PERLAWANAN PETANI GEMPUR DENGAN PERUSAHAAN GEOTHERMAL
A. Perlawanan Terbuka
Scott (1993) memaparkan bahwa perlawanan petani terbuka cenderung bersifat terorganisir, kolektif, menjangkau tujuan besar, dan biasanya didampingi oleh pihak di luar petani. Bentuk-bentuk perlawanan terbuka yang dikemukakan Scott (1993) antara lain aksi protes atau demonstrasi, pengaduan kepada pihak berwenang, okupasi, penghadangan pengukuran lahan, atau perlawanan yang bersifat diskusi dan persuasi seperti advokasi, lobi, negosiasi, dan audiensi. Perlawanan terbuka yang dilakukan Gempur adalah aksi demonstrasi dan pengaduan, Batshul Masail yang dilakukan oleh para ulama, aksi ruwatan tolak bala yang dipelopori masyarakat adat, konsolidasi ibu-ibu, pengggunaan ornamen- ornamen perlawanan, dan press-release yang dikeluarkan oleh Gempur. Berikut ini adalah pemaparan perlawanan terbuka yang dilakukan Gempur:
1. Aksi Demontrasi dan Pengaduan
Gempur pernah melakukan 7 aksi demonstrasi dan 1 aksi pengaduan. Aksi demonstrasi yang pertama dan kedua bertujuan untuk melawan TNGC. Sementara, aksi demonstrasi ketiga mempunyai 2 misi yaitu untuk melawan TNGC dan menolak Chevron. Aksi keempat hingga aksi kedelapan bertujuan untuk menolak Chevron, dimana aksi keenam merupakan aksi pengaduan ke Komnas HAM.
Demonstrasi pertama yang dilakukan adalah aksi demo ke Gedung Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kuningan pada 14 Maret 2014 yang diikuti oleh sekitar 500 orang. Pada aksi pertama, masyarakat menuntut agar Bupati Kuningan dan pemerintah daerah menyelesaikan persengketaan masyarakat dengan TNGC. Masyarakat merasa dirugikan dengan adanya TNGC karena masyarakat tidak boleh lagi menggarap di tanah yang digunakan taman nasional. Gempur meminta adanya zonasi ulang agar masyarakat dilibatkan dalam menentukan zonasi taman nasional. Namun, pada aksi ini masyarakat mendapatkan hasil nihil. Para demonstran tidak ditemui oleh Bupati maupun pihak dari pemerintah daerah.
Aksi kedua juga dilakukan di depan Gedung Pemda Kuningan pada Bulan April 2014. Jumlah massa aksi kedua ini lebih banyak yaitu sekitar 1.500 orang.
Tuntutan masyarakat hampir sama dengan aksi pertama yaitu meminta pemerintah daerah berpihak kepada masyarakat untuk menyelesaikan konflik dengan TNGC dan menuntut pembubaran TNGC karena dirasa merugikan masyarakat. Pada aksi ini perjuangan masyarakat membuahkan hasil. Perwakilan demonstran diijinkan untu berdiskusi dengan Bupati, Kepala Taman Nasional, dan Kepala Dishubbun. Hasil dari diskusi tersebut adalah Pemda Kuningan berjanji akan memfasilitasi permasalahan masyarakat dengan cara mengirim surat kepada Kementrian Kehutanan. Setelah itu, Kemenhut memberikan balasan kepada Pemda yang berisi bahwa masyarakat boleh memanfaatkan kawasan TNGC di zona pemanfaatan. Namun, pada kenyataannya yang boleh memanfaatkan lahan di zona pemanfaatan kawasan TNGC adalah masyarakat di daerah Pasawahan dan Sagarahiang. Warga desa di Palutungan dan desa-desa lain tetap tidak boleh memanfaatkan lahan di kawasan TNGC. Sementara, permintaan masyarakat untuk mendiskusikan zonasi kepada pihak TNGC belum mendapatkan keputusan apa pun.
