• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDUSTRI PETERNAKAN RUSA

Dalam dokumen Buku terbitan lainnya: (Halaman 29-35)

Rusa merupakan salah satu hasil domestikasi satwa liar yang paling akhir dan berhasil dikembangkan di abad 20 sebagai hewan ternak. Walau menurut sejarah, bangsa Rusia dan Asia Tenggara (Korea & Cina) telah lama memanfaatkan rusa, namun dalam pengelolaannya masih sangat tradisional dan lebih ditujukan untuk kepentingan satu produk saja, yaitu ranggah mudanya. Pada saat pemotongan rusa, darah seringkali dikumpulkan dan diproses juga sebagai bahan racikan obat tradisional. Sedangkan pengembangan dari pemeliharaan rusa yang tradisional menjadi modern, sehingga menarik para investor di berbagai negara untuk menternakkan atau menangkarkannya baru dimulai tahun 1970an. Resminya baru sekitar tahun 1975 peternakan rusa yang dikemas secara holistik dari mulai tatalaksana, pembibitan, pengelolaan produk dan pemasaran, diperkenalkan dan diadopsi oleh banyak peternak di berbagai negara, khususnya negara barat.

Sesuai dengan peraturan dari masing-masing negara, bentuk pemeliharaan rusa cukup bervariasi dari yang hanya ditempatkan dalam kandang sederhana atau di padang umbaran (pedok), dengan pemeliharaannya bersifat intensif, hingga yang ditempatkan dalam satu kawasan peternakan luas yang dipagar, dengan pemeliharaannya bersifat ekstensif. Akibat dari bentuk pengelolaan yang beragam ini, satu pihak menyebutnya sebagai usaha peternakan rusa, yang lain menyebutnya sebagai ranch farming. Di Canada, pemeliharaan rusa liar dalam skala besar dengan

memanfaatkan padang rumput alam yang ada disebut sebagai game farming. Namun apapun namanya dari kegiatan pemeliharaan rusa, intinya mereka memelihara untuk dipanen produknya, utamanya adalah dagingnya yang disebut venison, baik dengan cara langsung memotong rusa di pejagalan atau lewat perburuan. Di beberapa negara, tidak sedikit peternak yang melakukan pemanenan ranggah muda sebagai usaha utamanya. Sedangkan pada sebagian kecil negara di Eropa, pemotongan ranggah muda ataupun ranggah keras dilarang dilakukan menurut undang-undang mereka atas dasar perikemanusiaan.

Di negara beriklim dingin dan sub-tropis, 80% dari populasi rusa yang dipelihara adalah rusa merah dan sisanya campuran dari jenis berbadan besar, wapiti dan rusa berukuran kecil, rusa fallow. Sedangkan untuk wilayah Amerika, pemeliharaan rusa sangat spesifik, selain dari jenis rusa di atas, juga rusa ekor putih (White-tailed deer, Odocoileus vrigianus), sika (Cervus nippon) dan chital. Di wilayah Asia atau negara beriklim tropis, jenis yang dikembangkan utamanya adalah rusa timor serta dalam jumlah yang sedikit rusa sambar dan chital.

Pertumbuhan industri peternakan rusa di seluruh dunia diperkirakan sekitar 15-20% per tahunnya. Meningkatnya minat pemeliharaan rusa selain dari prospek pasar yang memang menjanjikan, juga dikarenakan sifat rusa :

a. relatif tahan terhadap perubahan cuaca dan penyakit b. tinggi tingkat produktivitas anaknya

c. tinggi nilai konversi pakannya (jumlah pakan menjadi daging)

d. tinggi produksi karkasnya

e. produk daging rusa yang memenuhi spesifikasi keinginan konsumen masa kini.

27 Gambar 6. Berbagai produk siap saji dan potongan venison rusa

merah dari Selandia Baru. (Sumber: NZGIB leaflet).

Gambat 7. Berbagai bentuk kemasan venison rusa merah dalam boks dan sistim vacum pack dari Selandia Baru (Sumber: NZGIB leaflet).

