• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES MASUKNYA PERUSAHAAN GEOTHERMAL DAN PENOLAKAN DARI MASYARAKAT

Pada bab ini akan dibahas mengenai ketidakjelasan informasi tentang rencana proyek geothermal yang akan dilakukan oleh Chevron. Pada sub-bab pertama, akan dijelaskan mengenai kronologi masuknya perusahaan geothermal yang termasuk proses-proses menetapan WKP, proses pelelangan WKP, dan rencana sosialisasi. Kemudian, bagaimana proses sosialisasi perusahaan berlangsung, informasi-informasi apa saja yang dijelaskan pada sosialisasi perusahaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan sosialisasi akan dijelaskan pada sub-bab kedua. Selanjutnya, sub-bab ketiga akan memaparkan kondisi ketidakpastian informasi yang muncul di kalangan masyarakat setelah sosialisasi perusahaan.

Kronologi Masuknya Perusahaan Geothermal

Rencana eksplorasi dan eksploitasi panas bumi di Gunung Ciremai sudah dimulai sejak tahun 2006. Pada tahun 2006, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan survei prospek panas bumi Gunung Ciremai dengan mengacu pada data milik Pertamina. Selanjutnya, tahun 2007, hasil survei tersebut diajukan kepada Kementrian ESDM yang akan dijadikan bahan penetapan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) panas bumi Gunung Ciremai. Namun, data hasil survei belum memadai untuk menentukan WKP. Tahun 2010, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas ESDM mengalokasikan anggaran untuk melengkapi kekurangan data yang mencakup data Magnetic Telurric (MT), peta citra, dan data-data pendukung lainnya. Setelah data terkumpul dan sudah memadai, pada 19 Oktober 2010 Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat mengeluarkan daftar desa calon WKP di Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat juga mengeluarkan surat No 542/1058A-Pabum/2010 kepada Kepala Dinas SDAP Kabupaten Kuningan. Surat tersebut merupakan himbauan kepada pemerintah kabupaten untuk mempersiapkan kegiatan sosialisasi pemanfaatan panas bumi. Dinas ESDM Provinsi meminta Dinas SDAP Kabupaten untuk menginformasikan perihal prospek geothermal kepada aparat kecamatan dan perwakilan desa yang termasuk dalam WKP. Dalam surat tersebut dinyatakan pula bahwa akan dilakukan sosialisasi pada minggu keempat Bulan Oktober 2010, namun hal tersebut tidak terealisasi. Sosialisasi tidak dilakukan di desa-desa yang termasuk WKP, melainkan hanya dilakukan di Desa Cisantana pada tanggal 19 Desember 2012.

Pada tanggal 20 Oktober 2010, Kementrian ESMD, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, dan pihak TNGC mengadakan rapat untuk membahas batasan WKP prospek panas bumi di Gunung Ciremai. Kemudian, WKP resmi dikeluarkan pada 21 April 2011 melalui Keputusan Mentri ESDM No. 1153 K/30/MEM/2011. WKP panas bumi daerah Gunung Ciremai adalah seluas 23.646,27 ha berada di Kabupaten Kuningan yang terdiri dari 158 desa dan seluas 642,48 ha berada di Kabupaten Majalengka yang terdiri dari 4 desa. Daftar WKP tersebut selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk dilelangkan secara terbuka. Pelaksanaan lelang WKP Gunung Ciremai dilakukan 2 kali yaitu pada tanggal 4 dan 10 Oktober 2011. Peserta lelang terdiri dari 2 perusahaan, yaitu PT.

Hitay Renewable Energy milik Turki dan PT. Jasa Daya Chevron milik Amerika. Lelang tersebut dimenangkan oleh PT. Jasa Daya Chevron dengan penawaran tertinggi 9,7 Cent US$/KWH. Hasil dari pelelangan dan daftar desa yang masuk ke WKP tidak langsung disosialisasikan kepada masyarakat. Masyarakat baru mengetahui hasil lelang pada saat sosilaisasi (19 Desember 2012) dan daftar WKP pada awal tahun 2013.

