• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbankan Ritel

Dalam dokumen Bank QNB Indonesia Tbk 2015 (Halaman 76-78)

Perbankan Ritel mencakup rangkaian portofolio Bank untuk

segmen UKM dan konsumer termasuk simpanan, pinjaman, dan pengelolaan harta kekayaan melalui empat divisinya - Alternatif Channel, QNB First, Network and Distribution dan

Retail Product and Development.

Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan perlambatan bisnis sepanjang tahun 2015, portofolio Perbankan Ritel melanjutkan momentum pertumbuhannya antara lain

menyederhanakan aspek operasional, mendorong eisiensi,

dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk kegiatan operasionalnya. Bank juga terus membangun jejak langkah yang lebih ringan dan kuat untuk format ritel generasi mendatang dan eksistensi digital yang mutakir

melalui platform digital yang leksibel.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen mapat, Bank

meluncurkan layanan unik bernama QNB First. Layanan ini menawarkan solusi yang dirancang khusus untuk pelanggan

dan fasilitas terbaik untuk mendukung gaya hidup pelanggan yang dinamis. Melalui QNB First, Bank menghadirkan layanan ekslusif dan manfaat unik bagi nasabah prioritasnya.

Strategi dan Pencapaian Perbankan Ritel Tahun 2015

Secara umum, indikator kinerja utama menunjukkan

momentum pertumbuhan yang berlanjut. Kredit meningkat sebesar 27,75% sementara dana pihak ketiga tumbuh sebesar 35,79%. Pertumbuhan kredit dalam portofolio perbankan ritel terutama didorong oleh pertumbuhan kredit personal dan

bisnis yang masing-masing mencatat kenaikan 1.100% dan

40%. Kredit bisnis, yang menyalurkan kredit pada segmen UKM, masih didominasi oleh layanan bisnis, perdagangan, restoran, dan hotel.

Dari segi Dana Pihak Ketiga, pertumbuhan didukung oleh produk dan layanan QNB First yang menyumbang 30% dari total dana perbankan ritel dan aktivitas perbankan umum

yang mencakup 70% sisanya.

Guna memperluas portfolionya, Bank juga mulai menawarkan produk pengelolaan harta kekayaan di tahun 2015 setelah

berhasil memperoleh ijin dari regulator. Untuk produk of balance sheet, Bank mulai memperkenalkan reksadana

bekerjasama dengan 7 (tujuh) manajer investasi yakni Trimegah Asset Management, First State Investments, Syailendra, Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Danareksa Investment Management, Mandiri Investasi, dan Manulife Aset Manajemen.

Di samping itu, Bank juga meluncurkan sejumlah produk bancassurance baru bernama Q Optima Link Assurance, Q Health Care, dan Q Health Protection. Rangkaian produk bancassurance baru yang menawarkan manfaat yang lebih leksibel untuk berbagai proil nasabah ini diharapkan akan membantu mendongkrak kontribusi fee-based income bagi

Bank.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari upaya untuk menjadi Ikon institusi keuangan di Indonesia yang tumbuh dan berkembang bersama para pemangku kepentingan dalam hal pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan kenyamanan dan proses yang ringkas, Bank memperkenalkan berbagai inovasi produk digital dan mobile. Di antaranya adalah DooET, instrument transaksi non-tunai dalam bentuk aplikasi mobile banking yang menawarkan layanan perbankan non-tunai bagi nasabah untuk membayar dan berbelanja dalam dua langkah

“Scan and Pay” yang mudah.

Seiring dengan pengembangan produk dan perbaikan aspek

operasional, Bank juga fokus dalam menciptakan pengalaman nasabah yang lebih memuaskan di seluruh touch point,

1. Kemitraan Wealth Management dengan PT Danareksa Investment Management 2. Kemitraan Wealth Management dengan

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen

3. Kemitraan Wealth Management dengan PT First State Investments Indonesia

4. Kemitraan Wealth Management dengan PT Syailendra Capital

5. Kemitraan Wealth Management dengan PT Mandiri Manajemen Investasi

Analisis dan Pembahasan Manajemen

khususnya kantor cabang. Pada tahun 2015, Bank membuka beberapa kantor cabang baru dan merelokasi beberapa kantor cabang lama untuk meningkatkan pengalaman pelanggan di kantor cabang. Selain itu, Bank juga telah menerapkan program akreditasi cabang untuk semua karyawan yang

terlibat dalam aspek operasi perbankan ritel dalam rangka mewujudkan kepuasan terbaik bagi pelanggan dan meningkatkan customer engagement.

