Bab V Penutup
A. Penelitian Terdahulu
5. Perilaku Sopan Santun
a. Pengertian Perilaku Sopan Santun
Sopan santun merupakan norma yang tidak tertulis, sejalan dengan pendapat Zuriyah, bahwa sopan santun yaitu47, norma tidak tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku. Sopan santun juga suatu cara atau aturan yang turun-temurun dan berkembang dalam suatu budaya masyarakat, yangbermanfaat dalam pergaulan dengan orang lain agar terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-menghormati menurut adat yang telah ditentukan.48
Kesopanan mempunyai peran tersendiri yaitu untuk memelihara suatu hubungan yang harmonis antar pribadi sepanjang interaksi tersebut. Karena sopan santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok orang, maka sopan santun terbentuk oleh kebiasaan lisan saja, yang jika dilanggar akan mendapat celaan dari masyarakat, tetapi jika ditaati akan mendapat pujian dari masyarakat.49 Sikap sopan santun dapat tercermin dari perilaku sehari-hari, seperti tersenyum, ramah, hormat, merendahkan diri, berbicara
47 Nurul Zuriyah, Pendidikan Moral dan Budi Oekerti Dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 139.
48 Nurul Zuriyah, Pendidikan Moral dan Budi Oekerti Dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 71.
49 Sutarjo Adisusilo, Pendidikan Karakter, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 54.
dengan baik dan mengucapkan salam. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu’ara ayat 215 yang berbunyi:
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu”50
Dalam ayat diatas Allah SWT memerintahkan kita agar selalu senantiasa berlaku sopan dan tawaduk kepada sesama orang mukmin.
Berdasarkan beberapa pendapat dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku sopan santun merupakan norma tidak tertulis yang mengatur bagaimana seharusnya bersikap dan berperilkau, yakni perilaku seseorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai dan berakhlak mulia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat.
b. Landasan Berperilaku Sopan Santun
Sopan santun serupa dengan akhlak, tetapi yanh hasilnya dinilai baik karena sopan santun hanya merujuk yang baik sesuai noema-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian akhlak melahirkan sopan santun. Dari sini akhlak dapat menyempit maknanya sehingga dinamakan sopan santun.51
Akhlak menempati posisi penting dalam Islam, karena kesempurnaan Islam seseorang sangat tergantungg kepada kebaikan
50 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbt Diponegoro, 2010), 376.
51 Nur Cahyaningsih, Pendidikan Akhlak: Pembinaan Sikap Sopan Santun Siswa Terhadap Guru di Mts Negeri 1 Rakit Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara, (IAIN Purwokerto, 2017), 41.
dan kemuliaan akhlaknya. Manusia yang di kehendaki dalam Islam adalah manusia yanh memliki akhlak mulia, manusia yang memiliki akhlak mulia akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.52
Islam sangat memperhatikan perilaku sopan santun. Islam juga menganjurkan ketika bergaul dengan orang lain hendaknya disertai dengan penghormatan dan sopan santun, baik dalam berbahasa ataupun berperilaku, baik dengan individu maupun kelompok.
Salah satu menjaga sopan santun yang dianjurkan adalah santun dalam berbahasa. Santun dalam berbahasa menunjukkan bagaimana seseorang melakukan interaksi sosial dalam kehidupan secara lisan. Bahasa yang dipergunakan dlam berkomunikasi sangat menentukan keberhasilan pembicaraan.53 Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an sursah Al-Hujurat ayat 2, yang berbunyi:
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”54
52Muhammad Azmi, Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini Pra-Sekolah, (Yogyakarta: CV.
Venus Corporation, 2006), 54.
53Rusmini, Peran Guru Dalam Menanamkan Karakter Sopan Santun Siswa di SDN Teluk Dalam 12 Banjarmasin, (Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan vol.3 no.5, 2013), 5.
54 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbt Diponegoro, 2010), 515.
Dari ayat diatas sungguh Allah SWT melarang untuk mengangkat suara dihadapan Rasulullah SAW. Inilah etika yang dengannya Allah membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu agar mereka tidak mengeraskan suara dihadapan Nabi Muhammad SAW melebihi suara beliau.55
Jadi, dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Islam sangat memperhatikan dan mengatur sikap atau perilaku, adab sopan santun yang harus dikedepankan oleh umat Islam ketika berhadapan dengan Nabi Muhammad SAW, secara lebih luas ayat ini dapat menjabarkan bahwa ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua baik dari segi intelektualnya maupun dalam kondisi di tengah-tengah masyarakat harus berlaku sopan santun.
c. Macam-Macam Sopan Santun
Perilaku sopan santun dibagi menjadi 2 aspek, yaitu:
1) Sopan Santun Berbahasa
Bahasa menunjukkan karakter bangsa, dalam komunikasi bahasa merupakan alat komuniasi penting yang menghubungkan seseorang dengan orang lainnya. Ukuran kesantunan dalam berbahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a) Intonasi
Tinggi rendahnya nada pada suatu kalimat yang memberikan penekanan pada kata-kata tertentu dalam sebuah kalimat.