Hingga saat ini, konsumen terbesar dari venison adalah negara Jerman, dengan jumlah konsumsi mencapai 50.000 ton setiap tahunnya. Sebagian besar dari kebutuhan lokalnya masih di impor dari negara Selandia Baru dan sebagian kecil mulai disuplai dari

Gambar 8. Kemasan venison rusa timor dari Kaledonia Baru untuk ekspor beserta bentuk potongan karkas (Sumber: New Caledonia Deer Industry leaflet).

Gambar 9. Bubuk velvet dalam kapsul telah banyak diproduksi di negara barat dan sangat diminati oleh konsumen barat sebagai nutraceutical (foto: G. Semiadi).

29 negara-negara di Eropa. Sejak tahun 1990an Amerika Serikat mulai banyak mengimpor daging rusa juga. Pada tahun itu pula peternak rusa Selandia Baru memasarkan daging rusa ke seluruh dunia dengan label CERVENA sebagai produk unggulannya.

Tabel 3. Keadaan populasi dan jenis rusa yang dikembangkan dalam bentuk peternakan dan ranch farming.

Benua Negara Jenis rusa Populasi

Afrika Kep. Reunion Rusa timor 2.000

Mauritius Rusa timor 60.000

Amerika Argentina Red deer, fallow, chital

2.000

Brazil Rusa timor 1.000

Canada Wapiti, fallow, white-tailed deer

99.000 Amerika USA Fallow, red deer,

chital, wapiti, sika, white-tailed deer

250.000

Asia China Sika, red deer, sambar, wapiti

500.000 Taiwan Sika, sambar, red

deer

36.000

Rusia Sika, wapiti 400.000

Korea Sika, wapiti, red deer, sambar, chital

200.000 Malaysia Rusa timor, fallow 15.000 Thailand Rusa timor, sambar,

chital

20.000

Vietnam Sika, sambar 15.000

Pasifik Australia Red deer, fallow, rusa timor, sambar

200.000 New Caledonia Rusa timor 18.000 Selandia Baru Red deer, wapiti,

fallow

2.560.000

Eropa Austria Fallow 39.600

Belarus Sika 1.300

Benelux Red deer 3.300

Ceko Red deer 9.800

Eropa Perancis Red deer, fallow 58.00

Jerman Fallow 103.660

Inggris Red deer, fallow 36.000 Hungaria Red deer, fallow 1.100 Irlandia Red deer, fallow 61.000

Itali Red deer, fallow 24.000

Lithuania Sika 850

Norway Red deer 800

Polandia Red deer 1.000

Portugal Red deer 1.300

Spanyol Red deer 4.000

Slovakia Red deer 2.000

Swedia Red deer, fallow 25.800

Swiss Red deer, fallow 7.600

Sumber: Chardonnet et al. (2002); de Vos (1995); R. Hudson (komunikasi pribadi 2002); K.C Tung (komunikasi pribadi 2004).

Tabel 4. Nilai ekspor produk asal rusa merah di Selandia Baru.

1999 2000 2001 2002

Venison (kg) 14.845.761 14.727.442 18.396.183 16.110.013

Velvet (kg) 204.454 120.316 192.459 201.585 Kulit (lbr) 582.698 294.314 357.970 353.365 Sumber: NZGIB (2002).

Walau Korea merupakan negara terbesar pemakai ranggah velvet, namun produk velvet baru diizinkan di impor secara lebih bebas ke pasar Korea tahun 1992. Sedangkan pemeliharaan rusa tradisional di Korea utamanya untuk dipanen velvet dan darahnya. Konsumsi ranggah muda beku di Korea tahun 2000 mencapai 223.400 kg, dimana setengahnya masih di impor terutama dari Selandia Baru, Rusia dan beberapa negara Eropa. Secara global, tahun 2001 negara Selandia Baru memproduksi 450 ton ranggah muda, Cina 400 ton, Rusia 80 ton, Canada dan Amerika masing-masing 20 ton. Bahkan di Korea dan Cina, produk ranggah muda merupakan produk ke dua terpenting setelah ginseng, untuk kepentingan racikan obat tradisional mereka.

31

5

PERKEMBANGAN PETERNAKAN

Dalam dokumen Buku terbitan lainnya: (Halaman 29-35)