LATAR BELAKANG DAN PERKEMBANGAN KONFLIK MASYARAKAT DENGAN TAMAN NASIONAL GUNUNG
3. Periode Awal Masuknya Taman Nasional hingga Sekarang
a. Kronologi Masuknya TNGC
Kawasan hutan Gunung Ciremai yang dikelola oleh Perum Perhutani (KPH Kuningan dan Majalengka) sudah ditunjuk untuk menjadi kawasan hutan lindung pada tahun 2003 melalui SK. Mentri Kehutanan No. 195/Kpts-II/2003. Kemudian, pada tanggal 13 Agustus 2004, Bupati Kuningan mengajukan usulan mengenai “Proposal Kawasan Hutan Gunung Ciremai sebagai Kawasan
Pelestarian Alam” melalui surat No. 552/1460/Dishutbun. Pada hari yang sama,
Bupati Majalengka juga mengeluarkan “Usulan Gunung Ciremai sebagai Kawasan Pelestarian Alam” melalui surat No. 522/2394/Hutbun. Pada tanggal 1 September 2004, pimpinan DPR-D Kabupaten Kuningan memberikan dukungan atas usulan pengelolaan kawasan hutan Gunung Ciremai sebagai kawasan pelestarian alam melalu surat No. 661/266/DPRD. Kemudian, pada tanggal 19 Oktober 2004, Mentri Kehutanan mengeluarkan surat keputusan No. 424/Menhut- II/2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan Gunung Ciremai dengan luas 15.500 ha yang terletak di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, sebagai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kronologi masuknya TNGC terpapar pada bagan di bawah ini.
Gambar 6Bagan sejarah ditetapkannya Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Sumber: website Kabupaten Kuningan
Penunjukkan kawasan hutan Gunung Ciremai menjadi taman nasional dilakukan berdasarkan pertimbangan keanekaragaman hayati yang tinggi yang berada pada kawasan tersebut dan merupakan daerah resapan air bagi kawasan di bawahnya, yaitu beberapa sungai penting di Kabupaten Kuningan, Majalengka dan Cirebon. Kawasan tersebut juga merupakan sumber beberapa mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, perikanan, suplai PDAM, dan industri. Selain itu, kawasan yang ditetapkan sebagai TNGC juga memiliki potensi ekowisata seperti panorama alam yang indah, hasil hutan non kayu seperti tumbuhan obat, budidaya lebah madu, konservasi kupu-kupu, potensi untuk penelitian, pendidikan, situs budaya, dan terdapat beberapa bangunan bersejarah. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka diputuskan bahwa kawasan kawasan hutan Gunung Ciremai perlu dilindungi dan dilestarikan, sehingga ditunjuk menjadi kawasan taman nasional.
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas +15.500 ha, terdiri 6.800,13 ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 ha di Kabupaten Kuningan. Kawasan TNGC berbatasan langsung dengan 25 desa di Kabupaten Kuningan dan 20 desa di Kabupaten Majalengka. Peta kawasan TNGC adalah sebagai berikut:
Penunjukkan kawasan Gunung Ciremai sebagai kelompok hutan tutupan oleh Pemerintah Hindia Belanda
Pada tahun 2003, kawasan hutan Gunung Ciremai yang dikelola Perum Perhutani (KPH Kuningan dan Majalengka) ditunjuk sebagai kawasan
hutan lindung melaui SK Menteri Kehutanan No. 195/Kpts-II/2003 Bupati Kuningan mengajukan usulan melaui surat No.
