• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM TENTANG PERCERAIAN, MEDIA SOSIAL DAN MASLAHAH MURSALAH

A. Perceraian Akibat Perselingkuhan Melalui Media Sosial

Media sosial dapat diartikan sebagai wadah komunikasi atau sebagai medium di internet yang memudahkan para pengguna untuk berkomunikasi, berinteraksi, berekspresi, berbagi, bekerja sama, membentuk ikatan sosial secara dalam jaringan.

Media sosial seperti twitter, facebook, instagram, youtube, virtual game online termasuk kategori mikroblog.1 Sedangkan kategori blog yaitu proyek kolaborasi website seperti wikipedia. Media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah berupa aplikasi chatting seperti facebook, twitter, whatsapp, instagram, aplikasi berbagi konten seperti youtube, game online, dan lain-lain.

Media sosial seolah-olah menjadi fasilitas yang paling mudah untuk melakukan perselingkuhan dan dianggap menjadi salah satu pemicu keretakan rumah tangga. Isu perceraian yang dipicu oleh media sosial seakan-akan menjadi fenomena tersendiri pada beberapa tahun terkahir. Media sosial menjadi salah satu tulang punggung kegiatan komunikasi manusia mutakhir. Media sosial memenuhi dan mengubah kebutuhan manusia dalam berkomunikasi.2 Dihimpun dari beragam surat kabar yang memberitakan thumbnail media sosial menjadi pemicu angka perceraian di wilayah Indonesia antara lain:

a) Perceraian Di Tangsel Banyak Disebabkan Media Sosial, di media online Bantennews.com pada 31 Januari 2020.

b) Medsos Jadi Sumber Malapetaka, Ribuan Pasutri Di Tangerang Bercerai, di media online Radarbanten.co.id pada 15 februari 2018

1 Tim Pusat Humas Kementrian Perdagangan RI, Panduan Optimalisasi Media Sosial Untuk Kementrian Perdagangan RI, (Jakarta: Pusat Hubungan Masyarakat, 2014), h. 27.

2 Idy, Subandy Ibrahim, Ensiklopedi Teknologi Komunikasi, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017), h. 17.

38

c) Berselingkuh via Gadget dan Medsos Jadi Salah Satu Penyebab Lonjakan Perceraian saat Pandem Covid-19, di media onlien Pikiranrakyat.com pada 30 Juni 2020

d) Medsos Jadi Penyebab Perceraian Tertinggi Kedua, di website PA Lamongan pada 13 Novermber 2020.

Uraian di atas mengindikasikan adanya dampak negatif dari penggunaan media sosial terhadap keharmonisan kehidupan rumah tangga suami istri. Memang perceraian adalah sesuatu yang boleh dilakukan sekalipun dibenci. Seorang suami tidak boleh menjatuhkan talak dengan sesuka hati, tetapi harus dilandasi dengan alasan-alasan kuat dan disampaikan di depan persidangan.3 Namun, untuk mencegah itu alangkah baiknya setiap pasangan suami istri untuk terlebih dahulu berpikir secara matang sebelum memutuskan bercerai, karena dampak akibat perceraian bukan hanya kepada keduanya saja, melainkan juga kepada anak dan lingkungan. Undang-undang Perkawinan sebagai acuan dalam aturan hukum keluarga di indonesia, menganut asas mempersulit peceraian.

Asas mempersulit perceraian ini disebutkan dalam penjelasan umum angka 4 huruf (e) Undang-undang Perkawinan yang berbunyi “karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera maka undang-undang ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian. Asas mempersulit perceraian bertujuan untuk menghindari dampak-dampak negatif yang timbul pasca putusnya perkawinan. Apabila pelaksaan asas tersebut efektif, maka peningkatan perceraian dapat menurun. Kehadiran asas mempersulit perceraian ini diharapkan dapat memelihara tujuan-tujuan syari‟at dan tidak terjadi dampak negatif dari perceraian tersebut baik bagi keluarga dan masyarkat.4

Media sosial memang tidak termasuk alasan perceraian sebagaimana pada pasal 19 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 jo Undang-undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan menyebutkan, “Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan. Salah satu

3 Dahwadin, Eva Sofiawati, “Hakikat Perceraian Berdasarkan Ketentuan Hukum Islam Di Indonesia,”

Yudisia 11, no. 1 (2020):93

4 Alifa, Amelia, “Pelaksanaan Asas Mempersulit Terjadinya Perceraian Pada Pengadilan Agama Payakumbuh Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,” JOM 8, no. 2 (2020):5

39

pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah karena hal lain diluar kemampuannya. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami/isteri.

Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga”. Zina, mabuk, judi, meninggalkan pihak lain 2 tahun berturut-turut tanpa alasan, dipenjara selama 5 tahun atau lebih berat, tindakan KDRT, cacat badan/penyakit, perselisihan hanya ini yang ada dalam Undang-undang perkawinan.

Lebih lanjut Kompilasi Hukum Islam (KHI) menambahkan dua alasan perceraian yaitu suami melanggar ta‟lik talak dan murtad (keluar dari agama) yang ada pada pasal 116 Kompilasi Hukum Islam. Jadi jelaslah bahwa media sosial bukan alasan kuat perceraian.

Penggunaan media sosial yang tidak baik bagi suami istri berdampak adanya orang ketiga Wanita Idaman Lain (WIL) yang mengarah kepada perselingkuhan, melalaikan kewajiban sebagai suami istri, masalah finansial dan human error. Media sosial yang umum digunakan seperti Facebook, Whatsapp, WeChat dan lain sebagainya yang lebih populer disebut dengan social netwrok. Kemudahan akses komunikasi dapat melihat langsung pengguna lain secara virtual sekalipun jaraknya jauh. Kecemburuan inilah yang akhirnya tidak bisa didamaikan hingga berkelanjutan membuat salah satu pihak mengajukan permohonan cerai atau gugatan cerai ke Pengadilan.

Turunan dari media sosial sangat mempengaruhi keadaan pasangan suami istri.

Keadaan ini terjadi ketika perselisihan tersebut belum menemui titik kedamaian.

Penulis membagi dampak turunan media soail terhadap suami antara lain:

1. Perzinahan

Perzinahan merupakan persetubuhan manusia laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan perkawinan yang sah. Zina termasuk dosa besar dalam islam, baik zina muhson atau ghair muhson. Zina adalah setiap hubungan seksual yang

40

diharamkan, baik yang dilakukan oleh orang yang telah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga asal ia tergolong orang mukallaf, meskipun dilakukan dengan rela sama rela.5 Sebagaimana Al-Qur‟an surat An-Nur ayat 2:

ْيِف ٌةَفْأ َر اَمِهِب ْمُكْذُخْأَت َلا َّوۖ ٍةَدْلَج َةَئاِم اَمُهْنِّم ٍدِحا َو َّلُك ا ْوُدِل ْجاَف ْيِناَّزلا َو ُةَيِناَّزلَا ِ هّالله ِنْيِد

ْيِنِم ْؤُمْلا َنِّم ٌةَفِ ىۤاَط اَمُهَباَذَع ْدَهْشَيْل َو ِِۚرِخه ْلاا ِم ْوَيْلا َو ِ هّللّاِب َن ْوُنِم ْؤُت ْمُتْنُك ْنِا َن

Artinya: “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman”.

Potensi perzinahaan ini dapat terjadi ketika rumahtangga pasangan mengalami ketidakharmonisan dalam hal ini disebabkan oleh media sosial.

2. Perselingkuhan

Perselingkuhan dalam hubungan pernikahan merupakan sebuah pengkhianatan terhadap komitmen yang telah diikrarkan dan berdampak serius terhadap individu dan hubungan itu sendiri. Perselingkuhan dapat dikatakan sebagai kegiatan seksual atau emosional dilakukan oleh salah satu atau kedua individu terikat dalam hubungan berkomitmen dan dianggap melanggar kepercayaan.6 Pasangan suami istri bisa saja melakukan perselingkuhan lantaran kemudahan akses komunikasi dari media sosial. Boleh jadi suami istri berkomunikasi dengan orang lain yang pernah memiliki hubungan secara emosional, satu grup whatsapp, mengirim pesan melalui facebook, atau dengan sengaja mencari wanita idaman lain, hingga kemudian terjadi perselingkuhan.

3. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

5 H.A. Djazuli, Fiqih Jinayah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 35.

6 Anwar Bastian, “Perselingkuhan sebagai Kenikmatan Menyesatkan,” Petra, Jurnal Psikologi Perkembangan 8, no. 2 (2012):25

41

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu permasalahan dalam keluarga, memang boleh saja memukul istri, tetapi dalam keadaan darurat yang pada tingkatan istri melewati batas, sebagaimana Al-Qur‟an surat An-Nisa ayat 34:

َت َلاَف ْمُكَن ْعَطَا ْنِاَف ِۚ َّنُه ْوُب ِرْضا َو ا ارْيِبَك ااّيِلَع َناَك َ هّالله َّنِاۗ الاْيِبَس َّنِهْيَلَع ا ْوُغْب

Artinya:

Dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar”.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bisa menimpa siapa saja. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu bentuk kejahatan yang melecehkan dan menodai harkat kemanusiaan, serta patut dikategorikan sebagai jenis kejahatan melawan hukum kemanusiaan.7 Perselisihan akibat media sosial membuka jalan bagi pelaku KDRT untuk melakukan hal yang dapat mencederai rumahtangga atau memperparah keadaan rumah tangga.

4. Melanggar Ta‟lik Talak

Ta‟lik talak ialah kalimat atau lafadz yang diucapkan suami kepada istri sebagai tanda kasih sayang dan kepedulian yang penuh yang dilakukan suami kepada istri.

Ta‟lik talak juga memiliki akibat hukum pada pasangan suami istri.8 Pelanggaran sighat talak ini dapat terjadi akibat media sosial yang menyebabkan percekcokan dalam rumahtangga, sehingga suami meninggalkan istri, tidak menafkahi baik nafkah lahir dan batin, tidak memenuhi hak dan kewajiban.

Adapun dampak turunan dari media sosial terhadap istri yaitu:

1. Perzinahan dan Perselingkuhan

Sebagimana dibahas di atas, perzinahan dan perslingkuhan menjadi lanjutan bumbu perceraian bagi pasangan suami istri. Istri yang melakukan perzinahan dan perselingkuhan sangat mungkin berangkat dari kemudahan komunikasi melalui media sosial. Bisa jadi istri menghubungi orang lain yang pernah

7 Alimuddin, Penyelesaian kasus KDRT di Pengadilan Agama, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2014), h. 38.

8 Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam Dan Adat Di Indonesia, (Jakarta; Inis, 1998). h. 78.

42

memiliki hubungan emosional atau sengaja mencari orang lain dengan tidak mempedulikan suami yang sah.

Setelah Wawancara dengan Hj. Idia Isti Murni Hakim Utama Muda Pengadilan Agama Serang memberikan keterangan bahwa media sosial bukan sub alasan baru perceraian, melainkan masalah baru yang menimbulkan keretakan, perseilisah, pertengkaran yang artinya media sosial sebagai alasan perceraian masuk ke dalam kategori perselisihan atau pertengkaran terus menerus, sehingga menjadi alasan kuat perceraian sebagaimana diatur pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan.9

Perkawinan merupakan pranata sosial yang telah ada sejak manusia diciptakan oleh Allah SWT. Dapat kita pahami bahwa sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berpasang-pasangan, sehingga Allah menetapkan jalan yang sah untuk itu, yakni melalui pranata yang dinamakan perkawinan. Kompilasi Hukum Islam, dinyatakan dalam pasal 2, perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat (misaqon gholidhon) untuk menaati perintah Allah dan menjalankannya merupakan ibadah.10

Putusan Nomor 2879/Pdt.G/2020/PA.Srg dan Putusan Nomor 185/Pdt.G.2021/PA.Srg penulis mencermati bahwa pertimbangan hakim dalam memutus kedua perkara ini berdalih pada percekcokan dan perselisihan yang terjadi antara penggugat dan tergugat yang disebut syiqaq. Tampaknya pertimbangan hakim lebih disebabkan oleh alasan syiqaq (percekcokan). Syiqaq adalah perselisihan yang tajam dan terus menerus antara suami istri, sehingga hakikat dari tujuan perkawinan dalam islam yaitu terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah tidak akan terwujud.

