• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perhitungan Shift Share Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kota Mojokerto

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Perhitungan Shift Share Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan di Kawasan Gerbangkertosusila

5.2.4 Perhitungan Shift Share Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kota Mojokerto

Dalam penelitian ini menggunakan analisis shift share untuk mengetahui pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Mojokerto. 1. Perkembangan Pendapatan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Berdasarkan nilai riil PDRB sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Mojokerto berdasarkan harga konstan tahun 2010 pada periode tahun 2010 hingga 2019 menunjukkan terjadi peningkatan pendapatan sebesar 6,93 persen dengan peningkatan sebesar Rp1,63 miliar. Perkembangan pendapatan PDRB sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Mojokerto yaitu pada tabel berikut.

63 Tabel 31. Perkembangan Pendapatan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Kota Mojokerto Tahun 2010 dan 2019 (miliar rupiah)

No. Sub Sektor Tahun ∆PDRB ∆Yij (%)

2010 2019

1. Tanaman Pangan 14,29 15,64 1,35 9,45

2. Tanaman Hortikultura 0,86 0,84 (0,02) (2,33)

3. Tanaman Perkebunan 0,46 0,36 (0,10) (21,74)

4. Peternakan 5,82 5,50 (0,32) (5,50)

5. Jasa Pertanian dan Perburuan 0,29 0,26 (0,03) (10,34) 6. Kehutanan dan Penebangan

Kayu 0,00 0,00 0,00 0,00

7. Perikanan 1,81 2,56 0,75 41,44

Jumlah Total PDRB 23,53 25,16 1,63 6,93

Sumber: PDRB Kota Mojokerto 2010 dan 2019 (diolah)

Berdasarkan tabel 31 menunjukkan bahwa selama periode 2010 hingga 2019, sub sektor yang mengalami peningkatan pendapatan di Kota Mojokerto yaitu tanaman pangan dan perikanan. Persentase peningkatan pendapatan terbesar terjadi pada sub sektor perikanan sebesar 41,44 persen, sedangkan persentase penurunan terbesar terjadi pada sub sektor tanaman perkebunan sebesar -21,74 persen. Hal ini dikarenakan luas wilayah Kota Mojokerto yang kecil dan penggunaan lahan bukan sawah sebagian besar digunakan untuk bangunan perumahan, halaman dan pekarangan seluas 1.234 Ha atau 83,84 persen dan lahan yang digunakan untuk tegal, kebun dan lain-lain hanya seluas 238,04 Ha atau 16,16 persen (BPS Kota Mojokerto, 2020).

2. Rasio Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Setiap sub sektor dalam sektor pertanian memiliki laju pertumbuhan yang berbeda-beda dalam perekonomian Kabupaten Bangkalan. Rasio setiap sub sektor dapat dilihat dari nilai Rij, Rin, dan Rn. Laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Mojokerto dapat diketahui dari tabel berikut.

64 Tabel 32. Rasio Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kota Mojokerto Tahun

2010-2019

No. Sub Sektor Rn Rin Rij

1. Tanaman Pangan 0,666 0,053 0,094

2. Tanaman Hortikultura 0,666 0,216 (0,023)

3. Tanaman Perkebunan 0,666 0,294 (0,217)

4. Peternakan 0,666 0,215 (0,055)

5. Jasa Pertanian dan Perburuan 0,666 0,186 (0,103) 6. Kehutanan dan Penebangan Kayu 0,666 0,488 0,000

7. Perikanan 0,666 0,608 0,414

Sumber: PDRB Kota Mojokerto Tahun 2010-2019 (diolah)

Berdasarkan tabel 32 menunjukkan bahwa nilai Rn yaitu sebesar 0,666 yang artinya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur selama tahun 2010 hingga 2019 meningkat sebesar Rp0,666 miliar. Nilai Rin terbesar terdapat pada sub sektor perikanan yaitu sebesar 0,608 yang artinya laju pertumbuhan sub sektor tersebut merupakan yang terbesar dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Jawa Timur. Nilai Rij tertinggi terdapat pada perikanan, yaitu sebesar 0,414 yang artinya laju pertumbuhan sub sektor tersebut merupakan yang terbesar di Kota Mojokerto. Perikanan memiliki laju pertumbuhan terbesar dikarenakan pada tahun 2019 jumlah produksi perikanan darat di Kota Mojokerto mencapai 192 ton (BPS Kabupaten Mojokerto, 2020).

