• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Antara Target dan Realisasi:

Dalam dokumen Laporan Kinerja. Inspektorat Jenderal (Halaman 20-28)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2021

1. Perbandingan Antara Target dan Realisasi:

Dilihat dari capaian indikator, untuk tahun 2021 Inspektorat Jenderal dapat melaksanakan tugas-tugas/kegiatan dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan:

a) Indikator Kinerja Program (IKP)

Indikator pencapaian sasaran yang berasal Indikator Kinerja Program Inspektorat Jenderal pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2021 adalah sebagai berikut:

16

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

No Program Indikator Target

2021

Realisasi

2021 %

1. Peningkatan Pengawasan

Jumlah rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pengawasan terhadap 4 (empat) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di lingkup Kementerian Kesehatan

4 4 100

2. Persentase Satker KP/KD yang

telah memenuhi predikat WBK/WBBM

(Kemenkes/Nasional)

50% 48,61% 97,22

3. Tingkat Kapabilitas APIP/ Internal Audit Capability Model (IACM)

3 3 100

Definisi operasional dari 3 Indikator Kinerja Program:

1) Indikator nomor 1:

Rekomendasi Kebijakan adalah policy brief yang dihasilkan dari analisis atas hasil Pengawasan 4 (empat) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di Lingkup Kementerian Kesehatan yang dilakukan oleh Inspektorat dan disampaikan kepada Menteri Kesehatan.

2) Indikator nomor 2:

Satker KP/KD yang memenuhi predikat WBK adalah Satker KP/KD yang mendapatkan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI.

3) Indikator nomor 3:

Tingkat Kapabilitas APIP/ Internal Audit Capability Model (IACM) adalah Tingkat Kapabilitas APIP Kementerian Kesehatan hasil penilaian BPKP.

Penjelasan atas realisasi capaian Indikator Kinerja Program Inspektorat Jenderal tahun 2021 adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan pengawasan terhadap 4 (empat) Program Prioritas Nasional/Program Stratetegi di lingkup Kementerian Kesehatan dilakukan oleh masing-masing Inspektorat, mempunyai realisasi output fisik sebanyak 4 (empat) atau sebanyak 100% dengan penjelasan sebagai berikut:

17

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

i. Inspektorat I. Klaim covid-19 “bermasalah”. Permasalahan yang timbul terkait Klaim COVID-19 tahun 2020 – 2021 dikarenakan dalam pendistribusian APD dan obat belum dilakukan pengurang klaim dan ketidaksesuaian length of stay (LoS)/kelebihan hari rawat yang menyebabkan klaim COVID-19 bermasalah sehingga pengajuan klaim yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit tidak sesuai dengan billing/tagihan yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit. Sampai dengan saat ini Pemerintah telah menyediakan anggaran pembayaran klaim COVID-19 tahun 2020 dan 2021 sebesar Rp121 triliun dan telah dilakukan pembayaran sebesar Rp79,4 triliun (data per 13 Desember 2021). Kebijakan pemerintah terdahulu yang mengatur tentang pengajuan klaim penggantian biaya pelayanan pasien COVID19 masih menggunakan mekanisme cost perday. Hal ini yang menjadi permasalahan atas timbulnya klaim biaya covid yang bermasalah yaitu antara billing Rumah Sakit dan Klaim yang diajukan berbeda nilainya.

Hal ini karena belum dilakukannya evaluasi terhadap kebijakan/pedoman tarif penggantian biaya pelayanan Covid-19 yang belum efisiendan belum dilakukannya pemetaan risiko terkait dengan pengajuan klaim dari rumah sakit. Berdasarkan hasil pengawasan dan analisa terhadap kebijakan saat ini, maka direkomendasikan kebijakan sebagai berikut:

- Menteri Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan melakukan evaluasi dan penyempurnaan Keputusan Menteri Kesehatan tentang penanggulangan Covid-19 danklaim penggantian biaya pelayanan pasien COVID-19 secara berkala khususnya yang terkait dengan Mekanisme bantuan APD dan obat serta kriteria jaminan Covid-19;

- Memperbaiki sistem/mekanisme RS dalam mengajukan klaim serta penyelesaian klaim oleh BPJS setelah perbaikan dari RS (pembatasan waktu pengajuan dan verifikasi klaim).

