Bab II Kajian Pustaka
2.1 Landasan Teori
2.1.10 Perangkat Framing Zhongdan Pan dan
Analisis dalam penelitian menggunakan model Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, analisis framing ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam menganalisis teks media disamping analisis isi kuaitatif. Analisis framingdilihat sebagaimana wacana publik tentang suatu isu atau kebijakan dikonstruksikan dan dinegosiasikan (Eriyanto, 2002:251).
Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih dari pada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsepsi dari
framingyang saling berkaitan. Pertama, dalam konsepsi psikologi, framingdalam konsepsi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Framing berkaitan dengan struktur dan proses kognitif, bagaimana seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dalam skema tertentu.
Framing disini dilihat sebagai suatu penempatan informasi dalam suatu konteks yang unik atau khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisis seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi dari suatu isu atau peristiwa tersebut menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan dalam membuat keputusan tentang realitas, kedua, konsepsi sosiologis, pandangan sosiologis lebih melihat pada bagaimana
konstruksi sosial atas realitas. Frame disini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklarifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya. Frame disini berfungsi membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi, dipahami dan dapat dimengerti karena sudah dilabeli dengan label tertentu (Eriyanto, 2002:252).
Dalam pendekatan ini perangkat framing dibagi menjadi empat struktur besar yaitu struktur sintaksis, struktur skrip, struktur tematik dan struktur retoris. Penjelasan lebih lanjut tentang keempat struktur tersebut sebagai berikut :
A. Sintaksis
Struktur sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa – pertanyaan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa – kedalam bentuk susunan kisah berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini bisa diamati dari bagan berita (headline yang dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang dijadikan sandaran, sumber yang dikutip, dan sebagainya). Bentuk sintaksis yang paling populer adalah struktur Piramida Terbalik, dimana bagian yang diatas lebih penting dibandingkan bagian yang dibawahnya. Unit yang diamati dalam struktur sintaksis, antara lain :
a) Headline/Judul Berita
Headline merupakan aspek sintaksis dari wacana berita dengan tingkat kemenonjolan yang tinggi yang menunjukkan kecenderungan berita. Pembaca cenderung lebih mengingat headline yang dipakai dari pada bagian berita. Headline mempunyai framing yang kuat. Headline
pengertian isu dan peristiwa sebagaimana mereka beberkan. Selain
headline, lead adalah perangkat sintaksis lain yang sering digunakan. Lead
yang baik umumnya memberikan sudut pandang dari berita, menunjukkan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan.
Berkenaan dengan judul berita, biasanya judul dibuat semenarik mungkin, to attack the reader. Didalam pers atau media cetak, hal itu lebih jelas lagi, karena judul dicetak bervariasi. Dengan teknik grafika yaitu tipe-tipe huruf, judul menonjolkan suatu berita, sehingga dapat lebih menarik orang yang membacanya.
Posisi judul dianggap penting karena sekilas kalau pembaca atau melihat media massa, maka yang terbaca judulnya dahulu. Judul berita (headline) pada dasarnya mempunyai 3 fungsi (Sobur, 2002:76), yaitu mengiklankan cerita atau berita, meringkaskan atau mengikhtisarkan cerita dan memperbagus halaman. Dalam judul berita tidak diizinkan mencantumkan sesuatu yang bersifat pendapatan atau opini (Sobur, 2002) b) Lead/Teras Berita
Lead yang baik umumnya memberikan sudut pandang dari berita, menunjukkan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan (Eriyanto, 2002:258). Para wartawan sering berseloroh mengemukakan bahwa menulis lead, katanya, sama dengan mencium seorang gadis. Dengan ungkapana ini wartawan ingin menunjukkan bahwa jika lead sudah didapat, maka bagian-bagian yang lainnya akan mudah dituliskan. Lead
rumus 5W+H (who, what, when, where, why, how), (2) menekankan news feature of the story dengan menempatkan pada posisi awal, dan (3) memberikan identifikasi cepat tentang orang, tempat dan kejadian yang dibutuhkan bagi pemahaman cepat berita itu (Sobur, 2002:77).
c) Informasi
Ketika menulis berita biasanya dikemukakan latar belakang atas peristiwa yang ditulis. Latar yang dipilih menentukan ke arah mana pandangan khalayak hendak dibawa. Ini merupakan cerminan ideologis, dimana komunikator dapat menyajikan latar belakang dapat juga tidak, bergantung pada kepentingan mereka (Sobur, 2002:79). Latar umumnya ditampilkan di awal sebelum pendapat wartawan yang sebenarnya muncul dengan maksud mempengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat wartawan sangat beralasan. Karena itu latar membantu menyelidiki bagaimana seseorang memberi pemaknaan atas suatu peristiwa (Eriyanto, 2002:258).