Saksi-saksi pada putusan Nomor 2879/Pdt.G/2020/PA.Srg memberikan keterangan bahwa benar sering terjadi perselisihan dan percekcokan antara suami istri yang berlanjut Tergugat memiliki wanita idaman lain diketahui dari SMS (short massenger service) dan foto profil facebook Tergugat. Keterangan saksi ini didapat dari pengaduan Tergugat kepada saksi.

9 Hj. Idia Isti Murni, M.Hum., Hakim Pengadilan Agama Kelas 1A Serang. Interview Pribadi, Serang, 3 maret 2021.

10 Luthfi Surkalam, Kawin Kontrak dalam Hukum Nasional Kita, (Tangerang: CV Pamulang, 2005), h. 1.

43

Sementara saksi-saksi pada putusan Nomor 185/Pdt.G/2021/PA.Srg memberikan keterangan bahwa benar sering terjadi perselisihan dan percekcokan antara suami istri yang pada awalnya disebabkan oleh suami tidak bekerja sehingga tidak memenuhi kebutuhan rumahtangga, padahal setelah 3 bulan kemudian suami mendapat pekerjaan. Tetapi, setelah 3 bulan suami bekerja, Termohon diketahui melalui Whatsapp dan Massenger berselingkuh dengan laki-laki lain yang kedapatan di ponsel Termohon. Saksi adalah seseorang yang melihat, mendengar secara langsung dan memenuhi syarat suatu peristiwa yang diungkapkan sebagai persaksian di depan sidang.11 Saksi merupakan alat bukti otentik yang memenuhi syarat formil dan materil dalam hukum acara di Pengadilan.12

Undang-undang telah mengatur tentang alasan syiqaq ini yang kemudian menjadi fakta-fakta hukum pada kedua putusan disebutkan dalam Pasal 76 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 bahwa:

1. Apabila gugatan perceraian didasarkan atas alasan syiqaq, maka untuk mendapatkan putusan perceraian harus didengar keterangan saksi-saksi yang berasal dari keluarga atau orang-orang yang dekat dengan suami dan juga istri.

2. Pengadilan setelah mendengar keterangan saksi tentang sifat persengketaan antara suami istri dapat mengangkat seorang atau lebih dari keluarga masing-masing pihak ataupun orang lain untuk menjadi hakam.

Al-Qur‟an Surat An-Nisa ayat 35: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu” hal ini sejalan dengan pasal 76 Undang-undang Peradilan Agama.

Secara yuridis kedua putusan tersebut, berfokus pada syiqaq sebagai alasan perceraian, sehingga secara yuridis tidak dapat lagi tercapainya tujuan perkawinan yang terdapat pada Pasal 1 Undang-undang Perkawinan, yaitu rumah tangga yang

11 Sulaikin Lubis, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2005), h. 133.

12 Retnowulan Sutantio, Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, (Bandung: CV Mandar Maju, 2009), h. 58.

44

bahagiadan kekal, sehingga antara Penggugat dengan Tergugat tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam membina rumah tangga, dengan demikian telah terdapat alasan untuk bercerai sebagaimana dimaksud Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sejalan dengan Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam.