Penjelasan kronologi rencana masuknya perusahaan terangkum dalam matriks di bawah ini:

Waktu Peristiwa Penjelasan

2006 Survei Survei prospek panas bumi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mengacu pada data awal hasil survei Pertamina. 2007 Survei Ajuan hasil survei prospek panas bumi oleh Pemerintah

Provinsi Jawa Barat kepada Kementrian ESDM sebagai bahan penetapan WKP, namun data yang tersedia belum memadai.

2010 Survei Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas ESDM mengalokasikan anggaran untuk melengkapi kekurangan data.

19 Oktober 2010

Rencana Sosialisasi (tidak terealisasi)

Keluar surat No 542/1058A-Pabum/2010 dari Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat kepada Kepala Dinas SDAP Kabupaten Kuningan mengenai pemberitahuan sosialisasi pemanfaatan panas bumi. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa akan dilakukan sosialisasi pada minggu keempat Bulan Oktober 2010 (tidak terealisasi).

20 Oktober 2010

Rapat Penentuan WKP

Rapat pembahasan batasan WKP oleh Kementrian ESMD, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, dan pihak TNGC. 21 April 2011 Keputusan WKP

Keluar

Menteri ESDM menetapkan WKP panas bumi wilayah Gunung Ciremai berdasarkan Kep Men ESDM No. 1153 K/30/MEM/2011, di daerah Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat, selanjutnya diserahkan kembali kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk dilelangkan secara terbuka.

4 dan 10 Oktober 2011

Pelaksanaan Lelang WKP

Pelaksanaan lelang WKP Gunung Ciremai diikuti oleh 2 peserta, yaitu, PT. Hitay Renewable Energy (Turki) dan PT. Jasa Daya Chevron (Amerika). Lelang dimenangkan oleh PT. Jasa Daya Chevron.

19 Desember 2012

Sosialisasi di Desa Cisantana

Sosialisasi prospek panas bumi di Balai Desa Cisantana yang disampaikan oleh Kepala Dinas SDAP.

Awal 2013 WKP Diketahui Masyarakat

Informasi WKP di 162 desa dari Kabupaten Kuningan dan Majalengka sampai ke masyarakat.

Gambar 10Matriks kronologi rencana masuknya perusahaan geothermal Proses Sosialisasi Setengah Hati

Pemerintah merencanakan kegiatan sosialisasi pemanfaatan panas bumi di Gunung Ciremai pada minggu keempat Bulan Oktober 2010, namun hal tersebut tidak terealisasi. Sosialisasi dilakukan pada tahun 2012 dan hanya dilakukan di satu desa. Sosialisasi yang dilakukan adalah di Balai Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan pada 19 Desember 2012.

Sosialisasi di Desa Cisantana dilakukan oleh Dinas SDAP Kabupaten. Pembicara pada sosialisasi adalah Kepala Dinas SDAP Kabupaten Kuningan. Peserta yang menghadiri kegiatan sosialisasi adalah masyarakat Desa Cisantana

