Peranan OMS
Rajah 7: Perbandingan Ahli GAM dan Mangsa dalam Konflik Aceh (1999- (1999-2002)
3.5 Perkembangan Perdamaian Aceh Masa Kini
Sesuai dengan huraian di atas, diketahui bahawa perdamaian Aceh dapat dipastikan menerusi kerjasama pelbagai pihak, iaitu terdiri dari Pemerintah Indonesia dan
314 Kawilarang, 2010, op.cit, halaman 165-166.
315 OMS dimaksud bergabung dalam Jaringan Demokrasi Aceh (JDA). Advokasi polisi yang dilakukan OMS di Aceh memperoleh sokongan luas, sama ada masyarakat Aceh mahupun OMS di peringkat nasional dan antarabangsa.
Pemerintahan Aceh, kalangan ekonomi dan komponen masyarakat sivil, utamanya dari kalangan OMS atau khasnya dari NGO/Ornop/LSM.
Menjelang 9 (sembilan) tahun kesepakatan damai Aceh—15 Ogos 2014—
situasi Aceh sudah mengalami banyak perubahan namun tak sedikit pula cabarannya.
Pelbagai perubahan yang berlaku di Aceh terdiri dari :
Pertama, pembentukan dasar dan proses politik dalaman. Untuk proses pembentukan dasar melalui pembahasan dan pengesahan Undang-undang tentang Pemerintahan Aceh Nombor 11 Tahun 2006. Selepas pembentukan tersebut, telah berlangsung proses politik menerusi pembentukan parti tempatan Aceh316 yang terdiri daripada :
1. Partai Rakyat Aceh (PRA)
2. Partai Aceh Aman Sejahtera (PASS) 3. Partai Aceh Leuser Antara (PALA) 4. Partai Lokal Aceh (PLA)
5. Partai Pemersatu Muslim Aceh (PPMA)
6. Partai Generasi Aceh Beusaboh Thaat dan Taqwa (Gabthat) 7. Partai Aliansi Rakyat Aceh (PARA) Peduli Perempuan 8. Partai GAM (berubah nama menjadi Partai Aceh) 9. Partai Serambi Persada Nusantara Serikat (PSPNS) 10. Partai Bersatu Atjeh (PBA)
11. Partai Demokrat Aceh
12. Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA) 13. Partai Darussalam
14. Partai Daulat Aceh (PDA) 15. Partai Aceh Meudaulat (PAM)
316 Kawilarang , 2010, op.cit, halaman 184-185.
16. Partai Nurani Anuek Nanggroe Aceh (NUANA) 17. Partai Nahdhatul Ummah (PNU)
18. Partai Silahturahmi Rakyat Aceh (PSRA) 19. Partai Demokrasi Anuek Nanggroe (PADAN) 20. Partai Islam Anuek Nanggroe (PIAN)
Dalam proses berikutnya, tak semua parti politik tempatan dimaksud mengikuti mekanisme dan pendaftaran sesuai dengan ketentuan. Setelah melewati proses verifikasi administrasi dan verifikasi fakta dengan melakukan kunjungan ke lapangan untuk memeriksa kelengkapan persyaratan yang dilakukan oleh anggota Komisi Independen Pemilihan kabupaten/kota, maka ditetapkan enam parti politik tempatan yang berhak mengikuti Pemilihan Raya 2009317.
Berikutnya, Kawilarang (2010) menghuraikan bahawa enam parti politik tempatan yang berhak mengikuti pesta demokrasi berdasarkan Surat Keputusan Nombor 05/SK/KIP/2008 yang dikeluarkan pada 7 Julai 2008 yang ditekan oleh Ketua KIP Aceh Abdul Salam Poroh318, yakni :
1. Partai Aceh Aman Sejahtera (Nombor urut 35) 2. Partai Daulat Aceh (Nombor urut 36)
3. Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Nombor urut 37) 4. Partai Rakyat Aceh (Nombor urut 38)
5. Partai Aceh (Nombor urut 39)
6. Partai Bersatu Atjeh (Nombor urut 40).
Selain itu, telah berlaku pula sebanyak 2 (dua) kali pemilihan untuk Kepala Pemerintah Aceh, iaitu pada 2006 dengan terpilihnya Irwandi Yusuf/Muhammad Nazar sebagai Gabenor/Wakil Gabenor Aceh melalui jalur
317 Ibid. halaman 186.
318 Ibid, halaman 186.
perseorangan/independen. Berikutnya pada 2012 juga telah berlangsung proses pemilihan Ketua Pemerintahan Aceh dengan terpilihnya pasangan Dr. Zaini Abdullah/Muzakkir Manaf sebagai Gabenor/Wakil Gabenor Aceh, melalui usulan Partai Aceh (PA). Seterusnya, juga telah terjadi proses pemilihan anggota parlimen di Aceh yakni dalam tempoh 2009-2014319 . Berikutnya, telah berlangsung pemilihan anggota parlimen untuk tempoh 2014-2019 dengan jumlah anggota berbeza dengan tempoh sebelumnya320.
Kedua, berkenaan dengan reformasi birokrasi. Usaha ini berlaku di tingkat daerah dan kabupaten/kota. Untuk tingkat daerah salah satu wujudnya melalui penandatanganan Pakta Integritas Bebas Korupsi pada 11 Januari 2013. Proses ini dilakukan bersama antara Gabenor Aceh dan Bupati/Walikota se-Aceh yang disaksikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Azwar Abubakar, di Banda Aceh. Berikutnya, pembentukan Komisi Informasi Aceh pada 19 Jun 2012. Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah pula membentuk Pejabat Pengelolan Informasi dan Dokumentasi (PPID) Utama.
Komisi Informasi Aceh merupakan lembaga independen yang berfungsi untuk melaksanakan ketentuan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, utamanya dalam hal menyelesaikan sengketa informasi publik antara masyarakat/pertubuhan dengan badan publik dan menjadi sebahagian dari Komisi Informasi Pusat. Sedangkan PPID berfungsi untuk mengumpulkan, mengelola, dan membahagikan informasi jika ada permohonan informasi.
319 Pemilihan Anggota legislatif tingkat provinsi berlangsung pada 9 April 2009, dengan jumlah anggota 69 orang dan 33 orang dari Parti Aceh. Lihat www.rumahpemilu.org pada 29 Februari 2016.
320 Pemilihan ini berlangsung pada 9 April 2014, dengan jumlah anggota sebanyak 81 orang. Perubahan ini terjadi kerana bertambahnya daerah pemilihan (dapil). Jika jangkamasa sebelumnya sebanyak 8 dapil, maka pada jangkamasa 2014-2019 sebanyak 10 dapil se Aceh. Anggota Parti Aceh terpilih sebanyak 29 orang, berkurang 4 orang dibandingkan jangkamasa 2009-2014.
Sedangkan di tingkat kabupaten/kota telah pula diusahakan perbaikan dari unit layanan yang ada dengan sokongan dari Ausaid menerusi Logica2 dan USAID menerusi Kinerja. Logica2 melakukan sokongan pada 6 kabupaten melalui pemerintah kabupaten dan NGO/Ornop/LSM terpilih, iaitu Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Aceh Barat Daya.
Sedangkan Kinerja-USAID memberikan sokongan pada 5 kabupaten/kota iaitu Banda Aceh, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, dan Simeulue. Jadi, pelaksanaan program ini berlangsung pada 11 kabupaten/kota dari 23 kabupaten/kota di Aceh.
Ketiga, berkenaan dengan pembangunan ekonomi melalui Aceh Economic Development Financing Facility (AEDFF). Program ini membiayai serangkaian sub-projek untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan pertumbuhan di Aceh. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan komprehensif yang berfokus pada peningkatan iklim pelaburan dan menghilangkan cabaran untuk pengembangan dan sisi penawaran sektor swasta.
Upaya ini akan menyokong usaha Pemerintah Aceh untuk membawa ekonomi layak dan berkelanjutan; ekonomi yang universal mendukung pengembangan usaha dan penciptaan lapangan kerja.
Seterusnya, program ini mendukung inisiatif untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh. Untuk mencapai hal ini, program ini membiayai sub - projek yang memberikan sumbangan terhadap tujuan pembangunan berikut yang diidentifikasi oleh Pemerintah Aceh sebagai kunci bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Aceh: (i) Pengembangan penciptaan lapangan kerja, perusahaan berbasis
pasar yang terlibat dalam nilai tambah pengolahan dan perkilangan, terutama di bidang pertanian dan perikanan, (ii) peningkatan berkelanjutan kualiti dan nilai produksi di bidang pertanian, perikanan dan perladangan yang memberi sumbangan terhadap pembasmian kemiskinan, (iii) peningkatan perdagangan internasional, terutama eksport langsung, dan (iv) peningkatan pelaburan domestik dan asing di Aceh321. Namun demikian, masih lagi terdapat pelbagai isu yang diperkirakan menyekat pembinaan perdamaian Aceh iaitu mengenai kemiskinan dan penanganan korban konflik.
Berkenaan dengan kemiskinan, peneliti Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) Renaldi Safriansyah322, menilai bahawa dana hibah atau bantuan sosial (bansos) di Aceh mencapai Rp1.8 trilion pada 2013 itu belum mampu menurunkan angka kemiskinan di provinsi itu.
Dikatakannya, dana hibah atau bansos itu bertujuan untuk pemerataan dan asas persamaan ekonomi termasuk untuk menahan potensi konflik namun belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh secara nyata. Disebutkan pula bahawa pada 2007 dana hibah atau bansos Aceh hanya sebesar Rp159 milion dan menjadi Rp1.3 trilion pada tahun 2011. Secara nasional, belanja per kapita hibah atau bansos Aceh menduduki peringkat kedua setelah Papua Barat.
Angka per-kapita Aceh sebesar Rp 340 ribu, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sebesar Rp172 ribu.
Analisis PECAPP, kata Renaldi, belanja hibah atau bansos Aceh umumnya dikelola oleh bahagian pendidikan, bahagian kewangan dan biro keistimewaan Aceh. Dari sisi peruntukan sebahagian digunakan untuk biasiswa, bantuan
321 Lihat AEDFF (Aceh Economic Develoment Financing Facility) World Bank. 2013. Indonesia - Aceh EconomicDevelopment Financing Facility Project. Washington DC; World Bank.
http://documents.worldbank.org/curated/en/2013/05/17816499/indonesia-aceh-economic-development-financing-facility-project, diakses pada 11 Januari 2016.
322 Lihat Antara (2013/11/12) mengenai Peneliti: Dana Hibah Aceh Belum Turunkan Angka Kemiskinan. Renaldi Safriansyah adalah Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP)
kepada lembaga sosial dan operasional pendidikan serta kesejahteraan guru.
Dijelaskan pula bahawa pada 2012, angka kemiskinan di Aceh sebanyak 19.46 peratus (peringkat kelima secara nasional). Sementara rata-rata Indonesia sebanyak 11.96 peratus. Kemudian pada 2011, peringkat kemiskinan Aceh menduduki urutan keenam secara nasional (19.57 peratus). ―Itu menunjukkan bahawa meningkatnya dana hibah atau bansos belum mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat Aceh‖323.
Dengan pelbagai huraian di atas, boleh dipastikan bahawa proses pembinaan perdamaian di Aceh masih lagi memerlukan pelbagai sokongan dari pelbagai pihak, khasnya dari OMS. Huraian berikutnya mengenai peranan OMS di Aceh sebelum dan pasca MoU Helsinki disajikan dalam Bab 4.
Kemudian, dihuraikan maklumat mengenai pertubuhan OMS dan jaringan pertubuhan OMS dengan pelbagai aktivitinya sama ada berkenaan dengan advokasi kes-kes pencabulan HAM serta usaha mewujudkan perdamaian. Hal dimaksud menjadi bahagian untuk mengkaji dinamika OMS dan ruang yang tersedia dalam melaksanakan aktivitinya. Serta, menghuraikan peranan OMS di Aceh untuk memperkuat masyarakat sebelum MoU Helsinki termasuk ketersediaan sumberdaya yang dimiliki OMS di Aceh sebelum MoU Helsinki.
