• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

JUDGMENTS Penyusunan laporan keuangan interim

4. PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

4. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND

JUDGMENTS (continued)

c. Biaya pengupasan tanah yang ditangguhkan c. Deferred stripping costs

Pengupasan lapisan tanah penutup terjadi selama tahap produksi tambang atau pit.

Beberapa perusahaan pertambangan

membebankan biaya pengupasan tanah pada saat terjadinya, sedangkan yang lain menunda biaya pengupasan tanah tersebut. Dalam operasi yang mengalami fluktuasi dalam rasio pengupasan dari tahun ke tahun sepanjang umur tambang, penundaan biaya pengupasan tanah mengurangi volatilitas dari biaya pengupasan tanah yang dibebankan pada suatu periode pelaporan. Perusahaan pertambangan yang membebankan biaya pengupasan tanah pada saat terjadinya akan melaporkan volatilitas yang lebih besar dalam hasil operasi mereka dari periode ke periode.

Stripping of waste materials takes place throughout the production stage of the mine or pit. Some mining companies expense their production stage stripping costs as incurred, while others defer such stripping costs. In operations that experience material fluctuations in the stripping ratio on a year to year basis over the life of the mine or pit, deferral of stripping costs reduces the volatility of the cost of stripping expensed in an individual reporting period. Those mining companies that expense stripping costs as incurred will therefore report greater volatility in the results of their operations from period to period.

Umur tambang sangat tergantung pada rancangan masing-masing tambang dan oleh karena itu perubahan pada rancangan tersebut pada umumnya akan menghasilkan perubahan rasio pengupasan. Perubahan pada teknik atau parameter ekonomi lainnya yang berdampak pada cadangan juga akan berdampak pada taksiran umur tambang meskipun perubahan tersebut tidak mempengaruhi rancangan tambang. Perubahan umur tambang diterapkan secara prospektif.

The life of mine is heavily dependent on an individual mine’s pit design and therefore changes to that design will generally result in changes to the stripping ratio. Changes in other technical or economic parameters that impact on reserves will also have an impact on the life of mine even if they do not affect the pit design. Changes to the life of mine are accounted for prospectively.

Penentuan Grup mengenai apakah beberapa pit tambang dianggap sebagai operasi terpisah atau terintegrasi tergantung pada kondisi spesifik setiap tambang dan analisa tersebut membutuhkan pertimbangan; di

antara perusahaan-perusahaan tambang,

penentuan atas terpisah atau terintegrasinya suatu tambang dapat berbeda, bahkan jika terdapat fakta-fakta yang relatif sama. Jika penentuannya berbeda, maka hasil akuntansinya juga akan berbeda.

The Group’s determination of whether multiple pit mines are considered separate or integrated operations depends on each mine’s specific circumstances and the analysis requires judgment; among mining companies, the determination that a mine is separate or integrated could vary, even if the fact pattern appears to be similar. To the extent the determination is different, the resulting accounting would also be different.

4. PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

4. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND

JUDGMENTS (continued)

d. Biaya eksplorasi dan evaluasi d. Exploration and evaluation expenditures

Kebijakan akuntansi Grup untuk biaya eksplorasi dan evaluasi menimbulkan adanya beberapa biaya dikapitalisasi untuk sebuah area of interest yang dianggap dapat dipulihkan oleh eksploitasi di masa depan atau dijual atau di mana kegiatan tambang belum mencapai tahap tertentu yang memungkinkan dilakukan penilaian yang wajar atas keberadaan cadangan. Kebijakan ini mengharuskan manajemen untuk membuat perkiraan dan asumsi tertentu atas peristiwa dan keadaan di masa depan, khususnya apakah aktifitas penambangan dapat dilaksanakan secara ekonomis. Setiap perkiraan dan asumsi tersebut dapat berubah seiring tersedianya informasi baru. Jika, setelah dilakukan kapitalisasi atas biaya berdasarkan kebijakan ini, suatu pertimbangan dibuat bahwa pemulihan biaya dianggap tidak dimungkinkan, biaya yang telah dikapitalisasi tersebut akan dibebankan ke dalam laporan laba-rugi.