552/1480/Dishutbun perihal “Proporsi Kawasan Hutan Gunung Ciremai sebagai Kawasan Pelestarian Alam” pada tanggal 13 Agustus 2004 Ususlan Bupati Majalengka melalui surat No. 522/2394/Hutbun perihal “Usulan Gunung Ciremai sebagai Kawasan Pelestarian Alam” tanggal 13
Agustus 2004
Surat Pimpinan DPDD Kab. Kuningan No. 661/266/DPDR tanggal 1 September 2004 perihal dukungan atas usulan pengelolaan kawasan hutan
Gunung Ciremai sebagai Kawasan Pelestarian Alam
Surat Keputusan Mentri Kehutanan No. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan Gunung Ciremai seluas 15.500 ha terletak di
Gambar 7 Peta kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Sumber: website Kabupaten Kuningan
Kawasan TNGC berbatasan langsung dengan desa tempat penelitian yaitu Desa Cisantana. Desa lain yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGC antara lain Desa Sukamukti, Desa Pajambon, Desa Puncak, dan Desa Sagarahiang. Berikut adalah peta kawasan TNGC dan desa-desa yang berbatasan langsung dengan TNGC:
Gambar 8 Peta kawasan TNGC dan desa-desa yang berbatasan dengan TNGC Sumber: website Kabupaten Kuningan
Desa Cisantana Desa Puncak
Desa Sagarahiang
Desa Pajambon Desa Sukamukti
b. Perubahan Kesejahteraan Masyarakat Eks-penggarap Lahan Perhutani
Pada tahun 2004 hutan di kawasan taman nasional beralihfungsidari hutan produksi ke hutan konservasi. Masyarakat sudah tidak diperbolehkan untuk menggarap lahan yang menjadi kawasan taman nasional. Mata pencaharian utama masyarakat saat itu adalah bertani, sehingga saat tidak diperbolehkan untuk menggarap lahan di kawasan taman nasional, masyarakat mengalami kesulitan. Masyarakat melalui tokoh desa minta adaptasi kepada pihak taman nasional dengan rentan waktu 5 tahun. Adaptasi yang dimaksud adalah memberi kesempatan bagi masyarakat untuk meninggalkan pertanian dan beralih ke pekerjaan lain secara pelan-pelan. Sebelum lahan TNGC benar-benar ditutup, ada beberapa masyarakat yang masih menanam di lahan Gunung Ciremai. Namun, tanaman masyarakat sering dirusak oleh hama babi, monyet, dan ajag (anjing liar) yang turun dari kawasan TNGC. Hal tersebut membuat masyarakat rugi dan jera untuk menanam di lahan TNGC.
Sebagai kompensasi atas ditutupnya lahan TNGC untuk masyrakat, pihak TNGC berjanji akan membelikan 2 ekor sapi dan 6 ekor kambing per desa agar dapat dikelola masyarakat, namun hal tersebut tidak pernah direalisasi oleh TNGC. Tahun 2008 kawasan TNGC benar-benar tertutup untuk masyarakat. Regulasi mulai diperketat dengan sangsi yang lebih tegas bagi masyarakat yang masih menggarap maupun bagi mereka yang hanya mengambil ranting yang sudah jatuh dari pohon. Pihak TNGC menawarkan solusi yaitu pengelolaan objek wisata Curuk Putri dan Bumi Perkemahan (Buper), dan desa akan mendapatkan bagian dari penjualan tiket. Curuk Putri dan Bumi Perkemahan (Buper) yang dikelola oleh CV Mustika Putri. Desa akan mendapatkan Rp 1.000,- dari penjualan setiap tiket masuk objek wisata. Pada tahun 2010, dibentuk LMDK (Lembaga Model Desa Konservasi) yang bertugas untuk mengelola dana donasi dari tiket tersebut. Dalam kurun waktu 1 tahun, donasi dari penjualan tiket yang dihibahkan kepada desa adalah Rp 30 juta. Jika diperhitungkan, Rp 30 juta dibagikan kepada 300 kepala keluarga, maka setiap kelapa keluarga hanya akan mendapat Rp 100.000 setiap tahun. Uang tersebut dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dapat dikatakan sangat menurun jika dibandingkan dengan hasil pertanian saat masyarakat menggarap lahan Perhutani. LMDK kemudian berdiskusi dengan masyarakat dan sepakat bahwa uang tersebut akan dibelikan sapi untuk dikelola oleh eks-penggarap lahan perhutani. Namun, timbul rasa iri dari masyarakat bukan eks-penggarap karena mereka merasa penduduk dari desa tetapi tidak mendapatkan manfaat dari donasi uang tiket masuk objek wisata.