Pada aksi ketiga yang diadakan pada Mei 2014, masyarakat mendatangi Gedung DPD-D Kuningan dengan jumlah massa sekitar 4.000 orang. Masyarakat menuntut agar pemerintah membubarkan TNGC dan menolak masuknya proyek geothermal yang akan dilakukan oleh Chevron di Gunung Ciremai. Perwakilan Gempur berhasil diijinkan untuk bertemu dengan ketua DPR-D Kuningan dan Ketua Partai PAN. Setelah itu, ketua DPR-D dan Ketua Partai PAN bersedia menandatangani penolakan proyek geothermal Chevron di wilayah Gunung Ciremai. Berikut adalah poin-poin tututan rakyat yang sudah ditanggapi positif oleh DPRD Kuningan yang dipaparkan dalam Berita SOFI Institut (2014):
- Pengukuhan Kawasan Kehutanan Gunung Ciremai sebagai hutan lindung yang memperluas tata kelola rakyat pada lingkungan dan sumber daya kehidupannya, dengan mendukung agar rakyat di wilayah desa hutan lereng ciremai mendapatkan hak untuk mengelola dan mengambil hasil atas tanamannya.
- Meminta kepada DPRD Kabupaten Kuningan untuk memanggil Gubernur Ahmad Heryawan dan Mentri ESDM Jero Wacik untuk berdialog dengan masyarakat Kuningan perihal kejanggalan-kejanggalan di atas sebelum Pemilu Legislatif di gelar.
- Mengecam Revisi UU Panas Bumi yang dilakukan pada Bulan April, di saat pergantian anggota legislatif lama ke baru. Yang mana hal tesebut secara Kepatutan Politik wajib dicurigai dan harus di usut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Indonesian Corruption Watch (ICW). - Menolak masuknya CHEVRON ke wilayah Gunung Ciremai.
- Menuntut DPRD kabupaten Kuningan dan Komisi C untuk membuat pernyataan intitutsi menolak proyek tambang geothermal di Kabupaten Kuningan.
Kemudian, aksi yang keempat merupakan aksi terbesar Gempur yaitu dengan 10.000 massa. Aksi keempat ini dilakukan pada Juni 2014 di depan Gedung DPR-D. Hasil dari aksi ini adalah semua pimpinan DPR-D dan Komisi C menandatangi penolakan proyek geothermal Chevron dan menulis surat kepada Kementrian ESDM Pusat dan Provinsi untuk menolak Chevron.
Aksi kelima dilakukan di depan kantor Bupati Kuningan. Pada saat aksi kelima, yang menjabat sebagai Bupati Kuningan adalah istri dari Bupati Kuningan sebelumnya. Aksi ini dilakukan pada 5 Juli 2014 dengan jumlah massa sekitar
5.000 orang yang mayoritas adalah laki-laki. Saat itu, Gempur tidak ditemui oleh Bupati, namun hanya ditemui oleh Sekretaris Daerah (Sekda). Sekda Kuningan memberikan pernyataan di depan para demonstran yaitu Pemda Kuningan akan membahas untung-rugi dengan Chevron, Pemda berjanji tidak akan menyengsarakan rakyat, dan Sekda meminta masyarakat percaya kepada Pemda bahwa Pemda akan berdiri untuk membela kepentingan rakyat.
Setelah melakukan kelima aksi demonstrasi, masyarakat melakukan aksi pengaduan ke Komnas HAM di Jakarta. Massa yang tergabung dalam aksi keenam ini adalah sekitar 120 orang (2 bus). Alasan masyarakat mengadu ke Komnas HAM adalah karena proses tender tidak melibatkan masyarakat dan tidak disosialisasikan secara terbuka kepada masyarakat. Masyarakat berhak untuk dilibatkan dan mengetahui bagaimana proses tender itu terjadi. Oleh sebab itu, masyarakat merasa pemerintah tidak menghargai hak asasi mereka. Hasil dari aksi pengaduan tersebut adalah Komnas HAM berjanji akan memanggil Bupati Kuningan, Gubernur Jawa Barat, dan pihak Chevron untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi. Namun, setelah itu Gempur tidak diberi tahu hasil kelanjutannya seperti apa.