The Group’s accounting policy for exploration and evaluation expenditure results in certain items of expenditure being capitalized for an area of interest where it is considered likely to be recoverable by future exploitation or sale or where the activities have not reached a stage which permits a reasonable assessment of the existence of reserves. This policy requires management to make certain estimates and assumptions as to future events and circumstances, in particular whether an economically viable extraction operation can be established. Any such estimates and assumptions may change as new information becomes available. If, after having capitalized the expenditure under the policy a judgment is made that recovery of the expenditure is unlikely, the relevant capitalized amount will be written off to the income statement.

e. Biaya pengembangan e. Development expenditure

Kegiatan pengembangan dimulai setelah dilakukan pengesahan proyek oleh tingkat manajemen yang berwenang. Pertimbangan diterapkan oleh manajemen dalam menentukan kelayakan suatu proyek secara ekonomis. Dalam melakukan pertimbangan ini, manajemen perlu membuat perkiraan dan asumsi tertentu yang serupa dengan kapitalisasi biaya eksplorasi dan evaluasi yang dijelaskan di atas. Setiap perkiraan dan asumsi tersebut dapat berubah seiring tersedianya informasi baru. Jika, setelah memulai kegiatan pengembangan ada penilaian terjadi penurunan nilai aset dalam pengembangan, jumlah yang tersusutkan akan dihapus ke laporan laba-rugi.

Development activities commence after project sanctioning by the appropriate level of management. Judgment is applied by management in determining when a project is economically viable. In exercising this judgment, management is required to make certain estimates and assumptions similar to those described above for capitalized exploration and evaluation expenditure. Any such estimates and assumptions may change as new information becomes available. If, after having commenced the development activity, a judgment is made that a development asset is impaired, the appropriate amount will be written off to the income statement.

4. PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

4. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND

JUDGMENTS (continued)

f. Penurunan nilai aset non-keuangan f. Impairment of non-financial assets

Sesuai dengan kebijakan akuntansi Grup, setiap aset atau unit penghasil kas dievaluasi pada setiap periode pelaporan untuk menentukan ada tidaknya indikasi penurunan nilai aset. Jika terdapat indikasi tersebut, akan dilakukan perkiraan atas nilai aset yang dapat dipulihkan dan kerugian akibat penurunan nilai akan diakui sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai yang dapat dipulihkan kembali dari aset tersebut. Jumlah nilai yang dapat dipulihkan kembali dari sebuah aset atau kelompok aset penghasil kas diukur berdasarkan nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakai aset.

In accordance with the Group’s accounting policy, each asset or cash generating unit is evaluated every reporting period to determine whether there are any indications of impairment. If any such indication exists, a formal estimate of recoverable amount is performed and an impairment loss recognised to the extent that carrying amount exceeds recoverable amount. The recoverable amount of an asset or cash generating group of assets is measured at the higher of fair value less costs to sell and value in use.

Aset yang memiliki masa manfaat yang tidak terbatas - misalnya goodwill atau aset tak berwujud belum siap untuk digunakan - tidak diamortisasi dan diuji tiap tahunnya untuk mengetahui apakah ada penurunan nilai. Jumlah unit penghasil kas yang dapat dipulihkan telah ditentukan berdasarkan nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan perhitungan nilai kegunaannya.

Assets that have an indefinite useful life - for example, goodwill or intangible assets not ready for use - are not subject to amortization and are tested annually for impairment. The recoverable amounts of cash generating units have been determined based on the higher of fair value less costs to sell and value-in-use calculations.

