT. BPR Aditama Arta, Bekasi, tanggal 27 November 2020

Debitur yang tidak mengindahkan surat peringatan ketiga yang telah diberikan maka kreditur akan melakukan penarikan jaminan.126 Berdasarkan ketentuan Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan dan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Jaminan Fidusia menjelaskan bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama dan penerima fidusia berhak untuk melakukan eksekusi terhadap obyek hak tanggungan maupun obyek jaminan fidusia jika debitur melakukan wanprestasi (cidera janji). Eksekusi tersebut dilakukan dengan cara parate executie, dimana pemegang hak tanggungan maupun penerima fidusia dalam melakukan eksekusi tidak memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari pemberi hak tanggungan atau pemberi fidusia, dan tidak memerlukan penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri. Parate executie tersebut memiliki kekuatan eksekutorial yang memberikan kekuatan yang sama dengan putusan dari pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap.

Hal ini dikarenakan dalam parate executie terdapat irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang tercantum pada Sertifikat Hak Tanggungan dan Sertifikat Jaminan Fidusia.

Bagi debitur PT. BPR Aditama Arta yang menjaminkan tanah/bangunan maka akan di proses pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Jaminan yang berupa kendaraan akan ditarik untuk dijual. PT. BPR Aditama Arta akan melakukan penarikan tersebut dengan mengedepankan cara persuasif yakni dengan menanyakan kesedian

126 Wawancara dengan Harmanista Sebayang, Kepala Bagian Kredit PT. BPR Aditama Arta, Bekasi, tanggal 27 November 2020

77

debitur untuk menjual jaminan tersebut dengan harga yang sesuai dengan harga jual, tidak dijual dengan harga sesuai sisa baki debet si debitur.127

Berdasarkan hasil kuesioner terhadap debitur PT. BPR Aditama Arta yang melakukan wanprestasi perjanjian kredit dari bulan Maret 2020 sampai bulan Oktober 2020 menunjukan bahwa akibat hukum dari perbuatan wanprestasi yang telah dilakukan ialah menerima surat teguran. Surat teguran bukanlah merupakan suatu akibat hukum yang seharusnya diterima oleh debitur. Hal ini dapat terjadi karena terdapat perbedaan pengetahuan antara masyarakat awam dengan yang belajar hukum. Akibat hukum yang diterima oleh debitur ialah perikatan antara debitur dan kreditur tetap ada yang tercermin dari upaya penyelamatan kredit yang diterima debitur.

127 Wawancara dengan Harmanista Sebayang, Kepala Bagian Kredit PT. BPR Aditama Arta, Bekasi, tanggal 27 November 2020

BAB IV

UPAYA PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT YANG DIAKIBATKAN PANDEMI COVID-19 PADA PT. BPR

ADITAMA ARTA A. Wanprestasi Akibat Terjadinya Pandemi COVID-19

Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang.128 COVID-19 telah ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi global setelah menjangkiti lebih dari 118.000 orang dan menyebabkan kematian lebih dari 4.000 orang di 114 negara pada 11 Maret 2020. Pneumonia yang disebabkan oleh SARS-CoV 2 atau coronavirus ini menjadi ancaman serius bagi negara-negara di dunia karena sifat penyebarannya yang cepat.129 Pemerintah Indonesia pada tanggal 31 Maret 2020 dalam Keppres Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, telah menetapkan bahwa pandemi corona ini sebagai jenis penyakit yang dapat menimbulkan kedaruratan kesehatan terhadap masyarakat.130

Penyebaran pandemi ini yang pada awalnya murni masalah kesehatan akhirnya berdampak pada aspek lain, seperti aspek sosial ekonomi. Kementerian Sosial Republik Indonesia mempublikasikan bahwa dampak dari penyebaran COVID-19 mempengaruhi sektor sosial ekonomi di Indonesia dan pernyataan dari WHO yang menyatakan COVID-19 sebagai Global Pancdemic merupakan

128 Wikipedia, Pandemi COVID-19 di Indonesia,

https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_COVID-19_di_Indonesia diakses tanggal 20 Mei 2021 pukul 21.00

129 Mustakim dan Syafrida, Pandemi Covid-19 Sebagai Alasan Force Majeur Dalam Melakukan Pemutusan Hubungan Kerja di Indonesia, Jurnal Sosial & Budaya Syar-i, Vol. 7, No.

