1
No. Registrasi : 211010000029630
PENELITIAN PEMBINAAN DAN PENINGKATAN KUALITAS LAPORAN ANTARA ON GOING 2020
JUDUL:
PENERAPAN LINGKUNGAN BAHASA (BIATUL LUGHOH ARABIAH) PADA MA’HAD AL-JAMIAH PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM NEGERI (PTKIN) (STUDI ANALISIS COMPARATIF ANTARA MA’HAD AL-JAMIAH IAIN PADANGSIDIMPUAN DAN MA’HAD AL-
JAMIAH UIN SUSKA RIAU)
OLEH :
IRSAL AMIN, M.Pd.I
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN
2021
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil alamin wassolatu wassalau ala asropil anbiya walmusalin wa ala alihi wasohbihi ajamain. Segala puji bagi Allah Swt yang memberikan petunjuk dan pertolongan dalam menyelesaikan laporan antara penelitian ini yang walaupun masih banyak terdapat kekurang dan ke khilafan.
Sholawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad Saw, semoga kita semua mendapatkan safaatnya di hari kemudian.
Penelitian ini adalah penelitian yang sangat sederhana berawal dari keterbasan dari peneliti, baik keterbatasan pada ilmu, kemampuan maupun keterbatasan waktu sehingga penelitian ini masih bisa di sajikan dengan apa adanya dengan beribu kekurangan. Penelitian ini mencoba mengulas penerapan lingkungan bahasa (biatul lughoh arabiah) pada ma’had al-jamiah perguruan tinggi keagamaan islam negeri (ptkin) (studi analisis comparatif antara ma’had al-jamiah iain padangsidimpuan dan ma’had al-jamiah uin suska riau).
Penelitian ini mencoba mengungkap tentang penerapan biah lugoh di lingkungan Ma’had Al-Jamiah yang ada di lingkungan PTKIN di Indonesia.
Ma’had Al-Jamiah sudah menjadi kebutuhan dan bahasa Arab menjadi bahasa yang di gunakan di dalamnya.
3 DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... 2
Daftar isi ... 3
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 4
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 7
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Kontribusi Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN TEORI F. Kajian Teori ... 10
G. Penelitian Terdahulu ... 71
BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian ... 73
2. Populasi dan Sampel ... 73
3. Instrumen Penelitian ... 73
4. Analisa Data ... 73
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISA A. Penyajian Data ... 78
1. Deskripsi Objek Penelitian ... 78
2. Data IAIN Padangsidimpuan ... 85
3. Data UIN Suska Riau ... 106
B. Analisa 1. Pelaksanaan Biah Lugoh IAIN Padangsidimpua ... 117
2. Pelaksanaan Biah Lugoh UIN Suska Riau ... 129
3. Perbedaan Biah Lughoh antara IAIN Padangsidimpuan dan UIN Suska Riau ... 135
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 141
4
B. Rekomendasi ... 142 C. Saran-saran ... 142 Daftar Pustaka ... 144
5 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat urgen dalam kehidupan manusia sehingga bahasa tidak dapat di pisahkan dari setiap manusia yang mempunyai nyawa dalam bentuk yang beraneka ragam dan bentuk atas segala keterbatasan manusia, misalnya mansuai sehat atau normal mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Lisan seperti yang dilakukan banyak orang, orang tuna wicara berkomunkasi menggunakan bahasa Isyarat, sehingga sesama manusia dapat saling memahami setiap pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut.
Hal ini menjadi penting diperhatikan dalam keberlangsungan kehidupan manusia dalam rangka untuk saling menunaikan kebutuhan dan keperluan antara manusiayang satu dengan yang lainya.
Bahasa yang dimaksud diatas adalah bahasa sebagai alat komunikasi bagi penguna yang sama dalam kawasan yang sama serta sama-sama menggunakan bahasa yang sama. Karena bahasa dapat di mengerti antara komunikator dengan komunikan jika mempunyai bahasa yang sama dan dapat saling memahami dan pada model bahasa yang sama pula. Banyak ketidak pahaman jika model bahasa digunakan dlam bentuk yang berbeda anatara dua orang berkomunikasi dalam arti bahasa lisan dalam kontek bahasa ibu.
Bahasa dalam kontek komunikasi ada dua yaitu bahsa ibu dan bahasa asing yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, bahasa ibu sebagai bahasa pertama digunakan untuk berkomunikasi sesama anggota yang mempunyai bahsasa yang sama dengan cara pemerolehannya denga cara natural, sedangkan bahasa asing adalah abahsa ke dua atau ketiga, bahkan keempat setelah baahsa ibu yaitu bahasa orang lain yang kita bukan sebgai penutur aslinya (Dahlan, n.d.). Bahasa ibu dan bahasa asing dua-duanya adalah bahasa yang diperoleh dengan cara pemerolehan yang berbeda-beda pula. Bahasa ibu secara natural sedangkan bahasa asing diperoleh dengan belajar secara formal.
Dalam rangka pemerohan bahasa non bahasa Ibu, maka perlu dilakukan usaha yang mumpuni dan secara simultan. Proses pemerolehan bahasa Asing harus dilakukan dengan menlakukan pelajaran dan pengajaran yang baik dan terprogram
6
dengan baik. Program pengajaran dilakukan menjadi sangat penting dilakukan dengan untuk mendapatka hasil yang di targetkan sesuai dengan langkah-langkah yang sudah ditetapkan secara terukur. Untuk melaksanakan pengajaran ada dalam bentuk pengajaran formal dan ada dengan menggunakan atau menerapkan lingkungan bahasa (Biah lughoh). Denga lingkungan bahasa menjadikan mahasiswa terarah disetiap sudut proses belajar selama waktu tertentu, karena segala sesuatu yang didengar dan dilihat olah pembelajar berkaitan dengan bahasa target yang sedang di pelajari (Fuad Efendi 2012).
Sekarang ini, banyak Sekolah, madrasah dan ma’had yang sudah mencoba menerapkan program Biah lughoh dalam rangka memepercepat pemerolehan bahasa asing baik bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Kegiatan biah lughoh ini menjadi sebuah modal pengembangan percepatan pemerolehan bahasa yang sudah sangat sering di terapkan di lingkungan Ma’had dan madrasah sehingga menjadi program unggulan yang biasa dijadikan nilai tambah bagi sekolah yang bersangkutan. Biah Lughoh ini sekarang tidak hanya kita temukan di lingkungan Madrasah atau pesanterern saja, bahkan kopsep pendidikan pesanterern sudah banyak digunakan di lingkungan Universitas Islam Negeri atau Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di seluruh Indonesia rata- rata sudah menerapkan Biah Lughoh ini dengan membuat pola pesanteren kampus dalam rangka percepatan pemerolehan bahasa asing yaitu bahsaa Arab dan bahasa Inggris walupun sesungguhnya sudah banyak mengembangan bahasa yang lain seperti bahasa Jepang, Cina, dan Prancis serta yang lain-lain dengan pola pengemabngan yang bermacam-macam sesuai dengan kultur dan konsep pembelajaran yang dianggap lebih baik dan sesuai dengan keadaan yang di inginkan pembelajaran pada lingkungan kampus yang bersangkutan.
Seluruh PTKIN yang ada dibawah lingkungan Kementerian Agama (KEMENAG RI) sudah menerapakan sistem ma’had dengan pola-pola yang berbeda, misalnya UIN Malang, UIN SUSKA RIAU, UIN SUKA dan lain-lain dengan penerapan ma’had Al-jamiah bagi mahasiswa/i yang berkeinginan mengikutinya saja dan tidak diwajibkan kepada seluruh mahasiswa untuk mengikutinya. Lain halnya apa yang diterapkan di IAIN Padangsidimpuan yang
7
sangat berani mewajibkan kepada seluruh mahasiswa semester satu (1) dan semester dua (2) mengikuti ma’had Al-Jamiah. Seluruh ma’had dilingkungan PTKIN yang ada dengan membuat bahasa sebagai jargon dang sesuatu yang harsu di capai terutama bahasa arab dan bahasa inggris dengan pola penerapan lingkungan bahasa (Biah Lughoh).
Dengan landasan diatas inilah menjadi semakin menarik melakukan kajian secara mendalam tentang sisterm ma’had yang ada dalam bentuk penelitian dengan fokus kajian Lingkungan bahasa (Biah Lughoh) dengan judul “Penerapan Lingkungan Bahasa (Biatul Lughoh) untuk pemerolehan bahasa Arab Pada Ma’had Al-Jamiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) (Studi Analisis Comparatif Antara Ma’had Al-jamiah Iain Padangsidimpuan Dan Ma’had Al-jamiah UIN SUSKA RIAU)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dalam penelitian ini, maka dibangun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan lingkungan bahasa di Ma’had IAIN Padangsidimpuan ?
2. Bagaimana penerapan lingkungan bahasa ma’had UIN SUSKA RIAU?
3. Apa perbedaan penerapan lingkungan bahasa di Ma’had IAIN Padangsidimpuan dan ma’had UIN SUSKA RIAU?
C. Batasan Masalah
Untuk memfokuskan penelitian ini maka perlu dibatasi maslah penelitian yang akan dibahas. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Lingkungan bahasa (Biah Lughoh) yang berkaitan dengan penerapannya di Ma’had Al-Jamiah IAIN Padangsidimpuan dan Ma’had UIN SUSKA Riau.