Penentuan nilai wajar dan nilai pakai aset memerlukan perkiraan dan asumsi manajemen atas tingkat produksi dan volume penjualan yang diharapkan, harga komoditas (mempertimbangkan harga saat ini dan masa lalu, tren harga dan faktor-faktor terkait), cadangan (lihat ‘Perkiraan cadangan' di atas), biaya operasi, biaya penutupan dan rehabilitasi tambang serta belanja modal di masa depan. Perkiraan dan asumsi ini memiliki risiko dan ketidakpastian; sehingga terdapat kemungkinan perubahan situasi yang mengubah proyeksi, yang dapat mempengaruhi nilai aset yang terpulihkan. Dalam keadaan seperti itu, sebagian atau seluruh nilai tercatat aset mungkin akan mengalami penurunan nilai lebih lanjut atau terjadi pengurangan rugi penurunan nilai yang dampaknya akan dicatat dalam laporan laba-rugi.

The determination of fair value and value in use requires management to make estimates and assumptions about expected production and sales volumes, commodity prices (considering current and historical prices, price trends and related factors), reserves (see ‘Reserve estimates’ above), operating costs, closure and rehabilitation costs and future capital expenditure. These estimates and assumptions are subject to risk and uncertainty; hence there is a possibility that changes in circumstances will alter these projections, which may impact the recoverable amount of the assets. In such circumstances, some or all of the carrying value of the assets may be further impaired or the impairment charge reduced with the impact recorded in the income statement.

g. Provisi untuk penutupan dan rehabilitasi g. Provision for closure and rehabilitation Kebijakan akuntansi Grup atas pengakuan

provisi untuk penutupan dan rehabilitasi tambang membutuhkan perkiraan dan asumsi yang signifikan seperti: persyaratan kerangka hukum dan peraturan yang relevan; besarnya kemungkinan kontaminasi serta waktu, luas dan biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan penutupan dan rehabilitasi.

The Group’s accounting policy for the recognition of closure and rehabilitation provisions requires significant estimates and assumptions such as: requirements of the relevant legal and regulatory framework; the magnitude of possible land disturbance and the timing, extent and costs of required closure and rehabilitation activity.

4. PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

4. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND

JUDGMENTS (continued) g. Provisi untuk penutupan dan rehabilitasi

(lanjutan)

g. Provision for closure and rehabilitation (continued)

Ketidakpastian ini dapat mengakibatkan perbedaan antara jumlah pengeluaran aktual di masa depan dari jumlah yang disisihkan pada saat ini. Penyisihan yang diakui pada setiap lokasi di tinjau secara berkala dan diperbarui berdasarkan fakta-fakta dan keadaan pada saat itu.

These uncertainties may result in future actual expenditure differing from the amounts currently provided. The provision recognised for each site is periodically reviewed and updated based on the facts and circumstances available at the time.

h. Pajak penghasilan h. Income taxes

Pertimbangan dan asumsi diperlukan dalam menentukan penyisihan modal dan pengurangan beban tertentu selama perkiraan penyisihan pajak penghasilan untuk setiap perusahaan dalam Grup. Terdapat banyak transaksi dan perhitungan yang dapat menyebabkan ketidakpastian didalam penentuan kewajiban pajak. Apabila terdapat perbedaan perhitungan pajak dengan jumlah yang telah dicatat, perbedaan tersebut akan berdampak pada pajak penghasilan dan pajak tangguhan dalam periode penentuan pajak tersebut.

Judgment and assumptions are required in determining the capital allowances and deductibility of certain expenses during the estimation of the provision for income taxes for each company within the Group. There are many transactions and calculations for which the ultimate tax determination is uncertain during the ordinary course of business. Where the final tax outcome of these matters is different from the amounts that were initially recorded, such differences will impact the income tax and deferred income tax provisions in the period in which such determination is made.