8, 2020, h. 696

130 Rossanti Qorry Aina dan Dwi Aryanti Ramadhani, Penyelesaian Sengketa Pembatalan Perjanjian Kontrak Kerja Sebelum Dan Sesudah Pandemi Covid-19, Jurnal Kertha Semaya, Vol. 9, No. 2, 2021, h. 196

79

hal yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional (selanjutnya disebut dengan Keppres 12/2020) pada tanggal 13 April 2020.131 Penetapan pemerintah tersebut menginformasikan bahwa Covid-19 telah melanda dan berdampak di seluruh wilayah Indonesia. Wadah Covid-19 berdampak dan mempengaruhi berbagai sektor terutama sektor ekonomi, karena itu dinyatakan sebagai bencana nasional non-alam. Pemerintah menetapkan kebijakan untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19, yang kemudian membawa akibat pada berbagai sektor terutama sektor ekonomi.132

Penetapan Covid-19 sebagai pandemi global, menyebabkan terganggunya segala aktivitas masyarakat termasuk kegiatan perekonomian.133 Kebijakan PSBB mengakibatkan ruang gerak berusaha para pedagang, pengendara moda transportasi online dan pedagang kecil lain yang merupakan debitur produk kredit menjadi tidak ada pemasukannya. Kondisi ini juga mengakibatkan pelaksanaan prestasi suatu perjanjian terhambat karena bisnis tidak berjalan secara lancar. Fenomena pandemi ini, telah menyebabkan pelaksanaan suatu prestasi para pihak dalam perjanjian terhambat atau bahkan tidak dapat dilaksanakan sama sekali.134

Diterbitkannya Keppres 12/2020 menimbulkan spekulasi di kalangan pelaku usaha yang mengganggap bahwa peraturan tersebut sebagai landasan

131 Putu Bagus Tutuan Aris Kaya dan Ni Ketut Supasti Dharmawan, Kajian Force Majeure Terkait Pemenuhan Prestasi Perjanjian Komersial Pasca Penetapan Covid-19 Sebagai Bencana Nasional, Jurnal Kertha Semaya, Vol. 8, No. 6, 2020, h. 892

132 Marhaeni Ria Siombo dan Emmanuel Ariananto Waluyo Adi, Implikasi Keppres No. 12 Tahun 2020 PAda Perusahaan Pembiayaan, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 5, No. 1, Oktober 2020, h.

86

133 Rossanti Qorry Aina dan Dwi Aryanti Ramadhani, Op.cit.

134 Putu Bagus Tutuan Aris Kaya dan Ni Ketut Supasti Dharmawan, Op.cit., h. 893

hukum force majeure. Alasannya karena bencana adalah sebuah force majeure, kejadian luar biasa yang menyebabkan orang tidak mampu memenuhi prestasinya karena peristiwa yang di luar kemampuannya. Sehingga, perjanjian-perjanjian atau kontrak keperdaataan secara otomatis dapat diubah atau dibatalkan.135

Mahfud MD mengatakan bahwa anggapan Keppres 12/2020 sebagai dasar untuk membatalkan kontrak-kontrak keperdataan, terutama kontrak-kontrak bisnis merupakan kekeliruan. Beliau menjelaskan bahwa force majeure memang tidak bisa secara otomatis dijadikan alasan pembatalan kontrak tetapi memang bisa dijadikan pintu masuk untuk bernegosiasi dalam membatalkan atau mengubah isi kontrak. Kontrak harus tetap dilaksanakan sesuai dengan isinya karena menurut Pasal 1338 KUHPerdata menyatakan setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi yang membuatnya.136

Berkaitan dengan pandangan tersebut, Tan Kamello beranggapan bahwa pengaruh force majeure dalam perjanjian pokok dan jaminan secara teoritis yaitu perjanjian tersebut masih tetap ada tetapi daya kerja perjanjian tersebut sudah berhenti. Jadi dalam keadaan force majeure perjanjian pokok dan perjanjian jaminan kebendaan tidak dapat dibatalkan oleh para pihak.137

Menurut Tan Kamello, secara yuridis-normatif pengkategorian COVID-19 sebagai bencana non-alam berdasarkan Keppres 12/2020 sudah tepat, apabila dikaitkan dengan teori force majeure maka pengkategorian COVID-19 sebagai