2. Pemerolehan bahasa Arab dari penerapan Lingkungan Bahasa (Biah Lughoh)
3. Komparasi penerapan Lingkungan Bahasa (Biah Lughoh) di Ma’had Al- Jamiah IAIN Padangsidimpuan dan Ma’had UIN SUSKA Riau.
8 D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui penerapan lingkungan bahasa di Ma’had Al-jami’ah IAIN Padangsidimpuan .
2. Untuk mengetahui penerapan lingkungan bahasa ma’had Al-jami’ah UIN SUSKA RIAU
3. Untuk mengetahui komparasi penerapan lingkungan bahasa di Ma’had IAIN Padangsidimpuan dan ma’had UIN SUSKA RIAU
E. Kontribusi Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam bentuk informasi yang akurat mengenai penerapan Lingkungan Bahasa (Biah Lughoh) untuk pemerolehan bahasa arab di Lingkungan Ma’had Al-Jamiah di IAIN Padangsidimpuan dan UIN SUSKA RIAU sehinnga adanaya penyesuain anatara teori dan praktek tentang penerapan lingkungan bahasa (Biah Lughoh) yang baik dalam meningkat pemerolehan bahasa arab bagai mahasiswa sehinggga pada kebijakan dan penerapan menjadi ada tawaran konsep baru yang berkaitan dengan lingkungan bahasa (Biah Lughoh).
Selain itu juga, penelitian untuk melihat sisi komparasi antara dua ma’had tersebut sehingga dapat dilihat sisi efektifitas konsep lingkungan bahasa (Biah Lughoh) yang mempercepat pemerolehan bahasa pada tingkat mahasiswa sehingga diantara ma’had Al-Jamiah di IAIN Padangsidimpuan dan UIN SUSKA RIAU sehingga dalam membuat kebijakan mendukung percepatan pemerolehan bahasa arab.
Penelitian ini juga diharapkan untuk mendapatkan kajian ilmiah yang akurat sehingga dapat di jadikan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
9
BAB II KAJIAN TEORI A. Bahasa Arab
Bahasa alat komunikasi adalah pengertian yang sangat sederhana di pahami seara umum. Ali Ahmad Madzkur menjelaskan bahawa bahasa pada hakikatnya adalah kemapuan manusia, bahasa manusia adalah apa yang di ketahuinya dan batas bahasa manusia tergantung pada apa yang di ketahuinya baik pengetahuan pada budaya dan kegemarannya, negara dan identitasnya. Bahasa adalah udara yang di hirup, air yang di minum, makanan yang dimakan, pikiran dari apa yang diketahui dari sekitar. Dari kumpulan itu semua menjadi sebuah apa yang ada dalam pikirian kemudian di ungkapkan dengan bahasa yang berbeda walupun tetap menceritakan satu kejadian berdasarkan kepada krakter yang di miliki manusia tersebut kerena membetuk prilaku dan sifat bahkan kelompok dan golongannya. Bahasa menjadi pembeda dapat menjelaskan apa sifat manusia satu sama lainnya dalam lingkungan masyarakat menunjukkan identitas, moral dan kebiasaan (Ahmad Madzkur and Ahmad Haridi 2006).
Secara mendalam diartikan bahwa bahasa adalah konsep pikiran, aturan komunikasi. Budaya sosial dapat di lihat pada bahasanya, kekakyaan kosa katanya, tata ucapnya, pembentukan kalimat yang menyampaikan, teks yang di tulisnya yang tercermin pada nilai seni dan adabnya. Budaya manusia tidak akan berkembangan tanpa dengan perkemabangan bahasa, artinya bahwa budaya manusia meningkat seiring dengan kemajuan bahasa. Gambaran dari segala prilaku bahkan sikap manusia adalah bahasa. Peradaban sangat di tentukan oleh bahasa manusia bahkan menjadi identitas yang sangat mengikat tidak dapat di pisahkan dari manusia tersebut.
Bahasa Arab adalah bahasa kitab suci (Al-quran-Hadist) ummat Islam dan menjadi bahasa yang digunakan sehar-hari oleh masyarakat yang ada di timur tengah. Bahasa Arab bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan maksud yang akan di katakan dengan lambang-lambang bunyi dan huru-huruf arabiah. Bahasa arab menjadi unsur yang sangat penting dalam membentuk budaya arabiah yang Islami karena bahasa sangat berkaitan dengan akidah dari manusia secara umum
10
sehingga menggambarkan jati diri dan krakternya. Bahasa arab sangat mengikat budaya pada budaya dan agama bangsa arab berabad-abad yang lalu yan di tanamkan pada anak-anak arab sehingga terbangun kecintaanya pada bahasa arab.
Di dalam bahasa arab sendiri terdapat banyak kelebihan yang sangat berbeda dengan bahasa yang lain, keebihan itu dapat di lihat pada kemampuan menggunakan bahasa arab dalam kegiatan komunikasi sehingga bahasa arab menjadi bahasa yang kaya, dalam dan mempunyai batasan yang sangat luas.
Kekayaan bahasa arab itu dapat di lihat pada buku-buku islam klasik yang berbahasa arab menceritakan cerita yang mengandung kajian tentang budaya manusian pada masa lalu seperti budaya bangsa persia, romawi kuno, yunani dan mesir kuno. Sejarah manusia masa lalu banyak di tuliskan dengan menggunakan bahasa arab yang tidak di tuliskan dengan menggunakan bahasa yang lain. Bahasa arab sudah berlaku berabad-abad dan tidak mengalami perubahan yang signifikat karena bahasa arab bahasa yang mempu bertahan berabad-abad di ketahui dari kisah-kisah kuno yang di tulis menggunakan bahasa arab.
Bahasa arab menjadi bahasa yang sangat lama dan mampu bertahan dengan bahasanya seiring dengan perubahan jaman. Salah satu bahasa yang sama dari berabad-abad dahulu masih sama dengan sekarang adalah bahasa arab. al-quran turun emapat belas abad yang lalu tidak sedikitpun berubah, al-qur an dimasa Rasulullah Saw dan masa sekarang tidak sedikitpun berubah dalam konteks kebahasaan. Buku-buku yang di tulis jauh di masa dulu tetap di pahami oleh manusia pada masa sekarang. Bahasa yang kekal adalah bahasa arab sehingga jika ingin menulis sebuah buku atau peristiwa yang dapat di pahami generasi seratus tahun yang akan datang maka tulislah menngunakan bahasa arab.
Bahasa yang tidak pernah mati dan di tinggalkan adalah bahasa arab. bahasa ummat islam bertahan dengan adanya islam di tengah-tengah masyarakat. Lisan yang menuturkan bahasa di masa lalu akan sama pada masa kini, kefasihan manusia tidak akan berkurang walaupun generaisnya berganti. Kekekalan bahasa arab dapat di pertanggung jawabkan karena dia mempunyai ruh yang hidup dan selelu di butuhkan baik secar ekonomi terlebih secara agama. Bahasa arab bukanlah untuk agama semata, juga untuk mengkaji ulang ilmu pengetahuan secara orisinil
11
langsung pada rujukan utama atau yang paling dasar. Sejarah membuktikan bahwa banyak dari kalangan ilmuan eropa dan asia yang memperdalam bahasa arab karena ingin mempelajari teks-teks kuno yang di tulis menggunakan bahasa arab. setelah mereka menguasi bahasa arab kemudian menterjemahkan kitab-kitab kuno yang di tulis menggunakan bahasa arab ke dalam bahasa asing yang dapat di pahami ooleh bangsanya sehingga ilmu yang terkandung di dalamnya dapat di pahami dan menjadi pelajaran sehingga menjadi ilmu untuk di kembangkan dan di terapkan.
Teori ilmu kedokteran di rujuk pada buku ibn Sina yang pada awalnya buku tersebut di tulis dengan menggunakan abahsa arab sudah banyak di terjemahkan kepada bahsa asing lain diu dunia ini.
Kesadaran ummat islam harus di bangun dalam kontek keistimewaan bahasa arab posisinya dalam kerangkan keilmuan islam. Ilmu pengetahuan secara teori dan praktek berasal dari ilmuan yang memahami bahasa arab sehingga buku-buku yang di tulis menggunakan bahsaa arab. bahasa arab adalah bahasa ilmiah yang tidak pernah luntur pda keadaan jaman. Agama islam memahami ilmunya dengan kaidah bahasa arab, keilmuan sains banyak yang di tulis dengan bahsa arab, sejarah banyak di ketahui dari buku berbahasa arab. urgensi bahasa arab pada posisi ini seharusnya menjadi posisi yang sangat strategis seharusnya menjadi pemicu kepad orang banyak mempekajarinya. Keadaan itu tidak di lihat hari ini dengan alasan karena sudah banyak yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa asing yang ada di dunia.
Perlu di ketahui untuk memahami secara mendalam membutuhkan pemahaman yang di dasarkan pada teks aslinya.
Kejadian terbalik pada saat ini dimana banyak kalangan pelajar dan akademisi tidak tertaris mempelajari bahasa yang sangat mulia ini senhingga tidak menemukan samudaran ilmu oengetahuna yang luas. Persepsi yang sangat kontradiktif hadir di kalangan penuntut ilmu acuh-tak acuh mempelajari bahasa arab artinya tidak ingin mempelajari bahasa arab itu sendiiri. Keterbatasana kemnblai pada smuber salinya akan menjadi penghambat untuk menyelam oada kepadalam ilmu pengetahuan. Stigma negatif terus mengelilingi para pelajaran bahkan para ilmuan. Banyak pekjerjaan yang harus di selesaikan untuk megubah persepsi negatif yang sudag terbangun ini terhadap bahasa arab. jika pesepsi
12
masyaakat terpelajar berubah sesungguhnya akan menyampaikan mereka poada kedalam ilmu pengetahuan.