yang diundang resmi oleh aparat desa dan beberapa masyarakat yang tidak diundang. Masyarakat yang mendapat undangan resmi sosialisasi adalah orang- orang yang dekat dengan Kuwu (kepala desa), kepala dusun, RW, RT, dan perwakilan dari masyarakat. Masyarakat yang datang akan mendapat uang duduk sebesar Rp 100.000,-. Terdapat beberapa orang yang tidak diundang yang datang secara tidak sengaja ke acara sosialisasi. Beberapa orang yang tersebut antara lain otak Gempurdan Ustad RH. Menurut pengakuan otak Gempur, waktu itu beliau sedang mencari rekannya yaitu Mang L, yang pada saat itu Mang L mendapat undangan resmi dari desa untuk sosialisasi. Otak Gempurmencari Mang L di rumah beliau tetapi tidak dapat menemukan Mang L, dan mendapat kabar dari tetangga Mang L bahwa beliau sedang ada acara di kantor kepala desa. Kemudian, otak Gempurpergi ke kantor kepala desa untuk mencari Mang L. Sama halnya dengan Ustad RH, beliau mengaku tidak sengaja melewati kantor desa karena baru pulang dari mengolah ladang, masih membawa peralatan tani dengan kaki dan tangan masih kotor terkena lumpur. Kemudian, beliau melihat di kantor desa sedang ramai. Salah satu dari orang-orang di sana mengajak Ustad RH untuk ikut sosialisasi karena merasa diuntungkan dengan uang duduk Rp 100.000,-. Kemudian, Ustad RH memutuskan untuk ikut menghadiri acara sosialisasi.

Saat sosialisasi, semua peserta diberikan fotokopian materi presentasi. Materi sosialisasi yang tertera di fotokopian materi tersebut antara lain mengenai penjelasan panas bumi beserta keuntungan dan manfaatnya, prinsip dasar pemanfaatan panas bumi, potensi panas bumi di Kabupaten Kuningan, perkembangan proses WKP panas bumi, dan kewenangan pengelolaan panas bumi. Keuntungan dan manfaat panas bumi yang tertera dalam fotokopian materi adalah bahwa energi panas bumi merupakan energi yang terbarukan untuk produksi listrik, dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan domestic seperti pertanian, perkebunan, pengeringan tanaman, peternakan, penghangat ruangan, pengeringan pakaian, pariwisata, dan rehabilitasi kesehatan. Energi panas bumi juga merupakan energi yang efisien dan ramah lingkungan. Prinsip dasar pemanfaatan panas bumi untuk pembangkitan listrik adalah dengan cara menginjeksikan air ke dalam bumi sedalam 3-5 km. Air akan dipanaskan di perut bumi yang kemudian akan menjadi uap dan akan masuk melalui sumur produksi uap panas. Selanjutnya, uap panas akan menggerakkan turbin dan generator untuk produksi listrik.

Gambar 11 Pemanfaatan panas bumi untuk pembangkitan listrik Sumber: hardcopy hand out sosialisasi dari SDAP

Kabupaten Kuningan mempunyai 3 prospek panas bumi, yaitu prospek Desa Sangkanhurip Kecamatan Cigandameka; Desa Ciniru, Kecamatan Ciniru; dan Desa Pajambon, Kecamatan Karamatmulya. Prospek panas bumi di Desa Sangkanhurip diperkirakan mempunyai luas reservoir 2 km2, tebal reservoir 1,25 km, suhu 140-1800 Celsius, dan cadangan energi sebesar 25 MW. Luas reservoir di Desa Ciniru adalah sekitar 8,5 km2, dengan tebal 2 km, suhu 140-1800 Celsius, dan cadangan energi sebesar 75 MW. Sementara, Desa Pajambon memiliki cadangan energi panas bumi yang paling besar yaitu sebesar 135 MW dengan luas reservoir 10 km2, tebal 5 km, dan suhu 140-1800 Celsius.

Mengenai perkembangan proses WKP panas bumi Gunung Ciremai, dalam sosialisasi disebutkan bahwa WKP sudah ditetapkan oleh Mentri ESDM melalui Kep Men ESDM RI No 1153K/30/MEM/2011 pada tanggal 21 April 2011. WKP Gunung Ciremai telah dilelang dan dimenangkan oleh PT Jasa Daya Chevron. Selanjutnya, materi terakhir yang dijelaskan dalam sosialisasi adalah mengenai kewenangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam mengelola prospek panas bumi.

