Peran ayah dalam keluarga sangat luas, yaitu terdiri dari :
Pemimpin rohani terhadap Istri. Pemimpin rohani terhadap istri berarti suami harus
mendoakan, mengasihi dan memimpim istri sesuai dengan peraturan Allah. Kepemimpinan rohani terhadap istri memberikan wibawa terhadap istri dan anak:
Bertanggung jawab kepada Kristus, karena tugas memimpin mewakili Allah. Memimpin berarti memimpin dan mengasihi dan melayani, bukan menuntut atau berlaku sebagai boss, sebab Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani ( Matius 20:28; Efesus 5:25; Kolose 3:9).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kepemimpinan seorang ayah yaitu : - Memimpin berarti bergaul dan memberi waktu (Yohanes 1:39, 43)
- Memimpin berarti rela berkorban (Efesus 5:28:30)
- Tidak memukul atau berlaku kasar, sebab istri adalah milik Kristus dan tubuh istri adalah bait Roh Kudus ( I Korintus 6:19-20; Kejadian 2:18-24), memukul istri berarti memukul milik Allah.
Mengagumi dan memberi penghargaan pada istri (Mazmur 139:13-14)
- Memperhatikan dan memelihara hubungan pribadi dengan sopan dan hormat. Tubuh suami adalah milik istri dan sebaliknya (I Korintus 7:4; Kejadian 2:24; Efesus 5:31), ekspresi cinta harus benar dan tidak boleh egois.
- Selain Kristus, istri mendapat tempat pertama dihati suami (Matius 10:37)
- Menyediakan waktu bagi istri dan anak untuk relax bersama, berdoa dan membuka Alkitab bersama (Mazmur 127:1)
Melayani Tuhan bersama, (Kisah para rasul 3:11; Roma 16) Pemimpin Anak
- Penanggung utama terhadap anak(Amsal 1:8; 6:20)
- Ayah adalah pemimpin anak, malalui pikiran, perbuatan dan teladan (II Kor 3:11; Efesus 5:23)
- Anak ciptaan Allah (Mazmur 127:3; 139:1)
- Memperhatikan kebutuhan anak secara total, tubuh jiwa dan roh dengan penuh tanggug jawab.
- Memberi teladan bagi anak untuk hidup hormat dan takut akan Tuhan
Keluarga Kristen tidak hanya membawa anak beragama, sekolah dan hidup yang baik, namun tiap anak harus didoakan atau dibimbing untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh. Disiplin ditanamkan mulai sejak anak kecil. Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi janganlah engkau menginginkan kematiannya (Ams 19:18).
Peranan Istri dalam keluarga A. Peranan Istri terhadap suami 1. Sebagai penolong bagi suami.
Istri adalah penolong dan bukan perongrong suami. Istri merupakan asisten, mengisi kekurangan, mengantikan dan mewakili bila
diperlukan. Gelar penolong diberikan oleh Allah sendiri (kejadian 2:18). Istri sebagai penolong berarti:
Berharga atau Bermutu
Istri yang cakap lebih berharga dari permata (Amsal 31:10). Pikiran, perasaan dan
perbuatannya bermutu, sehingga istri merupakan harta kekayaan yang tak ternilai harganya. Dapat dipercaya
Hati suaminya percaya kepadanya (Amsal 31:11a), dalam hal:
- Kesetiaan yaitu Istri berkewajiban setia kepada suami, anak dan keluarga sebagaimana janji pernikahan yang diucapkan dihadapan pendeta, jemaat dan Tuhan. istri harus tetap
bertekat untuk hidup bersama, karena apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:5-6).
- Menjaga Rahasia yaitu Siapa menjaga mulutya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Amsal 18:21). Istri harus dapat dipercayai suami, menjaga rahasia pribadi, keluarga, pekerjaan dan pelayanan, hati-hati dalam berkata-kata,
mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh diceritakan agar gosip tidak berkembang. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan dan mulutnya berseru meminta pukulan orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya (Amsal 18:6,7).
- Mengatur keuangan yaitu Istri yang baik akan dipercaya oleh suami karena mampu mengatur keuangan dengan penuh tanggung jawab. Istri yang bijak membangun rumahnya, tetapi istri yang bodoh meruntuhkan dengan tangannya (Amsal 15:13).
Mengatur Rumah Tangga yaitu tugas mengatur rumah tangga bukanlah tugas yang sepele (Titus 2:5). Termasuk wanita karir seharusnya tahu mengatur rumah tangga dengan baik dan tidak boleh menelantarkan rumah tangga.
Rajin dan kreatif
Bangun kala masih malam (Amsal 31:15a) pada malam hari pelitanya tidak padam (Amsal 31:18b) ia sedang bekerja dengan tangannya (Amsal 31:13b). prinsipnya disini adalah seorang istri hendaknya rajin dan kreatif, mempunyai kesediaan dan kemampuan bekerja keras. Seorang istri, ibu rumah tangga yang malas, boros dan hanya bermalas-malasan akan mengakibatkan rumah tangga yang berantakan.