Aset pajak tangguhan, termasuk yang timbul dari rugi fiskal yang dapat dikompensasikan, penyisihan modal, dan perbedaan temporer, diakui hanya apabila hal-hal tersebut diperhitungkan untuk dapat dipulihkan, di mana hal ini tergantung pada kecukupan pembentukan laba kena pajak di masa depan. Asumsi pembentukan laba kena pajak di masa depan bergantung pada estimasi manajemen untuk arus kas di masa depan. Hal ini tergantung pada estimasi produksi, volume penjualan barang atau jasa, harga komoditas, cadangan, biaya operasi, biaya penutupan dan rehabilitasi tambang, belanja modal, dividen dan transaksi manajemen lainnya di masa depan.

Deferred tax assets, including those arising from unrecouped tax losses, capital allowances and temporary differences, are recognised only where it is considered more likely than not that they will be recovered, which is dependent on the generation of sufficient future taxable profits. Assumptions about the generation of future taxable profits depend on management’s estimates of future cash flows. These depend on estimates of future production, sales volumes or sales of service, commodity prices, reserves, operating costs, closure and rehabilitation costs, capital expenditure, dividends and other capital management transactions.

i. Instrumen Derivatif i. Derivative instruments

Grup memiliki pinjaman dengan tingkat bunga tetap dalam bentuk senior secured notes. Sementara suku bunga terus berfluktuasi, tingkat bunga yang berkaitan dengan pinjaman ini dapat dibiayai kembali dengan suku bunga yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dari suku bunga tetap yang telah ditetapkan dalam Senior Notes.

The Group has borrowings at fixed interest rates in the form of senior secured notes. As interest rates continue to fluctuate, the interest rate that these borrowings could be refinanced at could be either higher or lower than the fixed rates secured under the notes.

4. PERKIRAAN DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)

4. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND

JUDGMENTS (continued)

i. Instrumen Derivatif (lanjutan) i. Derivative instruments (continued)

Senior Notes ini memiliki call options untuk pelunasan awal, manajemen berkeyakinan bahwa perlakuan yang paling tepat untuk menilai call options ini dengan menggunakan metode valuasi opsi, dengan mempertimbangkan volatilitas suku bunga, penilaian harga dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penilaian.

As these notes have call options for early repayment, management believes that the most appropriate treatment is to value these options using option valuation methodologies, taking into account the volatility of interest rates, the exercise price and the length of time to exercise.

Perubahan asumsi-asumsi yang digunakan dalam valuasi opsi dapat mempengaruhi laporan nilai wajar dari instrument derivatif.

Changes in the assumptions used in the option valuation could affect the reported fair value of derivative instruments.

j. Pajak yang dapat dipulihkan j. VAT recoverable

Terdapat sengketa yang masih berlangsung dengan Pemerintah Indonesia yang berasal dari perubahan undang-undang PPN pada tahun 2001, di mana batubara tidak lagi dikenakan PPN. Atas perubahan ini, Berau tidak dapat mengkreditkan PPN masukan atas pembelian. Namun, berdasarkan PKB2B, semua peraturan pajak baru yang diterbitkan setelah tanggal penandatanganan PKB2B, tidak berlaku bagi Berau. Atas dasar ini, Berau mengklaim penggantian untuk PPN masukan yang sudah dibayar sejak 2001.

There is an ongoing dispute with the Government of Indonesia which resulted from a change in the VAT law in 2001 when coal became a VAT exempt supply. This change implied that Berau could no longer claim credits for its input VAT on purchases. However, under the CCoW, Berau is indemnified against Indonesian taxes not in effect at the time of signing of the CCoW. On this basis, Berau claimed reimbursement for input VAT paid from 2001.

Klaim tersebut telah ditolak dan kemudian Berau mulai mencatat saling hapus antara PPN masukan dengan pembayaran royalti sesuai dengan PKB2B. Nilai PPN masukan dan utang royalti telah disajikan secara terpisah secara bruto masing-masing di dalam pajak yang dapat dipulihkan dan beban yang masih harus dibayar.

The claims were rejected and Berau began setting off the VAT receivable against royalty payments due under the CCoW. The VAT receivable and royalty payable amounts have been presented separately on a gross basis within recoverable taxes and accrued expenses, respectively.