Setelah masyarakat terusir dari lahan garapan milik Perhutani, pekerjaan masyarakat tidak menentu.Sebagian besar eks-penggarap mengorganisir diri untuk menjadi pemecah batu dengan peralatan sederhana. Pengorganisasian para eks- pengarap yang menjadi pemecah batu ini dikoordinir oleh Mang LO. Menurut Mang LO, setelah adanya TNGC, eks-penggarap lahan Perhutani mengalami kesulitan ekonomi. Berikut adalah penuturan Mang LO mengenai dampak TNGC bagi eks-penggarap:
…Sekarang mah udah turun gunung jadi bubar lah orang tu semuanya, orang biasanya nanem di gunung ya. Dulu mah pas masih nanem di gunung ni di pinggir-pinggir jalan ini tu tiap pagi ada 5, 6
sampe 10 mobil lah tu di sini jejer mau naik muatan jam 4an tuh. Jadi kalo pagi tu orang-orang pada ga ada di rumah, na pada di gunung semua. Sekarang orang pada di rumah semua kan? Orang teh juga pada mau kemana, biasanya mau ke lahan, na sekarang lahan lahan siapa, orang udah ga boleh nanem kan, hambur-hamburan lah sekarang mah, ya serabutan lah istilahnya, nyari akal gimana caranya dapet duit, ngojek kek, jualan kecil-kecilan, yang penting mah jangan mencuri gitu. Ada juga yang jadi tukang parkir di buper tu, tapi da tukang parkir mah berapa orang sih butuhnya neng? Da ga mungkin semua jadi tukang parkir kan? Makanya, banyak pengangguran sekarang mah. Sampe bingung mau ngapain. Mau ngojek, kalo semua jadi tukang ojek, terus yang mau naik ojek siapa? Iya kan? Tapi saya alihkan ni ke galian batu, da atuh mau apa lagi sekarang yang bisa diolah, sebenernya kalo disuruh milih nanem apa gali batu da atuh kita semua mah pasti milik nanem neng. Atuh gali batu mah resikonya gede, tenaganya juga harus lebih ekstra, ngangkat batu-batu segede itu, sok gera besok eneng ikut aja ke galian C biar bisa liat sendiri, belum nanti kalo kena rubuhan batu kan serem juga sebenernya, tapi dam au gimana orang butuh makan, ngidupin keluarga lah istilahnya mah. Yang ikut ke galian C juga ga semuanya neng, ada juga yang ngojek, jadi tukang bangunan, ya apa ajalah dilakuin gitu serabutan…
Menurut penuturan Mang LO, kesulitan ekonomi yang dirasakan eks- penggarap membuat mereka harus lebih bekerja keras untuk mencari uang. Pekerjaan yang dapat mereka lakukan dan peluang pekerjaan yang ada antara lain menjadi tukang ojek, pemecah batu, tukang bangunan, dan tukang parkir di Bumi Perkemahan (Buper). Sekitar 200 kepala keluarga eks-penggarap memilih menjadi pemecah batu meski pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang beresiko tinggi.Batu-batu dapat saja roboh dan menimpa mereka. Namun, masyarakat tidak mempunyai pilihan lain untuk bertahan hidup. Jika hari cerah dan masyarakat bekerja memecah batu seharian, masyarakat dapat memecah batu sebanyak 1 truk. Setiap truk batu dihargai Rp 110.000,-. Kemudian, sekitar 100 kepala keluarga eks-penggarap lainnya memilih untuk bekerja serabutan seperti menjadi tukang ojek, tukang bangunan, tukang parkir, buruh tani, dan ada yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, namuntidak sedikit pula yang menjadi pengangguran. Selain itu, ada beberapa masyarakat yang masih bekerja sebagai petani karena masih mempunyai lahan pribadi warisan dari keluarga mereka.
Salah satu eks-penggarap lahan Perhutani yang juga mengalami kesulitan perekonomian adalah Ustad TW. Sebelum kawasan TNGC ditutup untuk diolah masyarakat, Ustad TW menggantungkan hidupnya dari lahan Perhutani. Menurut penuturan beliau, dampak setelah adanya TNGC yang beliau rasakan sangat signifikan adalah perihal pendidikan bagi anak-anaknya. Saat masih menggarap di lahan Perhutani, Ustad TW dapat membiayai pendidikan anak pertamanya hingga lulus perguruan tinggi. Namun, setelah dilarang menggarap di lahan TNGC, anak kedua Ustad TW bahkan tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang SMA karena kesulitan biaya. Berikut adalah penuturan Ustad TW:
Dulu rumah-rumah di pinggir-pinggir jalan ini tu semua dari bambu. Tapi setelah masyarakat dibolehkan menanam di lahan Perhutani, semua rumah dibangun jadi beton-beton gini, jadi bagus rumah- rumahnya. Saya juga merasakan kesejahteraan saat masih menanam di lahan Perhutani. Anak saya yang pertama berhasil lulus sarjana ya dari uang hasil menanam. Dulu setiap pagi di pinggir jalan penuh sama mobil-mobil yang ngangkut sayur, sampe lebih-lebih sayurnya, kadang dibuang-buang saking banyaknya, kadang kalo ada orang lewat kita kasih biar ga mubadzir. Sekarang sayur harus beli, harus masok dari luar Kuningan. Orang-orang pada kebingungan nyari kerja untuk hidup. Bukannya apa-apa, orang di sini mah orang kampong, orang kampong sebagian besar pendidikannya rendah, termasuk saya. Orang yang dulunya biasa nanem terus lahannya ditutup kan jadi kaget, bingung mau ngapain. Kalo dulunya jadi petani paling pindah pekerjaannya ke ternak, kalo ga punya ternak ya mau gimana, ngojek, jadi tukang bangunan, pekerjaan-pekerjaan yang memang bisa dilakukan tanpa harus berpendidikan tinggi. Saya pun merasakan hidup sulit sekarang, contohnya anak kedua saya, boro-boro mau jadi sarjana, mau lanjut ke SMA aja susah, duit dari mana sekarang mah. Apa-apa mahal, apa-apa harus bayar, sedangkan nyari uang semakin susah.
