T. Agama: Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang baru. Ini
4.3.1 Perda Melayani Kepentingan Pemerintah Daerah
UU. No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 20 Ayat 1c menyatakan penyelenggaraan pemerintahan daerah harus berpedoman pada asas kepentingan umum. Dengan demikian perda yang merupakan produk hukum (Paturusi, 2009, p. 105) pun harus melayani kepentingan umum.
Isu perda melayani kepentingan pemerintah telah dimunculkan sejak awal, melalui kata pembukaan Mata Najwa yang berbunyi:
1“perda lokal berbagai rupa, menawarkan jalan cepat meraih ketaatan masyarakat.”
2
“Ada perda hasil aspirasi publik, atau meladeni kegenitan elit.”
Najwa menggunakan kombinasi metafora “jalan cepat” dan “kegenitan elit” sehingga memberikan praanggapan perda menjadi produk hukum daerah untuk melanggengkan dan memenuhi kepentingan pemerintah daerah tanpa melihat konsekuensi pelaksanaan perda tersebut bagi masyarakat daerahnya ataupun pihak lain yang terkait.
Memasuki bagian isi/wawancara, Mata Najwa menunjukkan adanya proses penajaman wacana. Proses ini dimulai dengan menunjukkan tidak adanya kepentingan masyarakat dalam aturan larangan duduk mengangkang dan aturan nama bayi.
122
Universitas Kristen Petra Temuan data menunjukkan Suaidi Yahya dan Baktiono banyak menggunakan teknik wacana latar, detail dan maksud untuk menciptakan realitas mereka. Suaidi menyajikan realitas bahwa aturan larangan mengangkang penting bagi warga Lhokseumawe karena sesuai dengan adat, budaya dan syariat Islam untuk menjaga kesopanan kaum perempuan, sekaligus mencegah maksiat. Sementara itu, Baktiono menyajikan realitas bahwa aturan nama bayi penting bagi warga Surabaya agar tidak kehilangan identitas kedaerahan.
Di lain pihak, Mata Najwa memojokkan realitas para narasumber dengan membentuk wacana aturan-aturan tersebut tidak penting bagi masyarakat. Wacana ini didukung dengan teknik praanggapan dan koherensi. Najwa mengalihkan sumber aturan-aturan tersebut dari syariat Islam dan budaya daerah kepada karangan para pembuat kebijakan. Misalnya dalam kalimat berikut:
SY: Dalam Islam, tidak menyatakan, tidak menyatakan tidak boleh duduk ngangkang (NS: Ya), tetapi dijelaskan (NS: yang mengatakan Walikota Lhokseumawe.) adalah kesopanan. Yang dikatakan dalam budaya dalam Islam adalah kesopanan…
Dari cuplikan wawancara di atas terlihat Suaidi bermaksud memberikan detail mengenai hubungan antara Islam dan larangan mengangkang, namun Najwa membelokkannya dengan memberikan koherensi dan praanggapan bahwa memang Islam tidak menyatakan larangan duduk mengangkang, yang mengatakan adalah Walikota Lhokseumawe. Ini mematahkan latar, detail, dan maksud yang telah dibangun Suaidi sebelumnya bahwa larangan mengangkang dibuat berdasarkan syariat Islam.
Pada wawancara dengan Suaidi Yahya, proses penajaman wacana juga dilakukan dengan memutar tanggapan warga yang tidak setuju dengan larangan duduk mengangkang. Mata Najwa memutar dua video tanggapan warga perempuan Lhokseumawe yang berjilbab, yang sama-sama berpendapat masih ada hal lain yang lebih penting untuk diatur dalam rangka penegakkan syariat Islam.
123
Universitas Kristen Petra Gambar 4.14 Warga Perempuan Lhokseumawe
Dalam wawancara dengan Baktiono, Najwa mengeluarkan pernyataan:
3
Itu kan hak prerogatif orang tua mau kasih nama anaknya siapa. Kalimat 3 di atas merupakan praanggapan yang menunjukkan bahwa aturan nama bayi di Surabaya bertentangan dengan kepentingan warga umum.
Setelah menunjukkan bahwa aturan-aturan daerah tersebut tidak memiliki kepentingan warga secara umum, Mata Najwa pun memunculkan isu kepentingan pemerintah daerah Lhokseumawe. Pada wawancara dengan Suaidi, Najwa mengeluarkan pertanyaan:
4“Kalau ada yang menilai ini lebih ke ajang pembuktian seorang walikota yang baru enam bulan menjabat setelah sebelumnya menjadi wakil walikota. Ini lebih ke ego pribadi walikota yang mau dilihat berhasil melakukan sesuatu?”
5“Aa, ada yang menilai ini lebih karena bargaining politik Anda ketika dulu diangkat Anda mendapat dukungan dari kelompok-kelompok tertentu, ini upaya Anda untuk membalas budi dan upaya Anda untuk mengkompensasi hubungan yang diberikan dulu ketika menjadi walikota.”
Dari dua pertanyaan di atas terlihat bahwa Mata Najwa memberikan kesan bahwa melalui aturan larangan mengangkang, ada tujuan pribadi yang ingin dicapai. Suaidi ingin membuktikan produktivitas sebagai walikota baru (4) dan Suaidi menggunakan perda untuk bargaining politik (5).