Menurut pengakuan masyarakat, ada beberapa informasi yang disampaikan pembicara tetapi tidak tercantum dalam fotokopian materi yang dibagikan kepada peserta. Informasi tersebut antara lain mengenai dampak lingkungan dan keuntungan-keuntungan yang akan didapatkan masyarakat. Dalam sosialisasi dikatakan bahwa dampak terhadap lingkungan adalah 0% karena pertambangan panas bumi adalah pertambangan yang paling ramah lingkungan. Dengan masuknya proyek geothermal ke Desa Cisantana, masyarakat desa akan dijamin makmur. Kabupaten Kuningan akan mendapat peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu sekitar Rp 1,5 Milyar. Perusahaan juga akan memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar WKP, pembangunan infrastruktur desa, dan peningkatan sarana pendidikan. Menurut beberapa warga yang datang pada sosialisasi, presentasi yang dilakukan oleh SDAP seperti seorang dosen yang menjelaskan teori kepada siswa Sekolah Dasar (SD). Ibarat seorang dosen yang mempunyai pengetahuan yang „wah‟ dan diajarkan kepada siswa SD yang masih awam. Siswa SD hanya dapat mengangguk walaupun sebenarnya tidak paham betul apa yang dikatakan sang

dosen. Peserta „ternina-bobokan‟ hingga tidak terfokus pada materi, namun

terpukau pada keuntungan-keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Setelah pembicara selesai memberikan materi, peserta yang hadir memberikan tepuk tangan dan sangat antusias dengan proyek geothermal. Kemudian, panitia sosialisasi membuka sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta. Pada sesi ini, terdapat 3 orang yang mengangkat tangan, yaitu Ustad RH, Pak DD, dan otak Gempur. Pendapat ketiga orang tersebut pada intinya adalah sama, yaitu menolak rencananya proyek geothermal. Menurut pendapat mereka, bagaimana mungkin bumi ditusuk sedalam 2,5-5 km akan menimbulkan dampak 0%. Teknik pengeboran yang akan dipakai perusahaan adalah menginjeksikan air ke dalam bumi, kemudian air digodhok (direbus) dengan magma agar menjadi uap. Penginjeksian air ke bumi tentu membutuhkan sumber air yang banyak dan sangat dimungkinkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan berkurangnya sumber air bersih untuk masyarakat bahkan dapat terjadi kekeringan. Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan adalah setelah air menjadi uap untuk produksi energi sekian MW (Mega Watt), lalu untuk siapa energi listrik sebanyak itu, apakah

warga Kuningan sudah kekurangan listrik, atau energi akan diekspor ke Amerika. Kemudian, mereka mempertanyakan bagaimana jika proyek mengalami kegagalan, dampak apa yang akan terjadi bagi daerah sekitar WKP. Proyek pertambangan tentu saja dapat mengalami kegagalan seperti yang terjadi pada pertambangan Lappindo. Proyek Lappindo menimbulkan lumpur panas dan hingga saat ini masalah tersebut belum dapat diselesaikan.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai lapangan pekerjaan yang ditawarkan oleh perusahaan. Dalam sosialisasi dijelaskan bahwa perusahaan akan menyerap tenaga kerja masyarakat. Dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan ketiga penanya adalah tenaga kerja siapa yang akan diserap, kedudukannya sebagai apa, dan berapa banyak jumlah tenaga kerja yang akan dipekerjakan. Secara logika, proyek pertambangan tentu membutuhkan teknisi yang handal, bukan tenaga kerja yang hanya lulusan SD. Masyarakat kemungkinan hanya bisa menjadi tukang parkir, tukang bersih-bersih di lingkungan perusahaan, atau satpam. Suatu perusahaan tentu tidak membutuhkan posisi pekerjaan tersebut dalam jumlah yang besar. Perusahaan geothermal tentu berbeda dengan pabrik kerupuk yang membutuhkan buruh dalam jumlah besar. Jika dibandingkan dengan profesi masyarakat sebagai petani, tentu kesejahteraan masyarakat akan lebih baik jika bertani dengan hasil pertanian yang melimpah di lereng Ciremai. Selain itu, pertanyaan bagaimana nasib desa-desa yang termasuk WKP juga dipertanyakan. Radius 2,5 km dari titik pengeboran merupakan zona aman bagi proyek geothermal, lalu bagaimana dengan pemukiman penduduk yang termasuk WKP, apakah akan ada relokasi. Pertanyaan terakhir adalah mengenai PAD Kuningan, yaitu untuk siapa keuntungan PAD Kuningan tersebut, dan apakah keuntungan PAD lebih dapat mensejahterakan masyarakat, di sisi lain asset dan akses masyarakat terhadap SDA menjadi semakin terbatas.