Contoh lain adalah kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh Mang LO dan Pak TT. Setelah adanya TNGC, perekonomian keluarga Mang LO dan Pak TT menurun, sehingga istri mereka memutuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi sekitar tahun 2010. Namun, hingga saat ini tidak ada kabar dari istri mereka. Hingga saat ini, ada sekitar 6 anak yang tinggal di rumah Mang LO. Anak-anak tersebut adalah anak Mang LO dan juga anak-anak orang lain yang ditinggal ibu mereka ke Saudi menjadi TKW. Berikut adalah penuturan dari Mang LO:
…ya itu karena serba susah jamannya, ibu-ibu juga pada jadi TKW neng, ni contohnya saya ni sama Mang TT. Ni dua orang ini di depan eneng ini ni korban TKW neng di daerah Saudi sama, dari setelah 2005 ya 2006 sampe sekarang lah. Ini sekarang banyak anak-anak di rumah saya ini kan eneng bisa liat sendiri, na itu anak-anak korban yang ditinggal ibunya TKW ke Saudi neng.
Masyarakat Desa Cisantana terutama eks-penggarap lahan Perhutani merasa tingkat kesejahteraan mereka semakin menurun setelah adanya TNGC. Ditutupnya kawasan TNGC dari aktivitas ekonomi masyarakat membuat masyarakat harus mencari pekerjaan lain yang dapat mereka lakukan antara lain menjadi pemecah batu, tukang bangunan, tukang ojek, dan pekerjaan di sektor informal lain.
Isu Chevron Pemicu Konflik Masyrakat dengan Pihak TNGC
Sebelum adanya TNGC, masyarakat mempunyai semboyan “Gunung hejo,
masyarakat bagja” (gunung hijau, masyarakat bahagia). Semboyan tersebut mengandung makna bahwa sebelum TNGC, gunung mempunyai hutan yang subur, hijau (hejo), masyarakat ikut merawat hutan, dan masyrakat diperbolehkan menggarap hutan untuk perekonomian mereka, sehingga mereka pun hidup makmur atau bahagia (bagja). Setelah adanya TNGC, semboyan tersebut berubah
menjadi “Gunung hejo, masyarakat ngansaukur bisa ceurik nyawang ti anggang
na” (gunung hijau, tapi masyarakat hanya bisa menangis melihat keindahannya
dari bawah). Maksud dari semboyan tersebut adalah gunung tetap hijau karena gunung menjadi kawasan konservasi, dan tempat pelestarian alam, namun masyarakat hanya bisa menangis karena tidak mendapat manfaat dari suburnya tanah di gunung untuk lahan pertanian yang dapat menyokong kehidupan ekonomi mereka.
Masyarakat merasa pasrah dan nerimo dengan keadaan yang ada. Mereka merasa ini adalah nasib yang harus mereka jalani sebagai rakyat kecil yang tidak mempunyai daya untuk membantah pemerintah dan pihak TNGC. Mereka hanya bisa tunduk patuh terhadap peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah.