Selanjutnya, Gempur melanjutkan aksi demonstrasi yang dilakukan di depan Kantor Bupati Kuningan dengan jumlah massa sekitar 1.000 orang. Berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya, pada aksi ketujuh ini mayoritas demonstran adalah ibu-ibu. Hal ini adalah salah satu strategi Gempur. Gempur berargumen bahwa karena Bupati Kuningan saat itu adalah wanita, maka jika pendemonya juga wanita diharapkan hati Bupati akan terketuk melihat para wanita berorasi. Strategi tersebut ternyata membuahkan hasil. Bupati Kuningan, Wakil Bupati, dan Sekda menemui para demonstran dan mengatakan bahwa Bupati akan mengirim surat ke Gubernur untuk menginformasikan bahwa masyarakat lereng Ciremai menolak Chevron. Namun, Gempur tidak diberi tahu hasil kelanjutan dari pengiriman surat tersebut.
Pada awal tahun 2015, berita mengenai mundurnya Chevron dari lereng Gunung Ciremai ramai di media. Hal tersebut membuat masyarakat dapat bernafas lega. Pada tanggal 1 Maret 2015, masyarakat di lereng Gunung Ciremai mengadakan pesta rakyat dan syukuran atas pernyataan Chevron di media sosial pada Januari 2015 bahwa ia mengundurkan diri dari proyek geothermal di Gunung Ciremai. Berdasarkan berita di media, Chevron mengundurkan diri dengan alasan potensi panas bumi di Gunung Ciremai relatif kecil. Jika Chevron tetap melaksanakan proyek geothermal tersebut maka aka nada indikasi kerugian karena biaya untuk teknologi yang akan digunakan lebih mahal. Selain itu, Chevron beralasan masyarakat tidak mendukung adanya proyek geothermal dan belum mendapatkan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dari Kementrain ESDM, seperti yang tertera pada berita berikut ini:
Gambar 21 Berita mundurnya Chevron dari prospek geothermalGunung Ciremai
Sumber: republika.co.id
Pesta yang digelar untuk merayakan keberhasilan perjuangan masyarakat berlangsung sangat meriah. Acara ini juga dihadiri oleh Kedua DPR-D Jawa Barat dan Ketua Masyarakat Adat Pangeran Rama Djati Kusuma. Dalam acara ini terdapat spanduk bertuliskan “Chevron tong balik deui!” yang mengindikasi bahwa masyarakat mengancam Chevron agar tidak datang kembali untuk merancang proyek geothermal. Pesta rakyat tersebut dimeriahkan dengan acara potong tumpeng, pagelaran aksi-aksi kesenian Sunda, dan doa bersama baik dengan kepercayaan adat, Agama Islam, Katholik, dan Kristen. Setelah itu, salah satu orang yang dianggap otak dari Gempur menghimbau kepada masyarakat agar tetap terus waspada, karena ini bisa saja salah satu strategi dari Chevron agar mereka lengah. Selain itu, walau pun Chevron mundur, tapi pemerintah bisa melakukan tender ulang untuk potensi geothermal di Gunung Ciremai. Beliau juga menghimbau kepada masyarakat bahwa perjuangan mereka tidak berhenti sampai di sini saja dan agar tetap siap jika ada musuh selanjutnya yang akan mengeksploitasi tanah mereka. Berikut ini adalah lampiran berita dari media sosial mengenai pesta rakyat di Kuningan:
Gambar 22 Berita pesta rakyat lereng Gunung Ciremai atas mundurnya Chevron Sumber: news.fajarnews.com
2. Aksi Para Ulama (Batshul Masail)
Batshul Masail adalah forum diskusi tahunan yang diadakan oleh para ulama dan perwakilan dari pesantern-pesantren di wilayah tiga (Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu). Forum diskusi ini biasanya membicarakan masalah-masalah sosial yang sedang dihadapi masyarakat baik masalah yang terkait dengan agama maupun tidak. Batshul Masail tanggal 3 April 2014 diadakan di Pesantren Buntet, Cirebon dan membahas tentang proyek geothermal di lereng Gunung Ciremai. Dalam forum ini, mufsadah (dampak positif) dan mudharat (dampak negatif) dari proyek geothermal yang akan dilakukan Chevron dibahas dari perspektif Agama Islam. Pada akhirnya, Batshul
Masail mengeluarkan „fatwa haram‟ untuk Chevron. Para ulama se-wilayah tiga
sepakat mengeluarkan fatwa bahwa eksplorasi geothermal di Gunung Ciremai adalah haram, karena mudharat-nya (dampak negatif) lebih besar dari pada dampak mufsadah-nya (dampak positif). Dampak negatif dari proyek geothermal ini tidak hanya satu atau dua tahun saja, namun dapat terjadi dalam waktu yang lebih panjang. Fatwa haram ini dikeluarkan berdasarkan keyakinan mereka bahwa “dar ul mafasid muqoddamun „ala jalbilmasolih” yang berarti mencegah dampak buruk harus didahulukan dari pada mengambil manfaat.
