• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT 1.Status Gizi

Dalam dokumen Profil Kesehatan 2015 FIX (Halaman 155-163)

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Sumber :Seksi P2P Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT 1.Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan dimana kondisi gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi, kondisi gizi juga secara langsung dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada individu. Untuk itu dilakukan pemantauan terhadap status gizi bayi dan balita karena masa tersebut merupakan masa emas perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan fisiknya.

a. Status Gizi Bayi

Masalah status gizi ibu hamil akan berpengaruh terhadap kesehatan janin yang dikandungnya dan akan berdampak pada berat badan bayi yang dilahirkan serta juga akan berpengaruh pada perkembangan otak dan pertumbuhan fisik bayi.

BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram, merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena premature (usia kandungan < 37 minggu) dan BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang dimana BBLR karena IUGR umumnya disebabkan karena status gizi ibu hamil yang buruk atau menderita sakit yang memperberat kehamilan. Berdasarkan laporan tahun 2011 terdapat BBLR sebanyak 432 (1,16%) dan tahun 2012 kasus BBLR sebanyak 826 (2%). Kenaikan jumlah bayi BBLR tersebut dapat

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 125

dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau adanya penyakit pada ibu yang memperberat kehamilannya. Pada tahun 2013 terdapat BBLR sebanyak 501 (1,2%), namun seluruh BBLR yang dilaporkan telah memperoleh penanganan sesuai prosedur. Pada tahun 2014 jumlah bayi baru lahir yang ditimbang sebanyak 46,679 (100%), jumlah seluruh BBLR 442 (0,9%). Pada tahun 2015 jumlah bayi baru lahir yang ditimbang sebanyak 40.186 (100%), jumlah seluruh BBLR 393 (1,0%).

Untuk menekan angka BBLR dibutuhkan penanganan terpadu dengan lintas program dan lintas sektor karena timbulnya masalah penyakit dan status gizi berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Berikut gambaran persentase Jumlah BBLR di Kota Depok Tahun 2011-2015.

GAMBAR 5.33 CAKUPAN BAYI BERAT BADAN RENDAH (BBLR)

DI KOTA DEPOK TAHUN 2011-2015

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 126

Jumlah total BBLR di Kota Depok tahun 2015 sebanyak 393 kasus dan jumlah bayi baru lahir sebanyak 40.186. Pada tahun 2015 seluruh bayi baru lahir dilakukan penimbangan sebesar 100%. Berikut gambaran kasus BBLR menurut kecamatan di Kota Depok tahun 2015.

GAMBAR 5.34 JUMLAH BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

DI KOTA DEPOK TAHUN 2015

Sumber : Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

b. Status Gizi Balita

Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan pengukuran antropometri yang menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U) dan dikategorikan dalam gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk.

Pada tahun 2011 diketahui dari hasil penimbangan pada 115.140 balita terdapat sebanyak 5.195 balita gizi lebih (4,51%), sebanyak 104.876 balita gizi baik (91,09%), sebanyak 4.940 balita gizi kurang (4,29%) dan 129 balita gizi buruk (0,11%) dan seluruhnya mendapatkan perawatan (100%).

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 127

Tahun 2012 balita yang ditimbang sebanyak 121.702 (86,0%) balita dengan balita gizi lebih 4.746 (3,9%), balita gizi baik 111.112 (91%), dan balita gizi kurang sebanyak 5.563 (5%). Kasus balita gizi buruk sebanyak 120 balita (0,1%) dan seluruh balita memperoleh perawatan (100%).

Tahun 2013 jumlah balita yang ditimbang sebanyak 111.370, jumlah balita gizi lebih sebanyak 7.970 (7,16%), jumlah balita gizi baik sebanyak 98.262 (88,23%), jumlah balita gizi kurang sebanyak 5.051 (4,54%), jumlah balita gizi buruk sebanyak 87 orang (0,08%) dan seluruhnya mendapatkan perawatan (100%).

Pada tahun 2014 jumlah balita yang ditimbang sebanyak 121.046, jumlah balita gizi lebih sebanyak 7.137 (5,89%), jumlah balita gizi baik sebanyak 109.557 (90,5%), jumlah balita gizi kurang sebanyak 4.277 (3,5%), jumlah balita gizi buruk sebanyak 75 (0,06%) dan seluruhnya mendapatkan perawatan (100%).

Pada tahun 2015 balita yang ditimbang sebanyak 124.067 balita. Jumlah balita gizi lebih sebanyak 6.842 (5,5%), jumlah balita gizi baik sebanyak 112.999 (91%), jumlah balita gizi kurang sebanyak 4.149 (3,34%), dan kasus balita gizi buruk sebanyak 77 balita dan seluruh balita memperoleh perawatan (100%).

