• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran lingkungan bahasa dalam pemerolehan bahasa

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN (Halaman 36-41)

Secara umum lingkungan bahasa di bagi kepada dua jenis yaitu lingkungan bahasa buatan (artifisial) dan lingkungan bahasa alamiah (natural). Kedua lingkungan ini mempunyai peran dalam pemerolehan bahasa, karena dalam lingkungan bahasa

37

yang paling menguat adalah pemerolehan bahasa dengan berbagai macam aktifitas buatan dan alamiah yang berlangsung di dalamnya. Peran lingkungan bahasa berdasarkan dua jenis lingkungan tersebut dapat di pahami pada penjelasan berikut (Nia Rahmawati 2018):

1. Peran lingkungan bahasa buatan. Pada berbagai literatur pembelajaran bahasa kedua lingkungan bahasa buatan mempunyai peran dalam kesuksesan pencapaian bahasa kedua atau asing yang sedang dipelajari.

Lingkungan bahasa buatan berfungsi sebagai perbaikan bahasa yang salah (tashih al-akhto’), perluasan bahasa (tausi’ lgughoh), dan pengulangan (at-tikror). Fungsi perbaikan bahasa yang salah dalam penggunaan bahasa arab karena dalam lingkungan bahasa buatan di haruskan peserta didik dan seluruh yang terlibat dalam penerapannya menggunakan bahasa fusha yaitu sesuai dengan aturan tatabahasa.

Fungsi perluasan kebahasaan dan pengembangan mufrodat terjadi dengan memberikan waktu khusus kepada peserta didik menggunakan bahasa arab dengan pengawasan pengajar. Dalam penerapnnya tentu peserta didik akan menggunakan bahasa arab dengan bentuk-bentuk yang berbeda-beda walaupun dengan satu mufrodat. Fungsi pengulangan bahasa karena di dalam lingkungan tersebut peserta didik akan terus menerus melakukan pengulangan akan bahasa yang sudah di milikinya. Bahasa yang sudah di biasakan akan menjadi bahasa yang masuk kedalam jiwa peserta didik sehingga menjadi jati dirinya.

2. Lingkungan alamiah. Lingkugan ini sangat berperan terhadap pemerolehan bahasa pada peserta didik karena sudah berjalan secara alamiah karena pada lingkungan ini bahasa berjalan secara alamiah tanpa harus memperhatikan aturan tata bahasa yang baku. Konsep umum yang berlaku adalah saling faham atas isi ucapan dalam percakapan, karena pertukaran informasi yang berjalan terdapat pada informasi yang umum tidak resmi. Pewajiban lingkungan wajib berbahasa pada hakikatnya akan menciptakan bahasa yang dapat di

38

pahami oleh anggota yang ada pada lingkungan tersebut dengan uslub-uslub kebiasaan mereka (Musa 1998).

Bahasa pada hakikatnya untuk di pelajari dengan berbagai bentuk cara berlandaskan teori. Bahasa harus menjadi darah pada peserta didiknya sehingga harus mengalir secara alamiah tanpa harus konsep redaksi sehingga menyebabkan keterlambatan. Banyak lembaga pendidikan yang sudah mencanangkan bahasa arab atau bahasa asing lainnya akantetapi tidak banyak yang berhasil dalam menjalankan program kebahasaan.

I. Tujuan Penerapan Lingkungan Bahasa

Lingkungan bahasa Arab di terapkan dengan tujuan menciptakan suasana bahasa Arab yang seolah-olah berada di negeri Arab. Bahasa-bahasa yang digunakan dalam berbagai macam intraksi menggunakan bahasa Arab, baik formal maupun informal. Kehidupan terbentuk seperti tinggal di negara Arab yang di dalam lingkungan tersebut semua mampu menggunakan bahasa Arab tanpa terkecuali. Dalam penerapannya lebih mengedepankan bahwa bahasa Arab bukan sebagai materi ajar akantetapi sebagai alat komunikasi. Ada beberapa tujuan penerapan lingkungan bahasa Arab diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Menguatkan keinginan peserta didik dalam menggunakan bahasa Arab sebagai sarana komunikasi baik pada penerapan hiwar, diskusi, seminar, khutbah atau dalam ungkpan bahasa tulisan. Segala aktifitas yang di rancang dan diterapkan di arahkan untuk menjadi pemancing bagi peserta didik dan sebagai pemacu untuk tetap menggunakan bahasa arab. hiwar sebagai kegiatan yang di siapkan untuk berkomunikasi dua arah yang menjadi kebutuahan setiap orang sehingga forsinya harus menjadi perhatian. Ujaran-ujarannya harus lebih banyak di ajarkan sehingga dalam aktifitas komunikatif lebih dapat berkembang. Aktifitas-aktifitas yang lain menjadi pendukung untuk pembiasaan atau kegiatan tambahan.

2. Memberikan penguatan dalam pemerolehan bahasa Arab. dorongan baik berbentuk motivasi ataupun dalam bentuk ketauladanan harus terus di kedepankan sehingga tidak hanya arahan saja akantetapi juga di contohkan

39

langsung di hadapan mereka. Selain untuk ketauladan juga sebagai mengajarkan ujaran tanpa harus dalam ruang belajar, dan kondisi ini yang menjadi kelebihan dalam lingkungan bahasa Arab.

3. Meningkatkan kreatifitas dan kegiatan bahasa Arab secara lengkap baik secara teori maupun praktek pada kegiatan-kegiatan yang tidak resmi.