Saat pertanyaan-pertanyaan dilontarkan oleh penanya, peserta lain hanya diam, seolah-olah tidak menyangka dengan yang dikatakan ketiga orang tersebut. Namun, masyarakat mengakui bahwa pendapat ketiga orang tersebut benar dan logis. Masyarakat yang awalnya antusias dengan proyek geothermal menjadi resah dan khawatir. Sementara, pihak SDAP tidak dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan tersebut. Mereka hanya mengumumkan bahwa acara sosialisasi ditutup dan pertanyaan akan dijawab pada sosialisasi berikutnya. Pada kenyataannya, sosialisasi tidak pernah diadakan lagi, sehingga masyarakat semakin resah dengan tidak terjawabnya pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kondisi Ketidakpastian Di Kalangan Penduduk

Setelah sosialisasi dilakukan, muncul berbagai simpang-siur informasi di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh sosialisasi yang tidak jelas dan seolah-olah tidak terbuka kepada masyarakat. Ketidakterbukaan tersebut misalnya, seharusnya proses eksplorasi yang telah dilakukan pemerintah diketahui masyarakat jika memang pemerintah melakukannya secara terbuka, namun masyarakat sendiri tidak tahu kapan dilakukan proses eksplorasi untuk mengetahui potensi geothermal di desa. Informasi lain yang dirasa tidak jelas adalah proses transfer tanah yang dilakukan oleh perusahaan untuk tempat mereka beroperasi. Berikut ini akan dijelaskan mengenai ketidakpastian proses eksplorasi

dan transfer tanah yang diduga dilakukan oleh pihak perusahaan secara diam- diam:

a. Ketidakpastian Proses Eksplorasi yang dilakukan Perusahaan

Menurut berita yang diterbitkan di website Kementrian ESDM pada 5 Maret 2014, proses eksplorasi dilakukan Kementrian ESDM melalui Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat dan Dinas SDAP Kabupaten dengan mengacu data pertambangan yang dimiliki oleh Pertamina. Kegiatan eksplorasi panas bumi di Gunung Ciremai tidak dilaksanakan secara terbuka kepada masyarakat, sehingga menimbulkan dugaan-dugaan di kalangan masyarakat.

Sebelum tahun 2010, di Desa Setia Negara, Kecamatan Cilimus pernah ada kegiatan percobaan pengeboran yang dilakukan oleh perusahaan Jaica. Alasan pihak perusahaan melakukan pengeboran adalah untuk mengecek kandungan air. Pada saat itu, masyarakat tidak mempunyai kecurigaan terhadap pengeboran yang dilakukan oleh perusahaan Jaica. Namun, setelah tahun 2012 isu rencana masuknya Chevron terdengar oleh masyarakat, masyarakat menduga bahwa maksud pengeboran yang dilakukan oleh Jaica adalah proses eksplorasi untuk pertambangan panas bumi. Pada awal tahun 2014, masyarakat dihebohkan dengan adanya pesawat helicopter yang terbang rendah di kawasan lereng Gunung Ciremai. Hal tersebut disebabkan lereng Gunung Ciremai adalah wilayah yang sangat jarang dilintasi oleh pesawat terbang. Pada 2 hari berturut-turut, bermula dari pukul 10.00 WIB hingga 17.000 WIB helicopter melintas di atas wilayah masyarakat hampir 10 kali. Menurut masyarakat, sangat dimungkinkan bahwa helicopter yang terbang rendah tersebut sedang melakukan pemotretan wilayah WKP dari atas sebagai bahan eksplorasi untuk prospek geothermal.