Berdasarkan wawancara dengan Hakim Utama Muda mengenai pengabulan gugatan dan permohonan cerai dalam kedua putusan tersebut telah dilakukan identifikasi terhadap alasan-alasan gugatan dan permohonan cerai. Menurutnya semua yang diajukan baik dalam gugatn dan permohonan telah memenuhi syarat formil dan materil, sehingga alasan-alasan media sosial tersebut bukanlah problem primary (masalah pokok), melainkan hanyalah bagian yang mengantarkan kepada pertengkaran dan perselisihan. Jadi hal ini tidak dapat ditentukan terhadap masalah yang bukan pokok, terlebih pertengkaran adalah awal dari harapan yang tidak diinginkan suami istri yaitu perceraian.13 Sehingga, teranglah pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan tersebut.

Putusan Nomor 2879/Pdt.G/2020/PA.Srg dan Putusan Nomor 185/Pdt.G/2021/PA.Srg terlihat adanya kemudharatan bagi Penggugat dan Pemohon karena Tergugat dan Termohon berselingkuh, sehingga haruslah didahulukan menghilangkan mafsadatnya, sebab kemafsadatan dapat meluas dan menjalar pada perkembangan psikologis dan sosisologis, terlebih lagi bagi perkembangan anak, sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Maksudnya ialah, kewajiban menghindarkan terjadinya suatu kemudharatan atau dengan kata lain kewajiban melakukan usaha-usaha preventif agar jangan terjadi suatu kemudharatan, dengan segala upaya yang mungkin dalil-dalil mashlahah mursalah, yaitu dengan mengabulkan gugatan Penggugat untuk berpisah dengan Tergugat dan mengabulkan permohonan Pemohon untuk berpisah dengan Termohon sebagaimana petitum dalam putusan Nomor 2879/Pdt.G/2020/PA.Srg dan putusan Nomor 185/Pdt.G/PA.Srg.

Kaitannya dalam kasus ini para hakim mengambil keputusan dikhawatirkan akan terjadi kerusakan yang lebih besar dan lebih banyak, mengingat kondisi

13 Hj. Idia Isti Murni, M.Hum., Hakim Pengadilan Agama Kelas 1A Serang. Interview Pribadi, Serang, 3 maret 2021.

45

Tergugat dan Termohon sudah melakukan pengkhianatan dengan menjalin hubungan secara diam-diam dengan orang ketiga. Dapat dipahami dari pertimbangan hakim untuk menghindari mudharat yang lebih besar terhadap anak dan istri yang terabaikan akan tanggungjawab orang tua.

Penegakan hukum dan keadilan terletak pada kemandirian dan kearifan hakim.14 Salah satu pertimbangan hakim dalam kedua putusan ini diambil dari ketentuan kitab fikih yaitu:

تقرافولا بساٌولاف ةدىه لاو تبحه اوهٌيب دجىت نل ىأب فلتخا ىاف

Artinya: “Maka jika telah terjadi perselisihan dengan tidak diperoleh diantara keduanya kasih sayang, maka pantaslah perceraian”.

Hakim merupakan unsur vital di Pengadilan. Bahkan hakim identik dengan Pengadilan itu sendiri. Kebebasan kekuasaan kehakiman seringkali diidentikkan dengan Kebebasan Hakim. Demikian halnya, Keputusan Pengadilan diidentikkan dengan Keputusan Hakim. Oleh karena itu, pencapaian penegakan hukum dan keadilan terletak pada kemampuan dan kearifan Hakim dalam memutuskan keputusan yang mencerminkan keadilan. Peran seorang hakim sangat krusial dan kritis dalam mengadili suatu perkara, sehingga dia harus menjalankan tugas yang berat untuk memisahkan yang benar dan mana yang salah, khususnya dalam perkara perdata. Disamping memeriksa perkara dari pihak yang bertikai, hakim juga harus mengevaluasi bukti-bukti, untuk keperluan membuat putusan yang akurat. Hakim akan dapat menegakkan keadilan jika mereka memiliki otonomi absolut untuk memutuskan berdasarkan pemikiran dan pemahaman. Tidak boleh ada campur tangan dari siapa pun, baik dalam pekerjaannya maupun pengaruh apa pun dalam pembuatan putusan. Jika hakim dalam suatu masyarakat berada di bawah pengaruh penguasa atau pemerintah mereka, akan sulit bagi hakim untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat.

Dokumen terkait