Bahasa arab akan bertahan selama manusia ada di muka bumi ini karwna bahasa arab adalah bahasa kehiduoan yang terus hidupo berasama hidupnya manusia.
Sekarang adalah fase kemundiuran bahasa arab karena tidak bnayak orang yang ingin mneguasainya bukan berarti akan mengalami kehancuran. Fase akan tetap berubah seoring dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahua, kehausan ilmu engeratuan akan terjadi dengan keinginan kembali pada orisinal ilmu pengetahu berupa sumber yang lebih otentik melalui teks-teks bahasa arab kuno.
Bahasa arab selalu di hubungkan dengan agama Islam sehingga ada dikotomi pembelajaran karena setiap mempelajari bahasa arab semata-mata hanya mempelajari agama islam saja. Memahami Islam pada hakikatnya tidak hanya menggunakan bahasa arab dan juga bahasa arab tidak hanya untuk mempelajari Agama Islam. Bahasa arab tidak hanya berbicara agama islam bahkan lebih dari itu bahasa arab berbicara tentang apa yang di bicaraka dengan menggunakan bahasa asing lainnya. bahasa adalah pengantar untuk memahami sebuah konteks keilmuan yang tidak terbatas bpada satu bahasa saja. Bahasa sebagai alat memperdalam pemahaman tidak memandang pada bahasa saja dan tertentu.
Lebih jauh bahasa arab mempunyai keluasan jauh lebih luas mengkaji sesuatu yang lupa di kaji oleh kebanyakan orang. Keilmuan di bangun dengan logika bahasa arab tidak dapat di pungkiri karena karya karya besar banyak menggunakan bahasa arab.
pada wilayah keilmuan bahsa arab mempunyai keistimewaan yang tidak menjadi alasan bermotif keagamaan, diantaranya adalah (A. Stenbrink 1994):
1. Bahasa arab mempunyai kekayaan kosakata struktur bahasa yang sesuai dengan ekspresi keilmuan dalam memahami dan mendalami ilmu samudara ilmu pengetahuan serta mampu mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada penuntutnya.
2. Bahasa arab mempunyai kepustakaan besar pada seluruh bidang ilmu pengetahuan. Bahsa arab bahasa yang meliputi seluruh bisang keilmua
13
tidak terbatas pada bidang keagamaan. Sejarah keilmuan menjelaskan bahwa orang eropa dan barat mengetahui filsafat dan matematika yunani kuno karena terjemahan dari bahasa arab.
3. Bahasa arab adalah bahasa yang dengannya dapat mengemukakan semua bidang ilmu pengetahuan dengan bahasa kesusestraan modren pada seluruh bidang ilmu.
4. Bahasa arab adalah bahasa persatuan yang sangat besar di dunia yang seharusnya menjadi perhatian di negara berpenduduk agama islam terbesar terutama Indonesia.
5. Bahasa arab adalah bahasa politik dunia karena menjadi bahasa yang di gunakan dalam kancah perpolitikan dunia karena emnjadi bahasa resmi digunakan di dunia internsional sekaligus bahasa dengan jumlah salah satu bahasa yang banyak digunakan di banyak negara dan warga masyarakat.
6. Dalam bahsa indonesia terdapat banyak kosakata yang di ambil dari bahasa arab dan menjadi baahsa serapan resmi. Selain di Indonesia juga banyak di gunakan pada bahasa-bahasa lain di dunia seperti dalam bahasa prancis dan turki.
Selama ini bahasa arab di gaung-gaungkan hanya dengan motif agama Islam seolah bahasa arab terbatas pada orang-orang yang ingin mepelajari agama islam. Islam memang identik dengan bahasa arab tapi Islam tidak hanya bahasa arab saja. Bahasa arab adalah bahasa ilmu yang luas juga terdapat pada ilmu pengetahuan yang umum tidak dapat di pisahkan. Karya-karya ulama banyak berbicara ilmu pengetahuan yang sangat rumit sekalipun. Perpustakaan Islam pada masa kejayaan Abbasiah isinya terdiri dari berbagai macam bidang keilmuan. Ulama-ulama masa lalu berbicara tentang banyak hal pada semua bidang keilmuan.
Keresahan melanda pendidikan Islam saat ini karena koptasi bentuk pengajaran bahasa arab mengarah pada pemahaman agama islam. Itu baik tidak ada masalah jika tidak berhenti di titik ini. Para pengejar bahasa arab harus keluar dan
14
menyuarakan bahwa bahasa arab adalah bahasa ilmu pengetahuan. Penanaman nilai harus di mulai dari pendidikan dasar mengenalkan bahasa arab tidak sekedar pada komoditas pesanteren. Bahasa arab harus di kampanyekan sebagai bahasa yang harus di pelajari sebagai bahasa ilmu. Proses penyadaran masyarakat harus terus bergema menyuarakan bahasa arab dapat di pahami tanpa memandang unsur agama dan jenis pemahaman.
B. Unsur bahasa dan kompetensi Bahasa Arab
Unsur bahasa arab adalah sesuatu yang terdapat dalam bahasa arab yang tidak dapat di pisahkan atau juga di sebut juga sebagai rukun bahasa. Unsur-unsur bahasa arab terdiri dari Aswat Lughoh, Mufrodat dan Qawaid. Kemampuan kebahasaan adalah kemampuan yang harus di miliki oleh yang mempelajari bahasa arab merupakan kecakapan pada penggunanya yang terdiri dari kompetensi mendengar (istima’), berbicara (kalam), membaca (qiroah), dan menulis (menulis).
Sebagai pengajar bahasa arab seharusnya sudah mengetahui seluk beluk bahasa arab yang sangat sederhana ini sebagai bekal dalam mengajarkan dan mengembangkan pembelajarannya. Konsep diatas adalah langkah awal pengetahuan pembelajaran bahaasa arab untukmegarahkan tujuan pembelajaran dan menyiapkan strategi apa yang sesuai dengan tujuan pemelajaran. Pembelajaran bahasa arab harus di bentuk berdasarkan pada keinginan bahasa yang sangat alamiah dan tidak terfokus pada satu tujuan. Bahasa dijarkan karena bahasa alat komunikasi yang dapat di dengar, di ucapkan, di baca dan di tuliskan. Sebelum penguasaan kemahiran bahasa arab sebaiknya juga harus di pahami bahwa bahasa mempunyai simbol bunyi-bunyi berupa aswat, setiap huruf mempunyai suara, cara mengucapkan yang sesuai dengan aturan bahasa arab yang menyebabkan kefasihan.
Di dalam bahasa juga terdapat mufrodat yang mempunyai makna menerjemahkan alam sekitar. Setiap benda atau bentuk bahkan sifat mempunyai nama yang di sebut dengan mufrodat. Bahasa adalah kumpulan kosa kata yang di gabungkan dan di utarakan sehingga menjadi ungkapan yang mempunyai makna.
Junaidi Lubis pada promosi lembaga pendidikan UIN SUSKA Riau mengatakan bahwa Bahasa intinya adalah mufrodat karena bahasa tujuh puluh persennya adalah
15
kosakata. Sebuah buku hakikatnya kumpulan kosakata yang banyak menceritakan sebuah kisah atau sebuah informasi yang dapat di pahami.
Selain bahasa adalah kumpulan kosa kata, bahasa arab juga membutuhkan aturan dalam penyusunan kalimat sehingga dapat memberikan makna yang jelas dan dapat di pahami oleh yang mendengarkannya dalam ujaran dan dapat di ambil isinya jika di ungkapkan dalam bentuk tulisan. Aturan bahasa berupa tata bahasa menjadi penyusun supaya bahasa itu memberikan pemahaman. Bahasa yang di susun dengan tidak menggunakan tata bahasa akan menyebabkan miss informasi jika di baca oleh orang lain. Perlu di pahami jangan sampai bahasa di ajarkan secara parsial mengajarkan tata bahasa saja karena akan menghambat bahasa lisan yang tidak otomatis.
C. Sistem pembelajaran bahasa Arab
Pembelajaran bahasa Arab secara sistem dapat dikatakan sama dengan pengajaran bahasa Asing lainnya dalam hal tujuan pembelajaran, yaitu menjadikan peserta didik mempunyai kemampuan kebahasaan yang terdiri kemampuan mendengar (Istima’), Berbicara (Takallam), Membaca (fahmul Maqru’) dan menulis (kitabah). Untuk memncapai tujuan pengejaran tersebut tentunya pembelajaran harus mempunyai syarat pengajaran yang teratur dan harus daling berkaitan dengan yang lain, tidak berjalan dengan begitu saja tiba-tiba peserta didik mempunyai kemampuan-kemampuan kebahasaan yang diharapkan.
Dalam pengejaran bahasa terdiri dari hal-hal yang harus ada dalam pembelajaran tersebut dan berjalan sesuai dengan fungsinya untuk mencapi tujuan.
Unsur-unsur pembelajaran tersebut adalah berupa rukun yang harus ada dalam sebuah pembelajaran seperti, guru, siswa materi ajar, metode dan evaluasi. Unsur- unsur ini kemudian saling berhubungan dan saling keterkaitang menghasilkan proses pembelajaran dan menghantarkan kepada tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran bahasa harus berjalan dan berputar pada fungsi masing-masing menjalankan fungsinya dengan maksimal.