Terdapat ketidakpastian tentang pemulihan pajak pertambahan nilai (Catatan 26a).

There is an uncertainty about the recoverability of value added taxes (Note 26a).

5. AKUISISI 5. ACQUISITIONS

Grup telah mengakuisisi entitas anak berikut selama periode-periode yang berakhir 30 September 2013 dan 31 Desember 2012.

The Group acquired the following subsidiaries during the periods ended 30 September 2013 and 31 December 2012.

a. PT Manira Mitra (“MM”) a. PT Manira Mitra (“MM")

Pada tahun 2012, Perusahaan mengakuisisi 100% kepemilikan di MM, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembangunan, dengan biaya perolehan

sebesar AS$2.482. Goodwill sebesar

AS$2.476 telah dicatat atas kombinasi bisnis ini.

In 2012, the Company acquired 100% ownership in MM, a company engaged in construction services for US$2,482. Goodwill of US$2,476 was recognised as a result of the business combination.

5. AKUISISI (lanjutan) 5. ACQUISITIONS (continued)

a. PT Manira Mitra (“MM”) (lanjutan) a. PT Manira Mitra (“MM") (continued)

Goodwill atas akuisisi MM telah

dihapusbukukan pada bulan Desember 2012 dikarenakan tidak adanya pendukung atas nilai tersebut. Biaya penurunan telah dibebankan sebagai “biaya pengecualian lainnya” pada bulan Desember 2012.

The goodwill on the acquisition of MM was written off in December 2012 as the value could not be supported. The impairment charge was recognised as “other exceptional costs” in December 2012.

b. PT Kirana Berau (“KB”) b. PT Kirana Berau (“KB”)

Pada tahun 2012, Perusahaan mengakuisisi 100% kepemilikan di KB, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembangunan, dengan biaya perolehan sebesar AS$1.489. Goodwill sebesar AS$1.466 telah dicatat atas kombinasi bisnis ini.

In 2012, the Company acquired 100% ownership in KB, a company engaged in construction services for US$1,489. Goodwill of US$1,466 was recognised as a result of the business combination.

Goodwill atas akuisisi KB telah

dihapusbukukan pada bulan Desember 2012 dikarenakan tidak adanya pendukung atas nilai tersebut. Biaya penurunan telah dibebankan sebagai “biaya pengecualian lainnya” pada bulan Desember 2012.

The goodwill on the acquisition of KB wqas written off in December 2012 as the value could not be supported. The impairment charge was recognised as “other exceptional costs” in December 2012.

6. KAS DAN SETARA KAS 6. CASH AND CASH EQUIVALENTS

30 September/ 31 Desember/

September 2013 December 2012

Kas Cash on hand

Rupiah 53 204 Rupiah

Dolar AS 113 519 US Dollars

Lainnya - 17 Others

Jumlah kas 166 740 Total cash on hand

Kas di bank Cash in banks

Rupiah Rupiah

Pihak ketiga Third parties

PT Bank ANZ Indonesia 17,247 22,588 PT Bank ANZ Indonesia

PT Bank Central Asia Tbk 7,271 - PT Bank Central Asia Tbk

PT Bank Danamon PT Bank Danamon

Indonesia Tbk 764 3,835 Indonesia Tbk

PT Bank Negara Indonesia PT Bank Negara Indonesia

(Persero) Tbk 1,031 2,568 (Persero) Tbk

PT Bank Internasional PT Bank Internasional

Indonesia Tbk - 1,323 Indonesia Tbk

PT Bank Mandiri PT Bank Mandiri

(Persero) Tbk - 542 (Persero) Tbk

PT Bank Mega Tbk 453 1,140 PT Bank Mega Tbk

PT Bank CIMB Niaga Tbk - 3,471 PT Bank CIMB Niaga Tbk

PT Bank Sulselbar - 391 PT Bank Sulselbar