Hingga saat ini, informasi yang tersebar di masyarakat adalah Perusahaan Chevron sudah memasang chip di titik pengeboran untuk mengambil data potensi panas bumi. Titik pengeboran terletak di sekitar Curug Cilengkrang, Desa Pajambon, Kacamatan Karamatmulya, Kabupaten Kuningan. Sementara, lokasi titik pengeboran hanya berjarak 200-300 meter dari pemukiman penduduk di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Masyarakat merasa resah dengan berita tersebut karena masyarakat juga mendapat informasi bahwa titik pengeboran proyek geothermal harus steril dari pemukiman penduduk sekitar 3-5 km. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar di benak masyarakat mengenai nasib mereka ke depan jika proyek geothermal di Gunung Ciremai benar-benar dilaksanakan.

b. Ketidakpastian Proses Transfer Tanah yang Dilakukan Perusahaan

Hingga saat ini, belum ada indikasi pasti mengenai proses transfer tanah yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan lahan di Desa Cisantana dan wilayah WKP lainnya. Namun, ketertutupan informasi mengenai rencana masuknya proyek geothermal dan kekhawatiran masyarakat menimbulkan dugaan-dugaan tentang adanya transfer tanah yang dilakukan Chevron secara diam-diam. Ada beberapa orang luar daerah Kuningan (didominasi dengan kendaraan plat B) yang ingin membeli tanah di Desa Cisantana khususnya di Dusun Palutungan (dusun yang terdekat dengan titik pengeboran). Masyarakat mempunyai prasangka bahwa orang-orang tersebut adalah calo tanah untuk Chevron. Pada tahun 2010, tanah masyarakat ditawar dengan harga Rp 300.000,-

per meter persegi. Harga tersebut naik menjadi Rp 4.000.000 per meter persegi pada tahun 2013.

Ada beberapa yang menolak penawaran tersebut, namun ada pula yang rela menjual tanahnya karena himpitan perekonomian. Beberapa warga yang menolak menjual tanahnya meyakini bahwa orang yang ingin membeli tanah mereka adalah calo-calo tanah yang mengumpulkan tanah untuk dijual kembali untuk proyek geothermal. Mereka berpendapat bahwa Chevron boleh saja masuk ke desa dengan syarat setiap orang di desa mendapat Rp 100 juta per bulan selama Chevron beroperasi di desa mereka.

Analisis Kesesuaian Proses Rencana Masuknya Perusahaan dengan FPIC

FPIC (Free, Prior, Informed,and Consent) adalah standar internasional yang ditetapkan oleh PBB yang harus dilakukan oleh perusahaan yang akan melakukan proyek pertambangannya. Menurut Colchester (2006) dalam AMAN (2009), prinsip Free Prior Informed Consent (FPIC) menegaskan adanya hak masyarakat adat untuk menentukan bentuk-bentuk kegiatan apa yang mereka inginkan pada wilayah mereka. Secara lebih rinci prinsip tersebut dirumuskan

sebagai: “hak masyarakat untuk mendapatkan informasi (informed) sebelum

(prior) sebuah proyek pertambangan dilaksanakan dalam wilayah mereka, dan berdasarkan informasi tersebut, mereka secara bebas tanpa tekanan (free) menyatakan setuju (consent) atau menolak atau dengan kata lain sebuah hak masyarakat (adat) untuk memutuskan jenis kegiatan macam apa yang mereka perbolehkan untuk berlangsung dalam wilayah adat mereka.