- Mengintegrasikan aplikasi informasi pengajuan klaim dan aplikasi pembayaran (e-klaim, v-klaim, SIM-RS).

ii. Inspektorat II. Darurat kualitas data aplikasi pencatatan dan pelaporan data gizi berbasis masyarakat secara elektronik (e-ppgbm) dan

18

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

komunikasi data (komdat) kesmas. Hasil audit kinerja aplikasi e-PPGBM dan Komdat Kesmas dengan uji petik di 7 Provinsi, 12 Kabupaten/Kota, dan 26 Puskesmas menemukan banyak permasalahan, antara lain:

- Belum dilakukan verifikasi dan validasi data;

- Tidak dapat diketahuinya status balita setelah intervensi melalui aplikasi;

- Adanya perbedaan antara data aplikasi dengan data manual;

- Tidak tersedianya data analytics secara otomatis;

- Adanya keterlambatan dan ketidaklengkapan penginputan data pada seluruh fitur;

- Pengembangan aplikasi pada masing- masing daerah.

Maka dengan ini, diberikan rekomendasi kebijakan atas permasalahan tersebut yaitu:

- Mengintegrasikan data e-PPGBM dan Komdat Kesmas dengan aplikasi satu data kesehatan yang akan dikembangkan oleh Digital Transformation Officer (DTO) Kementerian Kesehatan dengan berpedoman pada indikator kesehatan nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang telah ditetapkan dalam dokumen RPJMN dan RPJMD Provinsi, Kabupaten/Kota;

- Menyediakan menu validasi-verifikasi data secara berjenjang dan automatic data analytics serta status balita paska intervensi gizi kedalam aplikasi yang akan diintegrasikan atau dikembangkan.

iii. Inspektorat III, dengan Policy Brief Akuntabilitas Pencatatan Vaksin Covid-19. Penanggulangan bencana merupakan tugas pemerintah yang dilaksanakan dengan prinsip cepat dan tepat namun tetap memperhatikan akuntabilitas. Vaksinasi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) sebagai upaya perlindungan masyarakat Indonesia dari bencana wabah infeksi SARS-CoV-2 juga perlu dilakukan secara akuntabel. Untuk mewujudkan akuntabilitas, berbagai tantangan dihadapi oleh pelaksana dan pengambil kebijakan. Melalui berbagai bentuk pengawasan atas pelaksanaan vaksinasi, telah diidentifikasi 4 hal menonjol yang berpengaruh dalam akuntabilitas yaitu:

- pengukuran logistik vaksinasi dalam satuan dosis;

19

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

- pemanfaatan overfilling vial vaksin;

- keterlibatan banyak pihak dalam pelaksanaan vaksinasi;

- kelemahan aplikasi pencatatan logistik (SMILE);

- permasalahan pencatatan hasil vaksinasi.

Atas permasalahan yang terjadi, perlu diupayakan penyelesaiannya demi pencapaian akuntabilitas. Alternatif solusi disajikan dalam 3 kelompok: pengendalian data vaksinasi, penyempurnaan sistem aplikasi dan perbaikan kebijakan terkait pencatatan data vaksinasi.

iv. Inspektorat IV dengan policy brief Tatalaksana Obat Covid-19 pada Direktorat Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI.

Pelaksanaan pengawasan terhadap tatalaksana obat Covid-19 ini dilaksanakan pada setiap tahapan dari tatalaksana obat Covid-19 yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pencatatan pelaporan.

Pengawasan terhadap tatalaksana ini bertujuan agar pelaksanaan tatalaksana obat Covid-19 ini dapat berjalan sesuai ketentuan, efektif, efisen dan ekonomis. Masalah masalah tatalaksana obat covid-19 pada direktorat tata kelola obat publik dan perbekalan Kesehatan:

- Tatalaksan Pengadaan Obat Covid-19;

- Tatalaksana Pencatatan Obat Covid-19.

Akibat dan dampaknya yaitu:

- Akibat dari Tatalaksana Pengadaan Obat Covid-19 yang tidak sesuai ketentuan adalah secara umum dapat berpotensi menimbulkan Kerugian Negara, Inefektifitas dan Inefisiensi.