3. Pertumbuhan Wilayah

Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kota Mojokerto dipengaruhi oleh tiga unsur pertumbuhan wilayah, yaitu regional share (Nij),

proportional shift (Mij) dan differential shift (Cij). Regional share dihasilkan dari perkalian antara rasio PDRB Jawa Timur dengan PDRB Kota Mojokerto sub sektor i tahun awal analisis 2010. Adapun hasil perhitungan regional share pada tabel berikut.

65 Tabel 33. Perhitungan Regional Share Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Kota Mojokerto Tahun 2010-2019

No Sub Sektor Regional Share (Nij)

Miliar Rupiah %

1. Tanaman Pangan 9,51 66,57

2. Tanaman Hortikultura 0,57 66,57

3. Tanaman Perkebunan 0,31 66,57

4. Peternakan 3,87 66,57

5. Jasa Pertanian dan Perburuan 0,19 66,57

6. Kehutanan dan Penebangan Kayu 0,00 66,57

7. Perikanan 1,20 66,57

Total 15,66 66,57

Sumber: PDRB Kota Mojokerto Tahun 2010-2019 (diolah)

Pada tabel 33 dapat diketahui bahwa pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Mojokerto dipengaruhi secara positif oleh pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur sebesar Rp 15,66 triliun dengan pengaruh sebesar 66,57 persen. Sub sektor yang mendapatkan pengaruh terbesar adalah sub sektor tanaman pangan sebesar Rp9,51 miliar, sedangkan sub sektor yang mendapat pengaruh terkecil adalah sub sektor tanaman perkebunan sebesar Rp0,31 miliar. Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Mojokerto sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan perekonomian Jawa Timur. Dengan demikian, jika terdapat perubahan kebijakan atau peraturan di Jawa Timur maka akan berpengaruh terhadap sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kota Mojokerto. Hal tersebut juga terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Abidin (2015) menggambarkan bahwa kebijakan umum, kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang berlaku secara nasional berpengaruh positif terhadap pengembangan seluruh sektor, termasuk sektor pertanian.

Proportional shift didapatkan dari selisih antara rasio pendapatan setiap sub

66 kehutanan dan perikanan Provinsi Jawa Timur dikalikan dengan pendapatan sub sektor pertanian Kota Mojokerto pada tahun awal analisis 2010. Adapun hasil

proportional shift pada tabel berikut.

Tabel 34. Perhitungan Proportional Shift Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kota Mojokerto Tahun 2010-2019

No Sub Sektor Proportional Shift (Mij)

Miliar Rupiah %

1. Tanaman Pangan (8,75) (61,23)

2. Tanaman Hortikultura (0,39) (44,95)

3. Tanaman Perkebunan (0,17) (37,14)

4. Peternakan (2,62) (45,02)

5. Jasa Pertanian dan Perburuan (0,14) (48,01)

6. Kehutanan dan Penebangan Kayu 0,00 0,00

7. Perikanan (0,10) (5,74)

Sumber: PDRB Kota Mojokerto Tahun 2010-2019 (diolah)

Sub sektor dengan nilai proportional shift positif (Mij>0) artinya sub sektor tersebut pertumbuhannya cepat, sedangkan sub sektor dengan nilai proportional

shift negatif (Mij<0) artinya sub sektor tersebut pertumbuhannya lambat. Pada tabel 34 menunjukkan bahwa seluruh sub sektor pertanian memiliki nilai proportional

shift negatif (Mij<0) dengan nilai pertumbuhan tanaman pangan Rp-8,75 miliar; tanaman hortikultura Rp-0,39 miliar; tanaman perkebunan Rp-0,17 miliar; peternakan Rp-2,62 miliar; jasa pertanian dan perburuan Rp-0,14 miliar; dan perikanan Rp-0,10 miliar. Artinya seluruh sub sektor pertanian di Kota Mojokerto memiliki tingkat pertumbuhan yang lambat.