124
Universitas Kristen Petra Dalam praktik politik, Suaidi merupakan anggota Partai Aceh. Isu bargaining politik berarti Suaidi menjadikan larangan duduk mengangkang sebagai imbalan atau bayar jasa kepada kelompok-kelompok yang sebelumnya memilih dia sebagai walikota.
Tindakan Suaidi yang dibentuk oleh Mata Najwa ini bertolak belakang dengan UU no.32 Tahun 2004 pasal 28a menegaskan bahwa kepala dan wakil kepala daerah dilarang membuat keputusan yang menguntungkan diri dan merugikan kepentingan umum. Sejak ditandatanganinya larangan duduk mengangkang pada 1 Januari 2013, aturan tersebut tidak hanya mendapat sikap pro dari masyarakat, tetapi juga sikap kontra, baik dalam skala lokal maupun nasional. Temuan data sosial menunjukkan pandangan negatif pembaca media online terhadap larangan duduk mengangkang dan aturan nama bayi.
(kompas.com, 2013)
Gambar 4.15 Komentar Pembaca Berita Larangan Mengangkang di Kompas.com
(Tempo.co, 2013)
Gambar 4.16 Komentar Pembaca Berita Larangan Mengangkang di tempo.co
125
Universitas Kristen Petra (m.kaskus.co.id, 2013)
Gambar 4.17 Komentar Pembaca Berita Aturan Nama Bayi di Kaskus.co.id
Komentar negatif ini tentu menimbulkan tanda tanya karena memberikan indikasi tidak memenuhi kepentingan umum. Dilihat dari kognisi sosial, ER dan SF pun menganggap bahwa peraturan daerah yang ideal harus dilakukan demi kepentingan rakyat.
6
Artinya kalau kita lari ke konsep dasar atau teori itu. Apa pun yang dikeluarkan, apa pun yang dipikirkan, apa pun yang dikerjakan pemerintah untuk kepentingan rakyat gitu lho. Jadi sama aja, mau undang-undang atau apa pun semuanya demi kesejahteraan publik. perda juga kayak gitu (ER, personal communication, May 24, 2013).
7
Kalau menurutku yang namanya perda itu harus mengatur kepentingan bersama. Kalau itu tidak berhubungan dengan menimbulkan keadaan yang kondusif disebuah daerah atau untuk kepentingan bersama ya menurutku gak sesuai (SF, telephone communication, June 19, 2013).
Pada kalimat 6 & 7 terlihat ER dan SF menggunakan skema peran untuk menjelaskan bagaimana peran perda dalam masyarakat yaitu untuk
126
Universitas Kristen Petra kepetingan rakyat besama. Kognisi sosial ini tidak hanya ditemukan pada bagian pembukaan dan isi, tapi juga pada bagian penutup, dimana Mata Najwa menyempurnakan wacana perda melayani kepentingan pemerintah daerah melalui bagian Catatan Najwa. Pada Catatan Najwa, Najwa melontarkan:
7
Terjebak menjual moralitas agama, dengan selera dan harga suka-suka. Semata menjadi jalan instan, mendongkrak politik pencitraan.
Kalimat tujuh di atas menegaskan bahwa perda digunakan sebagai media untuk mendapatkan kepopularitas melalui politik pencitraan. Pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa perda tidak memenuhi fungsinya demi kepentingan umum.
Penajaman wacana ini tidak hanya dilakukan melalui penggunaan bahasa, tetapi juga melalui visual yang ditampilkan, meliputi grafis dan ekspresi. Ketika Najwa mengeluarkan kalimat 7, Mata Najwa menampilkan grafis tulisan sesuai dengan ucapan Najwa untuk memberikan penekanan dan terpaan yang lebih tajam kepada penonton.
Selain itu, Suaidi Yahya banyak ditampilkan pada saat menunjukkan ekspresi mouth shrug/down-mouth, shoulder shrug, dan tight-lipped smile. Down-mouth menunjukkan perasaan tidak senang, tertekan, putus asa, marah dan tegang. Tight-lipped smile berarti pelaku sedang menyembunyikan sesuatu (Pease, 2004). Sementara itu shoulder shrug berarti tanda ketidakpedulian dan bentuk defensif karena merasa diserang (Morris, 1994, p.200). Mata Najwa menunjukkan Suaidi merasa diserang, menyembuyikan sesuatu, menampilkan senyum palsu, tertekan dan putus asa ketika Najwa melakukan proses pembentukan wacana dengan teknik-teknik yang telah dijelaskan sebelumnya. Sementara itu, pada kedua wawancara Najwa
127
Universitas Kristen Petra ditampilkan dengan variasi ekspresi sideways-looking up smile dan eyebrow flash, yang berarti menggoda dan merasa lucu atas suatu lelucon (Pease, 2004).
Keseluruhan ekspresi ini memberikan kesan dominan kepada Najwa Shihab dan submisif pada Suaidi dan Baktiono, sehingga perkataan yang dilontarkannya pun menjadi lebih realitas yang lebih diterima, yaitu perda tidak melayani kepentingan masyarakat melainkan kepentingan pemerintah.