Perbankan Ritel mencakup rangkaian portofolio Bank untuk
segmen UKM dan konsumer termasuk simpanan, pinjaman, dan pengelolaan harta kekayaan melalui empat divisinya - Alternatif Channel, QNB First, Network and Distribution dan
Retail Product and Development.
Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan perlambatan bisnis sepanjang tahun 2015, portofolio Perbankan Ritel melanjutkan momentum pertumbuhannya antara lain
menyederhanakan aspek operasional, mendorong eisiensi,
dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk kegiatan operasionalnya. Bank juga terus membangun jejak langkah yang lebih ringan dan kuat untuk format ritel generasi mendatang dan eksistensi digital yang mutakir
melalui platform digital yang leksibel.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen mapat, Bank
meluncurkan layanan unik bernama QNB First. Layanan ini menawarkan solusi yang dirancang khusus untuk pelanggan
dan fasilitas terbaik untuk mendukung gaya hidup pelanggan yang dinamis. Melalui QNB First, Bank menghadirkan layanan ekslusif dan manfaat unik bagi nasabah prioritasnya.
Strategi dan Pencapaian Perbankan Ritel Tahun 2015
Secara umum, indikator kinerja utama menunjukkan
momentum pertumbuhan yang berlanjut. Kredit meningkat sebesar 27,75% sementara dana pihak ketiga tumbuh sebesar 35,79%. Pertumbuhan kredit dalam portofolio perbankan ritel terutama didorong oleh pertumbuhan kredit personal dan
bisnis yang masing-masing mencatat kenaikan 1.100% dan
40%. Kredit bisnis, yang menyalurkan kredit pada segmen UKM, masih didominasi oleh layanan bisnis, perdagangan, restoran, dan hotel.
Dari segi Dana Pihak Ketiga, pertumbuhan didukung oleh produk dan layanan QNB First yang menyumbang 30% dari total dana perbankan ritel dan aktivitas perbankan umum
yang mencakup 70% sisanya.
Guna memperluas portfolionya, Bank juga mulai menawarkan produk pengelolaan harta kekayaan di tahun 2015 setelah
berhasil memperoleh ijin dari regulator. Untuk produk of balance sheet, Bank mulai memperkenalkan reksadana
bekerjasama dengan 7 (tujuh) manajer investasi yakni Trimegah Asset Management, First State Investments, Syailendra, Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Danareksa Investment Management, Mandiri Investasi, dan Manulife Aset Manajemen.
Di samping itu, Bank juga meluncurkan sejumlah produk bancassurance baru bernama Q Optima Link Assurance, Q Health Care, dan Q Health Protection. Rangkaian produk bancassurance baru yang menawarkan manfaat yang lebih leksibel untuk berbagai proil nasabah ini diharapkan akan membantu mendongkrak kontribusi fee-based income bagi
Bank.
Lebih lanjut, sebagai bagian dari upaya untuk menjadi Ikon institusi keuangan di Indonesia yang tumbuh dan berkembang bersama para pemangku kepentingan dalam hal pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan kenyamanan dan proses yang ringkas, Bank memperkenalkan berbagai inovasi produk digital dan mobile. Di antaranya adalah DooET, instrument transaksi non-tunai dalam bentuk aplikasi mobile banking yang menawarkan layanan perbankan non-tunai bagi nasabah untuk membayar dan berbelanja dalam dua langkah
“Scan and Pay” yang mudah.
Seiring dengan pengembangan produk dan perbaikan aspek
operasional, Bank juga fokus dalam menciptakan pengalaman nasabah yang lebih memuaskan di seluruh touch point,
1. Kemitraan Wealth Management dengan PT Danareksa Investment Management 2. Kemitraan Wealth Management dengan
PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen
3. Kemitraan Wealth Management dengan PT First State Investments Indonesia
4. Kemitraan Wealth Management dengan PT Syailendra Capital
5. Kemitraan Wealth Management dengan PT Mandiri Manajemen Investasi
Analisis dan Pembahasan Manajemen
khususnya kantor cabang. Pada tahun 2015, Bank membuka beberapa kantor cabang baru dan merelokasi beberapa kantor cabang lama untuk meningkatkan pengalaman pelanggan di kantor cabang. Selain itu, Bank juga telah menerapkan program akreditasi cabang untuk semua karyawan yang
terlibat dalam aspek operasi perbankan ritel dalam rangka mewujudkan kepuasan terbaik bagi pelanggan dan meningkatkan customer engagement.