135 Mochamad Januar Rizki, Penjelasan Prof Mahfud Soal Force Majeure Akibat Pandemi Corona, https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5ea11ca6a5956/penjelasan-prof-mahfud-soal-i-forcemajeure-i-akibat-pandemi-corona/, diakses pada tanggal 7 Mei 2021, pukul 19.00 WIB

136 Ibid.

137 Webinar Implikasi dan Solusi Pandemi Covid-19 Terhadap Jaminan dalam Kontrak, UNDIP, ditayangkan live pada tanggal 10 Juni 2020

81

bencana non-alam tidak dapat dijadikan parameter penentuan force majeure tetapi peristiwa yang terjadi yang seharusnya menjadi parameter. Lebih lanjut, dalam force majeure tidak dipersoalkan mengenai pembatalan kontrak melainkan mengenai prestasi yang tidak dapat bekerja karena di luar kesalahan debitur.138

Menanggapi pandangan Mahfud M D, Tan Kamello menjelaskan bahwa Keputusan Presiden tersebut menjadi pintu masuk yang jika dimasuki maka berisi mengenai darurat kesehatan yaitu bencana non-alam, yang mana Keppres yang dikeluarkan dapat bersifat umum ataupun khusus. Terkait Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020, Tan Kamello menilai Keppres tersebut bersifat lebih khusus daripada ajaran force majeure yang diketahui saat ini. 139

Keadaan memaksa tidak bisa secara serta merta dijadikan alasan pembatalan kontrak dengan alasan force majeur. Sebelumnya harus dilihat terlebih dahulu apakah dalam klausul kontrak terdapat adanya kesepakatan bahwa pada saat pelaksanaannya terjadi kejadian memaksa, maka isi dalam kontrak dapat disimpangi. Selain itu perlu dipahami pula jenis force majeur yang terjadi, yang mana dicantumkan dalam klausul kontrak.

Adapun jenisnya yaitu force majeur absolut dan force majeur relatif.

Force majeur absolut adalah kejadian atau peristiwa yang secara mutlak

meniadakan kemampuan pihak untuk pemenuhan atas suatu prestasi. Force majeur relatif adalah keadaan memaksa itu ada namun masih terdapat

138 Webinar Fakultas Hukum USU, Force Majeure dalam Hubungannya Dengan Keppres No. 12 Tahun 2020, ditayangkan 29 April 2020

139 Webinar Implikasi dan Solusi Pandemi Covid-19 Terhadap Jaminan dalam Kontrak, Op.cit.

alternatif yang disubstitusikan, dikompensasikan, ditunda dalam pemenuhan prestasinya.140

Mengenai teori force majeure, Tan Kamello mengemukakan suatu ajaran baru yaitu ajaran force majeure subjektif khusus. Melalui hasil pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan dengan beberapa perbankan, tergambar bahwa kondisi masyarakat saat ini ada pada tingkat pendapatan yang sangat kurang tetapi masih melakukan upaya untuk bertahan. Dalam situasi ini pemerintah juga tengah mengupayakan pemberian keringanan bagi angsuran pada lembaga keuangan. Kondisi tersebut yang menunjukaan adanya ajaran subjektif. 141

Suatu hal yang dapat mendasari ajaran ini selain hal sebelumnya yaitu sifat produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang sifatnya didasarkan kepada daya berlakunya peraturan tersebut yaitu apakah peraturan itu sebagai sumber hukum formal atau sebagai pedoman.

Dalam hal ini, Keppres 12/2020 bersifat lebih khusus dari ajaran force majeure lain halnya apabila produk hukum yang dikeluarkan bukan berbentuk

Keppres misalnya undang-undang yang menyatakan masa pandemi COVID-19 termasuk keadaan darurat dengan konsekuensi yang sangat berat maka tidak termasuk dalam ajaran force majeure subjektif khusus tapi termasuk ajaran objektif.142

140 Anisa Dian Arini, Pandemi Corona Sebagai Alasan Force Majeure Dalam Suatu Kontrak Bisnis, Supremasi Hukum, Vol. 9, No. 1, Juni 2020, h. 54

141 Webinar Implikasi dan Solusi Pandemi Covid-19 Terhadap Jaminan dalam Kontrak, Op.cit.

142 Ibid.

83