Jika dilihat dari prinsip FPIC tersebut, prospek geothermal di Gunugn Ciremai oleh Chevron dapat dikatakan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada FPIC. Dari awal proses eksplorasi dilakukan secara tertutup dari masyarakat, yang berlangsung sejak tahun 2006 hingga 2010. Kemudian, WKP keluar pada 21 April 2011 tanpa diketahui masyarakat, dan pelelangan WKP sudah dilakukan pada 10 Oktober 2011 tanpa adanya pemberitahuan pula kepada masyarakat sebelumnya. Setahun berikutnya barulah diadakan sosialisasi tentang prospek geothermal di Desa Cisantana yaitu pada 19 Desember 2012. Pada sosialisasi tersebut pun tidak dijelaskan mengenai wilayah mana saja yang merupakan WKP prospek geothermal. Namun, daftar WKP muncul pada awal 2013 yang disebarkan oleh Gempur yang mendapat informasi tersebut dari Wakil Bupati Kuningan. Dari pemaparan proses tersebut, jelas bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip dan nilai yang ada dalam FPIC.

Prospek geothermal di Gunung Ciremai tidak menjunjung tinggi hak masyarakat untuk mengambil keputusan dengan bebas (free). Jangankan diberi kesempatan untuk mengambil keputusan dengan bebas, masyarakat sama sekali tidak diajak untuk berunding mengenai prospek geothermal di Gunung Ciremai.

Sesuai dengan prinsip prior (sebelum), seharusnya sebelum penentuan dan pelelangan WKP, masyarakat dilibatkan dalam keputusan pemerintah tersebut. Masyarakat berhak mengetahui dan memutuskan apakah mereka setuju dengan keputusan WKP dan pelelangan WKP tersebut. Namun, yang terjadi adalah penentuan dan pelelangan WKP tidak dirundingkan dengan masyarakat, hanya keputusan dari pemerintah pusat, yang kemudian memerintahkan pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten. Penentuan dan pelelangan WKP dilakukan oleh

pemerintah pusat pada tahun 2011, sedangkan baru disosialisasikan kepada masyarakat pada akhir tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya perundingan kepada masyarakat mengenai rencana proyek geothermal di Gunung Ciremai dan keputusan hanya diambil sepihak oleh pemerintah.

Matriks di bawah ini menjelaskan perbandingan kondisi ideal (nilai FPIC) dengan kondisi nyata yang terjadi pada masyarakat mengenai prospek geothermal di Gunung Ciremai:

Aspek FPIC Kondisi Ideal Kondisi Nyata

Free (bebas) Masyarakat dilibatkan dalam

pengambilan keputusan dan berhak mengambil keputusan dengan cara saling menghargai tanpa kekerasan, tekanan, ger-takan, ancaman, dan penyuapan, serta tidak boleh ada rekayasa terhadap hasil perundingan.

Masyarakat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pemerintah. Keputusan menge-nai proses eksplorasi, penetapan WKP, lelang WKP, hingga so-sialisasi adalah ditangan peme-rintah tanpa rundingan kepada masyarakat, bahkan terkesan ditutup-tutupi.

Prior (sebelum proyek)

Perundingan seharusnya dilaku-kan sebelum pemerintah dan perusahaan memutuskan rencana yang hendak dikerjakan.

Tidak pernah dilakukan perun-dingan kepada masyarakat mengenai prospek geothermal.

Informed (informasi yang lengkap)

Pemerintah atau perusahaan harus memberikan semua infor-masi yang mereka miliki kepada masyarakat, terkait dengan kegi-atan yang direncanakan, dalam bentuk-bentuk dan bahasa yang dapat dipahami masyarakat, dan memberikan waktu kepada masyarakat untuk membaca, menilai, dan membicarakan keterangan tersebut.

Informasi yang diterima masyarakat masih simpang-siur, tidak jelas, dan