Differential shift merupakan selisih dari rasio pendapatan sub sektor pertanian

Kota Mojokerto dengan rasio pendapatan sub sektor pertanian Jawa Timur dikali pendapatan sub sektor pertanian Kota Mojokerto pada tahun awal analisis 2010. Sub sektor dengan nilai positif (Cij>0) artinya sub sektor tersebut memiliki daya saing yang kuat (keunggulan kompetitif), sedangkan sub sektor dengan nilai negatif

67 (Cij<0) artinya sub sektor tersebut tidak memiliki daya saing yang kuat (tidak kompetitif). Adapun hasil perhitungan differential shift pada tabel berikut.

Tabel 35. Perhitungan Differential Shift Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kota Mojokerto Tahun 2010-2019

No Sub Sektor Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Cij)

Miliar Rupiah %

1. Tanaman Pangan 0,59 4,11

2. Tanaman Hortikultura (0,21) (23,95)

3. Tanaman Perkebunan (0,24) (51,17)

4. Peternakan (1,57) (27,05)

5. Jasa Pertanian dan Perburuan (0,08) (28,91)

6. Kehutanan dan Penebangan Kayu 0,00 0,00

7. Perikanan (0,35) (19,40)

Sumber: PDRB Kota Mojokerto Tahun 2010-2019 (diolah)

Pada tabel 35 dapat diketahui bahwa sub sektor dengan nilai differential shift positif yaitu tanaman pangan sebesar 4,11 persen atau Rp0,59 miliar, artinya sub sektor tersebut memiliki keunggulan kompetitif atau daya saing yang kuat jika dibandingkan dengan sub sektor yang sama di Jawa Timur. Hal ini karena tingginya produksi padi di Kota Mojokerto yang tahun 2019 mencapai 3.565,88 ton (BPS Kota Mojokerto, 2020). Sub sektor dengan nilai differential shift terendah adalah tanaman perkebunan yaitu sebesar -51,17 persen, hal ini dikarenakan sejak tahun 2007 hampir semua komoditas tanaman perkebunan terjadi penurunan jumlah luas areal panen dan jumah produksi, bahkan komoditas tanaman kelapa sejak tahun 2007 hingga tahun 2019 tidak lagi menghasilkan (BPS Kota Mojokerto, 2020).

Pergeseran bersih didapatkan dari hasil penjumlahan antara nilai proportional

shift dan nilai differential shift. Sub sektor dengan nilai positif (PB>0) artinya sub

sektor tersebut pertumbuhannya progressive, sedangkan sub sektor dengan nilai negatif (PB<0) artinya sub sektor tersebut pertumbuhannya tidak progressive. Adapun hasil perhitungan pergeseran bersih pada tabel berikut.

68 Tabel 36. Pergeseran Bersih Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kota

Mojokerto Tahun 2010 dan 2019

No Sub Sektor Pergeseran Bersih (PB)

Miliar Rupiah %

1. Tanaman Pangan (8,16) (57,12)

2. Tanaman Hortikultura (0,59) (68,90)

3. Tanaman Perkebunan (0,41) (88,31)

4. Peternakan (4,19) (72,07)

5. Jasa Pertanian dan Perburuan (0,22) (76,92)

6. Kehutanan dan Penebangan Kayu 0,00 0,00

7. Perikanan (0,45) (25,14)

Sumber: PDRB Kota Mojokerto Tahun 2010-2019 (diolah)

Pada tabel 36 dapat dilihat bahwa seluruh sub sektor pertanian di Kabupaten Bangkalan memiliki nilai pergeseran bersih yang negatif dengan nilai PB kurang dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman pangan; tanaman hortikultura; tanaman perkebunan; peternakan; jasa pertanian dan perburuan; dan perikanan memiliki pertumbuhan yang tidak progressive (mundur).

5.2.5 Perhitungan Shift Share Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan