FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB PERPINDAHAN PUSAT ADMINISTRASI KOLONIAL BELANDA DI LABUHAN BATU
4.2 Kepentingan Ekonomi
4.2.2 Perkembangan Infrastruktur
Perkembangan perkebunan yang bertambah luas, terutama di wilayah hulu Labuhan Batu membutuhkan jalur transportasi yang dapat menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lainnya. Wilayah Labuhan Batu memanfaatkan aliran sungai sebagai jalur transportasi utama untuk memudahkan pengangkutan hasil perkebunan dan juga perdagangan. Di satu sisi sungai sebagai jalur transportasi memiliki kelemahan terutama pada musim kemarau akan menghambat pengangkutan hasil perkebunan, karena hanya dapat dilalui kapal-kapal kecil saja.
Pembangunan infrastruktur berjalan seiringan dengan perkembangan perkebunan di Labuhan Batu. Pemerintah Belanda merencanakan pembangunan jalan darat dari Tanjung Balai ke Marbau sepanjang 114 Km. yang merupakan lanjutan jalan dari Medan ke Tanjung Balai sepanjang182 KM. Pembangunan tersebut bertujuan untuk menghubungkan wilayah pusat administrasi Afdeeling Asahan dengan wilayah Onderafdeeling Labuhan Batu.
Pembangunan jalan darat di Labuhan Batu pertama kali dimulai pada tahun 1924 di wilayah Kualuh sepanjang 28 Km. untuk menghubungkan perkebunan Mambang muda dengan desa Bandar Durian. Jalan yang menghubungkan perkebunan Mambang Muda dan desa Bandar Durian berada di sebelah sungai Kualuh sampai
106 Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 6.
lepas sungai Aek Natas, selesai dibangun dengan panjang 12 KM. Tetapi pada musim hujan jalan tersebut tergenang air dan tidak dapat dilalui. Pemerintah Belanda harus menangani masalah tersebut, agar jalan dapat dilalui pada musim hujan. Pemerintah Belanda membawa masalah tersebut pada rapat dewan perkebunan, dan mengusulkan pemindahan jalan perkebunan Mambang Muda ke desa Bandar Durian. Rencana perpindahan jalan tersebut disetujui saat rapat dewan perkebunan pada tanggal 18 Desember 1924.
Perpindahan jalan yang menghubungkan Kualuh dan Aek Natas ini memberi perubahan besar bagi hubungan dengan wilayah Marbau. Melihat hasil yang bagus dari pembangunan jalan tersebut, pemerintah Belanda membuat rancangan baru untuk melanjutkan jalan dari Marbau ke Kota Pinang melalui Rantau Prapat dan Pangkatan dengan panjang 60 KM.107 Pembangunan jalan juga sudah dilakukan di Labuhan Bilik dimana pusat administrasi Belanda dan tempat kedudukan Controleur Labuhan Batu sepanjang 2,9 KM.
Jalan-jalan lain yang mulai di bangun dan dikerjakan di wilayah Labuhan batu seperti jalan dari desa Masjid ke Jawi-jawi dengan panjang 16 KM. Pembangunan jalan dari Marbau ke Milano sepanjang 6 KM. dan pembangunan jembatan di atas sungai Marbau. Pembangunan jalan dari perkebunan karet Sennah ke Negeri Lama sepanjang 4 KM. Pembangunan jalan dari perkebunan Bijawak ke Pangkatan sepanjang 12 KM. Pembangunan jalan dari Marbau ke Masihi untuk menghubungkan
107 Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 7.
dengan wilayah-wilayah kerajaan Na. IX-X. sepanjang 15 KM. Pembangunan jalan dari Negeri Lama ke Labuhan Bilik sepanjang ± 32 KM. Pembangunan jalan dari Labuhan Bilik ke Sungai Brombang sepanjang ± 12 KM. Pembangunan jalan dari desa Masjid ke Tanjung Mangedar sepanjang ± 12 KM.108
Selain jalan darat infrastruktur transportasi lainnya yang di bangun di Labuhan Batu adalah jaringan rel kereta api. Pembangun jalur transportasi kereta api di Sumatra Timur pertama kali di mulai pada tahun 1883 oleh perusahaan Deli Maatscappij yang memperoleh konsesi tanah dari pemerintah Belanda untuk membangun jalur kereta api dengan SK No. 17, tanggal 23 Januari 1883 dengan jalur Medan ke Belawan, Medan ke Deli Tua, dan Medan ke Binjai. Pada bulan Juni 1883 pekerjaan ini dialihkan ke perusahaan Deli Spoorweg Maatscappij yang merupakan perusahaan baru yang di bentuk oleh perusahaan Deli Maatscappij.