Dampaknya adalah pemenuhan kebutuhan obat covid-19 dalam rangka penanggulangan pandemic Covid-19, tidak tercukupi dan penanggulangan pandemic dapat berisiko gagal

Rekomendasi kebijakan:

Rekomendasi kebijakan terkait tatalaksana pengadaan dan pencatatan hasil pengadaan obat Covid-19, yaitu membuat aplikasi yang terintegrasi yang meliputi perencanaan, dan pelaksanaan pengadaan obat Covid-19 serta pencatatan hasil pengadaan obat Covid-19 yang melibatkan Direktorat Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, dan Direktorat

20

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

Pelayanan Kesehatan Rujukan serta Biro Keuangan dan BMN

2) Jumlah akumulasi satker KP/KD di lingkungan Kemenkes yang mendapat predikat WBK/WBBM baik dari Kemenkes maupun dari Kemenpan RB.

sampai dengan bulan Desember 2021 berjumlah 85 satker (WBK Kemenkes) dan 20 satker (WBK/WBBM Kemenpan RB) dari jumlah seluruh satker kemenkes 216 satker sehingga mencapai 48,61% dari target 50% atau 97,22%. Dengan perhitungan sebagai berikut:

85 satker WBK Kemenkes

+

20 satker WBK Nasional X 100%= 48,61%

216 total satker 216 total satker

Pencapaian target satker menuju WBK/WBBM sebesar 48,61% bukan menyatakan total jumlah satker yang dinilai melainkan jumlah predikat WBK/WBBM yang diperoleh oleh satker Kemenkes dimana terdapat satker yang mendapatkan penilaian lebih dari satu kali yaitu dari Kemenkes dan Kemenpan RB. Pada tahun 2021 Kementerian Kesehatan tidak menerima predikat WBK/WBBM Nasional, sehingga indikator kinerja program tidak tercapai 100%.

WBK adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja/kawasan yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan akuntabilitas kinerja.

WBBM adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja/kawasan yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan penguatan kualitas pelayanan publik.

Satuan kerja yang sudah mendapatkan WBK/WBBM mempunyai efek positif di lingkungan kerjanya antara lain:

a) Meningkatkan Transparansi dan akuntabilitas pelayanan;

b) Mendorong satker menciptakan inovasi-inovasi;

c) Nilai tambah bagi satker untuk mempromosikan layanannya kepada masyarakat.

Efek yang didapat di Inspektorat Jenderal menambah kompetensi assessor dan menambah lesson learned tatakelola dari satker-satker yang dapat predikat.

21

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

3) Hasil penilaian tingkat kapabilitas APIP oleh BPKP yang dilakukan pada bulan Desember 2021 berada pada level 3 berdasarkan hasil self assement Inspektorat Jenderal terhadap elemen-elemen yang diberikan oleh BPKP. Sedangkan QA oleh BPKP terhadap hasil self assessment dilaksanakan pada bulan Juli.

b) Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)

Capaian kinerja Indikator Kinerja Program tahun 2021 tersebut di atas didukung oleh Indikator Kinerja Kegiatan yang terdapat pada Eselon II di lingkup Inspektorat Jenderal sebagai berikut:

1) Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satuan Kerja Binaan Inspektorat I

2) Peningkatan pengawasan program/kegiatan lingkup satuan kerja binaan Inspektorat II

UNIT KERJA PROGRAM INDIKATOR TARGET

2021

REALISASI 2021 Jumlah rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pengawasan

terhadap 1 (satu) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di lingkup binaan Inspektorat I

1 1

Persentase Satker KP/KD dengan nilai Persepsi Anti Korupsi minimal 75 pada lingkup binaan Inspektorat I

50 98,39

Persentase Satker KP/KD yang memiliki nilai Maturitas SPIP Level 3

20 36,84

Persentase rekomendasi hasil pengawasan Inspektorat Jenderal yang ditindaklanjuti pada tahun berjalan

65 27,85

Persentase Laporan Keuangan Satker yang memenuhi SAP dan Pengendalian Intern yang memadai

100 35,29

Persentase DIPA Satker yang tidak memiliki Catatan Halaman IVa 80 52,33

Persentase Satker KP/KD yang memperoleh nilai hasil Evaluasi SAKIP dengan kategori "BB"

92 96,55

Persentase Satker KP/KD yang mengimplementasikan Manajemen Risiko dengan maturitas level 3 dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya

20 29,82

Persentase pelaksanaan audit kinerja berbasis Teknologi Informasi lingkup Binaan Inspektorat I

60 11,11

Inspektorat I

Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satker Binaan Inspektorat I

UNIT KERJA PROGRAM INDIKATOR TARGET

2021

REALISASI 2021 Jumlah rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pengawasan

terhadap 1 (satu) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di lingkup binaan Inspektorat II

1 1

Persentase Satker KP/KD dengan nilai Persepsi Anti Korupsi minimal 75 pada lingkup binaan Inspektorat II

50 90,91

Persentase Satker KP/KD yang memiliki nilai Maturitas SPIP Level 3

20 18,18

Persentase rekomendasi hasil pengawasan Inspektorat Jenderal yang ditindaklanjuti pada tahun berjalan