Sistem menjadi sebuah keharusan dalam sebuah pembelajaran bahasa, mengahruskan guru sebagai palaksana sistem untuk dilaksanakan bersama peserta
16
didik berdasarkan tahapan-tahapan yang sudah direncanakan. Secara pengertian sistem adalah bagian-bagian yang menjadi satu kesatuan akibat dari saling keterkaitan bagaian-bagian tersebut dalam menciptakan sebuah proses pembelajaran. Berdasarkan defenisi para ahli bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berintekraksi untuk mencapi tujuan secara optimal sesuai dengan yang di tetapkan pada perencanaanya (Oemar Hamalik, 2009). Sistem juga diartikan sebagai suatu gabungan dari komponen-konponen yang terorganisasi sebagai suatu kesatuan dengan maksud untuk mencapai tujuan yang sudah di tetapkan (Harjanto, 1997).
Sistem dalam pembelajaran setidaknya mempunyai tiga krakteristik utama untuk mengantarkan kepada target yang sudah dimaksud, yaitu: tujuan, unsur-unsur sistem dan fungsi dari setiap bagian-bagian sistem. Ketiga ciri utama dari sistem ini jika dihubungkan dengan pembelajaran bahasa arab maka tujuan pembelajaran merupakan unsur sistem yang berfungsi untuk mengarahkan berjalannya unsur- unsur yang lain. Unsur-unsur sistem pembelajaran bahasa arab harus memanuhi kebutuhan pembelajaran sehingga salaing mendudukung sama sama laiinya.
pembelajaran yang ideal tentunya di dalam proses harus di penuhi dengan unsur- unsur yang lengkap seperti guru yang profedional, siswa yang punya semangat untuk belajar, materi ajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, metode yang sesuai dengan materi ajar, strategi yang efektif, media yang mendorong untuk tersampaikannya materi ajar dan sistem evaluasi yang valid dan terukur. Bagian- bagian pembelajaran juga yang harus berfungsi secara maksimal saling mendukung satu dengan lainnya, materi ajar harus di kuatkan dengan metode pembelajaran, evaluasi sebagai cara unutk mengetahui ketercapaian pembelajaran yang sudah di rencanakan.
Sistem dalam pembelajaran berarti intraksi dari unsur-unsur pembelajaran yang meliputi pengajar, peserta didik, materi ajar, metode, pengajaran, dan evaluasi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Unsur-unsur pembelajaran tersebut saling berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah di tetapkan dalam perencanaan pembelajaran baik khusus maupun umum, sebagai contoh pembelajaran bahasa Arab tentunya untuk memahamkan siswa terhadap tujuan
17
pembelajaran yang berupa kompetensi maharoh, kalam, qiroah dan kitabah, serta untuk kemampuan kognitif seperti pemahaman Qawaid dan tarjamah.
Sebagian ahli mengkategorikan unsur sistem pembelajaran yang mempunyai peran masing-masing yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Yang temasuk unsur instriksik adalah tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan evaluasi. Unsur ini bersifat fasif artinya tidak berarti tanpa adanya unsur ekstrinsik yang meliputi guru, anak didik, media dan faktor-faktor pendukung yang lain. Kedua unsur ini mempunyai kaitan saling mendukung sehingga harus berjalan bersamaan. Metode tidak akan berarti jika tidak mempunyai materi ajar, tujuan tidak akan dapat di capai jika guru dan siswa tidak melaksanakan proses pembelajaran, begitu juga sebaliknya.
Pembelajaran bahasa Arab membutuhkan sistem yang kuat sehingga ketercapian materi ajar dan bertambahnya kemampuan siswa dalam menguasai kompetnsi kebahasa araban. Penerapan sistem pembelajaran bahasa arab yang sudah berjalan pada lembaga-lembaga pendidikan sejauh ini terdapat tiga sistem pembelajaran yang sudah dilaksanakan, yaitu Sitem pembelajaran terpadu (Thariqoh Al-Wahdah), sistem Terpisah (Thariqh Al-furu’i), dan sitem gabungan (thariqoh Al-Jam’i).
1. Sistem terpadu (Thariqoh Al-Wahdah), sistem pembelajaran ini sering juga di sebut dengan sistem all in one, dalam sistem ini bahasa dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, saling berhubungan dan berkaitan; bukan sebagian- bagian yang terpisah satu sama lain. Oleh karena itu hannya ada satu mata pelajaran, satu jam pertemuan, satu buku, satu evaluasi, dan satu nilai hasil belajar. Bahasa dipandang sebagai alat komunikasi manusia sehingga bahasa mempunyai kebulatan yang sangat kuat sehingga di ajarkan seacara bersama tanpa membedakan materi ajar atau membuat pemisahan antara setiap kompetensi bahasa. Menurut Abul Abbas, pembelajaran bahasa arab dengan sistem ini tidak dibenarkan mengajarkan bahasa arab dengan membedakan antara satu kompetensi kebahasaan (Busyairi Madjidi, 1994), sekolah harus menyajikan materi bahasa arab seacara umum kemudian dari materi tersebut di ambil materi yang berhubungan dengan kompetensinya, seperti dari sebuah topik materi ajar di belajarkan Mufrodat, Hiwar, Tarakib, Istima’, Kalam dan
18
kitabah. Ada tiga landasan dalam menerapkan Sistem terpadu (Thariqoh Al- Wahdah) dalam pembelajaran bahasa arab (Zainul Arifin, 2009), yaitu :
a. Landasan Psikologis, dimana dalam pembelajaran tidak ada batasan penguasaan atau pemilahan kemampuan antara satu kemampuan yang menonjol mata materi yang satu saja, anak hanya mampu pada qawaid saja atau pada kalam saja, akan tetapi kemampuan anak harus merata yaitu bahasa Arab, pelaksanaan pembelajaran menggunakan satu rujukan saja sehingga kemampuannya fokus untuk menguasai satu judul materi, juga sistem pembelajaran ini menganut sietem pembelejaran menyeluruh kemudian memisahkannya dari satu judul untuk beberap kemampuan kebahasaan.
b. Landasan Pedagogis, dalam sebuah materi ajar mempunyai hubungan yang kuat antara satu dengan laiinya, kemampuan siswa tidak dibeda- bedakan sehingga terjadi pembelajaran yang memberikan perhatian kepada satu peserta didik, ketidak mampuan mereka dapat diselesaikan secara merata.
c. Landasan kebahasaan, bahwa bahasa adalah alat komunikasi tentunya akan digunakan untuk berkomunikasi antar sesama manusia baik lisan maupun tulisan dan bahasa di pandang sebagai satu kesatuan. Ketika melakukan komunikasi tentunya orang melakukan komunikasi menggunakan seluruh kompetensi dalam melakukan komunikasi, ketika berbicara membutuhkan mufrodat, qawaid, begitu juga istima’.
2. Sistem terpisah-pisah (Thariqh Al-furu’i), dalam sistem ini, pelajaran bahasa Arab dibagi menjadi beberapa mata pelajaran, misalnya mata pelajaran Nahwu, Sharaf, Muthala’ah, Insya’, Istima’,Muhadatsah, Imla’, dan seterusnya. Setiap mata pelajaran memiliki kurikulum (silabus), jam pertemuan, buku, evaluasi, dan nilai hasil belajar sendiri-sendiri. Dalam sistem pembelajara seperti ini setiap bidang kemampuan terpisah sehingga metode belajar sendiri-senidir, silabus, buku ajar, dan alokasi waktu tertentu juga dengan guru yang berbeda-beda. Sistem pembelajaran ini di anut oleh sebagian besar pada lembaga pendidikan pesanteren Indonesia dengan
19
memandang bahwa setiap kemampuan adalah cabang keilmuan (Aziz Fachrurrozi, 2011).
3. Sistem gabungan (thariqoh Al-Jam’i), sistem ini adalah sistem terpisah-pisah dalam pengajaran bahasa arab digunakan dipondok pesantren dan madrasah sampai tahun enam puluhan. Sedangkan sistem terpadu dimulai diterapkan sejak pertengahan tahun tujuh puluan disekolah, madrasah, dan sebagian pondok pesantren sampai saat ini (Ahmad Fuad Effend, 2012). Sistem pembelajaran bahasa arab gabungan ini tentunya juga sudah terlaksana di lembaga-lembaga pendidikan baik yang berbentuk pesanteren maupun yang berbentuk non pesanteren, satu sisi pesanteren harus melaksanakan kurikulum lokal pesanteren berdasarkan tujuan berdirinya, serta tidak melepaskan diri dari kurikulum yang sudah di tetapkan oleh Negara. Di dalam pesanteren terdapat mata pelajaran Nahwu, sharaf, balaghoh dan lain-lain, juga menggunakan buku bahasa Arab yang dikeluarkan Kementerian Agama yang menganut sistem Terpadu.
D. Teori Pemerolehan bahasa Arab
Pemerolehan bahasa dalam bahasa Arab di kenal dengan sebutan iktisab al- lughoh. Guntur tarigan dalam Resonansi biah lughoh mengatakan bahwa Pemerolehan bahasa adalah proses yang di pergunakan anak untuk menyelesaikan hipotesis yang rumit mendengarkan bahasa orang tua atau orang di sekitarnya kemudian di rekam kemudian memilih berdasarkan takaran penilaian tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa tersebut (Rizqi 2017). Dalam pemerolehan bahasa pada anak-anak terjadi dengan mendengar bahasa yang ada pada lingkungannya kemudian dia akan memperoduksi kembali dengan bahasanya yang paling sederhana berpanduan kepada struktur bahasa orang tuanya.