d) Kutipan Sumber
Pengutipan sumbe berita dalam penelitian berita dimaksudkan untuk membangun obyektivitas-prinsip keseimbagan dan tidak memihak. Ini juga merupakan bagian berita yang menekankan bahwa apa yang ditulis oleh wartawan bukan pendapat wartawan semata, melainkan pendapat orang dari orang yang mempunyai otoritas tertentu. Pengutipan sumber menjadi perangkat framingtas tiga hal. Pertama, mengklaim validitas atau keberadaan dari pernyataan yang dibuat dengan
mendasarkan diri pada klaim otoritas akademik. Wartawan bisa jadi mempunyai pendapat tersendiri atas suatu peristiwa, pengutipan itu digunakan hanya untuk memberi bobot atas pendapata yang dibuat bahwa pendapat itu tidak omong kosong, tetapi didukung oleh ahli yang berkompeten. Kedua, menghubungkan poin tertentu dari pemandangannya kepada pejabat yang berwenang. Ketiga, mengecilkan pendapat atau pandangan tertentu yang dihubungkan dengan kutipan atau pandangan mayoritas sehingga pandangan tesebut tampak sebagai menyimpan (Eriyanto, 2002:259).
B. Skrip
Laporan berita sering disusun sebagai suatu cerita. Hal ini dikarenakan dua hal. Pertama, banyak laporan berita yang berusaha menunjukkan hubungan, peristiwa yang ditulis merupakan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya. Kedua, berita umumnya mempunyai orientasi menghubungkan teks yang ditulis dengan lingkungan komunal pembaca. (Eriyanto, 2006:260). Bentuk umum dari struktur skrip ini adalah 5W + H (who, what, when, where, why dan how). Meskipun pola ini tidak selalu dapat dijumpai dalam setiap berita yang ditampilkan, kategori informasi ini yang diharapkan diambil oleh wartawan untuk dilaporkan. Unsur kelengkapan berita ini dapat menjadi penanda framingyang penting. (Eriyanto, 2006:260-261).
C. Tematik
Bagi Pan dan Kosicki, berita mirip sebuah pengujian hipotesis: peristiwa yang diliput, sumber yang dikutip, dan pernyataan yang diungkapkan
– semua perangkat itu digunakan untuk membuat dukungan yang logis bagi hipotesis yang dibuat. Tema yang dihadirkan atau dinyatakan secara tidak langsung atau kutipan sumber dihadirkan untuk mendukung hipotesis. Pengujian hipotesis ini kita gunakan untuk menyebut struktur tematik dari berita. Struktur tematik dapat diamati dari bagaimana peristiwa itu diungkap atau dibuat oleh wartawan. Struktur tematik berhubungan dengan fakta itu ditulis, bagaimana kalimat yang dipakai, bagaimana menempatkan dan menulis sumber ke dalam teks berita secara keseluruhan.
Dalam menulis berita, seorang wartawan mempunyai tema tertentu atas suatu peristiwa. Ada beberapa elemen yang diamati dari perangkat tematik ini. Diantaranya adalah koherensi: pertalian atau jalinan antar kata, proposisi atau kalimat. Ada beberapa macam koherensi. Pertama, koherensi sebab-akibat, proposisi atau kalimat satu dipandang akibat atau sebab dari proposisi atau kalimat lain. Kedua, koherensi penjelas, proposisi atau kalimat satu dilihat sebagai penjelas proposisi atau kalimat lain (Eriyanto, 2006:262-264).
D. Retoris
Struktur retoris dari wacana berita menggambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih oleh wartawan untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan. Wartawan menggunakan perangkat retoris untuk membuat citra, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita. Struktur retoris dari wacana berita menunjukkan kecenderungan bahwa apa yang disampaikan tersebut adalah suatu kebenaran.
Selain lewat kata, penekanan pesan dalam berita itu juga dapat dilakukan dengan menggunakan unsur grafis. Dalam wacana berita, grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. Elemen grafis juga muncul dalam bentuk foto, gambar dan tabel untuk mendukung gagasan atau bagian lain yang tidak ingin ditonjolkan (Eriyanto, 2006:264-266).