55 Muhammad Abu Syaikh, Abdullah, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2017), 99.
b) Pemilihan diksi
Jika berbicara dengan orang yang kebih tua ataupun yang lebih dihormti hendaknya menggunakan kata-kata yang mempunyai sinonim lebih halus.
c) Struktur kalimat.
Penyusunan kalimat yang baik akan mempengaruhi dalam penyampaiannya.
2) Sopan Santun Berperilaku
Faktor kesantunan dalam perilaku dapat dilihat dari beberapa hal berikut:
(1) Gerak-gerik tubuhnya
- Menunjuk dengan menggunakan ibu jari lebih sopan daripada menggunakan telunjuk
- Membungkukkan badan ketika lewat didepan orang tua - Bersalaman atau mencium tangan
- Sikap duduk
- Menganggukkan kepala (2) Ekspresi wajah
Ekspresi wajah juga termasuk dalam komunikasi non verbal yang mengikuti juga pada kesantunan berbahasa, seperti eksprrsi wajah tersenyum.56
56 Pranowo, Berbahasa Secara Santun, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012), 78.
d. Metode Pembentukan Perilaku Sopan Santun
Untuk membentuk perilau seseorang perlu adanya metode, karena metode berpengaruh terhadap berhasil tidaknya suatu tujuan dalam bentuk perilaku sopan santun.
Menurut Fuanuddin T.M ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam pembentukan perilaku sopan santun yaitu:57
1) Melalui pembiasaan 2) Melalui keteladanan 3) Melalui nasehat dan dialog
4) Melalui pemberian penghargaan dan hukuman
Sejalan dengan pendapat Abdullah Nashih Ulwan58tentang metode yang efektif untuk membentuk perilaku sopan santun yaitu:
1) Pembentukan dengan teladan
2) Pembentukan dengan adat istiadat atau kebiasaan 3) Pembentukan dengan nasehat
4) Pembentukan dengan hukuman
Berdasarkan uraian diatas, perilau sopan santun dapat diterapkan dengan metode-metode yang telah disebutkan. Perilaku sopan antun dapat diterapkan dengan metode keteladanan, dimana yang menjadi teladan adalan tenaga pendidik. Pendidik harus mampu memberikan contoh berperilaku sopan santun dalam berbahasa dan berperilaku. kemudian perilaku sopan santun dapat dibimbing dengan
57 Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), 30.
58 Abdullah Hashib Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam, (Jakarta: Pustaka Alami, 2002), 141.
nasehat atau pembiasaan. Dimana anak diberikan nasehat betapa pentingnya berperilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian anak juga dibiasakan untuk berbahasa yang sopan dan berperilaku santun. Misalnya dengan membiasakan berbahasa Jawa Krama dengan baik dan benar sesuai dengan unggah-ungguhnya.
e. Indikator perilaku sopan santun
Indikatora dalah perilaku yang dapat diukur dan atau diobservasi untuk mewujudkan ketercapaian suatu kompetensi.59 Dalam onteks penilaian sikap, indikator merupakan tanda-tanda yng dimunculkan oleh peserta didik yang dapat diamati oleh guru sebagai representasi dari sikap yang dinilai.
Contoh indikator sopan santun menurut Mulyasa adalah sebagai berikut: 1)menghormati orang yang lebih tua, 2) menyayangi orang yang lebih muda, 3) menggunakan kata-kata yang halus dalam bertutur kata, 4) membuang sampah pada tempatnya, 5) menghormati pendapat orang lain yang berbeda, 6) mengucapkan terimakasih terhadap bantuan orang lain, 7) menyapa dengan senyum dan salam, 8) meminta izin ketik akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain, 9) memperlakukan orang lain sebagaiamana diri sendiri ingin diperlakukan.60
Berdasarkan pendapat di atas, indikator sopan santun yang diamati adalah Menghormati guru, Memberi salam ketika berjumpa dengan guru, Berbicara dengan halus dan sopan kepada guru, Menyapa dengan ramah kepada guru, Menghargai teman, Menerima sesuatu dengan tangan kanan, Berpakaian sopan, Tidak berkata kotor dan kasar, Menghargai pendapat orang lain, Tidak meludah disembarang
59 Indisusilo, Panduan Lengkap Menuysun Silabus Dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, 25.
60Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2013 Revisi, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2018),183.
tempat, Mengucapkan terimakasih setelah menerima bantuan orang lain, Menggunakan bahasa yang santun saat menyampaikan pendapat, Menggunakan bahasa yang santun saat mengkritik pendapat teman, Tidak menyela pembicaraan guru dan teman, Meminta izin kepada guru ketika akan meninggalkan kelas saat pembelajaran berlangsung dan ketika menggunakan barang orang lain.
data dan informasi dengan maksud, tujuan dan kegunaan tertentu.1 Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrumen kunci.