3. Aksi Masyarakat Adat (Ruwatan Tolak Bala)
Masyarakat Adat Sunda Wiwitan juga melakukan perlawanan dengan mengadakan Ruwatan Tolak Bala pada 20 April 2014. Acara ruawatan ini dihadiri oleh seluruh masyarakat Sunda Wiwitan di Kabupaten Kuningan yang diadakan di Bumi Perkemahan (Buper) yang berada di Dususn Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Acara ini terdiri dari doa-doa masyarakat adat untuk meminta perlindungan dari Tuhan agar terhindar dari marabahaya dan marapetaka. Yang dimaksud dengan bahaya di sini adalah Chevron yang akan merebut tanah adat mereka, sehingga acara ruawatan tolak bala ini bermaksud untuk meminta perlindungan Tuhan agar Chevron tidak mengganggu tanah mereka.
4. Konsolidasi Ibu-ibu
Acara konsolidasi ibu-ibu diadakan di Saung Paseban, Desa Cigugur pada Bulan 29Agustus 2014. Acara ini terdiri dari kegiatan masak-masak yang dilakukan oleh ibu-ibu dari desa-desa yang merupakan anggota dari Gempur. Masakan yang dibuat oleh ibu-ibu ini antara lain aneka kue dari bahan-bahan yang ada di desa mereka, lauk pauk sehari-hari, dan masakan khas Sunda. Semua bahan yang digunakan dari kegiatan masak ini adalah dari desa mereka. Acara ini berrtujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di wilayah lereng Gunung Ciremai khususnya ibu-ibu bahwa masih banyak potensi desa yang dapat dimanfaatkan dan diproduksi. Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk terus berjuang mempertahankan tanah air mereka sendiri.
5. Ornamen-ornamen Perlawanan
Gempur mulai membuat dan menggunakan ornamen-ornamen perlawanan pada awal tahun 2014. Ornamen-ornamen perlawanan yang digunakan antara lain sticker-sticker yang ditempel sebagai merk kecap, saos, kerupuk, dan merica
bubuk, kedai mie ayam anti Chevron, spanduk-spanduk, baju dan bendera Gempur. Strategi ini digunakan untuk memberikan informasi kepada masyarakat dan meningkatkan semangat juang masyarakat.
5.1. Sticker Merk
Gempur membuat sticker-sticker yang ditempel sebagai merk kecap, saos, kerupuk, dan merica bubuk. Produk kecap, saos, kerupuk, dan merica bubuk yang menggunakan sticker merk dari Gempur digunakan di warung-warung makan di lereng Gunung Ciremai. Selain itu, gempur juga mengirim sticker ke pedagang-pedagang hingga ke daerah Jakarta yang pro terhadap Gempur. Sticker merk ini juga digunakan para pedagang mie di wilayah Jakarta sebagai bentuk dukungan mereka terhadap perjuangan masyarakat lereng Ciremai.