Pada akhir 2012 muncul kabar bahwa Perusahaan Chevron akan melakukan proyek geothermal di kawasan TNGC dan wilayah lereng Gunung
Ciremai. Masyarakat mengibaratkan dengan „luka lama belum sembuh, malah
ditambah luka baru‟. Masyarakat masih merasa resah dengan penurunan ekonomi yang diakibatkan tertutupnya kawasan TNGC bagi masyrakat yang merupakan pribumi, namun Chevron yang merupakan perusahaan asing diijinkan untuk mengolah panas bumi yang berada di kawasan TNGC.
Masyarakat hanya menggunakan sekitar 1.000 ha lahan dari 15.500 ha lahan Gunung Ciremai yang menjadi kawasan TNGC untuk digarap dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Namun, pihak TNGC menolak dengan dalih TNGC adalah kawasan untuk konservasi dan pelestarian alam. Pihak TNGC berargumen jika masyarakat dibiarkan tetap menggarap hutan, hal tersebut dikhawatirkan dapat merusak hutan dan ekosistem alam. Di sisi lain, Chevron meminta lahan sebesar 24.330 ha yang mencakup kawasan TNGC dan wilayah lereng Gunung Ciremai dipersilahkan untuk beroperasi. Masyarakat berpendapat bahwa sebenarnya siapa yang akan merusak hutan, apakah itu masyarakat atau Chevron. Jika dibandingkan, masyarakat yang hanya memanfaatkan lahan sebagai lahan pertanian, dengan Chevron yang akan melakukan pengeboran ke inti bumi, menimbulkan dampak, dan pencemaran lingkungan karena proyek pertambangan, maka siapa yang lebih akan merusak hutan. Hal ini memicu kemarahan masyarakat terhadap pihak TNGC.
Berbagai simpang-siur informasi beredar di masyarakat mengenai Chevron. Ketidakjelasan informasi ini membuat masyarakat khawatir dan menimbulkan dugaan-dugaan yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Masyarakat menduga bahwa „taman nasional adalah pintu masuk bagi Chevron‟. Dugaan masyrakat diperkuat dengan berita yang sudah diterbitkan Kementrian ESDM pada 11 November 2011 mengenai rencana pemerintah untuk mengeluarkan ijin eksplorasi di 28 titik proyek geothermal. Isi berita tersebut adalah sebagai berikut:
Gambar 9 Berita pemerintah akan keluarkan ijin eksplorasi 28 titik geothermal Sumber: website Kementrian ESDM
Berita tersebut mengungkapkan bahwa terdapat 28 titik geothermal yang berada pada kawasan hutan lindung. Walaupun 28 titik tersebut berada di kawasan hutan lindung, proyek geothermalakan tetap diijinkan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Masyarakat lereng Gunung Ciremai yang mengetahui berita ini berpendapat bahwa proyek geothermal yang direncanakan berada di kawasan konservasi TNGC sangat dimungkinkan untuk mendapat ijin dari Menteri ESDM, Menteri Kehutanan, dan aparat pemerintahan lain.
Ikhtisar
Masuknya TNGC ke Gunung Ciremai membawa perubahan yang besar untuk masyarakat yang tinggal di wilayah Gunung Ciremai. Sebelum adanya TNGC, masyarakat masih boleh memanfaatkan lahan di gunung, namun setelah adanya TNGC akses masyarakat terdapat lahan di gunung ditutup. Hutan di gunung dilarang dimanfaatkan oleh masyarakat dengan alasan konservasi. Penunjukan kawasan hutan Gunung Ciremai menjadi taman nasional ini berdasarkan SK. Mentri Kehutanan No. 195/Kpts-II/2003 tahun 2003. Kemudian, kawasan ini resmi dijadikan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada tanggal 19 Oktober 2004 sesuai dengan surat keputusan No. 424/Menhut-II/2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan Gunung Ciremai dengan luas 15.500 ha
yang terletak di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, sebagai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Setelah adanya TNGC, masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian beralih profesi dari petani menjadi pekerja di sektor informal, seperti pemecah batu, tukang ojek, pedagang kecil-kecilan, tukang bangunan, pekerjaan serabutan lain, bahkan banyak yang menjadi pengangguran.
Konflik masyarakat dengan TNGC dipicu oleh isu rencana masuknya Chevron ke wilayah taman nasional. Kemarahan masyarakat semakin meningkat karena masyarakat merasa pemerintah lebih mengizinkan perusahaan asing masuk ke kawasan taman nasional dibandingkan masyarakat pribumi. Kemarahan masyarakat ini pun menimbulkan konflik dan perlawanan terhadap TNGC dan proyek geothermal Chevron.