45 19,04

Persentase Laporan Keuangan Satker yang memenuhi SAP dan Pengendalian Intern yang memadai

100 95,00

Persentase DIPA Satker yang tidak memiliki Catatan Halaman IVa

50 81,11

Persentase Satker KP/KD yang memperoleh nilai hasil Evaluasi SAKIP dengan kategori "BB"

92 100,00

Persentase Satker KP/KD yang mengimplementasikan Manajemen Risiko dengan maturitas level 3 dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya

20 4,55

Persentase pelaksanaan audit kinerja berbasis Teknologi Informasi lingkup Binaan Inspektorat II

60 27,78

Inspektorat II

Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satker Binaan Inspektorat II

22

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

3) Peningkatan pengawasan program/kegiatan lingkup satuan kerja binaan Inspektorat III

4) Peningkatan pengawasan program/kegiatan lingkup satuan kerja binaan Inspektorat IV

5) Peningkatan penanganan pengaduan masyarakat di lingkungan Kementerian Kesehatan

UNIT KERJA PROGRAM INDIKATOR TARGET

2021

REALISASI 2021 Jumlah rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pengawasan

terhadap 1 (satu) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di lingkup binaan Inspektorat III

1 1

Persentase Satker KP/KD dengan nilai Persepsi Anti Korupsi minimal 75 pada lingkup binaan Inspektorat III

50 93,83

Persentase Satker KP/KD yang memiliki nilai Maturitas SPIP Level 3

20 3,63

Persentase rekomendasi hasil pengawasan Inspektorat Jenderal yang ditindaklanjuti pada tahun berjalan

50 36,29

Persentase Laporan Keuangan Satker yang memenuhi SAP dan Pengendalian Intern yang memadai

100 11,53

Persentase DIPA Satker yang tidak memiliki Catatan Halaman IVa

91 44,55

Persentase Satker KP/KD yang memperoleh nilai hasil Evaluasi SAKIP dengan kategori "BB"

92 100,00

Persentase Satker KP/KD yang mengimplementasikan Manajemen Risiko dengan maturitas level 3 dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya

20 2,73

Persentase pelaksanaan audit kinerja berbasis Teknologi Informasi lingkup Binaan Inspektorat III

60 64,29

Inspektorat III

Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satker Binaan Inspektorat III

UNIT KERJA PROGRAM INDIKATOR TARGET

2021

REALISASI 2021 Jumlah rekomendasi kebijakan berdasarkan hasil pengawasan

terhadap 1 (satu) Program Prioritas Nasional/Program Strategis di lingkup binaan Inspektorat IV

1 1

Persentase Satker KP/KD dengan nilai Persepsi Anti Korupsi minimal 75 pada lingkup binaan Inspektorat IV

50 100,00

Persentase Satker KP/KD yang memiliki nilai Maturitas SPIP Level 3

20 8

Persentase rekomendasi hasil pengawasan Inspektorat Jenderal yang ditindaklanjuti pada tahun berjalan

70 29,18

Persentase Laporan Keuangan Satker yang memenuhi SAP dan Pengendalian Intern yang memadai

100 52,17

Persentase DIPA Satker yang tidak memiliki Catatan Halaman IVa

50 96,43

Persentase Satker KP/KD yang memperoleh nilai hasil Evaluasi SAKIP dengan kategori "BB"

92 100

Persentase Satker KP/KD yang mengimplementasikan Manajemen Risiko dengan maturitas level 3 dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya

20 1,72

Persentase pelaksanaan audit kinerja berbasis Teknologi Informasi lingkup Binaan Inspektorat IV

60 25,81

Inspektorat IV

Peningkatan Pengawasan Program/Kegiatan Lingkup Satker Binaan Inspektorat IV

UNIT KERJA PROGRAM INDIKATOR TARGET

2021

REALISASI 2021 Persentase pengaduan masyarakat berkadar pengawasan yang

ditindaklanjuti

100 83,00

Persentase rekomendasi hasil audit dengan tujuan tertentu yang ditindaklanjuti

50 21,00

Jumlah Satker yang telah memperoleh predikat WBK/WBBM Nasional

12 20

Inspektorat Investigasi

Peningkatan Pengawasan melalui Audit Investigasi dan Penanganan Pengaduan Masyarakat

23

Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan RI

6) Dukungan Manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur Kementerian Kesehatan

Dalam dokumen Laporan Kinerja. Inspektorat Jenderal (Halaman 20-28)

Dokumen terkait