Pemerolehan bahasa disebut juga dengan akuisisi bahasa sebuah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibu. Bahasa ibu adalah sebuah sistem linguistik yang di pelajari pertam kali secara alamiah dari seorang ibu atau lingkungannya. Bahasa pertama adalah bahasa yang pertama kali di pelajarinya untuk di ungkapkannya dari ibunya dalam beritraksi sehingga di sebut dengan bahasa ibu. Bahasa yang di pelajari selain
20
bahasa ibunya maka disebut dengan bahasa ke dua, dan jika seorang anak mempelajari bahasa yang lain dari bahasa kedua maka disebut dengan bahasa ke tiga atau ke empat. Seorang anak tidak hanya mempelajari bahasa ibunya akan tetapi mungkin saja mempelajari bahasa lain dua, tiga bahkan empat. Anak-anak di Indonesia pertama-tama akan mempelajari bahasa ibu atau daerah, di sekolah atau lingkungan akan mempelajari bahasa Indonesia, kemudian akan mempelajari bahasa Inggrsi atau arab di sekolahnya dan bahasa yang lain bahasa daerah orang lain.
Chaer (2003) dalam Zalyana menjelaskan bahwa ketika seorang anak mempelajari bahasa ibunya maka terjadi dua proses yaitu (Zalyana, 2010) :
1. Proses kompetensi. Proses ini adalah untuk memperoleh penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak di sadari. Proses ini menjadi pensyaratan untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan penerbitan atau proses mengahasilakan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian atau kemampuan mempresepsikan kalimat-kalimat yang di dengar. Sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat. Ketika seorang anak mampu memahami kalimat-kalimat dan menerbitkannya kemabali maka seorang anak sudah mempunyai kemampuan linguistik. Kemampuan lingusitik ini dalam konsep linguistik transformasi generatif disebut perlakuan, pelaksanaan bahasa atau performansi.
2. Performansi dalam istilah Chomsky mencakup kepada tiga komponen yaitu komponen syntaks, semantik dan fonologi. Berdasarkan teori chmsky ini bahasa lazim disebut dengan pemerolehn semantik, syntaks dan fonologi.
Ketiga komponen ini di peroleh oleh anak secara bersamaan.
Pemerolehan bahasa pertama pada anak memiliki krakteristik yang sangat alamiah yaitu proses terjadi secara ambang sadar (sub-consiusness), kemampuan komunikasi yang dimiliki secara alamiah seperti penutur aslinya, proses penguasaan tidak bisa di hindari karena bahsa dikuasai di butuhkan untuk hidup,
21
anak tidak memiliki pengetahuan tentang kaidah bahasa dan tidak di perkuat dengan pengajaran dan koreksi.
Pemerolehan bahasa berlangsung secara alamiah pada seorang anak yang beru lahir. Proses alamiah di dapatkan dari orang-orang disekitarnya dengan melalui proses input melalui pendengaran yang kemudian di ucapkan kembali tanpa menggunakan susunan yang baku dan jelas. Pada tahapan ini tentunya banyak proses menirukan dari ujaran-ujaran dari orang di sekitarnya yang terkadang belum jelas dan dapat di mengerti. Anak yang dalam tahap pemerolehan bahasa pertamanya menjadikannya banyak mempunyai ujaran-ujaran tersendiri dan hanya dapat di pahami oleh orang dekatnya yaitu keluarga.
1. Hipotesi pemerolehan Bahasa a. Hipotesi Nurani
Hipotesi ini menjelaskan bahwa setiap penutur asli dari sebuah bahasa mampu memahami dan membuat kalimat-kalimat dalam bahasanya karena telah menurani atau menyimpan dalam nuraninya akan tata bahasa bahasanya menjadi kompetensi (kecakapan), juga sudah memahami kamampuan performansi (pelaksanaan) bahasa itu. Dalam proses ini terjadi proses innate hypotesis yaitu seorang anak memperoleh kompetensi dan performansi bahasa pertamanya. Dalam hypotesis nurani ini berjalan dalam menguasai bahasa pertama dengan kemampuan membuat kalimat dari apa yang di dengarnya dari orang di sekitarnya. Dalam membuat kalimat-kalimat tersebut tentunya dengan menggunakan syntaks, semantik dan fonologi. Pengausaan inilah yang disebut dengan hipotesis nurani.
Berdasarkan hipotesi nurani ini, setiap anak yang lahir sudah mempunyai alat dalam memperoleh bahasa dengan mudah dan cepat, akantetapi karena hipotesi ini sukar untuk di buktikan secara empiris dan pengamatan maka hipotesi ini disebut dengan hipotesis nurani dengan sebutan chomsky innate (bawaan lahir, berada di dalam, dan semuala jadi. Hipotesi ini menurut chaer di bagi atas dua jenis, yaitu :
22
1. Hipotesi nurani bahasa, yaitu suatu asumsi yang menyatkan bahwa sebagian semua bagian bahasa tidaklah di pelajari atau di peroleh tetapi di tentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia.
2. Hipotesi nurani mekanisme yaitu hipotesi yang menyatakan proses pemerolehan bahasa manusia oleh manusi di tentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berintraksi dengan pengalaman. Setiap manusia mempunyai alat untuk memperoleh bahasa yang disebut dengan LAD (language Acquistion Device) berfungsi untuk memungkinkan seorang anak memperoleh bahasa ibunya.
Pengkajian perkembangan pemerolehan bahasa berdasarkan pengkajian perkembangan kognisi dalam beberapa tahun terakhir telah maju pesat dan dalam hal ini perkembangan kognisi Piaget sangat memegang peranan penting. Penemuan dalam neuropsikolingusitik dan dalam pengkajian biologi bahasa telah membangkitkan kembali minat ahli-ahli dalam versi kuat hipotesi nurani tetapi dengan penekanan pentingnya semantik dalam proses perkembangan bahasa.
Penemuan-penemuan baru neuropsikolinguistik menunjukkan bahwa anak-anak telah di lengkapi dengan bagian otak yang khusus untuk bahasa dan berbahasa yang di sebut dengan “Pusat-pusat bahasa dan ucapan”.
b. Hipotesi Tabularasa
Hipotesi tabularasa menyatakan bahwa otak anak pada waktu lahir sama seperti otak kosong yang nantinya akan di tuliskan atau di isi dengan pengalaman- pengalaman. Tokoh dalam hipotesi ini adalah Jhon Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal yang kemudian di lanjutkan dan disebarluaskan oleh Jhon Watson seorang tokoh terkenal alairan behaviorisme dalam psikologi.
Hipotesi tabularasa mengangggap, semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam prilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang di alami manusia itu sendiri. Sejalan dengan hipotesis ini behaviorisme menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri dari rangkaian hubungan-hubungan yang di bentuk dengan pembelajaran
23
stimulus-respon. Yang umum dalam behaviorisme stimulus-respon adalah pelaziman klasik, pelaziman operan, dan mediasi atau penengah yang telah di modifikasi menjadi teori-teori pembelajaran bahasa.
Proses pemerolehan bahasa menurut hipotesi ini, seorang anak akan mendengarkan seluruh bunyi-bunyi yang di dengarkannya dari lingkungan sekitarnya terutama dari ibunya. Setelah seorang anak mendengarkan bunyi-bunyi maka dia akan mencoba mengucapkannya kembali denga caranya sendiri atau yang lazim di sebut dengan berceloteh (babling period). Orang tua akan melazimkan bunyi-bunyi yang ada pada bahasanya dan kemudian seorang anak akan menirukan bunyi yang sudah di lazimkan tersebut untuk menirukan ucapan orang tuanya.
Setiap hari perkembangan bahasa pada anak akan berkembang dengan banyak menerima pelaziman dari orang tuanya. Setiap bunyi yang disebutkan oleh anak akan di apresiasi oleh ibunya dengan memberikan hadiah berupa tepuk tanga, senyuman dan lain-lain. Perkembangan bahasa selalu di perkuat dengan hadiah- hadiah atau ganjaran-ganjarn sehingga menjadi kebiasaan dan anak mempunyai kemampuan bahasa. Dengan proses inilah anak di anggap sebagai kertas kosong.
3. Hipotesis Kemestaan Kognitif
Piaget sebagai tokoh yang memperkenalkan teori hipotesis kemestaan kognitif ini sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa pada anak-anak. Pada hakikatnya piaget tidak pernah mengatakan ini sebagai teori akantetapi dia lebih mengenal dengan pemahaman bahwa bahasa adalah akibat dari perkembangan kognitif (intelek). Kemudian pada pengikutnya di Jenewa telah merumuskan pandangan Piaget ini menjadi satu teori pemerolehan bahasa dalam kognitif.
Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa di peroleh berdasarkan struktur-sturktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini di peroleh anak-anak melalui intraksi dengan benda-benda atau orang disekitarnya.