Sticker merk kecap yang dibuat Gempur adalah Kecap Pajajaran Cap Maung Ciremai seperti yang ada pada gambar berikut ini:
Gambar 23Stickermerk kecap buatan Gempur
Dalam sticker tersebut terdapat kalimat “ngaing moal ngaganggu dia, lamun dia teu ngaganggu ngaing, tapi lamun dia ngaganggu ngaing, ku ngaing di hakan!” yang berarti bahwa “aku tidak akan menggangu dia kalau dia tidak menggangguku, tapi kalau dia ganggu aku dia bakal aku
makan”. Yang dimaksud ngaing atau aku dalam sticker ini adalah seolah-
olah si macan sedang memberi peringatan kepada Chevron dan semua pihak yang mendukung proyek geothermal di Gunung Ciremai. Ini adalah salah satu himbauan bahwa masyarakat tidak akan memberontak jika kehidupan mereka tidak diganggu dengan isu-isu geothermal di wilayah mereka, namun jika memang Chevron benar-benar melakukan eksploitasi
maka masyarakat pun akan marah. Hal tersebut tercermin dari „ku ngaing
di hakan‟, Chevron akan dimakan, dalam artian masyarakat akan benar- benar marah dan berusaha memporak-porandakan Chevron. Bahasa Sunda yang digunakan adalah Bahasa Sunda yang sangat kasar.
Pada sticker terdapat pula tulisan arab yang dibaca „marah‟. Pada sticker bagian bawah terdapat kalimat “Sakabeh maung tutul nu ngajaga Gunung Ciremai bakal ngarontok, ngagegelan tur ngahakan para
wadyabala Chevron anu keukeuh nerusken proyek geothermal di pakarangan Ciremai”. Kalimat tersebut mempunyai arti “semua macan tutul yang menjaga Gunung Ciremai akan menerkam, menggigit, dan memakan para pendukungperusahaan geothermal yang bersi keras meneruskan proyek geothermal di wilayah Gunung Ciremai”.
Selain sticker untuk merk kecap, Gempur juga membuat sticker untuk merk saos yaitu Saos Sambal Cap Lahar Cabe, seperti pada gambar berikut ini:
Gambar 24 Saos sambal cap lahar cabe buatan Gempur
Pada sticker untuk merk saos ini Gempur bermaksud untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa penolakan terhadap perusahaan geothermal sudah dibahas pula dalam pertemuan para ulama se-wilayah tiga Batshul Masail di Pesantren Buntet, Cirebon, pada 3 April 2014. Gempur juga menginformasikan bahwa para ulama telah memberikan fatwa haram bagi perusahaan geothermal untuk masuk ke wilayah lereng Gunung Ciremai. Dengan penyebaran informasi ini, diharapkan masyarakat luas dapat mengetahui bagaimana perjuangan rakyat untuk menolak perusahaan geothermaldan agar masyarakat lebih semangat karena banyak pihak yang juga mendukung mereka. Pada sticker
tersebut juga terdapat tulisan Arab yang dibaca “awas” dan “haram”.
Gempur juga membuat sticker untuk merk kerupuk yaitu Kerupuk Kerak Bumi. Pesan yang disampaikan dalam sticker ini adalah bumi tempat mereka berpijak harus dipertahankan, sehingga jangan sampai masyarakat menyerahkan tanah air mereka kepada asing (perusahaan geothermal).