Perusahaan Deli Spoorweg Maatscappij ini terus membuka cabang jaringan lintasannya dengan mendapatkan kosesi lahan dari berbagai wilayah di Sumatra Timur seperti wilayah Perbaungan, Serdang, Siantar, Tanjung Pura, Pangkalan Berandan, Pangkalan Susu, Tebing Tinggi. Hingga tahun 1912 pembangunan jaringan lintasan kereta api ini sudah sampai ke Tanjung Balai dan menyelesaikan pembangunannya pada tahun 1918.
Pembangunan jaringan lintasan kereta api dilanjutkan ke wilayah Onderafdeeling Labuhan Batu pada tahun 1926. Setelah mendapatkan konsesi lahan
108 Ibid., hlm 26.
untuk membangun jalur rel Kisaran ke Mambang Muda, perusahaan Deli Spoorweg Maatscappij memulai pembangunan yang mendapatkan izin dengan SK. No. 06 tanggal 13 Desember 1926. Pada tanggal 04 Maret 1929 jalur kereta api Kisaran Mambang Muda di resmikan dengan panjang rel 57.111 meter. Pembangunan jaringan kereta api di Onderafdeeling Labuhan Batu terus dilanjutkan, karena sudah mendapatkan konsesi lahan tambahan, untuk melanjutkan jalur kereta api dari Mambang Muda ke Milano dan dari Milano ke Rantau Prapat dengan SK. No. 07 tanggal 24 Oktober 1928. Jalur kereta api Mambang Muda ke Milano dengan panjang rel 44.199 meter diresmikan tanggal 01 Januari 1931 dan peresmian jalur rel Milano ke Rantau Prapat dengan panjang rel 12.562 meter baru diresmikan tanggal 19 Agustus 1937.109
Pembangunan jalan darat dan jalur kereta api di wilayah Onderafdeeling Labuhan Batu membuat semua kegiatan pengangkutan barang dan kunjungan ke beberapa wilayah menjadi mudah. Situasi tersebut membuat jalur transportasi sungai perlahan mulai di tinggalkan, terutama wilayah yang dilalui jalan darat dan jalur kereta api.110 Pemerintah Belanda di Onderafdeeling Labuhan Batu juga memperbaiki dan menambah beberapa infrastruktur seperti perbaikan jalan dan pembangunan jembatan yang dilakukan hingga akhir bulan Juni 1932 dapat dilihat pada tabel berikut.
109 Untuk lebih jelasnya lihat pada lampiran 8.
110 Heer M. Boon, op.cit., hlm 4-5.
Tabel 8: Perbaikan jalan dan Pembangunan jembatan di Onderafdeeling
Pulau Raja –
Sumber: Algemen Secretarie Grote Bundel TZG Agenda Tahun 1891-1942 No.
10097.
Wilayah Labuhan Batu yang sangat luas akan lebih mudah untuk di awasi oleh controleur dan bawahannya dengan menggunakan jalan darat. Selain itu wilayah di pedalaman dan wilayah lainnya akan lebih mudah diakses dengan menggunakan jalan darat maupun jalur air di wilayah yang belum terdapat pembangunan. Semakin mudahnya akses jalan di Onderafdeeling Labuhan Batu memunculkan keinginan pemerintah Belanda untuk memusatkan pemerintahannya di satu wilayah. Wilayah yang menjadi pusat pemerintahan haruslah wilayah strategies dan mudah di akses, mengingat Labuhan Batu terdiri dari empat wilayah kesultanan.
Pada tahun 1931 Rantau Prapat terpilih sebagai pusat administrasi Labuhan Batu menggantikan wilayah Labuhan Bilik. Rantau Prapat dipilih karena secara geografis wilayahnya berada di tengah-tengah dari wilayah Labuhan Batu, dan daerahnya dilalui jalan darat maupun jalur air. Selain itu wilayah Rantau Prapat merupakan wilayah yang berkembang di hulu Labuhan Batu, didukung dengan banyaknya perkebunan besar di sana.