Urutan pemerolehan bahasa dalam kesemestaan kognitif dimulai dari :
- Antara usia 0 sampai 1,5 tahun anak-anak mengembangkan pola aski dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Dan pola-pola ini di atur
24
menjadi struktur-struktur akal (mental). Berdasarkan struktur-struktur akal ini, seorang anak mulai membangun dunia benda-benda yang kekal yang lazim disebut dengan kekelan benda, artinya bahwa benda-benda tersebut walaupun hilang dari pandangannya bukan berarti benda itu tidak ada lagi akantetapi dapat di cari di tempat lain sehingga jika dia melihat benda tersebut di tempat lain maka dia akan mengetahui benda tersbut.
- Aksi kemudian di nuranikan yaitu tahap representasi kecerdasan. Usia anak 2 sampai 7 tahun. Pada tahap ini anak-anak akan mampu membentuk representasi simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan mental, gambar-gambar dan lain sebagainya.
- Kemudian tahap selanjutnya bahasa anak-anak semakin bekembang dan dengan mendapat nilai-nilai sosial. Struktur-struktur linguistik di bentuk berdasarkan bentuk-bentuk kognitif umum yang telah di bentuk ketika berusia kurang dari setahun.
Dari hipotesis-hipotesis yang ada dalam pemerolehan bahasa maka dapat di pahami bahwa hipotesis kesemestaan kognitif dalam psikologi sama atau sejalan dengan hipotesis nurani mekanisme dalam linguistik. Perbedaanya terletak pada namanya saja karena di kemukakan oleh dua disiplin ilmu yang berbeda yang saling mempengaruhi, dimana hipotesis kesemetaan kognitif oleh psikologi sedangkan hipotesis nurani mekanisme oleh linguistik modren.
Pada perkembangan anak semua hipotesis ini berlaku dan tidak ada yang tidak terlaksana karena anak sebenarnya mempunyai konsep bahasa yang sudah di bawa lahir karena pemerolehannya secara alami dan mampu berbahasa juga secara alami. Kemudian anak juga mendapat input bahasa dari orang di sekitarnya sehingga mampu menirukan apa yang sudah di dengarkannnya tersbut. Seiring dengan dua hipotesis ini anak juga mengalami perkembangan kognitif yang memberikan pengaruh pada perkembangan bahasa. Bahasa secara umum di peroleh oleh anak karena sebuah kebutuhan yang sangat mendasar untuk melakukan
25
intraksi dan komunikasi dengan orang di sekitarnya. Dalam pemerolehan bahasa pada setiap anak hampir tidak di ketahui dengan apa dia dapatkan secara dominan, apakah bawaan lahir, atau dari orang di sekitarnya atau memang karena perkembangan kognitifnya, atau ketiga-tiganya pada prosesnya di lewati seorang anak sehingga mampu berbahasa dengan bahasa ibunya atau bahkan dengan berbagai macam bahasa yang luar bahasa ibunya.
Pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa ibu tentunya seorang anak akan memperoleh bahasa dengan tiga hipotesis ini, akantetapi jika bahasa arab adalah bahasa asing tentunya akan di dapatkannya dengan berbagai macam cara, mungkin saja dengan konsep pemerolehan atau pembelajaran, atau meungkin saja dengan pemebelajaran di konsep seperti pemerolehan bahasa. Bahasa arab walaupun sebagai bahasa asing juga dapat di kuasai oleh yang bukan penutur aslinya dengan proses input pembelajaran atau pemerolehan. Jika bahasa arab dengan konsep pemerolehan maka pembelajaran di buat secara alami seperti anak belajar bahasa ibunya tanpa memperhatikan aturan bahasa, akantetapi jika bahasa di konsep dengan pola pengajaran yang fokus pada aturan bahasa arab itu maka akan berkembangan pada kognitif saja kurang dalam mengungkapkan kembali.
E. Bahasa Arab pada lembaga pendidika Islam
Bahasa arab di Indonesia adalah menjadi bahasa asing yang di berbagai lembaga pendidikan terutama pendidikan Islam sebagai bahasa asing yang harus di kuasai dengan berbagai dinamikanya. Bahasa arab di lembaga pendidikan pesanteren adalah bahasa yang akrab karean di jadikan sebagai bahasa sehari-hari di lingkungan dalam bergaul. Bahasa arab di pelajari dengan berbagai tujuan sesuai dengan tujuan lembaga pendidika tersebut, adakalanya bahasa arab di pelajari untuk menguasai ilmu bahasanya dan adakalanya juga untuk mengauasai bahasanya sebagai alat komunikasi.
Di indonesia secara umum lembaga pendidika yang di dalamya di pelajari bahasa arab terdiri dari dua jenis, yaitu lembaga pendidikan pesanteren dengan sistem mukim (siswa tinggal dalam satu komplek dengan guru) dan non pesanteren yaitu tidak berasrama.
26
1. Pendidikan pondok pesanteren mempunyai dua corak yaitu pendidikan pondok pesanteren salafiyah dan modren. Pendidikan salafiyah pesanteren mewaibkan siswa-siswa nya mempelajari bahasa arab dengan tujuan untuk menguasai ilmu bahasa arab yang terdiri dari ilmu-ilmu berkaitan dengan ilmu bahasa arab, yaitu nahwu, shorof, balagoh dan lain sebagainya. Dalam lingkungan pesanteren yang menganut pembelejaran untuk menguasai ilmu bahasa mampunyai kelemahan dalam menggunakan bahasa sebagai bahasa sehari-hari karena merasa kesulitan dengan pengetahuan terhadap ilmu bahasanya. Dalam keadaan model ini kebanyakan siswa tidak mempunyai kecakapan dalam berbicara yang keluar secara spontan.
2. Pendidikan pondok pesanterean dengan sistem modren, yaitu pembelajaran bahasa arab dengan tujuan mengauasai kemampuan komunikatif.
Kemampuan ini lebih kepada pembelajaran bahasa arab untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari di lingkungan pesanteren dan bahkan di luar pesanteren. Pola pengajaran yang di rancang biasanya adalah penguasaan bahasa arab dengan konsep kemahiran yaitu denga npenguatan pengauasaan mufrodat dan kalam. Pembelajaran model ini tetunya akan menjadikan siswa mampu bercakap akan tetapi kurang dalam memahami buku-buku bahasa arab klasik (kitab kuning).
3. Pendidikan bahasa arab terintegrasi. Model pembelajaran ini adalah model yang menjadi solusi dari dua model di atas, dengan keinginan bahwa pemebelajaran bahasa yang lebih terbuka dan tidak dikotomi hanya pada satu bagian saja yaitu ilmu bahasa atau bahasa. Konsep ini melaksanakan pembelajaran bahasa arab dengan tujuan menjadikan siswa mampu menguasai ilmu bahasa kebutuhan memahami buku-buku klasik (kitab kuning) juga mampu berkomunikasi menggunakan bahasa arab dengan baik. Model pembelajaran bahasa arab ini adalah akibat dari keresahan sistem pembelajaran yang dikotomis fokus pada satu bagian saja, fokus pada ilmu bahasa arab atau fokus pada bahasa arab kebutuhan komunikasi. Untuk melaksanakan model ini sebaiknya harus ada perencenaan materi penguasaan berdasarkan tingkat usia dan kamampuan. Konsepnya mungkin
27
saja pada tahap awal untuk penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi dan selanjutnya masuk pada tahap penguasaan ilmu bahasanya. Dan tidak akan mungkin berjalan secara bersamaan karena bahasa seharusnya otomatis di ucapkan. Kendala yang terjadi jika mendahulukan ilmu bahasa di banding bahasa akan menyebabkan kesulitan pada peserta didik, akantetapi jika mendahulukan bahasa kemudian ilmu bahasa maka akan menjadikan ilmu bahasa memperbaiki pengetahuan siswa tentang bahasa arab yang sudah ada.
Pembelajaran bahasa arab di Indonesia di lihat dari perkembangannya mengalami kemajuan karena bahasa arab sudah tidak lagi di pelajari di lingkungan pondok pesanterean saja akantetapi sudah menjadi komoditi pada tingkat universitas Islam Negeri dengan kehadiran Ma’had Al-Jamiah yang menjadikan bahasa arab sebagai bahasa sehari-hari. Dengan keadaan ini akan mengembalikan ruh pembelajaran bahasa arab dan menjadikan bahasa arab sebagai bahasa yang akan di pelajari banyak orang. Bahasa arab bukan lagi bahasa yang gunakan oleh para kiyai an ustad atau pemuka agama Islam saja, akantetepi semua kalangan masyarakat islam butuh terhadapanya.
Dengan berkembangnya pembelajaran bahasa arab seharusnya kepada pengajar bahasa arab juga turut serta mengembangkan pembelajaran bahasa arab yang mengikuti kebutuhan. Banyak kelemahan-kelemahan pada pembelajaran bahasa arab masa lalu yang berakibat pada perubahan persepsi masayarakat terhadap bahasa arab, dimana bahasa arab di anggap bahasa yang sulit karena pembelajaran terlalu monoton dan fokus mengandalkan kekuatan memori (menghafal).
Pembelajaran yang terus menerus mengadalkan ingatan menjadikan banyak para siswa ketakutan dan tidak dalam keadaan menikmati pembelajaran. Maka dari itu sebaiknyalah di kembangkan proses pembelajaran yang mengikuti keinginan bahasa itu untuk di komunikasikan dan keadaan generasi yang sekarang ini lebih pada aplikasinya bahasa.
Bahasa arab di ajarkan dengan rancangan yang harus sangat menarik dengan tujuan:
28
1. Menghilangkan trauma pembelajaran masa lalu melahirkan persepsi yang tidak baik, bahasa arab bahasa yang susah dan untuk digunakan seacar terbatas.