Gambar 25Stickermerk kerupuk kerak bumi
Sticker untuk merica yang dibuat Gempur bermerk Merica Cap Menanam. Dalam sticker ini Gempur bermaksud untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang metode fracking yang akan dilakukan perusahaan geothermal untuk eksploitasi panas bumi. Selain itu, Gempur
juga menyampaikan data dari Dewan Perlindungan Air Tanah Amerika mengenai kebutuhan air untuk metode fracking. Pada sticker juga terdapat huruf Arab yang dibaca “lawan” dan “tanam”, seperti pada gambar berikut ini:
Gambar 26Stickermerk merica cap menanam 5.2. Kedai Mie Ayam Anti Chevron
Kedai Mie Ayam Anti Chevron terdapat di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana. Kedai ini dimiliki oleh seorang warga yang pro Gempur. Beliau mengaku bahwa inilah cara beliau dan keluarga berkontriusi dalam melawan Chevron. Walaupun dengan cara yang sederhana, namun diharapkan dapat menyemangati para pembeli dalam perjuangan mereka. Pada kedai mie ayam ini juga terdapat beberapa press- release dari Gempur dan Komparasi (Komunitas Panji Rakyat Tersisih) yang berisi himbauan untuk menolak Chevron dan argumen-argumen mengapa Chevron harus dilawan. Dengan demikian, saat membeli atau memakan mie ayam, pembeli dapat membaca-baca press-release tersebut. Pembeli yang sudah kontra terhadap Chevron diharapkan dapat semakin bersemangat dalam melawan, dan pembeli yang belum kontra Chevron diharapkan dapat sadar sehingga mereka dapat ikut menolak Chevron. Berikut adalah foto Kedai Mie Ayam Anti Chevron dari depan:
5.3. Spanduk-spanduk
Dalam perlawanan, Gempur membuat spanduk-spanduk yang dipasang di jalan-jalan desa dan digunakan saat aksi demonstrasi. Beberapa spanduk yang dibuat Gempur adalah spanduk penolakan Chevron dan TNGC, seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar 28Design spanduk perlawanan buatan Gempur
Gambar 29 Foto spanduk anti Chevron yang dipasang di pinggir jalan Desa Pajambon
Selain itu, Gempur dan masyarakat menyebut Chevron dengan „Chevwrong‟ yang berarti bahwa perusahaan Chevron itu adalah pihak yang salah karena akan merampas hak rakyat atas tanah leluhurnya. Masyarakat juga menganggap Chevron sebagai penjajah baru. Gambar spanduk „Chevwrong‟ yang dibuat Gempur adalah sebagai berikut:
Selain spanduk-spanduk tersebut di atas, Gempur juga membuat spanduk dengan gambar nenek-nenek yang sedang marah dan membawa sabit. Gambar ini mencerminkan kemarahan masyarakat pribumi atau masyarakat asli lereng Gunung Ciremai. Dari spanduk tersebut terlihat bahwa si nenek mengancam pemerintah dan Chevron agar tidak mengganggu kesejahteraan masyarakat Gunung Ciremai, dengan tulisan “dijual teu dijual, gunung aing montong diganggu”. Himbauan tersebut berarti “dijual ga dijual, gunung gue jangan diganggu”. Maksud dari gambar ini adalah masyarakat merasa pasrah dan tak berdaya kepada pemerintah yang mempunyai kewenangan, terserah pemerintah mau menjual mau pun tidak menjual Gunung Ciremai, namun jangan mengganggu masyarakat lereng Gunung Ciremai.
Gambar 31Spanduk kemarahan nenek-nenek 5.4. Baju dan Bendera Gempur
Gempur juga membuat baju yang sering disebut dengan „Baju
Gempur‟ berwarna hitam dan putih. Baju hitam digunakan untuk laki-laki,
dan baju putih digunakan untuk perempuan. Baju Gempur bagian depan
terdapat tulisan “GEMPUR” dimana huruf P digantikan dengan gambar
bambu runcing dan bendera Indonesia. Pada bagian belakang terdapat tulisan “RAKYAT BERSATU USIR CHEVRON”. Tulisan GEMPUR dan RAKYAT BERSATU USIR mengunakan warna merah dan putih sesuai dengan warna bendera Indonesia mengandung maksud bahwa Gempur dan rakyat yang menolak Chevron adalah warga Indonesia. Untuk itu mereka berhak untuk mempertahankan tanah airnya. Sedangkan, tulisan CHEVRON hanya ditulis dengan warna putih saja karena CHEVRON bukan bagian dari Indonesia, dan warna putih menandakan bendera kaum yang kalah. Berikut ini adalah foto Baju Gempur tampak dari depan dan belakang:
Gambar 32 Foto baju Gempur tampak dari depan dan belakang 6. Press-Release Gempur
Salah satu strategi Gempur dalam memberikan informasi kepada masyarakat adalah dengan menerbitkan press-release. Gempur telah menerbitkan 11 buah press-release. Press-releaseGempur ini berisi himbauan kepada masyarakat untuk melawan dan menolak Chevron. Dalam press-releasetersebut Gempur memaparkan fakta-fakta agar masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi. Faktar tersebut menjadi alasan mengapa masyarakat lereng Gunung Ciremai harus menolak proyek geothermal yang akan dilakukan oleh Chevron.