GAMBAR 5.35 JUMLAH GIZI BURUK DI KOTA DEPOK TAHUN 2011-2015

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 128

Kondisi yang dapat dilihat dalam gambar diatas bahwa gizi baik jauh lebih banyak, dan untuk gizi buruk mengalami penurunan. Semua itu tidak terlepas dari kerja keras tenaga gizi yang reponsif menindaklanjuti apabila terdapat kasus BGM dilapangan sehingga kasus tidak berkembang menjadi gizi buruk namun tetap harus diwaspadai agar jumlah balita gizi buruk tidak bertambah dan dapat segera menangani balita gizi buruk lainnya.

2. Kurang Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat.

Peranan vitamin A juga dibuktikan dalam menurunkan secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan pertumbuhan anak.

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak membahayakan jiwa anak.

Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan) diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI.

Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.

Hasil laporan LB3 Gizi tahun 2011, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita sebesar 98,53 %. Pada tahun 2012 cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi sebesar 86,3% dan pada anak balita sebesar 73,04%. Tahun 2013 cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi sebesar 18.805 (41,3%) dan anak balita sebesar 97.793

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 129

(50,1%). Pada tahun 2014 bayi yang mendapatkan vitamin A sebanyak 17.913 (73,37%) dan anak balita yang mendapatkan vitamin A sebanyak 107.592 (74,06%).

Pada tahun 2015 bayi yang mendapatkan vitamin A sebanyak 33.059 (78,61%) dan pada anak balita yang mendapatkan vitamin A sebanyak 106.197 (68,46%).

Berikut gambaran cakupan pemberian kapsul vitamin A pada anak dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.

GAMBAR 5.36 CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA ANAK BALITA

DI KOTA DEPOK TAHUN 2011-2015

Sumber : Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

Sedangkan cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas pada tahun 2011 sebesar 63,0%, tahun 2012 sebesar 73,08%, tahun 2013 sebesar 38,966 (91,2%), dan tahun 2014 sebesar 44.591(87%). Pada tahun 2015 cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas sebesar 39.561 (91,4%).

Berikut gambaran cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas di Kota Depok tahun 2011 sampai dengan tahun 2015.

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 130

GAMBAR 5.37 CAKUPAN PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A PADA IBU NIFAS

DI KOTA DEPOK TAHUN 2011-2015

Sumber : Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

3. Pemberian ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI merupakan makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur gizi yg dibutuhkan bayi guna pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal. Oleh sebab itu ASI diberikan secara ekslusif hingga 6 bulan, dapat diteruskan sampai usia 2 tahun. Dinas Kesehatan Kota Depok melalui seksi kesga dan gizi menyelenggarakan pelatihan konselor menyusui guna mendongkrak cakupan pemberian ASI Ekslusif serta memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi konselor yang turun ke masyarakat akan pentingnya ASI Ekslusif.

Tahun 2012 jumlah bayi yang mendapat asi eksklusif di Kota Depok sebanyak 8.980 (53,8%). Tahun 2013 jumlah bayi yang diberi asi eksklusif sebanyak 3.559 (53,8%) dengan persentase laki-laki sebanyak 1.837 (54,5%) perempuan sebanyak 1.722 (53,1%). Pada tahun 2014 cakupan asi eksklusif pada bayi laki-laki sebanyak 5.066 (49,9%), perempuan sebanyak 4.883 (51,1%) jumlah total seluruhnya sebanyak 9.949 (50,4%).

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 131

Pada tahun 2015 cakupan asi eksklusif pada bayi laki-laki sebanyak 5.225 (46,6%), perempuan sebanyak 5.044 (46,8%) jumlah total seluruhnya sebanyak 10.269 (46,7%). Berikut gambaran cakupan ASI Eksklusif tahun 2012 sampai dengan tahun 2015.

GAMBAR 5.38

CAKUPAN ASI EKSKLUSIF MENURUT KECAMATAN DI KOTA DEPOK TAHUN 2012 – 2015

Sumber: Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

Berikut gambar cakupan ASI Eksklusif tahun 2015 di Kecamatan di Kota Depok tahun 2015. Cakupan ASI Eksklusif di Kecamatan terbesar di Kecamatan Cipayung sebesar 70,7%.

P r o f i l K e s e h a t a n K o t a D e p o k T a h u n 2 0 1 5 Page 132

GAMBAR 5.39

CAKUPAN ASI EKSKLUSIF MENURUT KECAMATAN DI KOTA DEPOK TAHUN 2015

Sumber : Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok, 2015

D. PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS

Dalam dokumen Profil Kesehatan 2015 FIX (Halaman 155-163)