2. Bahasa arab bahasa yang sulit karena membacanya saja belum pandai akibat bahasa di jadikan materi yang kaku harus dapat di baca terlbih dahulu, tidak alamiah dengan konsep pemerolehan tanpa kemampuan membaca seseorang bisa saja mampu berkomunikasi.
3. Bahasa arab bahasa yang tidak banyak manfaat dalam dunia global dengan sebab keterlambatan masuk dalam pengembangan di ranah dunia kerja.
Kemudian tidak melibatkan unsur-unsur teknologi sehingga perspsi kuno tetap sebagai bahan yang utuh di pikiran.
Kondisi-kondisi inilah yang kemudian harus mendapat solusi dari berbagai kalangan dalam rangka untuk menjadikan bahasa arab sebagai bahasa yang muah di pelajari sebagai sifat dasar dari bahasa itu sendiri yaitu bahasa untuk di komunikasikan. Bahasa arab juga sama keinginannya dengan bahasa yang ada di dunia sebagai alat komunikatif tidak hanya untuk mempelajari buku-buku klasik.
Jauh dari itu bahasa arab juga untuk kebutuhan pergaulan international. Bahasa jika ingin berkembang seperti bahasa asing lainnya harus merubah bahwa bahasa arab adalah komoditi bisnis yang dapat memberikan kehidupan pada masyarakat tidak hanya mejadi guru bahasa arab saja, akantetapi masuk pada kebutuhan bisnis international dan ekonomi. Dengan begitu bahasa arab akan sama posisinya dengan bahasa asing lainnya seperti bahasa inggris.
F. Pengertian Lingkungan Bahasa Arab
Dalam dunia belajar-mengajar bahasa dikenal istilah pemerolehan bahasa (al- iktisabu al-lugoh) dan pembelajaran bahasa (ta'limul lugoh). Pemerolehan bahasa biasanya disebutkan untuk proses penguasaan bahasa kedua secara alamiah melalui bawah sadar dengan cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut. Sedangkan belajar adalah proses penguasaan bahasa terutama kaidah-kaidah nya secara sadar sebagai akibat dari pengajaran oleh guru atau sebagai hasil belajar secara mandiri.
29
Krasen 1977 dalam Imam Ma'ruf menjelaskan bahwa semua wacana bahasa yang kita produk yang berupa kemampuan berbahasa baik lisan maupun tertulis adalah berasal dari sistem bahasa yang telah kita miliki sebagai hasil dari pemerolehan. Adapun sistem bahasa yang kita kuasai melalui belajar hanya berfungsi sebagai monitor yang dalam keadaan tertentu berfungsi untuk menyunting dan memperbaiki wacana yang kita miliki dari pemerolehan. Sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara lingkungan bahasa dengan kemampuan berbahasa.
Bahasa sebagai sistem dapat dimiliki oleh manusia melalui pemerolehan bahasa yang dilakukan secara tidak sadar dan sudah menjadi fitrah manusia dari sejak lahir.
Pembelajaran bahasa lupakan proses untuk meningkatkan kemampuan berbahasa kedua setelah bahasa ibu. Pemerolehan bahasa merupakan proses yang tidak sadar dilakukan oleh manusia bahkan sebelum dilahirkan ke dunia karena sudah mempunyai komunikasi dengan bahasanya sendiri bersama ibunya atau ayahnya.
Dalam hal ini ini bahasa diperoleh diperoleh bukan dipelajari artinya proses dilaksanakan secara terus-menerus tanpa mengkaitkannya dengan unsur-unsur pembelajaran secara formal sehingga lebih disebut sebagai pemerolehan bahasa.
Teori monitor yang dikemukakan oleh perasaan inilah yang bisa menjelaskan beberapa penemuan belajar bahasa asing. Teori teori monitor meyakini bahwa pembelajaran bahasa adalah sebagai kontrol ataupun pengembangan dari bahasa yang sudah diperoleh oleh peserta didik. Teori monitor ini dapat kita lihat ketika peserta didik diberikan kan banyak kesempatan untuk menggunakan bahasa secara lisan maupun tulisan akan lebih lancar dan mahir dalam menggunakan bahasa dibanding peserta didik yang fokus pada pembelajaran tata bahasa. Hal ini disebabkan karena belajar bahasa adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berbahasa Arab sebagaimana yang sering disebut dengan dan lingkungan bahasa. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab maka perlu untuk dilaksanakan pembelajaran baik secara formal ataupun informal yang disebut dengan lingkungan bahasa karena lingkungan bahasa merupakan Wahana pemerolehan bahasa Arab bagi peserta didik yang mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa asing.
30
Kata lingkungan dalam bahasa Arab berasal dari kata ءاوب yang artinya menyatu, mempengaruhi, seperti contoh dalam kata نلاف ءاوب نلاف artinya seseorang menyatu dengan yang lain atau saling mempengaruhi yang mencakup kepada lingkungan Alamiah, ijtima’iah dan Siyasiyyah (Anis dkk., 2004, : 75). Dalam bahasa Inggris di kenal dengan kata environtment berarti segala sesuatu atau faktor-faktor yang berada di luar yang dapat mempengaruhi mulai dari lahir sampai sempurna perkembangannya (Kasuma & Indar, 1973,: 83). Lingkungan dalam pengertian Istilah adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan dan menghalangi perkembangan manusia baik secara alamiah, manusiawi dan sosial, serta tidak keraguan bahwa setiap orang memberikan pengaruh pada lingkungan dan dapat di pengaruhi (Abdul Aziz, 1992, : 151).
Lingkungan diartikan sebagai tempat memperoleh pengalaman untuk melanjutkan kehidupan baik secara individu maupun secara kelompok yang di dalamnya terdapat faktor-faktor yang kuat yang datang dari luar dirinya yang dapat mempengaruhi seseorang dalam tingkah lakunya. Lingkungan secara khusus pada lingkungan pendidikan adalah segala unsur-unsur yang memberikan dorongan kepada Pengajar baik yang bersumber dari buku, metode, atau aktivitas belajar mengajar di dalam kelas sebelum dan sesudahnya dengan tujuan untuk mencapai tujaun pembelajaran yang mengasilkan strategi pembelajaran berfungsi sebagai stimulus bagi peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan(Mahfudz, t.t.,:180). Banyak pengertian yang berkaitan dengan Lingkungan pembelajaran atau pendidikan secara umum.
Lingkungan bahasa berarti segala sesuatu yang berada di luar dirinya baik secara alamiah, sosial dan politik yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk memperoleh bahasa dan meningkatkan kemampuan kebahasaan yang dalam hal ini adalah bahasa Arab. lingkungan bahasa Arab juga di sebut sebagai segala faktor baik secara realistis ataupun ma’na dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik dalam meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan bahasa Arab (Marzuki 2001). Lingkungan bahasa sebagai faktor pendorong yang berasal dari luar yang mungkin saja datang dari pengejar ataupun keadaan yang di bentuk untuk
31
meningkatkan kemampuan kebahasaan bahasa Arab sehingga bahasa Arab menjadi bahasa yang di gunakan dalam lingkungan atau pergaulan sehari-hari.
Faktor-faktor yang mampu mempengaruhi peserta didik dalam kebahasa araban tetunya banyak sekali baik tertbentuk secara alamiah, lingkungan sosial ataupun lingkungan secara luas yang mencakup kepada seluruh aspek kehidupan yang di lalui peserta didik. Faktor alamiah dapat di pahami sebagai faktor yang memang sudah ada sejak lahir atau dalam kadungan, faktor lingkungan masyarakat sebagai keadaan kehidupan yang terbentuk dalam keluarga, sosial masyarakat dan sekolah, serta secara luas adalah lingkungan sebagai segala sesuatu yang di lalui selama hidup.
Berkaitan dengan lingkungan bahasa Arab ini berkaitan erat dengan teori filsafat pendidikan yang menjelaskan bahwa setiap orang berkembangan berdasarkan faktor dari dalam, luar dan pengalaman yang sudah di lewatinya.
Ketiga faktor ini akan salaing berkaitan seiring dengan berkembangnya manusia sehingga akan saling mendukung satu sama lain baik dalam bentuk pengaruh pada prilaku atau pola pikir. Dari ketiga faktor ini mejadi menarik untuk membincangkan aliran filsafat pendidikan yang berkaitan dengan lingkungan bahasa Arab ini yaitu (“Opini Pendidikan” 2020);
1. Aliran Nativisme. Doktrin filosofis dalam aliran ini terkenal dalam psikologi pendidikan yang gagas Arthur Schopenhauer (1788-1869) menjelaskan bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah ada semenjak lahir itulah menentukan hasil perkembangannya. Aliran ini seolah menutup proses pendidikan dapat mengubah prilaku dan sifat-sifat bawaan lahir. Satu sisi aliran ini sangat pesimistis dalam melihat pendidikan sebagai solusi perbaikan karena sudah bawaan lahir, akantetapi dapat diyakini jika bawaan lahir tersebut bersifat fisik dapat menghambat perkembangan dalam hal ini porkembangan kebahasaan. Kelainan fisik pada pendengaran artinya tidak dapat mendengar dengan baik akan berakibat pada keterlambatan dalam berbicara (Hidayat, 2012, : 37).