Berdasarkan huraian pada Bab 2 mengenai konsep OMS maka rujukan penyelidik iaitu pertubuhan bukan kerajaan atau NGO/Ornop/LSM sebagai sebahagian dari OMS di Aceh. Seterusnya, kajian ini memberikan fokus pada garis pertama dari kumpulan masyarakat awam yang bekerja di wilayah Aceh324.
Berikutnya, untuk memperoleh huraian yang menyeluruh atas pelbagai upaya yang dilakukan samaa da sebelum MoU Helsinki mahupun pasca MoU
323Ibid., Renaldi, 2013. Lihat AEDFF, diakses 11 Januari 2016.
324 Pembahagian ini boleh dilihat dalam Bab II, khasnya dalam Kamarulzaman dan Lukman, 2002.
Helsinki, penyelidik hanya membincangkan beberapa pertubuhan dan jaringan pertubuhan terpilih yang mempunyai program dan aktiviti terkait sokongan untuk perubahan. Perihal ini juga dikaitkan dengan piramid Lederach (1997) yang memastikan atas peranan NGO sebagai salah satu aktor penting dalam pembinaan perdamaian.
Untuk menentukan pertubuhan dan jaringan pertubuhan yang dimaksudkan, penyelidik setidak-tidaknya menetapkan 4 kriteria sebagai berikut:
1. Pertubuhan atau jaringan pertubuhan dalaman yang diwujudkan sekurang-kurangnya pada 1989.
2. Pertubuhan atau jaringan pertubuhan memiliki sokongan atas keberdayaan masyarakat.
3. Pertubuhan atau jaringan pertubuhan mempunyai visi, misi dan program mengenai perdamaian.
4. Saat ini, pertubuhan atau jaringan pertubuhan masih lagi melaksanakan pelbagai program guna menyokong pembangunan perdamaian di Aceh.
3.6 Kesimpulan
Peristiwa konflik di Aceh telah berlaku lama, sejak dengan Belanda (1873) hingga masuknya Jepun (1942). Berikutnya, peristiwa konflik vertical juga berlaku sebanyak 2 (dua) kali sejak Aceh menjadi bahagian kerajaan Indonesia, iaitu menerusi peristiwa DI/TII dan perlawanan GAM. Perkara ini berlaku secara umumnya kerana berlakunya penindasan dan ketidakadilan bagi rakyat Aceh.
Sejak menjadi bahagian Republik Indonesia, proses membina damai sudah dua kali berlaku di Aceh, sama ada period DI/TII mahupun period konflik antara
GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia. Perdamaian yang disepakati di Helsinki pada 15 Ogos 2005 lalu melibatkan banyak aktor dalaman dan antarabangsa.
Sedangkan penyertaan OMS di Aceh dalam perdamaian telah berlangsung lama berdasar keadaan yang berlaku. Peranan tersebut mula dilaksanakan seiring peristiwa konflik antara GAM dengan Pemerintah Indonesia. Peranan OMS bermula dari komuniti hingga memberikan sokongan dalam pembentukan polisi dengan pelbagai program dan aktivitinya. OMS di Aceh berkembang dan semakin kukuh peranannya menjelang tahun 1998 dan pasca bencana tsunami. Perkara-perkara yang sudah dilaksanakan pada mulanya bersifat amal hingga transformatif. Pelbagai usaha ini dapat dikenal pasti bahawa peranan tersebut berjalan melalui sokongan pelbagai pihak termasuk daripada pertubuhan peringkat nasional dan antarabangsa.
Pasca MoU Helsinki, pelbagai cabaran dalam masyarakat Aceh masih saja berlaku, ia merupakan kes-kes pada masa konflik mahupun yang wujud pasca kesepakatan damai dan bencana tsunami. Untuk itu, diperlukan usaha bersama agar pembinaan perdamaian berkelanjutan di Aceh dengan sokongan pelbagai pihak, seperti Pemeritahan Aceh, peniaga, dan masyarakat menerusi OMS.
BAB IV
PERANAN ORGANISASI MASYARAKAT SIVIL DI ACEH