Terakhir, kaum mapan tetap menjadi salah satu target

segment kunci bagi Bank. QNB First, layanan perbankan

prioritas Bank yang dilengkapi dengan relationship manager khusus, produk investasi, layanan pelanggan dengan bentuk

komunikasi yang spesiik, telah berkembang pesat selama

setahun terakhir dengan total 2.000 pelanggan.

Strategi Perbankan Ritel Tahun 2016

Memandang ke depan, Bank akan terus berupaya untuk meningkatkan Net Interest Margin (NIM), mendorong

grade portofolio, mengurangi biaya funding, dan secara

aktif mengelola portofolio NPL. Untuk meningkatkan NIM, Bank berusaha untuk mengoptimalkan integrasi platform

Q Virtual Account (QVA) dengan rangkaian produk dan

layanannya serta menerapkan langkah strategis yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit UKM dan

fee-based income. Bank juga akan meningkatkan back-bone funding dan mengoptimalkan kontribusi Q Personal Loan dan

BPR Connect terhadapa portofolio perbankan ritel. Untuk

menjaga pertumbuhan QPL yang stabil, Bank akan fokus untuk mempertajam segmentasi, menyempurnakan kebijakan

underwriting, dan memperkuat proses back-end khususnya

untuk penagihan.

Dari segi pengembangan produk, strategi utama Bank terutama dipusatkan pada memenuhi kebutuhan nasabah dengan berbagai profil risiko yang berbeda dan memperkuat produk dan jasanya

untuk mencapai keunggulan layanan. Di antara inisiatif yang

disiapkan adalah menambah manajer investasi dan rekanan

bancassurance. Manajemen aset yang mencakup giro dan

simpanan akan diintegrasikan dengan produk asuransi dan

layanan corporate internet banking serta mobile banking.

Selain itu, fokus lain strategi perbankan ritel terletak pada pengembangan sumber daya manusia dan meningkatkan

eisiensi. Adapun sejumlah inisiatif untuk pengembangan masa mendatang meliputi program sertiikasi untuk unit kerja perbankan ritel, program akreditasi kepala cabang dan sertiikasi operasional update (Standard Operating Procedure (SOP)). Untuk mencapai operasional yang lebih produktif,

Bank berupaya untuk mendorong budaya penjualan, membangun akreditasi, dan menggiatkan akuisisi nasabah melalui program pemasaran yang efektif.

Di samping channel tradisional perbankan, teknologi telah menciptakan fenomena tersendiri dengan mengubah cara

nasabag membayar, melaukan transaksi, dan mengakses layanan keuangan lainnya. Dengan tingkat penetrasi

perangkat mobile di Indonesia yang mencapai lebih dari 100%, smartphone telah berkembang menjadi channel terunggul

dalam semua aspek industri termasuk layanan keuangan. Statistik menunjukkan bahwa 40% nasabah Asia mapan lebih memilih online atau mobile banking dan 50% dari mereka menginginkan layanan perbankan digital yang komprehensif. Data tersebut juga mengindikasikan bahwa nasabah perbankan digital akan tumbuh dari 670 juta ke 1,7 miliar di tahun 2020.

QNB Indonesia akan menjadi bagian dari gelombang baru

teknologi layanan keuangan. Kantor cabang dan ATM akan

tetap memainkan peranan penting dalam 10 tahun ke depan. Namun, pertumbuhan pengguna smartphone yang masih berada di bawah 40% diyakini akan mengubah tren dunia perbankan. Sebagai persiapan, pada tahun 2016, Bank akan

mulai menilai kekuatan platform, sertiikasi, kepatuhan, dan itur produk secara mendalam. Bank juga akan fokus

pada pengembangan produk/layanan untuk meningktkan

daya saing dan memperkuat proses back-end guna

menganggulangi atau setidaknya menekan tingkat fraud dan juga ketidakpatuhan.

Pengembangan ekosistem keuangan seperti pembayaran,

transfer/remittance dan pembelian, dengan menghubungkan nasabah, merchant, biller, dan Bank serta perusahaan

telekomunikasi sangat penting untuk menentukan strategi akuisisi nasabah sedangkan basis nasabah merupakan aspek

kunci untuk bertahan di tengah era mobile banking dan

industri perbankan.

Dalam dokumen Bank QNB Indonesia Tbk 2015 (Halaman 76-78)

Dokumen terkait