32
2. Aliran Naturalisme. Filsuf Prancis JJ. Rosseau (1712-1778) adalah pelopor dari aliran ini yang bersebarang dengan lairang nativisme bahwa setiap anak dilahirkan mempunyai bawaan baik dan tidak satupun dengan pembawan buruk. Perkembangan anak akan sangat di tentukan oleh pendidikan yang diterimanya atau pendidikan dapat memberikan pengaruh. Perkembangan bergantung pada pengaruh, jika pengaruhnya baik maka hasilnya juga baik, dan jika pengaruhnya buruk maka hasilnya juga akan menjadi buruk sehingga lahirnya anak adalah baik dan baik buruk di tentukan oleh pengaruh setelah lahir. JJ. Rosseau malah sangat mengahawatirkan campur tangan manusia karena pendikan terkadang memberikan pengaruh yang buruk kepada peserta didiknya karena kurang keteladanan dalam mendidik.
Dan dia berpendapat anak di baiarkan berkembang secara alamiah dengan mengembangkan bawaan l;ahirnya yang sudah baik ada awalnya.
3. Aliran Empirisme. Aliran ini menentang kedua aliran nativisme dan naturalisme. Jhon Locke (1632-1704) menjadi pelopor dari aliran ini di inggris sehingga pada awalnya di kenal dengan nama the school of british empirism (aliran empirisme Inggris). Pokok pikiran aliran ini yang paling terkenal adalah tabularasa, yaitu sebuah istilah latin yang berarti buku yang kosong atau lembaran tanpa tulisan. Tabularasa sendiri menekankan peran poenting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pendidikannya, sedangkan bakat dan bawaan lahir tidak meberikan pengaruh apa-apa.
Dalam aliran ini menjelaskan bahwa setiap anak dapat di bentuk apa saja karena pada hakikatnya mereka adalah kertas kosong yang memungkinkan di tulis sesuai dengan keinginan penulsinya.
4. Aliran konvergensi. Aliran ini menganut faham penggabungan dari aliran filsafat di atas. Aliran ini pertama kali di perekanalkan oleh William Stern (1871-1939) yaitu seorang filsuf kelahiran jerman. Aliran ini men ggabungkan hereditas dengan laingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya bergantung pada bawaan lahir.
Dalam aliran konvergensi menjelaskan bahwa pertumbuhan dan
33
perkembangan manusia tergantung dua faktor yaitu bawaan lahir dan lingkungan. Dalam aliran ini di jelaskan bahwa bawaan lahir dan lingkungan mempunyai peran masing-masing dimana pendidikan mungkin untuk dilaksnakan yaitu sebegai penolongan yang memberikan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi kurang baik dan yang membatasinya adalah bawaan lahir dan lingkungan.
Dari aliran-aliran filsafat diatas dapat di pahami bahwa bawaan lahir dan lingkungan sama-sama mempunyai pengaruh pada perkembangan peserta didik.
Pemahaman ini dalam arti pendidikan secara luas yang di dalamnya juga terdapat pendidikan pada kemampuan kebahasaaan pada seorang peserta didik.
Perkembangan ini tentunya mempunyai porsi masing-masing pada diri peserta didik sehingga seluruh aspek pendidikan dapat berkembangan secara baik.
Pendidikan kebahasaan sebagai pendidikan yang tidak dapat di pisahkan dari seorang peserta didik juga menjadi perhatian karena kecerdasan juga termasuk kecerdasan linguistik.
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan seseorang atau indivisu dalam mengolah serta menggunakan kata-kata dengan sangat baik, baik lisan ataupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup pada penguasaan kata yang matang, suara, dan ritme yang sangat jelas dan tenang serta intonasi yang di ucapkan sangatlah baik.
Urutan kata yang mereka ucapkan memiliki makna yang lengkap dan tetunya membuat individu lainnya mudah memahami, termasuk kemampuan unutk mengerti kekuatan kata dan menyampaikan informasi serta mengubah kondisi pikiran milik orang lain. Kecerdasan linguistik dalam dunia psikologi di sebut dengan dengan word smart (Psikologi 2017).
Linguistik sebagai kebutuhan manusia dalam kehidupan sosial untuk bergaul secara luas baik untuk memenuhi kebutuhan secara material maupun moral dalam lingkungan masyarakat. Kebutuhan tersebut didapatkan dari orang lain tidak mungkin oleh diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Kebutuhan itu di dapatkan pada lingkungan yang kaitannya pada kebahasaan. Bahasa Arab sebagai alat komunikasi juga dapat di kaondisikan pada lingkungan baik lingkungan yang sudah ada terbentuk atau lingkungan yang di konsdisikan sebagai cara pembelajaran.
34 G. Urgensi lingkungan bahasa Arab
Lingkungan bahasa Arab adalah keadaan yang di kondisikan yang merupakan buatan dari pengajar kepada peserta didik sebagai upaya menjadikan peserta didik mampu menguasai kemamapuan utama istima’ dan kalam. Lingkungan akan memberikan doroangan kepada peserta didik pada lingkungan sehingga penggunaan bahasa Arab terjadi pembiasaaan dalam pergaulan. Kegiatan pengkondisian adalah bentuk program yang di dalamnya terdapat beberapa kegiatan sebagai upaya melatih dan menanamkan kebiasaaan berbahasa Arab tanpa rasa takut secara alamiah.
Penciptaan lingkungan bahasa sangatlah penting yang posisinya di luar pembelajaran di dalam kelas. Proses pelaksanaannya juga berbeda dengan pembelajaran formal mengacu pada tujuan pengajaran secara umum. Dalam lingkungan bahasa harus lebih di tekankan kepada kebutuhan komunikasi lisan sebagai kemampuan yang jarang di miliki oleh peserta didik yang mempelajari bahasa Arab. banyak orang mampu membaca buku bahasa Arab tanpa menggunakan harkat dan memahaminya dengan baik, akantetapi tidak mampu menyampaikan yang di pahaminya tersebut menggunakan bahasa Arab. banyak lembaga pendidikan yang di dalamnya di ajarkan bahasa Arab, akantetapi sangat sedikit yang berani mengunakan bahasa Arab dengan bahasa lisan. Keadaan ini sudah benrlangsung lama di kalangan pembelajaran bahasa Arab sebagai latar belakang untuk mencari jalan keluar pembelajaran bahasa Arab yang seperti apa yang menarik dan mungkin saja berhasil di lakasnakan. kelemahan-kelemahan ini terjadi dimana-mana seperti pekerjaan rumah bersama dalam mencarikan solusinya.
Bi’ah lughoh adalah salah satu upaya merekontruksi pembelajaran bahasa dalam rangka untuk mempercepat pemerolehan bahasa secara efektif. Rekayasa lingkungan untuk menjadi proses pembelajaran adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kemahiran bahsa Arab (Hidayat 2012). Teori-teori lingustik terkadang menyebabkan pembelajaran yang pasif kerena melihat bahasa sebagai materi yang harus di pelajari bukan sebagai yang harus di kusai saja. Pembelajaran bahasa di dalam kelas sebagai tempat mempelajari teori-teori kebahasaan karena teringat kurikulum yang sudah di rancang dan di tetapkan sesusi dengan standari
35
yang ada maka perlu tempat yang tidak berbentuk teoritik berupa rekayasa pembelajaran yang berjalan secara terus menerus dalam bentuk lingkungan yang menyatu antara peserta didik dengan materi ajar.
Biah lughowiyah selain sebagai program juga sebagai media yang efektif dalam mengembangkan kemampuan bahasa Arab karena berdasar pada pengertian yang di jelaskan Rossi dan Breidle bahwa media adalah seluruh alat yang di gunakan untuk tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya (Sanjaya 2010). Banyak media yang digunakan sebagai alat dalam menghidupkan suasana kebahasaan dalam lingkungan bahasa yang kuat melalui mendengarkan dan memperdengarkan barita-berita dengan bahasa Arab berupa radio. Televisi di jadikan sebagai media yang berfungsi sebagai tontonan peserta didik baik berupa siaran yang berbahasa Arab atau acara-acara telivisi sebagai hiburan. Koran-koran bahasa Arab sebagai sumber bacaan untuk memperkaya bahasa berita bahasa Arab.
Keadaan-keadaan diatas dapat dikatakan sebagai cikal bakal atau latar belakang lahirnya program lingkungan bahasa Arab pada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang di dasarkan pada lingkungan pendidikan secara umum. Lingkungan pendidikan secara umum terdiri dari tiga jenis yaitu lingkungan Sosial, alamiah dan lingkungan buatan. Berkaitan dengan tiga lingkungan tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut ini (Nana & Rifa’i, 2005, : 212–214):
1. Lingkungan sosial. Lingkungan ini mencakup kepada kegiatan komunikasi antar sesama manusia sebagai mahluk sosial yang di dalamnya terkandung unsur-unsur sosial seperti budaya, sopan santun dan adab berbicara yang susai dengan lingkungan tersebut. Sebuah wilayah mempunyai kekhususan tersendiri dalam berbicara atau bergaul yang dalam penerapan lingkungan ini harus menyesuaikan lokasinya sehingga terjadi keadaan yang mengacu pada nilai-nilai adab baik secara adat kebiasaan terlebih tidak keluar dari norma agama Islam. Dalam menciptakan lingkungan pendidikan seperti bahasa Arab yang di lakasanakan harus memperhatikan norma yang berlaku sehingga pembiasaan yang terjadi di dalamnya juga mengandung nilai yang berarti bagi peserta didik. Tujuannya memang untuk belajar bahasa Arab