Penolong yang berhikmat
Ia membuka mulutnya dngan hikmat (Amsal 31:26) istri tahu kapan harus berkata-kata sesuai dengan waktu, tempat dan situasi. Ia tahu kapan harus memberikan pujian atau koreksi kepada suaminya. Perkataan yang diucapkan pada waktunya, seperti buah apel emas dalam pinggan perak (Amsal 25:11).
penolong yang mantap dalam penampilannya.
Dalam penampilan yang terutama adalah perhiasan rohani (batin), namun jangan
mengabaikan perhiasan lahiriah. Sangat menyedihkan jika istri menyambut suami dengan rambut kusut dan daster yang kotor, istri yang melalaikan diri tidak menjadi penolong yang baik. Jangan mengeluh jika suami mulai melihat wanita lain yang tahu merawat diri. Istri yang baik juga tahu menghias diri sesuai dengan profesi suaminya shingga membeikan rasa hormat dan wibawa.
Tunduk dan menghormati Suami
Istri hendaklah menghormati suami (Efesus 5:33b). Hai Istri tunduklah kepada suamimu sepei kepda Tuhan (Efesus 5:22). Istilah tunduk dan hormat mungkin merupakan istilah yang menjengkelkan bagi istri yang dominan terhadap suami, terlebih bagi istri yang memiliki alasan rasional untuk dominan dalam keluarga. Namun agar keluarga menjadi bahagia, prinsip-prinsip keluarga dalam Alkitab perlu digali dan ditaati. Kemungkinan kehancuran
keluarga karena diabaikannya prinsip tersebut dalam kehidupan keluarga Kristen. Allah telah mengajarkan bagaimana istri berlaku kepada suami, yaitu tunduk dan hormat.
Prinsip istri tunduk terhadap suami memang sudah sewajarnya, baik dilihat secara kronologis penciptaan, terlebih lagi merupakan perintah Allah agar istri tunduk terhadap suami, termasuk tunduk kepada suami yang tidak beriman (Efesus 5:21; I Petrus 3:27). Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, merka juga tanpa perkataan dimenengkan oleh kelakuan istri, jika mereka meliht, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka. (I Petrus 3:1-2).
Mengasihi Suami
Pernikahan Kristen diikat oleh kasih Kristus, karenanya suami istri harus saling mengasihi. Kasih akan menciptakan kebahagiaan dalam keluarga. Kualitas kasih dalam keluarga Kristen adalah sepeti kasih Tuhan Yesus kepada jemaat. Yang pertama harus dikasihi seorang istri adalah suaminya. Bahkan setelah mereka memiliki anak sekalipun, istri harus mengasihi suaminya terlebih dahulu. Di dalam beberapa rumah tangga mungkin saja istri melupakan persekutuan dengan suaminya, istri lebih banyak mencurahkan kasihnya untuk anak-anak. Sikap ini tidak baik. Ayah dan ibu harus bersam-sama mengasihi dan memelihara anak-anak mereka. akan tetapi kehadiran anak-anak tidak boleh mengurangi kasih suami istri.
Peranan Ibu bagi Anak.
Istri tidak hanya berperan terhadap hidup dan kemajuan karier suami, tetapi juga menentukan kemajuan anak. Kualitas keluarga dari sisi lain juga dapat tercermin dari kebahagiaan, pertumbuhan dan kemajuan anak, karena kehancuran dan ketidak bahagiaan rumah tangga dapat mengakibatkan anak menjadi korban. Di bawah ini akan diuraikan peran ibu terhadap anaknya antara lain:
- Memelihara dan mengasuh anak.
- Menyediakan makanan bagi anaknya (Amsal 31:15a) - Mengasuh dan mengawasi anak (Amsal 31:27a)
- Imam bagi anak-anaknya. Doa orang benar besar kuasanya dan Tuhan mendengarkan doa orang yang jujur dan Tuhan berjanji untuk menjawab doa (Matius 7:7). Sebagai imam berarti menyampaikan keluhan, masalah dan sukacita anak kepada Tuhan. ibu juga
berperan menjadi penyambung lidah Allah, yaitu menyampaikan Firman Allah kepada anak.
- Teladan bagi anaknya
Perlu disadari bahwa kehidupan ibu sangat mewarnai kehidupan anak, baik hal positif maupun hal yang negatif. Perkataan, perbuatan, dan gaya hidup orang tua akan diteladani anak-anak (Amsal 20:15, 14:1; 31:20).
- Sebagai guru
Sebagai guru seorang ibu harus dapat mendidik anak-anaknya. Hai anak-anakku dengarlah didikan ayahmu dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu (Amsal 1:8b).