Kegiatan-kegiatan yang di laksanakan tidak harus kegiatan yang sama dilaksanakan secara berulangan-ulang mengakibatkan kebosanan.

Kreatifitas sangat dibutuhkan dalam posisi ini karena walaupun kegiatan sama akantetapi dengan pelaksanaan yang berbeda membuat kegiatan tersebut tetap menjadi suasana yang baru begi peserta didik.

Aktifitas lingkungan bahasa Arab secara umum untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab pada peserta didik dengan berbagai macam kegiatan yang di setting secara khusus dengan menguatkan keinginan melalui kreatifitas pembelajaran. Keinginan penguasaan sebagai tareget utama yang harus di munculkan pada pesrta didik maka pada awalnya memberikan kelonggaran penggunaan bahasa Indonesia seiring dengan penambahan penguasaan mufrodat dalam bahasa Arab. setelah peserta didik sudah banyak menguasai mufrodat bahasa Arab kemudian di arahkan dengan pembiasaan dengan aktifitas yang kreatif.

Untuk melaksanakan rekayasa lingkungan bahasa Arab membutuhkan pemikiran yang luas membuat aktifitas yang biasa dilaksanakan peserta didik di luar sehingga setelah masuk dalam lingkungan bahasa Arab hanya menukar bahasanya saja. Kegiatan prakteknya jangan terlalu jauh objeknya dari kegiatan kebiasaan sehari-hari karena peserta didik merasa kesulitan dalam mebayangkan kejadian atau objek yang di perbincangkan. Inti pokok pencintaan lingkungan bahasa di tekankan melihat bahasa Arab itu untuk apa di kuasai yang di dasarkan pada penguasaan komunikatif buka pada bentuk bahasa dalam kajian struktur bahasa.

Biah lughoh bahasa Arab di ciptakan adalah untuk pada prakteknya adalah untuk (Ja’far Al-Khalifah 2003):

40

1. Membiasakan menggunakan bahasa Arab dalam kegiatan komunikatif dalam komunitas atau seluruh yang ada di dalamnya dan meningkatkan kemampuan bahasa Arab melalui praktek percakapan (muhadatsah), diskusi, seminar. Ceramah dan ekspresi tulisan

2. Sebagai proses menguatkan pemerolehan bahasa Arab yang sudah di pelajari sebelumnya secara teoritis baik di dalam kelas maupun pada proses pendidikan sebelumnya.

3. Menumbuhkan sikap kreatif dan aktivitas berbahasa Arab yang terpadu antara teori dan prkatek.

Bahasa adalah kebiasaan. Kebiasaan tentunya harus dengan berbagai macam kegiatan yang di laksanakan dengan menggunakan bahasa tujuan yang sedang di pelajari sehingga pembiasaan ini menjadi bahasa yang otomatis di gunakan oleh peserta didik. Menguatkan apa yang sudah di ketahui sebelumnya adalah seperti mungulang apa yang sudah di ketahui yang pada akhirnya menjadi bahasa yang di kusai karena sudah di miliki. Sebagai orang muslim yang sedang mempelajari bahasa Arab sudah menpunyai bekal kebahasa Araban karena mulai dari kecil sudah banyak mengetahui kalimat-kalimat bahasa Arab walaupun tidak di kethuinya bahwa kalimat itu adalah kalimat bahasa Arab. sebagai contoh adalah bacaan shalat, niat puasa dan lain-lain.

Pelaksana lingkungan bahasa Arab dalam prosesnya harus memperhatikan beberapa prinsip untuk menjadikan proses yang terarah agar tetap pada koridornya tidak keluar dari tujuan utamanya. Ada beberapa prinsip yang harus di perhatikan sebagaimana berikut ini (Yudi Cahyono, 1995, : 310):

1. Tujuan utama dalam pembuatan lingkungan bahasa Arab ini adalah untuk membantu peserta didik menggunakan bahasa Arab dalam bentuk bahasa yang komunikatif.

2. Bahasa Arab di gunakan dalam bentuk konteks sosial (gambarannya sesuai dengan kebiasaan yang terjadi pada masyarakat atau

41

membahasakan keadaan sosial) harus sesuai dengan latar (setting), topik, dan partisipan.

3. Peserta didik harus mampu menyampaikan isi pikiran atau gagasan, pendapat dan perasaan dalam kasus-kasus tertentu secara realistis.

Penekanan dalam prakteknya adalah fokus pada menyampaikan isi pikiran tidak melihat pada yang apa yeng tetulis karena sesungguhnya berbicara bahasa Arab atau bahasa lainnya adalah proses menyampaikan atas apa yang di pikiran.

Berdasarkan prinsip-prinsip ini, maka melalui lingkungan bahasa Arab peserta didik secara langsung mengalami sebuah proses komunikasi dengan penggunaan struktur-struktur gramtika secara realistis, sehingga makna-makna yang sulit untuk di pahami melalui pembelajaran di kelas menjadi mudah di pahami, atau banyak mufrodat yang terkadang tidak sesuai keadaan menjadi sesuai akibat dari pelaksanaan langsung. Latihan-latihan yang dilaksanakan pada lingkungan baik secara mandiri amaupun terstruktur ini tentunya menjadi pengalaman tersendiri dan melakat menjadi sebuah kebiasaan, selanjutnya kebiasaan-kebiasaan tersebut akan disempurnakan melalui proses pembelajaran formal dengan berbagai metode dan pendekatan. Pembelajaran yang terjadi pada lingkungan bahasa dan pembelajaran formal menjadi saling mendukung untuk menjadikan peserta didik terampil berbahasa Arab.

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN (Halaman 36-41)