Terakhir, kaum mapan tetap menjadi salah satu target
segment kunci bagi Bank. QNB First, layanan perbankan
prioritas Bank yang dilengkapi dengan relationship manager khusus, produk investasi, layanan pelanggan dengan bentuk
komunikasi yang spesiik, telah berkembang pesat selama
setahun terakhir dengan total 2.000 pelanggan.
Strategi Perbankan Ritel Tahun 2016
Memandang ke depan, Bank akan terus berupaya untuk meningkatkan Net Interest Margin (NIM), mendorong
grade portofolio, mengurangi biaya funding, dan secara
aktif mengelola portofolio NPL. Untuk meningkatkan NIM, Bank berusaha untuk mengoptimalkan integrasi platform
Q Virtual Account (QVA) dengan rangkaian produk dan
layanannya serta menerapkan langkah strategis yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit UKM dan
fee-based income. Bank juga akan meningkatkan back-bone funding dan mengoptimalkan kontribusi Q Personal Loan dan
BPR Connect terhadapa portofolio perbankan ritel. Untuk
menjaga pertumbuhan QPL yang stabil, Bank akan fokus untuk mempertajam segmentasi, menyempurnakan kebijakan
underwriting, dan memperkuat proses back-end khususnya
untuk penagihan.
Dari segi pengembangan produk, strategi utama Bank terutama dipusatkan pada memenuhi kebutuhan nasabah dengan berbagai profil risiko yang berbeda dan memperkuat produk dan jasanya
untuk mencapai keunggulan layanan. Di antara inisiatif yang
disiapkan adalah menambah manajer investasi dan rekanan
bancassurance. Manajemen aset yang mencakup giro dan
simpanan akan diintegrasikan dengan produk asuransi dan
layanan corporate internet banking serta mobile banking.
Selain itu, fokus lain strategi perbankan ritel terletak pada pengembangan sumber daya manusia dan meningkatkan
eisiensi. Adapun sejumlah inisiatif untuk pengembangan masa mendatang meliputi program sertiikasi untuk unit kerja perbankan ritel, program akreditasi kepala cabang dan sertiikasi operasional update (Standard Operating Procedure (SOP)). Untuk mencapai operasional yang lebih produktif,
Bank berupaya untuk mendorong budaya penjualan, membangun akreditasi, dan menggiatkan akuisisi nasabah melalui program pemasaran yang efektif.
Di samping channel tradisional perbankan, teknologi telah menciptakan fenomena tersendiri dengan mengubah cara
nasabag membayar, melaukan transaksi, dan mengakses layanan keuangan lainnya. Dengan tingkat penetrasi
perangkat mobile di Indonesia yang mencapai lebih dari 100%, smartphone telah berkembang menjadi channel terunggul
dalam semua aspek industri termasuk layanan keuangan. Statistik menunjukkan bahwa 40% nasabah Asia mapan lebih memilih online atau mobile banking dan 50% dari mereka menginginkan layanan perbankan digital yang komprehensif. Data tersebut juga mengindikasikan bahwa nasabah perbankan digital akan tumbuh dari 670 juta ke 1,7 miliar di tahun 2020.
QNB Indonesia akan menjadi bagian dari gelombang baru
teknologi layanan keuangan. Kantor cabang dan ATM akan
tetap memainkan peranan penting dalam 10 tahun ke depan. Namun, pertumbuhan pengguna smartphone yang masih berada di bawah 40% diyakini akan mengubah tren dunia perbankan. Sebagai persiapan, pada tahun 2016, Bank akan
mulai menilai kekuatan platform, sertiikasi, kepatuhan, dan itur produk secara mendalam. Bank juga akan fokus
pada pengembangan produk/layanan untuk meningktkan
daya saing dan memperkuat proses back-end guna
menganggulangi atau setidaknya menekan tingkat fraud dan juga ketidakpatuhan.
Pengembangan ekosistem keuangan seperti pembayaran,
transfer/remittance dan pembelian, dengan menghubungkan nasabah, merchant, biller, dan Bank serta perusahaan
telekomunikasi sangat penting untuk menentukan strategi akuisisi nasabah sedangkan basis nasabah merupakan aspek
kunci untuk bertahan di tengah era mobile banking dan
industri perbankan.